SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip 166


__ADS_3

"Ya itu babang tamvan, ibu-ibu, emak-emak, pemudi-pemudi, serbu babang tamvan!" teriak pemudi bernama Wati, langsung merangkul Yosep yang sudah selesai menyanyi.


"Mi tolong mi, tolong! Saya dikerubutin ciwi-ciwi!" Yosep berdiri melepas Wati dan Sukma yang merangkul leher Yosep dengan sangat histeris. "Bang masih jauh? Turunkan saya disini saja! Daripada saya dicakar-cakar!"


Yosep ke depan untuk menemui Warto dan menginjak rem mobil, untuk menghentikan laju bus. Yosep keluar dari bus dan langsung berlari ke arah pintu keluar tol ngawi.


"Babang tamvan jangan pergi, anak saya butuh babang tamvan sebagai ayahnya!" teriak janda anak satu.


"Babang tamvan, saya juga butuh kehangatan anda di ranjang!" teriak nenek-nenek berumur 65 tahun yang masih kuat berteriak.


Yosep terus berlari cepat menggunakan jurus moksala rudra, Yosep kecepatan larinya seperti flash, jarak 20 km ditempuh hanya dalam 1 menit.


Yosep sampai di pintu keluar tol ngawi, ia berlari lagi ke arah galaxy mall. Kafe Raimu CRC berada di samping Galaxy mall, cukup jauh memang dari terminal pintu tol keluar Ngawi, tapi Yosep dengan santainya seperti gelandangan menyusuri jalanan kota Surabaya. "Bagaimana ya?" Yosep berlari perlahan sambil menatap gedung-gedung di sepanjang jalanan kota Surabaya, yang sudah terang benderang oleh gemerlap lampu malam. "Ah mampir dulu ke warung, perut saya lapar."


Yosep berjalan ke arah warung seberang kafe Raimu CRC yang sudah tutup dan langsung duduk, warung itu di jaga kakek berumur 65 tahun dengan rambut beruban dan gigi depan ompong. Mukanya lesu seperti belum dapat pembeli, "pak kopi pak!" pinta Yosep sambil makan gorengan tempe tepung dan cabe rawit hijau. "Enak ini gorengannya."


"Eh ya mas, sebentar saya seduh dulu kopinya," balas Kakek Tirta. "Darimana mas? Malam-malam kok jalan kaki."


"Oh saya baru datang pak ke Surabaya, saya datang dari Cirebon, mau melihat kafe di seberang pak," jawab Yosep


"Oh kafe yang setiap hari ramai itu ya, jauh sekali dari Cirebon, kafenya sudah tutup mas dari jam 4 sore." Kakek menghidangkan kopi hitam pesanan Yosep. "Memangnya kafe itu hanya ada di Surabaya saja, di Cirebon tidak ada?"

__ADS_1


"Ada pak, tapi saya melihat bukan untuk nongkrong atau makan pak, saya ingin menyelesaikan masalah kafe yang tak bisa diurus anak buah saya pak," jawab Yosep.


"Mas, kalau ngayal jangan tinggi-tinggi, jatuh sakit nanti. Kalau tidur juga jangan terlalu miring, nanti kepalanya sakit dan tidak berpikir logis." Tirta duduk di kursinya, dan menganggap rendah Yosep karena pakaiannya yang sederhana dan tidak memakai kendaraan mewah. "Yang punya kafe pastinya orang kaya lah mas!"


Yosep mengeluarkan kantong kertas berisi uang 1 milyar dari tas gendong kecil hitam miliknya, karena kemana-mana Yosep selalu membawa uang cash. "Ini bukti kalau saya pemilik kafe itu!"


"Hah?!" Tirta membulatkan mata dan menjatuhkan rahangnya. "Maaf mas, kalau saya meremehkan mas, saya salah dan menyesal, saya minta maaf mas!"


"Tidak apa-apa pak, saya lebih suka hidup sederhana walaupun kaya raya pak, agar saya bisa merakyat. Ya seperti ini ngobrol di warung sambil makan gorengan." Yosep masih terus makan gorengan kakek Tirta, Yosep tak sadar ia sudah makan 10 gorengan tempe dan 10 gorengan bakwan. "Pak gorengannya mantap pak, saya borong semua saja ya pak!"


"Syukurlah, gorengan saya masih banyak mas, dari pagi belum ada yang beli. Tapi gorengannya sudak tidak hangat lagi mas, tidak apa-apa?" tanya kakek Tirta.


"Tidak apa-apa, ini uangnya!" Yosep memberikan uang 500.000 pada kakek Tirta, padahal semua gorengannya cuma seharga 150.000. "Jika bapak menolak uangnya, anggaps aja uang muka pembelian gorengan untuk besok pagi, ok pak!"


"Cucunya sakit apa pak?" tanya Yosep.


"Tipes mas, sudah hampir 2 minggu malah tambah parah sekarang," jawab kakek Tirta.


"Baik pak, terimalah dua pil ini. Saya juga pemilik rumah sakit di sebelah sana pak, jika masih sakit bapak bisa membwanya kesana gratis. Bilang saja yang menyuruh Yosep, ya pak!" jawab Yosep sambil memberikan 1 butir pil kintamani dan 1 butir pil jahe emas.


"Terima kasih mas, terima kasih banyak mas," ucap kakek Tirta yang tak sadar cairan benibg di sudut kelopak matanya keluar.

__ADS_1


"Sama-sama pak!"


Tiba-tiba di depan kafe banyak preman berkumpul sambil membawa banyak motor seperti geng motor, ada 20 orang dengan 10 motor yamaha RX king. Salah satu preman turun dan memukul securiti yang berjaga di pos.


Buk!


"Tolong! Tolong! Akh!" teriak securiti yang sudah babak belur di hajar habis-habisan oleh 5 preman sekaligus. Jalan raya juga sedikit mulai sepi, Yosep melompat tinggi dari warung dan langsung meluncur lalu menendang kelima preman dengan jurus mahesora dupa.


Bang!


krak!


Kelima preman itu tulang rusuk patah dan terkapar lemas, 15 preman lain turun dari motor dan mengepung Yosep. "Habisi dia!" teriak Kepala preman.


"Cuih, bau tai. Cecunguk seperti kalian mau menghabisi saya, butuh 1 milyar tahun untuk bisa menghabisi saya, itu pun jika kalian masih hidup!" Yosep langsung menotok bagian burung mereka secara cepat. Burung mereka yang sedang diam tiba-tiba bergerak lurus dan tambah besar seperti cacing yang berubah menjadi naga. "Rasakan itu, kalian akan gila di buat burung kalian sendiri."


"Sialan awas kau!" Ancam kepala preman yang nafsu birahinya meningkat ketika melihat anak buahnya. "Kenapa kalian cantik sekali malam ini?"


Kelima belas preman itu lari tunggang langgang karena tidak bisa menahan nafsu mereka. Yosep juga sudah menghipnotis kelima belas preman itu tanpa sadar, ketika melihat Yosep hanyalah sebuah tiang listrik. Jadi Yosep aman dari amukan pedang mereka.


Kelima belas preman itu mencari semak-semak untuk beradu pedang, melampiaskan nafus berpedang mereka. "Hahahaha, rasakan itu. Sudah kubilang berani mengusik orang-orang saya, saya akan buat menderita. Kemarin-kemarin tak buat mual dan berak-berak, sekarang seni berpedang. Nanti apa lagi, saya pikirkan, hahahaha!" ucap Yosep dibarengi tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Yosep mendekati kelima preman yang terkapar lemas, "katakan siapa yang menyuruh kalian?" Yosep mencengkram kuat salah satu kaki preman. "Atau saya akan buat lebih parah lagi."


"Ampun bos! Ampun! kami disuruh bos Trisnawati Suharso, bos. Tolong lepaskan kami!" jawab salah satu preman dengan wajah pucat pasi.


__ADS_2