
Yosep sudah pulang dari kantor Raimu Farm. Kini ia sedang mengemudikan mobilnya ke arah rumah sakit, Nyotnyokong sudah menghantarkan Devi dan Lastri ke rumah sakit Budi Asih Technology.
Lastri mengidap kanker paru-paru stadium satu dan sudah ditangani doker Boyke. Kondisi Lastri jauh lebih baik, berkat pil yang dirumuskan Yosep, semua pasien selalu sembuh tanpa operasi.
"Hei kepala dokter kemane gaje?" tanya dokter Boyke.
"Maaf paman dokter beberapa minggu ini saya sibuk, hehehe ...," jawab Yosep sambil menggaruk pantatnya yang tidak gatal.
Albert, Yosep titipkan ke kafe, ia sedang menikmati pecel sayur buatan Devi dan makan dengan lahapnya bersama gorengan bakwan.
"Katanya pulang dari Jepang mana oleh-oleh buat paman?" tanya Boyke.
"Tenang saja ada, sebentar saya ambilkan," Yosep melesat cepat dengan jurus moksala rudra ke parkir basemen untuk mengambil sisa oleh-oleh dari Jepang yang ia ingin bagi-bagikan ke rumah sakit. "Ini paman!"
"Cepat amat, susah ya jadi orang sakti, sudah tampan, terkenal, calon istri banyak pula," ledek Boyke. "Jadi kapan nikahnya?"
"Rencana tanggal 7 bulan Maret besok. Jangan lupa datang ya paman dan bawa amplop kondangannya yang banyak, hehehe ..." jawab Yosep sambil tertawa. "Bagaimana keadaan ibu Lastri?"
"Tenang saja pak bos aman, ya paling lambat 3 hari sudah bisa pulang. Obatmu itu bos sangat mujarab," jawab Boyke.
"Ya syukurlah. Terima kasih paman dokter, saya ingin melihatnya!" balas Yosep.
"Ya sama-sama, sudahlah tak usah sungkan begitu. Berkat pilmu itu rumah sakit kita banyak pasiennya yang sembuh, tapi kita punya masalah cabang rumah sakit di Surabaya. Rumah sakitnya sepi karena banyak serangan hantu disana," ujar Boyke. "Itu laporan dari ayah mertuamu rapat pagi ini."
"Kenapa ayah tak bilang padaku tentang masalah ini? Firasatku pasti ada orang yang mengirimkan hantu-hantu itu. Rumah sakit pasti jadi tempat mencekam," balas Yosep.
"Ayah mertuamu takut merepotkanmu yang akhir-akhir ini sibuknya minta ampun. Wara-wiri sana-sini dan jarang dirumah," ujar Boyke.
__ADS_1
"Ya jangan begitu paman. Rumah sakit ini juga rumah sakitku juga, masa ada masalah saya diam saja. Kalau bisa membantu saya pasti membantu, ya sudah setelah ini saya akan pergi ke Surabaya," balas Yosep.
"Yos, pantas saja Rany sangat mencintamu, kebaikan dan ketulusan hatimu tidak pernah diragukan. Setiap ada masalah kamu selalu mampu menyelesaikan, kamu tidak pernah memikirkan dirimu sendiri. Pantas Jayus menjadikanmu pewaris Pratama Group," puji Boyke dalam batinnya dengan tersenyum lebar.
Yosep meninggalkan Boyke menuju kamar VVIP 01 dimana Lastri di rawat. Seorang wanita paruh baya yang sudah beruban, wajahnya sumringah dan berseri sedang bersandar di tempat tidurnya. "Yosep itu kamu?" tanya Lastri.
"Ya bu!" jawab singkat Yosep sambil mencium punggung tangan Lastri.
"Kemana saja kamu, sekarang sudah jarang main ke rumah?" tanya Lastri.
"Sekarang sudah jadi bos muda bu, jadi sibuk terus. Yosep juga bekerja di rumah sakit ini, sebagai kepala dokter, kata pak dokter Boyke tadi. Devi sempat berbicara dengannya, dan semua biaya di rumah sakit ini Yosep yang membayarnya," jawab Devi. "Terima kasih ya Yos!"
"Terima kasih banyak Yos!" imbuh Lastri sambil menundukan kepala.
"Sudahlah bu jangan sungkan. Nanti kalau mau pulang hubungi saja Nyotnyokong, soalnya saya mohon maaf tidak bisa menghantar pulang. Sore ini harus terbang ke Surabaya ada hal yang harus diurus," ujar Yosep.
"Tidak perlu sungkan. Tapi saya punya syarat," pinta Yosep.
"Apa itu?" tanya Devi.
"Kamu jadi direktur proyek pembangunan super miliku. Paling lambat satu minggu lagi akan mulai ground breaking," jawab Yosep.
"Tapi aku ...," ujar Devi terpotong.
"Sudah terima saja. Ibu juga kan sudah sembuh, saya sudah mengeceknya, paling lambat tiga hari lagi sudah bisa pulang, dan ini gaji pertamamu," ujar Yosep sambil memberikan koper berisi uang 1 milyar. "Belilah baju, rumah di Patrol karena kamu harus bekerja di sana. Untuk kendaraan bawa saja mobilku ini, kamu kan bisa menyetir mobil."
Devi dan Lastri menangis terisak-isak karena bahagia, ia tak percaya dengan kejadian ini. Entah mereka berdua mimpi apa semalam bisa mendapatkan durian runtuh seperti ini. "Hiks, hiks, hiks, terima kasih banyak Yos, terima kasih banyak! Hiks, hiks, hiks," tangis serentak Lastri dan Devi.
__ADS_1
"Sudahlah Ibu, sudahlah Dev. Kita ini sudah berteman sejak kecil jadi jangan sungkan. Nanti Saya akan mengabari mimi untuk menjenguk ibu dan Devi ya," Yosep lalu menelepon Dawi dan mengabarinya kalau Lastri di rawat dirumah sakit. Yosep juga memberikan kunci mobil ferari J50 pada Devi lalu pergi meninggalkan dan menuju depan rumah sakit.
Yosep juga berpesan pada Dawi untuk menjaga Albert selama ia pergi ke Surabaya. "Saya harus menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Esok siang harus sudah berada di meksiko!" gumam Yosep dengan tatapan mata tajam. "Sistem R4 diaktifkan, pengendali jarak jauh kemudi otomatis!"
[Perintah suara diterima. Mobil Lambhorghini Veneno Roadster akan tiba dalam 15 menit]
"Masih lama nunggu 15 menit lebih baik saya makan dahulu. Mungkin makan bakso urat lebih enak," gumam Yosep dengan mata berkeliling mencari kios bakso dekat rumah sakit Budi Asih Technology.
Di kafe, Dawi yang sudah menyelesaikan laporan kafe, langsung mengajak Albert ke rumah sakit dengan motor advance miliknya. Dawi kurang suka naik mobil mewah jadi ia sering naik motor ke kafe, Yosep sudah memperingatkan agar naik mobil dengan supir tapi Dawi selalu menolaknya dia bilang naik mobil tidak ada tantangannya.
"Pak ikut saya ke rumah sakit. Yosep pergi ke Surabaya ada urusan penting mendadak!" ajak Dawi.
Albert sudah menyelesaikan makan pecep dan gorengannya, "Khuooooo ...! Mantap! Baik bu sebentar, saya cuci tangan dulu," sahut Albert lalu menuju westafel untuk cuci tangan.
Albert kembali ke hadapan Dawi, "Anak itu selalu sibuk tidak ada istirahatnya, kasihan calon istrinya dianggurin terus," imbuh Albert sambil menggerutu.
"Pak nanti bapak yang menyetir ya. Biar romantis dikit, hehehe ...," goda Dawi sambil tertawa.
"Siap bu, siap!" Albert langsung menuju parkiran dan menyalakan motor Advance, Dawi bonceng di belakang lalu Albert melajukan motornya ke arah rumah sakit Budi Asih Technology.
Yosep sedang di depan kios bakso, "Bang bakso!" panggil Yosep. "Ada menu bakso apa saja?"
"Ini bang menunya!" sahut abang bakso memberikan buku menu.
"Ya sudah saya lagi lapar banget, minta satu porsi bakso setiap menunya," pinta Yosep.
"Siap bang, silahkan duduk!" seru Abang Bakso memersilahkan Yosep duduk. Banyak orang melihat Yosep sudah gila, memesan 8 jenis bakso pada menu bakso.
__ADS_1