
Tembakan mengenai pistol magnum Kartono, ternyata Gendhis menembak sebelum kartono sempat menarik pelatuk pistol miliknya. Satu titik laser merah yang di arahkan Serena mengarah ke jantung Raksa, sedangkan satu titik laser merah milik Gendhis di arahkan ke jantung Prasmana.
"Jatuhkan senjata kalian!" Kata Wirya yang menaruh katananya di leher Panji. "Atau kutebas kepala bocah ini!"
Nyotnyokong juga segera menyergap Kartono setelah pistol miliknya jatuh. Dengan posisi tangan memeluk leher Kartono dan mengarahkan pistol yang sempat terjatuh ke lantai, Nyotnyokong mengarahkannya ke kepala samping kanan Kartono.
Bima juga mengarahkan senjata dua SMG Gun miliknya ke pinggang Raksa, dua kodachi milik Kinan juga di arahkan ke leher Prasmana.
Kartono, Prasmana, Panji, dan Raksa menjatuhkan senjata mereka. "Ikat mereka dan tutup mata mereka. Bawa ke tempat rahasia!"
"Siap bos!" Kata pasukan Buto ijo serentak. Mereka mengikat dan menutup mata Kartono, Panji, Prasmana dan Raksa. Helikopter milik Yosep pun datang ke mansion Samandha, Yosep sudah menelepon pelayan yang bisa mengendarai helikopter dan mengirimkan lokasi lewat aplikasi mangap.
Helikopter terbang menuju pulau milik keluarga Pratama, pulau yang sangat terpencil namun punya keindahan yang sangat cantik. 10 km Sebelah utara dari pantai Balongan Indah pulau itu bernama pulau bidadari.
Sesuai namanya pulau itu bermandikan pasir putih, air laut yang biru, batu karang yang indah terlihat dari atas. Helikopter milik Yosep cukup besar seperti helikopter militer mampu menampung hingga 10 orang.
Jayus dan Setyo sudah menunggu mereka disana. Yosep sudah bercerita tentang kepemilikan property saham miliknya, jadi wajar jika Yosep bisa menyewa Helikopter, Padahal Helikopter itu Yosep dapat dari system.
Yosep memberi nama Manto pengemudi Helikopter, pria berwajah opa-opa korea. Manto menurunkan helikopter di tanda helipad, dan membawa keempat sandera ke sebuah mansion yang cukup indah ditengah pulau. "Buka penutup mata mereka!" Seru Yosep.
"Siap bos!" Kata Nyotnyokong lalu membuka penutup kepala mereka berempat. Setyo dan Jayus masih bersembunyi di dalam ruangan rahasia mansion Bidadari.
Bukannya takut mereka berempat malah takjub. "Tak sia-sia juga kalau disandera seperti ini, kalau diculiknya ke tempat seperti surga!" Celetuk Panji.
"Anak bodoh kita ini sedang disandera, malah ngebanyol, hmm!"Kata Raksa dengan raut muka kesal.
"Apa yang kalian inginkan?" Kata Prasmana.
"Mudah saja hanya sebuah pengakuan dan tanda tangan." Kata Yosep sambil memaksa Prasmana dan Raksa menelan pil Bajujur yang bisa membuat orang berkata jujur serta efek halusinasi masa lalu.
__ADS_1
Yosep mengotak-atik laptopnya untuk meretas sinyal tv dan radio nasional. Kamera di arahkan ke Prasmana dan Raksa, ikatannya juga di lepaskan.
Yosep bertanya tentang pelaku pengirim santet dan juga peretas yang merusak system rumah sakit Budi Asih Technology. Mereka berdua mengaku merekalah yang menjadi otak dibalik rencana itu.
Panji dan Kartono tak percaya, orang tuanya begitu tega menyantet Ziva dan meretas system rumah sakit demi mendapatkan sebuah pusaka artefak.
"Ayah aku kecewa sama ayah!" Kata Kartono dengan raut muka marah dan kecewa yang masih dalam kondisi terikat.
"Aku tak habis pikir ayah seperti itu. Aku tak sudi lagi punya ayah sepertimu!" Kata Panji.
Mereka berdua juga mengaku bahwa untuk mempunyai alasan berperang satu sama lain pada Panji dan Kartono. Raksa beralasan ia menemukan sebuah bukti bahwa kakeknya Tristanto Rakuti dibunuh oleh Prasmana dengan racun padahal kenyataannya Tristanto mati terkena serangan jantung. Prasmana juga mengaku bahwa istrinya Vera telah ditabrak Raksa, padahal kenyataanya ia mati tertabrak truk kontainer sewaktu mengendarai mobilnya.
Sehingga membuat Panji dan Kartono harus terlibat balas dendam padahal hanya akal-akalan mereka berdua, karena kecewa tidak berhasil mengambil artefak dari keluarga masing-masing.
Video streaming ini Yosep siarkan keseluruh Indonesia. Polisi dan Tni segera bergerak setelah melihat video mereka berdua mengakui sebagai otak dibalik peperangan dua keluarga. Mereka berdua juga sudah menandatangani surat kuasa pemindahan seluruh aset keluarga Samandha dan keluarga Rakuti kepada mister nine.
Jayus dan Setyo keluar setelah Wirya, Kinan, Bima, Nyotyokong bersama Manto mengantarkan keempat orang ke polres Indramayu dengan helikopter agar bertanggung jawab atas semua kejahatannya.
"Ini untukmu saja nak. Kamu yang punya rencana ini, masa kami terima beresnya saja." Kata Jayus.
"Ah tidak yah. Ini buat ayah berdua saja, aku juga tak sanggup jika harus mengurusi banyak aset. Banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, ayah berdua kan sudah berpengalaman mengurus banyak aset." Tolak Yosep.
"Baiklah, kalau nak Yosep memaksa kami dengan senang hati, hahahah!" Kata Setyo lalu tertawa.
"Memaksa konon?" Kata Yosep dengan tatapan mata aneh pada kedua calon mertuanya.
Perubahan struktur orang terkaya di Indramayu kini berubah, tidak ada lagi keluarga Samandha dan Rakuti, hanya ada Pratama, Wijaya dan Tarub. Pratama memiliki usaha kesehatan dan pendidikan, sedangkan Wijaya memiliki usaha property, minyak serta kemananan. Keluarga Tarub Sendiri mempunyai usaha perhotelan, pariwisata dan apartemen.
"Ayah aku mau balik ke ruko!" Kata Yosep.
__ADS_1
"Lah emang mau pulang pakai apa?" Tanya Jayus. "Disini kan di tengah-tengah laut, emang nak Yosep bisa membawa speed boat atau yacht?"
"Waduh, aku jadi lupa malah gak ikut helikopterku sendiri." Kata Yosep sambil menepuk jidatnya sendiri. Yosep sebenarnya paling anti banget kalau naik kapal atau apapun yang berhubungan dengan kendaraan laut dia pasti mabuk laut.
"Hahaahaha!" Tawa Setyo.
"Hahahahaha!" Tawa Jayus.
"Disini pemandangannya indah, coba saja kalau saya punya waktu santai saat ini, pasti seru bermalam disini. Apalagi sudah menikah pasti seru blaem-blaem disini." Batin Yosep dengan raut muka mesum, sambil membayangkan mantap-mantap bersama Ziva, Rany, dan Zahra.
"Tenang saja ayo kita pulang naik helikopter Ayah!" Seru Jayus.
"Selamat! Selamat!" Kata Yosep sambil mengelus-elus dadanya.
"Ayo bos naik!" Seru Anto dengan berteriak sambil mengemudikan helikopter.
Mereka berempat pulang menuju ruko, mobil buggati milik Yosep dibawa Gendhis dan Serena ke ruko. Sedangkan 3 mobil mini van dibawa anggota lain Hanoka dan Pancawijaya.
Helikopter turun di belakang halaman cafe Raimu. "Yah mampir dulu kita makan-makan dulu!" Seru Yosep.
"Boleh-boleh tapi kamu yang traktir ya nak!" Canda Setyo.
"Oke siap. Ayo!" Ajak Yosep.
"Bos saya juga di ajak?" Tanya Anto dengan raut muka bodohnya.
"Ya tentu saja, nanti kalau gak di ajak malah hilang lagi diculik." Ledek Yosep.
"Hahahahaha!" Anto tertawa canggung.
__ADS_1
Mereka bertiga masuk kamar VVIP yang tersisa satu kamar. Kondisi cafe ramai seperti biasa, banyak pengunjung lalu lalang, bahkan jauh-jauh dari luar kota mulai dari Cirebon, Bandung, Jakarta, Bahkan Pangandaran, demi menikmati makanan cafe yang Viral di medsos.