
Di Istanbul Turki.
Albert dan Dawi yang dikawal tim WD Army sedang makam di salah satu restoran mewah di Istanbul Turki. Gemerlap malam riasan lampu restoran yang begitu indah dan pernak pernik asesoris restoran, memanjakan mata siapapun yang memandang.
"Ayah Yosep ngirimin foto, syukuran rumah baru, dan juga sudah menentukan tanggal pernikahannya 7 hari lagi, yaitu tanggal 7 desember 2021. Lusa mereka mau fitting baju pengantin, kapan kita akan pulang?" tanya Dawi.
"Lusa kita akan pulang, esok kita belanja oleh-oleh dan keperluan pernikahan Yosep," jawab Albert.
"Terima kasih ayahku sayang, terus kapan menikah dan honey moon?" tanya Dawi dengan mata berkedip cepat.
"Aaah, hatiku terpana. Ya mungkin 6 bulan lagi kita menikah. Kita akan honey moon ke maldive, ya bundaku sayang!" jawab Albert.
"Tuan kita bertiga kapan menikahnya? Masa setiap hari, hati kami tertusuk-tusuk melihat kemesraan kalian!" tanya Raiden.
"Ya kamu Raiden, coba buka topeng kamu dan tunjukan pesona pada wanita. Gerutu terus setiap hari, kamu ini jomblo sudah karatan!" ledek Albert.
"Hmph! Tuan gak asyik, nanti saya minta tuan Yosep saja combalingin," Raiden menggembungkan pipinya.
Kokoci yang mendengar perdebatan itu hanya mengerucutkan bibir, "siapa nama wanita itu memakai dres merah itu? Nanti aku tanya sama nyonya mungkin tahu," batin Kokoci.
Tarung sedang berada di balkon lantai dua restoran, menyesap cerutu kuba andalannya. Tarung sedang membayangkan seorang wanita, seksi, berambut panjang sepinggang, berwarna coklat keemasan, kulitnya putih pucat dan hidungnya sangat mancung dengan mata agak bulat berwarna biru, bibirnya merah natural.
Wanita itu berumur 24 tahun namun kondisinya buta, Tarung bertemu dengannya di jalan ketika ia mau menyebrang, Tarung membantunya menyebrang. Tarung jatuh cinta pada pandangan pertama, hatinya gelisah saat ini, ia menyesap cerutu dengan tatapan hampa.
"Pak tolong saya mau pesan makanan!" panggil lembut seorang wanita berambut pirang, memakai dres putih, yang duduk di meja dekat balkon Tarung sambil melambaikan tangan.
Waiter datang menghampiri, "ya nona Gweny, ada yang bisa kami bantu? Mau pesan apa?" tanya waiter dengan nada yang lembut.
__ADS_1
"Aku pesan sirloin beef steak dan sunkist juice tambahin gulanya 1 sendok makan ya!" pinta Gweny, dia adalah pelanggan setia restoran steak and happy, hampir setiap hari makan di restoran ini. Keluarganya adalah keluarga nomor 5 terkaya di turki, namun 5 bulan yang lalu keluarga Gweny mengalami kebangkrutan dan Gweny mengalami kecelakaan lalu lintas, hingga membuatnya buta permanen.
Gweny membelakangi Tarung dan tarung yang menaruh perutnya di besi pembatas balmon membelakangi balkon, "suara ini seperti aku mengenalnya, seperti suara wanita itu?" pikir Tarung sambil terus membayangkan wajah Gweny.
Waiter menghidangkan makanan yang dipesan Gweny, tiba-tiba ketika Gweny sedang meraba pisau dan sendok untuk memulai makan pisau itu terjatuh ke lantai.
Trang!
Tarung yang terhenyak dari lamunannya, membalikan badan, "ternya itu dia!" Tarung membulatkan mata, lalu menghampiri Gweny dan mengambilkan pisau yang terjatuh ke lantai.
Duk!
Kepala Tarung dan Gweny berbenturan, "maaf tak sengaja! Ini pisaunya, nona!" Tarung berdiri dan memberikan pisau pada Gweny dengan bibir melengkung membentuk senyuman. "Kita bertemu lagi, dunia ini sangat sempit ya!"
"Maaf jika merepotkanmu tuan, oh iyakah? Aku tidak tahu, aku meminta maaf, aku buta tuan. Memangnya kita bertemu di mana?" tanya Gweny.
"Kita bertemu di jalan siang hari tadi sewaktu, nona mau menyebrang jalan. Saya Tarung dari Amerika, sedang bertugas, sekarang tinggal di Indondesia. Nona maukah jika saya perkenalkan pada tuan saya? beliau seorang dokter yang sangat hebat dan bisa menyembuhkan mata nona!" ucap Tarung.
"Untuk masalah biaya nona Gweny tidak perlu khawatir, saya siap menanggungnya. Saya tahu nona pasti akan curiga, sejujurnya saya menyukai nona ketika pertama kali melihat nona, saya meminta maaf jika saya tidak sopan," tegas Tarung.
Albert yang melihat dari jarak 10 meter tertawa cekikikan, "hai Raiden! Lihatlah tarung, gigih berjuang demi cinta. Jadi laki-laki itu seperti itu, kamu baru kenalan sama wanita sudah gemetaran kaya gempa 8.9 skala richter. Dasar laki-laki peyek!" ledek Albert.
"Ayah jangan begitu sama Raiden di kasih dukungan bukan malah di ledekin terus," bela Dawi. "Sini nak Raiden, ibu ada hadiah untukmu!"
Dawi memperlihatkan foto-foto pemimpin-pemimpin perusahaan Yosep yang baru dan semuanya perempuan. "Nyonya yang ini siapa?" tanya Kokoci menunjuk foto Wulan.
"Ini Wulan Kusuma Sari, apakah mas Kokoci menyukainya?" goda Dawi.
__ADS_1
Kokoci yang badannya besar, mukanya semerah tomat dan menutupi mukanya, "ya nyonya tapi saya takut di tolak!"
Bletak!
"Aw!" pekik Kokoci.
Kepala Kokoci di pukul albert dengan kipas angin kayu, "hai Kokoci! Kamu itu prajurit garda depan yang sudah puluhan ribu musuh yang kamu tumbangkan. Masa kamu hanya gara-gara wanita cantik saja tak berani, mana keberanianmu sebagai prajurit, hmph!" teriak Albert di samping telinga Kokoci dengan mendengus kesal. "Lama-lama aku panggil kau kue koci bukan Kokoci lagi."
"Maaf tuan! Maaf tuan! Saya selalu takut ditolak oleh perempun tuan," balas Kokoci dengan raut wajah murung.
"Tenang saja, mas Kokoci ibu akan bantu nanti!" ucap Dawi.
"Saya juga donk bu di bantu juga, masa Kokoci saja!" sela Raiden.
"Ya mas Raiden, memangnya mas Raiden mau dicomblangin sama siapa?" tanya Dawi. "Benar kata ayah Albert, coba mas Raiden buka topengnya, mas Raiden pasti sangat tampan.
Raiden mengelus dagunya, matanya menatap keatas sejenak, memikirkan mengenai usulan Albert dan Dawi, untuk membuka topengnya. "Baiklah nyonya saya akan mencoba!" Raiden melepas topengnya, nampak wajah tampan Raiden, kulit putih pucat, hidung mancung dan mata agak sipit, rambut Raiden berwarna putih keemasan.
"Nah kalau begini kan enak dilihat!" puji Albert.
Tarung menggandeng tangan Gweny menuntunnya ke arah meja Albert dan Dawi. Gweny mengiyakan bantuan Tarung dan membalas cinta Tarung juga, Gweny menyukai Tarung, dari sentuhan lembut Tarung saat membantunya menyebrang jalan. "Tuan ini nona Gweny Silk, izinkan nona Gweny ikut kita pulang, untuk bertemu tuan Yosep. Supaya tuan menyembuhkan mata nona Gweny!" pinta Tarung.
"Saya Gweny Silk tuan, dari keluarga Silk," ucap Gweny sambil menundukan wajah.
"Senang berkenalan dengan nona Gweny, saya Albert, dari Amerika," ucap Albert.
"Senang juga berkenalan dengan nona Gweny, saya Dawi, dari Indonesia," imbuh Dawi.
__ADS_1
"Senang berkenalan dengan nona Gweny, saya Raiden dari Amerika," imbuh Raiden dengan tersenyum.
"Senang berkenalan dengan nona Gweny, saya Kokoci, dari Amerika," imbuh Kokoci.