SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip 189


__ADS_3

Yosep mencabut tiang tegaknya dari mulut gua merah muda Ryuna dan menyelimutinya. Ryuna terkulai lemas lalu tertidur pulas, Yosep membuka kaos oblongnya dan pergi menuju lemari pendingin untuk minum, tubuhnya cukup mengalami dehidrasi setelah bergulat selama 1,5 jam.


Gluk!


"Ternyata melakukan mantap-mantap itu memang surga dunia, pantas saja banyak anak muda di luar nikah melakukannya, apalagi dilandasi atas dasar cinta yang penuh nafsu," gumamnya.


Greb!


"Lama sekali sih mas! Aku juga sudah kangen!" Zahra memeluk Yosep dari belakang dalam keadaan telanjang bulat, gunung kembarnya yang sudah mengeras ujungnya menempel pada punggung Yosep. Zahra meliuk-liuk sambil menggosok-gosokannya pada punggung Yosep dengan penuh kelembutan. "Nikmat sekali mas rasanya!"


Tangan Zahra turun merayap ke bawah perlahan sampai ke tiang tegak Yosep, dan meremasnya lembut. Yosep mengerang pelan, menikmati permainan Zahra.


Nafsu Yosep langsung memuncak kembali, ia langsung membalikan badan dan mencium bibir Zahra dengan darah yang memuncak di ubun-ubun. Tangan Yosep mencengkram gunung kembar milik Zahra dan meremasnya kasar, membuat Zahra merasakan sakit tapi ingin diulang lagi, gua merah muda Zahra mengeluarkan cairan kental putih.


Tangan kanan Yosep merayap perlahan sampai ke gua merah muda Zahra dan meremasnya pelan, penuh dengan kelembutan. Zahra yang menikmatinya sambil dicium Yosep, semakin ganas membalas ciuman Yosep.


Cairan kental putih dari gua merah muda Zahra keluar cukup banyak, Yosep langsung membalikan badan Zahra dan memasukan tiang tegaknya ke mulut gua merah muda Zahra.


Cairan merah deras mengalir, Zahra merintih kesakitan, semua badannya terasa nyeri, Zahra menjerit suaranya melengking. Kesakitannya dikalahkan nafsunya yang sudah memuncak, Yosep yang melihatnya tak tega, ingin mengeluarkan tiang tegaknya dari mulut gua merah muda Zahra.

__ADS_1


Namun ditahan oleh tangan Zahra, justru tangannya memandu tangan Yosep ke gunung kembarnya untuk diremas oleh Yosep.


Yosep menggenjot tiang tegaknya secara cepat, membuat bunyi yang cukup keras membuat Ziva terbangun. Ziva kaget Yosep sedang bermain dengan Zahra dalam keadaan berdiri, mereka sangat menikmatinya, membuat gua merah muda Ziva gatal.


Ziva melepaskan lingerienya dan mendekati Yosep bersama Zahra lalu memeluk Yosep dari belakang. Ujung gunung kembarnya sudah menegang terhimpit punggung Yosep, Ziva menciumi bahu Yosep yang terus bergerak menikmati Zahra.


Yosep berhenti sejenak karena Zahra final pertama kali, lalu menolehkan kepalanya menyambut bibir Ziva dan menciumnya. Zahra mengerang keras, tubuhnya bergetar. Yosep melepaskan ciuman pada Ziva lalu memeluk tubuh Zahra, mengangkat dan membalikannya ke arah Yosep.


Kedua paha Zahra ditahan oleh kedua tangan Yosep dan mulai melajukan tiang tegaknya secara cepat dalam keadaan berdiri. Ziva duduk sesaat di bawah Yosep dan Zahra sambil memandang tiang tegak Yosep yang sedang dimakan oleh gua merah muda Zahra.


Terdengar erangan lagi dari mulut Zahra, kali ini suaranya lebih melengking, cairan kental putih hangat membanjiri tiang tegak Yosep. Zahra mengalami final kedua, Ziva terangsang dan memegangi bibir gua merah muda miliknya dan meremasnya kencang.


Yosep mengangkat tubuh Zahra yang masih ingin bermain ke tempat tidur, Ziva mengikutinya. Yosep menaruh badannya dibawah tertindih tubuh Zahra yang mulai menggeliat seperti ular sawah. Ziva yang sudah tak tahan menunggu langsung meletakan bibir gua merah mudanya, tepat di depan mulut Yosep.


Tubuh Ziva terdiam dan bergetar beberapa saat, Zahra terus melajukan semakin cepat dan semakin cepat, lama-kelamaan ia mengerang, cairan kental putih membasahi pantat Zahra dan paha Yosep.


Zahra sudah tak kuat, ia terkulai lemas dan merebahkan badannya disamping Yosep. Ziva turun perlahan menuju tiang tegak Yosep dan memasukan gua merah muda miliknya, ke tiang tegak Yosep. Ziva mengerang kesakitan, belum pernah ia merasakan sesakit ini.


Cairan merah keluar dari dalam gua merah mudanya, Zahra dan Yosep berciuman sedangkan Ziva terus melajukan tubuhnya perlahan, menikmati suasana surga dunia.

__ADS_1


Lidah mereka seperti sulur tanaman saling berpagutan kuat satu sama lain. Zahra terengah-engah melepaskan ciumannya, ia kehabisan nafas setelah bercumbu dengan Yosep, staminanya yang terkuras habis membuat matanya terpejam dan tertidur setelah pergumulan seperti Evander Holyfield melawan Myke Tyson.


Ziva menghentikan lajunya, dalam keadaan tiang tegak masih masuk ke dalam gua merah mudanya. Ziva ******* bibur Yosep dan terjadi pergumulan ganas seperti buaya memakan rusa, Yosep yang cairan darahnya memuncak di ubun-ubun langsung tancap gigi pertama dan beralih ke gigi dua, membuat cairan kental putih dari bibir gua merah muda Zahra tumpah ruah membanjiri paha sampai perutnya.


Yosep seperti bermandikan susu cap kental nona, tubuhnya lengket dan berbunyi decakan ketika terhimpit oleh pantat Ziva. Yosep duduk, Ziva pun otomatis ikut duduk, mata Ziva sudah sayu menikmati gempuran Yosep, perang dunia pertama dan kedua pun kalah serunya dengan perang antara Yosep dan Ziva.


Yosep melajukan lagi tiang tegaknya, Ziva yang memejamkan mata meracau tidak jelas sambil menggigit bibir bawahnya. Erangan, jeritan, hingga raungan keluar dari mulut Ziva, untung saja mereka menginap di pulau antah berantah yang jauh dari pemukiman. Kalau tidak bisa-bisa banyak yang mengintip adegan perang dunia keempat mereka berlima.


Ziva mengalami final lagi, tubuhnya bergetar hebat, semua tubuhnya merasakan nyeri dan linu. Cairan kental putih lagi-lagi mengalir deras membanjiri mereka berdua.


"Apa kamu masih kuat sayang?" tanya Yosep yang tak tega terhadap Ziva, dari ketiga istrinya hanya Ziva yang mengalami final yang sangat hebat, cairan kental putih keluar deras hingga tubuhnya bergetar hebat.


"Maaf mas, aku sudah tidak kuat lagi, aku ingin istirahat sajanya mas."


Yosep langsung merebahkan Ziva lalu menyelimuti Zahra dan Ziva. Tak terasa sudah pukul 00.30 WIB, namun tiang tegak itu belum juga menyemburkan bola laharnya dan masih meraung keras.


Groaar!


Keempat istrinya sudah tertidur pulas, Yosep pergi ke kamar mandi dengan perasaan kesal terhadap tiang tegaknya. "Dasar bocah nakal, naga badung! Lihat keempat istriku dibuat T.K.O. dan kamu masih belum puas, nanti kapan aku punya anaknya. Dasar nakal! Dasar nakal! Dasar nakal!" Yosep menggerutu, menyentil tiang tegaknya sambil berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


Yosep masuk ke dalam bathtub dan mengisinya dengan air tidak terlalu hangat, sambil memejamkan mata untuk merelaksasi tiang tegaknya agar turun, jangan terus tegak seperti tiang upacara bendera yang 7 hari dalam seminggu selalu tegak.


Tiang tegak Yosep tetap berdiri kokoh, tapi badannya cukup nyaman. Yosep menikmati rasa santainya yang belum pernah lagi ia dapatkan dalam beberapa hari.


__ADS_2