
Raiden bersama Vanya, Tarung bersama Gweny, dan Kokoci bersama Wulan, mereka bertiga sangat serasi serta seragam. Memakai setelan jas hitam dengan dasi kupu-kupu dan para perempuannya memakai dres tank top berwarna merah. Siapapun yang memandangnya akan merasa iri dengan kemesraan mereka bertiga.
Sylvia membawa tablet miliknya dan sibuk mengatur pernikahan Yosep dengan tim ZZRR 3 hari lagi, memakai blazer putih daleman tank top hitam, dan rok umbrella selutut. Raut mukanya sangat serius, disaat yang lain menikmati pesta acara lamaran, Sylvia disibukan oleh pekerjaannya.
Devi memakai gaun berwarna biru membawa secangkir gelas sambil termenung seorang diri di balkon hotel, menghadap pantai.
"Ehem, maaf mengganggu! Boleh aku ikut bergabung?" pinta Haris.
"Boleh!" jawab dingin Devi, matanya tetap menatap ke arah lautan dan tak menghiraukan permintaan Haris.
Setelah Haris mendapat uang yang banyak dari Yosep, dia langsung merombak tubuhnya dengan membeli gudoudama cake kafe Raimu, dan tak tanggung-tanggung 10 porsi gudoudama cake ia habiskan sekejap.
Haris jadi lebih tampan, kulitnya putih pucat dan guratan di wajahnya langsung hilang, malah semakin kencang. Rambutnya pun ia potong gaya Harajuku style dengan warna keemasan.
"Dunia memang tak selebar daun kelor, tapi jodoh sangat luas melebihi samudra di bumi," celetuk Haris sambil menyesap secangkir minuman berisi ektraksi pil kintamani.
Yosep dalam acara pesta lamarannya, menyuruh membuatkan 3 minuman untuk para tamu. Minuman pil kintamani berwarna merah, minuman pil jahe berwarna kuning, dan minuman pil tirta sari berwarna biru, ketiga minuman sudah dicampur dengan gula alami, hasil ektraksi Yosep dari tebu yang sudah dihilangkan zat pengikat pada gula yang menyebabkan penumpukan lemak.
Ketiga minuman itu, akan Yosep launching setelah menikah nanti. "Aku rasa jodoh itu, tidak ada di daratan bumi apalagi samudra, jodoh itu terlalu jauh entah di planet mana?" timpal Devi dengan tatapan mata sinis dan dingin.
"Apa sebegitu jeleknya diriku, hingga kau tak mau menatapku? Budaya timur memang mengajarkan untuk tidak menatap mata lawan bicara, tapi setidaknya hadapkanlah wajahmu pada lawan bicaramu, jika kamu tau sopan santun, permisi!"
__ADS_1
Haris yang sangat kesal meninggalkan Devi, padahal ia sudah berdandan setampan mungkinu untuknya, namun diacuhkan oleh Devi. "Aku berjanji, tidak akan mendekatimu lagi, Devi!" imbuh Haris dalam batinnya, raut mukanya menyeringai kesal.
"Aku seperti kenal suaranya, seperti suara Haris. Aku sudah salah berbicara pada Haris, pasti Haris marah padaku, lebih baik aku meminta maaf padanya," batin Devi dengan raut muka menyesal.
Pramono mendekati Yosep dan berjabat tangan dengannya, "Selamat tuan Yosep atas lancarnya acara lamaran anda, semoga lancar sampai pernikahan!" ucap Pramono tersenyum.
"Terima kasih tuan Pramono atas doanya dan terima kasih juga sudah berkenan hadir," balas Yosep.
"Maaf tuan Yosep, tuan presiden ingin bertemu dengan anda! pinta Pramono.
Yosep menganggukan kepala tanda setuju, Pramono menuntun Yosep ke arah presiden Nakowi yang duduk di kursi tamu istimewa hotel. Yosep membalikan badan, dan memberi isyarat membentuk huruf o dengan tangannya pada tim ZZRR. Mereka berempat membalas dengan senyuman.
"Entahlah, mungkin ada urusan penting," jawab Rany.
"Atau mau dijadikan wakil presiden periode selanjutnya," timpal Zahra.
"Sepertinya mungkin, tapi mas Yosep kan bukan seorang politisi. Kemungkinan besar terkait ancama USF yang kian menggurita mengancam beberapa negara ASEAN tujuan utamanya menjatuhkan Indonesia," timpal Ryuna. "Aku melihat data informasi, anak buahku, mata-mata Ochobot Technology yang aku kirimkan ke sembilan negara ASEAN lainnya."
"Yah, pasti setelah nikah, kita akan ditinggalkan lagi mas Yosep untuk bekerja. Dan tidak ada waktu untuk kita berempat," keluh Zahra mengerucutkan bibirnya.
"Tidak, tenang saja. Mas Yosep bukan hanya pria tampan tapi sangat jenius. Mas Yosep sudah memprediksi dan memberikan solusi. 9 negara ASEAN kini sedang kocar-kacir menghadapi tekanan halus mas Yosep, hehehe," balas Ryuna tertawa ringan.
__ADS_1
Yosep berjabat tangan dengan presiden Nakowi, banyak yang mengabadikan momen ini dan memberitakan dengan judul berita babang tamvan the next vice president oleh media asing dan lokal.
"Terima kasih tuan presiden sudah hadir di acara saya yang sederhana ini," ucap Yosep menundukan wajahnya, sebagai warga negara yang baik harus menghormati pemimpin negaranya.
"Sama-sama, jangan merendah seperti itu tuan Yosep. Pesta ini sangat meriah dan berbeda dengan pesta-pesta yang sering saya hadiri, unik sekali, hehehe," balas presiden Nakowi tertawa ringan, tak ada kebohongan dan paksaan dari tatapan matanya.
"Jangan panggil saya tuan! Tuan presiden, saya ini rakyat biasa, panggil saja Yosep tuan presiden," ucap Yosep menundukan wajah, ia duduk di samping presiden Nakowi membuatnya grogi tubuhnya gemetara, sebagai manusia normal wajar saja itu terjadi ketika bertemu presidennya.
"Mas Yosep, anda ini justru warga SVVIP yang kami cari dari 3 tahun lalu. Dan kami bersyukur negara Indonesia memiliki anda. Mas Yosep adalah penyelamat negara, sudah jutaan situs hacker international menyerang situs-situs penting negara kita. Anda sebagai hacker anynomous dewa naga, telah banyak menghentikan serangan mereka dan malah membuat para hacker internasional dibuat kapok."
"Anda mas Yosep, selama 3 tahun tidak pernah meminta uang sepeser pun pada negara dan ikhlas melakukannya. Padahal dalam dua tahun terakhir, hidup mas Yosep memprihatinkan. Anda seharusnya diberi gelar pahlawan oleh negara," jelas presiden Nakowi.
"Tidak perlu tuan presiden. Saya melakukannya dengan ikhlas dengan jiwa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi pada negara saya tercinta. Saya berjanji akan terus membantu dan membangun serta mendukung program-program pemerintah. Jika tuan presiden membutuhkan bantuan saya untuk membangun infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia, saya bersedia dengan senang hati," balas Yosep menundukan wajah.
"Tentu mas Yosep, tentu. Kami masih membutuhkan bantuan anda, terlebih lagi USF telah mulai merongrong ekonomi kita dari seluruh sektor," ucap presiden Nakowi.
"Tenang saja, seluruh rakyat, investor, dan pebisnis di ASEAN akan mendukung kebijakan kita nanti. Tinggal tuan presiden melobi para pemimpin ASEAN di luar Singapura, untuk mau menerima ekspor barang kita. Jika mereka meminta kenaikan biaya pajak masuk berikan saja batas ambangnya cukup 3%, mereka pasti sangat senang menerimanya," balas Yosep.
"Tapi bukannya akan merugikan kita?" Presiden Nakowi sedikit heran dengan cara berbisnis Yosep, yang inginnya merugi. "Baiklah!"
"Nanti tuan presiden akan mengerti setelah 7 hari ke depan. Saya minta pada tuan presiden, untuk menyatukan seluruh pengusaha yang sering melakukan ekspor ke beberapa negara ASEAN, agar barangnya saya beli dahulu dan perusahaan saya yang melakukan keseluruhan ekspor ke semua negara ASEAN," pinta Yosep.
__ADS_1