
Yosep sedang berlari pulang, tiba-tiba dari jarak 500 meter, ia mendengar ribut-ribut seperti di panti. Telinga Yosep sangat peka, jarak pendengarannya bisa sampai radius 2 km. Jika saja Yosep melamun di malam hari, maka yang ia dengar bisa banyak suara-suara aneh yang bisa membangunkan tiang dalam ******.
Makanya Yosep lebih suka ketenangan, untungnya saja Yosep bisa meredam itu semua, bahkan jika ia menggunakan tenseigan matanya bisa menembus sampai jarak 20 km dengan memfokuskannya. Kadang menjadi orang sakti mandraguna itu tidak seenak yang dilihat oleh mata.
Yosep menghilang dari pandangan, dengan jurus moksala rudra dan sepatu kuda sembrani. Yosep kecepatannya melebihi kecepatan cahaya.
Dor!
Tang!
Reyna sudah pasrah, berjongkok dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Yosep menempelkan telapak tangan kanan, pada kepala Reyna tanpa bisa dilihat oleh Sastro sebelum ia menembak, karena saking cepatnya gerakan Yosep. Tubuh Reyna telah ditransfer energi jurus chakram visnu, melalui telapak tangan Yosep dan peluru itu tak mampu menggores sedikit pun kulit Reyna.
Semua teman-teman Reyna, mak Ijah, mang Caswi, dan Sylvia juga menutup mata. Ketika mereka membuka mata tidak terjadi apa-apa, malah muncul Yosep dibelakang Reyna.
"Halo Reyna! ci luk ba!"
Yosep malah bercanda sambil menjulurkan lidahnya, ia melirik mang Caswi untuk membawa mak Ijah dan anak-anak menjauh dengan melambaikan tangan ke belakang. Mang Caswi langsung memeluk Reyna dan mengarahkan anak-anak ke arah Masjid.
Juragan Sastro siap menembakan lagi pistolnya ke arah Yosep. "Mas awas!" teriak Sylvia yang malah dibalas oleh Yosep tertawa terbahak-bahak. "Mas kamu gak waras ya! orang mau ditembak malah tertawa!"
"Tenang saja, peluru itu hanya rasa kentut kalau mengenai kulit saya, hahahaha."
Yosep secepat kilat menarik pistol dari tangan Sastro dan menendang perut Sastro yang gendut lalu menginjak perut Sastro dengan kaki kanannya.
Bang!
Buk!
Guhak!
Sastro memuntahkan semua isi perut, berceceran di leher dan dadanya. "Kalau tak percaya, saya aka tunjukan pada kalian!" Yosep menempelkan ujung pistol Sastro di kepala bagian kanan, lalu menarik pelatuk itu sampai peluru di dalamnya habis.
"Mas jangan gila, aku mencintaimu dan aku tidak mau kehilanganmu!" teriak Sylvia dengan kedua tangan sudah di tarik oleh anak buah Sastro.
__ADS_1
Dor!
Tang!
Dor!
Tang!
Dor!
Tang!
Yosep tertawa terbahak-bahak seperti suara kuntilbapak, memecah keheningan pagi jalanan Desa Mundu Karangampel. Tak ada satu pun warga yang berani keluar, setelah mendengar tembakan. Anak buah Sastro dan Sastro sendiri, langsung terkencing-kencing, wajah mereka pucat pasi dan bergidik ngeri.
Clash!
Yosep melepaskan panah angin mahadewa nagapasha secepat kilat, ke arah kepala Sastro yang terlentang dan 4 anak buah Sastro. Kepala mereka berlima tertembus panah angin hingga membuat mereka roboh dan tewas seketika. Gerakan Yosep sangat cepat, dan tidak bisa dilihat oleh mata biasa, Sylvia membulatkan mata dan menjatuhkan rahangnya, bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Sylvia terduduk lemas lalu kehilangan kesadaran karena trauma mendalam. Kondisi matanya tetap terbuka dan berkedip namun kehilangan jiwanya.
Muncul pusaran angin kecil yang menghisap kelima jasad itu dan menghilang dari pandangan mata. Yosep mendapatkan jurus baru dari mahaguru resi Janggut putih, sewaktu ia koma dan berada di dalam alam bawah sadarnya.
Yosep mendekati Sylvia yang mengalami trauma dan menggendongnya ala bridal style, lalu menendang pintu gerbang panti yang digembok oleh Sastro.
Bang!
Yosep menaruh tubub Sylvia di tempat tidurnya, lalu meminum pil sembilan jiwa, pil itu Yosep buat untuk orang yang depresi, stres dan trauma bahkan gila akut. Mata Sylvia tertutup dan tertidur pulas sampai mendengkur keras.
___
___
___
__ADS_1
Yosep sedang melakukan trauma healing kepada anak-anak, mang Caswi, dan mak Ijah. Yosep memberikan pil sembilan jiwa pada mereka semua, khusus anak-anak hanya 1 pil dicampur air 1 galon dan diminumkan setengah gelas.
Yosep juga mengobati tangan mak Ijah yang retak diinjak oleh Sastro. "Mak minum pil ini!" Yosep memberikan pil jerangkong, mak Ijah langsung menelannya, tangan Kanan mak ijah yang retak langsung pulih.
"Makasih nak Yosep."
"Sama-sama mak."
Yosep mendapatkan kabar dari Vanya, bahwa Nehan Logistik bangkrut dan kantor utamanya dijual. Yosep mengantarkan anak-anak ke sekolah menggantikan Sylvia yang masih tidur.
"Saya harus mencari sekretaris pribadi, mungkin Sylvia cocok jadi sekretaris baru saya. Dan saya juga akan memindahkan anak-anak ke apartemen Wijaya, ayah Setyo pasti menyetujuinya. Biar anak-anak terjamin kehidupannya, setelah Sylvia bangun, saya akan mengajaknya ke kantor Nehan Logistik yang akan dijual. Mau nikah ada saja masalah yang menghadang," batin Yosep sambil mengemudikan mobil milik Sylvia ke arah panti.
Sylvia sudah bangun dan duduk di teras, "miss kamu sudah bangun? Tenanglah juragan Sastro sudah tidak akan menggangu kalian lagi. Dan saya juga punya kabar baik untuk kamu miss, mak Ijah, dan mang Caswi serta anak-anak," ucap Yosep.
"Apa itu mas?" tanya singkat Sylvia.
"Pertama saya akan menyediakan semua fasilitas untuk anak-anak, biaya hidup, biaya pendidikan, tempat tinggal dan transportasi mereka ke sekolah. Saya akan memindahkan mereka ke apartemen Wijaya dan tinggal disana!" jawab Yosep.
"Maksud mas apartemen di dekat polsek Karangampel, yang menjulang tinggi itu. Setahu aku, bukankah pemiliknya orang terkaya nomor dua di Indramayu? Biaya sewanya pasti mahal mas," tolak Sylvia.
"Ya tapi semua informasi yang kamu ketahui itu salah, pertama ayah Setyo sudah menjadi orang terkaya nomor tiga di pulau jawa, yang kedua ayah Jayus, dan yang pertama tentu saja saya Yosep Firmansyah, hehehe," jawab Yosep sambil tertaws ringan. "Memangnya siapa yang mau menyewa, lha wong apartemen itu milik saya."
"Maksud mas?"
"Ya, saya adalah calon suami Ziva letisha Wijaya, anak satu-satunya ayah Setyo Wijaya, sekaligus penerus Wijaya Group," jawab Yosep. "Saya tahu kamu mencintai saya, tapi saya akan menikah dengan keempat calon istri saya satu minggu lagi. Maaf!"
"Ya mas aku paham, dan aku menerimanya. Lalu yang kedua apa?"
"Saya membutuhkan kamu menjadi sekretaris pribadi saya!" pinta Yosep.
"Baik mas saya terima."
Setiap Sylvia berkata dan bertanya ia selalu berwajah datar, seperti bukan Sylvia yang ia kenal sebelumnya. "Memangnya kenapa kamu selalu menjawab dengan datar?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa mas."
Mohon maaf author upnya hanya 3 chapter karena author sudah seminggu demam, berak-berak, dan pilek. Tidurnya rata-rata malam jam 2, itu semua demi menulis novel ini dan memuaskan dahaga sahabat readers semua.