
Yosep menyeka keringat di dahinya, "syukurlah sudah selesai," ucap Yosep lalu menghampiri anak-anak bersama Sylvia di warung. "Anak-anak, om sudah selesai mengganti kedua bannya, mari masuk mobil!"
"Ya, tapi kami mau om pahlawan yang menyetir mobilnya dan miss Sylvia duduk di samping om pahlawan," ucap Reyna polos dengan menggembungkan pipi, mewakili suara hati anak-anak panti. "Kalau om pahlawan bukan yang mengantarkan kami pulang, kami tidak mau pulang!"
"Ya Suki juga tidak mau pulang!"
"Farhan juga gak mau pulang!"
"Pokoknya om pahlawan yang mengantarkan kami pulang, kalau miss Sylvia yang menyetir Aldo gak mau pulang, hmph!"
Wajah Sylvia semakin memerah dan menundukan kepala, perasaan malunya terpampang jelas dari raut mukanya yang sangat putih berubah putih kemerahan. Karena anak-anak memojokan dirinya untuk berdekatan dengan Yosep terus.
Sylvia yang memakai celana katun berwarna coklat dan baju katun berwarna coklat juga berjongkok di samping Reyna, "sayang, om pahlawan itu sangat sibuk. Lain kali saja ya sayang, nanti kalau om pahlawan tidak sibuk. Miss Sylvia janji memberikan ayam goreng kesukaan kalian nanti setelah pulang ke rumah."
"Gak mau, gak mau, Reyna pokoknya gak mau pulang kalau bukan om pahlawan yang nganteri."
Reyna dan anak panti yang lain terus merengek meminta Yosep, untuk menghantarkan mereka. Sylvia pun dibuat bingung bukan kepalang oleh anak-anak panti. Akhirnya Sylvia mengajak Yosep ke mobil untuk berbicara berdua, "tuan Yosep saya meminta maaf, jika anak-anak merepotkan tuan. Saya hanya meminta satu permintaan pada tuan, untuk menghantarkan anak-anak pulang!" pinta Sylvia dengan menundukan kepala.
Sylvia menyebut Yosep tuan, setelah ia tahu dan ingat bahwa Yosep dijaga oleh para penjaga pantai dan menyebutnya pak big bos, sewaktu dikerumuni para pengunjung pantai. Menandakan bahwa Yosep adalah pemilik kawasan bisnis distrik di Balongan.
"Jangan panggil saya tuan. Panggil saja saya Yosep, jangan sungkan miss Sylvia saya akan menghantarkan anak-anak pulang sesuai keinginan mereka. Lagipula saya juga dokter harus memastikan anak-anak tidak mengalami gangguan apapun setelah tenggelam atau mungkin benturan pada bagian kepala mereka," balas Yosep dengan bibir melengkung membentuk senyuman.
"Tapi tuan ...," ucap Sylvia terpotong.
"Sudah tidak apa-apa. Panggil saja saya Yosep dan saya akan menghantarkan anak-anak, titik!" tegas Yosep dengan sorot mata yang tajam. Yosep langsung menarik lengan kanan Sylvia dan membukakan pintu mobil sebelah kiri dan mendorong lembut Sylvia supaya masuk mobil. "Anak-anak, ayo masuk om akan menghantarkan kalian pulang!"
Wajah anak-anak yang cemberut langsung sumringah, "yeay! Om pahlawan yang anterin kita pulang!" teriak anak-anak serentak, kemudian masuk mobil satu persatu, dengn pintu yang sudah dibukakan oleh Yosep.
__ADS_1
___
___
___
Mobil yang Yosep kemudikan sampai di pertigaan lampu merah Karangampel. Jarak Balongan ke Karangampel kira-kira 30 menit perjalanan, Yosep melihat jam pada Smartphonenya pukul 20.00 WIB.
"Miss beliin ayam goreng kesukaan kami di pasar lama depan ya! Miss kan sudah janji!" pinta Aldo.
"Ya sayang, miss belikan," ucap Sylvia sambil menengokan kepalanya ke belakang pada Aldo. "Mas Yosep maaf, bisa kita berhenti di depan untuk membeli ayam goreng!"
"Nah gitu enak manggilnya mas, masa panggil tuan. Ya kita berhenti!" balas Yosep dan melajukan mobilnya setelah melihat lampu lalu lintas dari warna merah ke warna kuning lalu hijau. 50 meter dari lampu merah Sylvia menyuruh Yosep berhenti pada penjual ayam goreng, tapi ketika Sylvia keluar mobil dan menghampiri penjual ayam goreng ternyata sudah habis.
"Maaf anak-anak, ternyata sudah habis ayam gorengnya," ucap Sylvia yang tak tega memberitahukan pada anak-anak bahwa ayam goreng kesukaan mereka sudah habis.
"Tenang, kalian mau ayam goreng kan? Om akan memasakan kalian ayam goreng yang paling enak, om janji. Kalau ayamnya tidak enak, kalian bisa meminta hadiah apapun sama om," sahut Yosep.
"Sungguh om pahlawan?" tanya Reyna polos.
"Ya sayang, om janji," ucap Yosep sambil mengulurkan jari kelingkingnya pada Reyna dan Reyna menautkan kelingkingnya pada jari kelingking Yosep. "Tunggu sebentar, om beli dulu ya bahan-bahannya di supermarket depan."
Yosep keluar dari mobil tapi dicegah oleh Sylvia, "mas jangan, nanti merepotkan mas Yosep!"
"Tidak apa-apa, saya sama sekali tidak direpotkan. Malah saya sangat senang bisa membuat anak-anak bahagia, kasihan mereka tidak punya orang tua. Jadi kita adalah orang tua pengganti mereka yang harus terus memberikan mereka kebahagiaan."
Yosep membeli ayam cukup banyak 10 kg buat anak-anak panti takut kurang menurutnya, jika lebih pun ya buat stok di lain hari. Yosep juga membeli bahan-bahan membuat ayam goreng tepung alias fried chicken.
__ADS_1
Setelah selesai berbelanja Yosep melajukan mobilnya dan berputar arah ke arah Desa Mundu, dimana yayasan yatim piatu Al-Madani berada.
___
___
___
Yosep sampai di sebuah bangunan dengan cat berwarna hijau di sebelah kiri jalan, bangunan yang cukup luas dengan halaman yang luas juga tersedia wahana permainan anak-anak di halaman depan bangunan Al-Madani.
Di dalam rumah yatim Al-Madani masih tersisa 30 anak-anak panti yang lain. Sylvia membuat jadwal liburan setiap minggunya 10 anak perminggu, karena tidak muat mobilnya membawa 40 anak panti. Sylvia juga dibantu mak ijah dan mang Caswi mengurus yayasan Al-Madani, untuk mengelola yayasan Sylvia hanya mengandalkan belas kasihan dari donatur dan gajinya sebagai SPG kosmetik di salah satu mall di Cirebon.
Kadang gajinya saja tidak mencukupi untuk kebutuhan hidupnya sendiri, bahkan puasa dalam seminggu bisa enam kali dan buka puasanya hanya dengan pisang satu buah.
Di tempat kerja juga Sylvia sering pingsan demi membela anak-anak panti, menyisihkan gajinya untuk memenuhi kebutuhan anak-anak panti. Namun Sylvia harus kena PHK, dan diberi uang pesangon 10 juta oleh perusahaannya serta sudah menipis. Di tambah bulan ini, belum ada satu pun donatur yang memberikan sumbangan dan esok hari batas terakhir pembayaran sewa bangunan yang harus di bayar/tahun.
"Anak-anak, om pahlawan datang!" teriak Yosep membawa fried chicken buatannya yang tinggi menggunung di atas meja makan.
30 anak panti yang sudah tidur, terbangun setelah mencium bau ayam goreng tepung buatan Yosep.
"Hore! miss Sylvia bawain kita ayam goreng, kesukaan kita!"
30 anak panti berbondong-bondong keluar dari kamar mereka masing-masing, satu kamar berisi 10 anak dengan kamar tidur tersusun.
"Oh ini siapa ya?" tanya Bergil polos.
"Ini om pahlawan, orang yang sudah menyelamatkan kita," jawab polos Reyna. "Om pahlawan juga sangat baik, menghantarkan kita pulang dan memasak ayam goreng kesukaan kita semua."
__ADS_1