
"Baiklah papah tidak memaksa tapi terimalah ini!" Jayus memberikan kartu atm miliknya. Jayus tak tega dengan kehidupan Yosep dan Rany sekarang, selama ini Yosep sudah sangat banyak membantu perusahaan Jayus dan berhasil naik menjadi orang kaya nomor dua di Indonesia.
"Maaf pah, terima kasih atas bantuannya. Saya tidak bisa menerimanya." Yosep mendorong tangan Jayus dengan menundukan wajah. "Kami berdua ingin hidup mandiri."
"Ya pah, Rany juga ikut menyetujui keputusan mas Yosep. Biarlah susah senang kita jalani bersama," timpal Rany.
"Tapi Rany kamu itu putri papah satu-satunya. Papah kasihan sama kalian berdua, jadi papah mohon terimalah," ucap Jayus dengan raut muka iba.
"Tidak usah pah. Rany tidak apa-apa, asal bersama mas Yosep Rany bahagia pah, jadi papag jangan khawatir." Rany ikut mendorong tangan Jayus.
"Ya sudah, papah terima keputusan kalian berdua. Tapi kalau ada apa-apa segera hubungi papah!" ucap Jayus. "Ya sudah papah pergi dulu, hari ini ada meeting dengan klien.
Rany dan Yosep bergantian mencium punggung tangan Jayus. "Hati-hati di jalan pah!"
"Ya, kalian juga jaga diri baik-baik!" Jayus menitikan cairan bening dari kelopak matanya.
"Nak Yosep, kamu tidak pernah berubah. Meskipun kamu sudah bangkrut sekarang, tapi tetap tak mau merepotkan mertuamu ini. Kamu selalu berpegang teguh pada prinsipmu, papah doakan kalian bisa bahagia dan sukses lagi," batin Jayus.
"Sudah pah jangan menangis. Kalau papah menangis jelek, janda tua alias nenek janda juga gak bakal mau," ledek Yosep.
"Aish! Menantu kesayangan papah ini ada-ada saja. Ya sudah aya pergi ya, bye-bye!" Jayus pergi ke arah ujung gang sempit meninggalkan kontrakan Yosep, hati masih sedih melihat menantu dan putri semata wayangnya harus menjalani hidup miskin.
Sayang, ayo makan. Pasti kamu sangat lapar dari pagi belum makan." Yosep memberikan dua bungkus nasi padang dan uang 160.000, uang sepuluh ribunya Yosep taruh disaku untuk uang saku Yosep mencari uang tambahan setelah ia makan dan membersihkan diri.
__ADS_1
"Dapat uang darimana mas? Sudah dapat kerja?" tanya Rany. "Maafin Rany ya mas, Rany gak bisa bohong sama papah. Jadi papah datang kesini."
"Kerja jadi kuli angkut beras, di tokonya Ses Yuli, itu nama pemilik tokonya. Tidak apa-apa sayang. Wajar papah ke kontrakan pasti mengkhawatirkan Rany, seharusnya mas yang minta maaf, gara-gara mas bangkrut jadi Rany harus menderita." Yosep membuka bungkusan nasi padang dan menyuapi Rany. "Mas suapin ya?"
"Aem, enak mas." Mereka berdua saling menyuapi dengan penuh cinta.
"Ternyata kamu memang istri terbaiku, aku menyesal pernah meengempatkanmu sayang. Mas janji hanya kamu yang mas cintai sampai ajal mas datang."
Setelah selesai makan, Yosep membersihkan diri, sambil mencuci baju miliknya dan milik Rany. Yosep tidak mau membuat Rany kecapekan, kasihan Rany yang harus menjalani hidup susah jadi Yosep tak tega. Bagi Yosep yang sudah pernah miskin, sudah terbiasa menjalani hidup seperti ini.
Yosep selesai mandi, hanya memakai baju andalannya kaos oblong putih dan celana training hitam. "Akhirnya bisa pakai baju dan celana ini lagi. Aku kurang nyaman pakai setelan jas dan dasi," gumam Yosep sambil membawa ember berisi pakaian basah.
"Mau apa mas?" Rany bangkit dan mendekati Yosep. "Kenapa mas nyuci bajunya, kan Rany istri mas. Seharusnya Rany yang mencuci bajunya."
"Tidak sayang, biarkan mas yang melayani Rany. Mas mau Ranya jadi ratu di rumah dan jadi ratu di hati mas selamanya," goda Yosep sambil mencubit pelan kedua pipi Rany. "Sayang kan capek dari pagi bersih-bersih rumah."
"Tidak apa-apa sayang." Mereka berdua malah saling membantu menjemur jemuran baju.
"Aku lebih hidup seperti ini mas, daripada kamu kaya banyak uang tapi selalu sibuk dan malah mengempatkanku. Aku akan tetap mencintaimu mas sampai akhir hayat hidupku."
"Mas istirahatlah, aku buatkan teh ya! Biar aku pijitin," ucap Rany.
"Tidak usah sayang. Mas akan ke pasar siapa tahu ada yang butuh jasa angkut lagi, lumayan buat tambahan. Kamu juga perlu baju, terlalu mewah baju yang sayang pakai sekarang. Mas janji hari ini bawa uang yang banyak buat Rany, besok kan ada pasar tumpah di pasar Jatibarang lama. Mas beliin kamu baju ya, tapi ya mungkin terlalu sedikit budgetnya, hehehe." Yosep menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Tidak apa-apa mas, asal itu dibelikan sama mas dengan uang halal, Rany pasti senang sekali." Rany mencium punggung tangan Yosep. "Hati-hati yas, kalau capek pulang saja."
"Ya sayang." Yosep mencium kening Rany lalu berjalan ke arah pasar.
Sesampainya di pasar Yosep duduk di warung Mak Ijah memperhatikan keadaan pasar pukul 14.00 yang mulai rame pembeli karena sayur-sayuran dan sembako baru datang dari suplier. "Bu es teh manis!" pinta Yosep.
"Kehidupan sulit ini membuatku susah, tidak bisa meminum es teh manis tiga gelas lagi, sungguh menyedihkan. Aku harus cari cara setidaknya membuat Rany tidak menderita-menderita amat. Bagaimana kalau aku jadi makelar beras? Aku bisa minta pak Awi untuk mengirimnya kesini dan aku minta 100 rupiah/kg keuntungannya pada ses Yuli."
[Barjo berbaik hati, diperbolehkan asal sistem dikasih jatah 50 rupiah/kg]
Mendengar pernyataan Barjo Yosep ingin memuntahkan semua asam lambung di perutnya. Benar-benar sistem gila, sudah jatuh ketimpa gunung kembar berduri, benar-benar nasib Yosep sangat sial.
"Ini mas es teh manisnya." Mak Ijah menghidangkan segelas teh manis pada Yosep. "Mas tamvan ini yang baru kerja di mbak Yuli ya?"
"Ah ibu jangan panggil saya mas tamvan. Saya jadi malu, hehehehe." Yosep menutup mukanya dengan kedua tangannya lalu membukanya. "Ya bu. Saya lagi nyari uang tambahan siapa tahu ada yang butuh kuli angkut."
"Mas, mas! Muka mas yang sangat tamvan ini gak cocok kerja jadi kuli angkut. Cocoknya jadi suami mak, hehehe," canda mak Ijah. "Tapi muka mas sangat mirip presiden UAA yang sangat hebat itu, presiden yang bisa menyatukan benua Asia dan Afrika."
"Ah mak bisa saja. Muka saya memang muka pasaran mak, dan pasarannya mirip pejabat, hehehe. Tapi maaf mak saya sudah punya istri," balas Yosep dengan tertawa ringan.
"Yah mak patah hati donk, hehehe." Mak Ijah tertawa sambil memegang dada bagian jantung dengan ekspresi pura-pura sakit.
Mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal. Tiba-tiba motor Honda CBR 250 RR berwarna merah berkecepatan tinggi menabrak tiang listrik.
__ADS_1
Vroom!
Brak!