SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip 170


__ADS_3

Para warga sudah bubar, Yosep rebahan di taman atap. Haris juga sudah pulang membawa motor bututnya, dengan wajah sumringah dapat uang 12 milyar. Sylvia dan Wulan di taman atap sedang koordinasi untuk jadwal Yosep esok hari, "Syl! mas Yosep esok hari mau kemana? Ini petani di Karangampel bertanya terus, kapan mas Yosep akan mengunjunginya?" tanya Wulan.


"Dari jadwal, besok bertemu pak Suparta, untuk membicakan pembelian gedung. Mba Devi juga di ajak besok, sekalian eksekusi gedungnya!" jawab Sylvia.


"Kalau kerjaannya di kerjakam disini, enak, suasananya juya adem ayem, nyaman, dan tentram. Pekerjaan saya juga jadi cepat selesai" Vanya sambil menutup laptopnya lalu meregangkan tubuhnya. "Kamu mas! Kita pusing, kamu malah rebahan!"


"Saya ini capek juga Vanya, ingin dipijitin. Kalau di sekolah dulu Rany yang sering mijitin saya, kalau habis olahraga. Tapi Rany masih liburan, jadi jomblo sementara ini mah!" gerutu Yosep dengan wajah cemberut.


"Maaf mas! Kami tidak ada yang bisa mijit," sela Sylvia.


Suara mobil Koyota Alphard yang dikemudikan Anto datang dan membawa tim ZZRR, tapi Yosep tidak mendengarnya. Yosep malah berbaring tengkurap, tim ZZRR ternyata sudah pulang dari Jepang. Mereka berempat diberitahu Devi kalau Yosep berada di rumah barunya.


Rany bilang ke tim ZZR, untuk mengejutkan Yosep, Rany keluar dari lift dengan mengendap-endap. Lalu duduk di pantat Yosep dan memijatnya dengan lembut membuat Yosep sangat nyaman. Rany memberi isyarat tangan dengan jari telunjuk di taruh di bibir secara vertikal, agar mereka tidak mengatakannya pada Yosep.


"Enak banget pijatannya, kaya pijatan Rany enak. Sedap wow, mantap, nikmat!" Yosep yang tengkurap meracau tidak jelas menikmati pijatan Rany.


Tiba-tiba anak-anak yang bermain sepak bola di lapangan futsal bolanya meluncur ke taman atap rumah Yosep dan mengenai kepalanya.


Buk!


"Aw! Siapa sih yang menendang bola ini sial!" pekik Yosep sambil mengumpat.


"Bocah mas, sudah tak usah marah," ucap Rany.


"Rany!" Yosep bangkit dan membuat Rany yang duduk di pantat Yosep tidak seimbang dan hampir jatuh, Yosep langsung menangkap Rany dan mendekapnya. Mata Rany dan mata Yosep saling bertatapan penuh dengan cinta. "Kamu tidak bilang kalau mau pulang sama mas?"


Cup!

__ADS_1


Rany mencium bibir Yosep, "kejutan mas! lihat mereka juga juga dandan cantik buat mas. Mereka bertiga bilang sama Rany, kapan mas menikah dengan kami?"


Deg


Jantung Wulan, Vanya, Devi, dan Sylvia merasa sakit, jika Yosep dan tim ZZRR membicarakan masalah pernikahan. "Tenang mas sudah atur jadwalnya, karena mas sudah punya sekretaris pribadi," jawab Yosep. "Sylvia kemari, sini kenalan sama semua calon istri saya."


Sylvia menahan cairan bening dari kelopak matanya untuk tidak keluar, tangannya sedikit gemetar. "S-s-saya Sylvia Maharani, ibu!" ucap Sylvia sambil menyodorkan tangan pada Rany, Ziva, Zahra, dan Ryuna.


Rany lebih perasa, lalu mengajak Sylvia duduk di bersama. "Saya memahami jika kamu mencintai calon suami saya Mas Yosep, tapi saya sudah berlapang dada membagi cinta saya pada ketiga wanita lain yang mas Yosep sebenarnya tidak mencintainya tapi karena terpaksa. Saya harap mba Sylvia mengerti, masih banyak pria lain di luar sana yang lebih baik dari mas Yosep," tegas Rany.


"Tapi bu, mas Yosep sudah menyelamatkan hidup saya. Dan Saya juga tidak semudah itu melupakan mas Yosep," tandas Sylvia.


"Tapi kamu mau terus merasakan sakit, ketika melihat kami bermesraan dengan mas Yosep? Rany tidak khawatir dengan mas Yosep akan selingkuh, Rany sudah lamam berhubungan mas Yosep adalah tipe orang yang setia. Mas Yosep karena keadaan terpaksa harus menikahi mereka bertiga. Apakah mau mba Sylvia seperti itu terus?" tanya Rany.


Sylvia mulai bimbang dengan perasaanya mencintai calon suami orang lain, "Saya meminta maaf mba, dan saya akan berusaha membuka hati Sylvia untuk laki-laki lain," jawab Sylvia.


"Woy ngobrol mulu, gimana kalau malam ini kita barbeque, kalian sudah menginap saja disini. Besok berangkat kerjanya dari sini!" usul Yosep.


"Setuju mas!"


"Ya mas setuju!"


"Setuju tapi dagingnya beli dimana?"


"Tenang saja, nanti saya ke pasar Terisi beli bahan dan bumbunya. Kalian siapkan saja alat-alatnya!" titah Yosep.


Yosep turun ke lantai bawah melalui lift sambil membawa bola anak-anak yang mengenai kepalanya. Lapangan olahraga samping Yosep sudah banyak anak-anak dan warga yang bermain sepak bola, badminton, serta tenis.

__ADS_1


"Kifli sini!" panggil Yosep pada anak 13 tahun, dengan kulit agak hitam, mata agak lebar, dengan rambut seperti jengger ayam jago. "Ini bolanya Fli, tadi kena kepala saya, hehehe."


"Ya bang maaf, tadi Kifli yang nendang, maaf ya bang!" ucap Kifli sambil menundukan wajah.


"Fli kamu bawa motor gak?" tanya Yosep.


"Bawa bang, nanti saya ngomomg sama bapak! Soalnya bapak lagi ikutan main voli bang, memangnya kenapa bang?"


"Anterin abang ke pasar Terisi!" pinta Yosep.


"Loh! horang kaya kok minta di anterin sama motor butut begitu, abang kan punya banyak mobil mewah tuh!" balas Kifli sambil menunjuk mobil mewah Yosep.


"Gak enak Fli, lagi trauma sama yang namanya mobil mewah. Kalau saya bawa mobil keren, nanti banyak emak-emak yang riweh. Sudah ayo anterin abang!" pinta Yosep.


"Ya bang sebentar!" Kifli minta izin ke ayahnya, kalau Kifli mau anterin Yosep ke pasar dan Yosep nanti yang menyetir motornya. "Ayo bang! Bapak sudah izinin!"


Kifli adalah anak piatu, ibunya meninggal setelah melahirkannya, bapanya hanya buruh bangunan lepas. Kifli sekolah SMP juga sering dibuli karena ia miskin, tapi sebenarnya Kifli yang jenius olahraga. Kifli sangat jago cabang olahraga apa saja, sewaktu Yosep masih menganggur, Yosep sering bermain sepak bola bareng sama Kifli.


Yosep dan Kifli naik motor sambil berbincang, "Fli bagaimana sekolah kamu Fli?" tanya Yosep.


"Kurang baik bang, sering banyak yang ngebuli, jadi Kifli malas bersekolah," jawab Kifli polos.


"Kifli mau abang pindahin ke sekolah favorit? Kifli kan jago olahraga, sayang kalau bakatnya tidak dikembangkan," tawar Yosep.


"Tapi bapak gak punya uang bang," tolak Kifli.


"Sudah nanti abang yang biayain kamu. Semuanya gratis sampai kamu kuliah, nanti abang juga akak mendata anak-anak yang kurang beruntung di desa Mundakjaya untuk abang biayain sekolahnya. Masa abang punya rizki melimpah gak memberi kesejahteraan pada tetangganya," balas Yosep. "Nanti panggil bapak ke rumah ya!"

__ADS_1


"Ya bang, makasih ya bang! Kifli gak tahu harus ngomong apa, hiks, hiks, hiks," ucap Kifli yang mengeluarkan cairan bening di sudut kelopak matanya.


__ADS_2