
Setelah 30 menit Ziva datang dahulu ke rumah sakit di susul Zahra. Mala juga sudah di antar oleh Zahra ke cafe, Zahra beralasan pada Mala untuk pergi ke rumah sakit karena ingin check up keadaan tangannya. Padahal hatinya terbakar cemburu dan ingin segera melabrak Vanya yang sudah merebut perhatian Yosep.
Mereka bertiga saling bekerja sama, jika Yosep tidak membalas pesan dari salah satu dari mereka, yang lain akan bertanya satu sama lain berbagi informasi. Tadi malam Yosep tidak sama sekali memberi kabar pada salah satu di antara mereka bertiga. Jadi mereka curiga jangan-jangan Yosep sedang berduaan dengan wanita lain.
Ziva yang baru datang langsung menjewer telinga Yosep. "Jangan kegatelan mas, awas saja!" Ujar Ziva dengan nada ketus.
"Aw! Sakit!" Pekik Yosep.
Lain dengan Zahra ia segera memeluk Yosep. "Mas! Tolong jangan nambah istri lagi. Zahra sangat sayang sama mas Yosep dan tak ingin berbagi cinta lagi." Ujar Zahra dengan nada yang lembut. Untung saja Vanya tidak melihatnya karena sedang mandi, kalau melihat pasti seru dan pasti mentertawakan Yosep.
"Ya sayang!" Kata Yosep sambil mengelus hijab Zahra dengan lembut.
"Maafkan aku mas kalau kasar, aku gak mau kehilangan mas Yosep. Aku juga mau dipeluk!" Ujar Ziva dengan raut muka imut.
"Gak apa-apa mas mengerti! Ya sini, mas peluk juga!" Ujar Yosep sambil memeluk Zahra di sebelah kanan dan Ziva sebelah kiri.
"Maafkan Rany juga ya mas kalau pukulannya terlalu keras. Rany juga mau dipeluk!" Ujar Rany dengan raut muka imut juga.
" Ya, ya gak apa-apa. Mas sayang kalian semua. Sini peluk juga!" Seru Yosep dan mereka berempat saling berpelukan seperti teletubies. Mereka akhirnya saling melepaskan pelukan.
Yosep mendapat pesan dari bu Sarmila bahwa ia dan timnya sedang dalam perjalanan menuju gudang pupuk Yosep. Pak kades memberikan lokasi di aplikasi mangap pada bu Sarmila. Pak Awi juga memberikan pesan bahwa pengerjaan gudang sudah selesai karena digeber hampir 24 jam mereka bekerja secara bergantian.
"Berarti hari ini syukuran untuk pembukaan gudang baru ." Batin Yosep. "Ayo kita bergegas ke bank dahulu, Zahra tolong beritahu ibu untuk membuat tumpeng dan juga 1000 box nasi premium. Kita akan mengadakan syukuran pembukaan gudang pupuk dan juga pembentukan PT Raimu farm. Nanti tolong kirimkan ke ke bekas gubuk ya di Mundakjaya jam 20.00 WIB." Pinta Yosep.
__ADS_1
"Baik mas. Zahra akan kembali ke cafe sebentar lagi akan buka." Ujar Zahra. Vanya keluar dari kamarnya dan melihat tiga orang wanita sangat cantik.
"Oh ya, Zahra! Perkenalkan ini Vanya sekretaris yang akan membantu Zahra. Mulai sekarang Zahra yang akan jadi direktur di Raimu CRC." Ujar Yosep sambil menunjuk Vanya.
"Saya Vanya! Mohon bantuannya!" Ujar Vanya sambil menyodorkan tangan untuk berjabat tangan.
"Saya Zahra, senang berkenalan dengan Vanya. Mohon kerja samanya!" Ujar Zahra sambil menyambut tangan untuk berjabat tangan.
"Vanya kamu ikut Zahra dan bawa tas kamu. Nanti kamu bisa menyusul nanti malam ke gudang ok!" Ujar Yosep.
"Ok mas dokter!" Ujar Vanya lalu ke dalam kamar untuk mengambil tasnya. Setelah itu Vanya bersama Zahra menuju mobil koyota Alphard miliknya.
"Mas aku ikut! Hari ini tak ada kesibukan di Kantor, bolehkan?" Tanya Ziva.
"Sendiri saja mas, takut nanti merepotkan mas Yosep. Kalau barengan nanti ms Yosep bolak-balik anterin aku." Jawab Ziva.
"Ya aku juga bawa mobil sendiri mas. Jika progres pupuknya bagus, Rany juga ingin melihat langsung kantor PT. Alkimia Bharata Jaya untuk bekerja sama, papah merengek terus bikin Rany pusing kepala. Papah juga ingin Rany yang menghandle kerja sama ini." Ujar Rany.
"Oh ok!" Jawab Yosep. Mereka bertiga menuju mobil masing-masing dan memacu kendaraanya seperti orang sedang balapan. Rany dengan Mercy CLK berwarna putihnya, Yosep dengan bugati la voiture berwarna hitam, dan Ziva dengan Mazda MX8 berwarna pink.
Suara mobil mereka bertiga memecah keheningan pagi di jalanan Provinsi Antara Indramayu kota-Lohbener. Sebelum berangkat menuju Mundakjaya Yosep mengambil uang 500 juta untuk persiapan menanam bibit, meskipun biayanya tak sebesar itu. Lebih baik sedia payung sebelum hujan.
Yosep juga memberitahu pak kades untuk mengumpulkan warga miskin dan anak yatim untuk mendoakan syukuran gudang pupuk. 45 menit kemudian mereka bertiga akhirnya sampai di gudang pupuk, sebuah bangunan setinggi 10 meter dengan luas bangunan 20 meter x 20 meter dan lapangan yang sudah di keramik dengan luas 50 meter x 100 meter. Di dalam bangunan juga ada kantor meskipun kecil hanya 4 meter x 5 meter.
__ADS_1
"Wah keren ini, mantap!" Puji Yosep yang keluar dari mobilnya. Pak kades juga sedang menata traktor yang sedang diturunkan dari mobil kontainer jumlahnya ada 20 unit comband (traktor yang bisa menanam dan memanen).
Pak kades menghampiri Yosep. "Nak Yosep traktornya juga sudah datang. Ini sisa uangnya masih tersisa 95 juta!" Ujar pak kades sambil memberikan kantong coklat berisi uang 95 juta.
"Tidak usah pak. Itu anggap saja keuntungan bapak atau komisi bapak. Dan ini bonus yang saya janjikan!" Ujar Yosep sambil memberikan uang 50 juta pada pak Kades.
"Tidak nak Yosep. Yang waktu itu saja sudah cukup!" Tolak pak kades.
"Sudah pak ambil saja. Terserah bapak uangnya buat apa yang jelas ini uang halal." Ujar Yosep dengan sorot mata yang sangat serius.
Warga juga sangat ramai pagi ini berkumpul di depan gudang pupuk, para pemuda juga terpesona dengan Rany dan Ziva yang sedang berbicara dengan bu Sarmila. Pak Awi juga ada di sana dan segera menghampiri Yosep. "Yos! Ini sisa uang pembangunan gudang dan lapangan. Sudah dipotong dengan biaya tukang bangunan." Ujar Pak Awi sambil memberikan kantong coklat berisi uang 50 juta.
"Pak sisanya buat bapak saja, ini bonus yang saya janjikan!" Ujar Yosep lalu memberikan uang 100 juta pada pak Awi.
"Yos bapak ikhlas. Uang kontrak sawah saja sudah banyak, ini malah di tambah lagi." Tolak Pak Awi.
"Tak apa-apa pak. Malah saya mau menjadikan bapak kepala tim tani atau direktur PT. Raimu farm. Besok kita akan rapat dengan tim pak Awi dan juga tim dari PT. Alkimia Bharata Jaya." Jelas Yosep.
"Makasih banget Yos! Bapak jadi terharu, hiks! hiks! hiks!" Kata Pak Awi sambil menangis haru dan memeluk Yosep.
"Bapak juga nak Yosep. Terima kasih banyak, hiks! hiks! hiks!" Kata pak kades sambil menangis dan memeluk Yosep juga.
"Hadeuh! Tua-tua kok cengeng!"
__ADS_1