
Yosep sudah sampai di gudang pupuk membawa 50 porsi baso urat dan 5 dus teh bulat. Pak Awi dan tim petani sedang di sawah untuk menabur pupuk. Bibit padi yang disemai di lahan diberikan semprotan pupuk alkimia dengan perbandingan satu kilo pupuk alkimia dan 10 liter air. Bibit padi itu dalam semalam langsung tumbuh menjadi bibit padi yang siap tanam.
Tim petani dan tim pupuk Alkimia terkejut, bagaimana mungkin proses pembibitan padi yang biasanya berjalan 10-15 hari untuk menumbuhkan bibit padi menjadi bibit semai dalam semalam. Tim pupuk alkimia juga sudah memasang kamera di seluruh sudut lahan untuk bibit semai. Betapa kagetnya tim pupuk alkimia setelah melihat rekaman video penelitian pupuk, mereka melihat pertumbuhan bibit padi menjadi bibit semai tumbuh cepat hanya dalam semalam.
22 kg untuk lahan 2100 meter atau satu hektar, karena total sawah Yosep ada 10 hektar maka pak Awi membeli bibit IR33 totalnya 2,2 kuintal. Bibit 2.2 kuintal itu di tabur secara acak ke lahan 1000 meter untuk di tanam di lahan 21.000 meter atau 10 hektar.
Hari ini pak Awi bersama 9 orang lainnya ingin menaburkan pupuk Alkimia secara acak dengan perbandingan yang diarahkan oleh tim pupuk alkimia yaitu 1 hektar hanya 5 kuintal totalnya untuk 10 hektar 5 ton. Tapi mereka kekurangan orang, hanya bisa merekrut 20 orang saja untuk membantu menabur pupuk ke lahan 10 hektar.
Penduduk desa masih enggan dan meremehkan dengan apa yang Yosep rencanakan. Padahal pak Awi sudah memberikan upah 150.000/orang.
"Bu Karti, bapak mana?" tanya Yosep sambil memberikan 5 karton teh bulat dan 50 bungkus baso urat yang ditaruh di dalam dus besar tertutup.
"Eh ... kamu Yos, bapak di sawah sedang memupuk sawah kamu," jawab bu Karti. "Nanti juga pulang buat makan siang, tapi ...."
"Tapi kenapa bu?" tanya Yosep.
"Tapi saya belum sempat masak buat para petani yang lain, soalnya hari ini bapak sewa orang lumayan banyak 20 orang," jawab bu karti.
"Oh itu ... di dalam ada bakso urat bu 50 porsi, nanti buat bapak makan siang. Saya boleh pinjam baju petani bapak, saya belum mandi dan juga saya mau bantu bapak di sawah. Pasti 30 orang memupuk sawah 10 hektar tak akan selesai sampai sore hari. Nanti aku carikan nasi padang di pasar Terisi bu," ujar Yosep.
"Mau apa ke sawah? Orang sudah jadi bos besar ke sawah," canda bu Karti.
__ADS_1
"Tidak apa-apa bu. Aku ini anak petani, ya tetap mencintai dunia tani," balas Yosep.
Ibu Karti memberikan baju dan celana petani ke Yosep (kalau di Indramayu namanya baju petelesan). Yosep langsung melepas sepatu hitam, kemeja putih, dasi hitam dan jasnya lalu memasukan ke dalam mobil lambhorghini miliknya yang terparkir di depan gudang.
Tim pupuk Alkimia juga lagi menyusun laporan penelitian di rumah kontrakan pak kades, satu orang memantau tim petani Raimu farm di sawah. Yosep berjalan menuju sungai dekat gudang padi hanya bertelanjang dada sambil membawa baju ganti dan handuk yang diberikan bu Karti, sungainya cukup jernih.
Yosep hanya memakai ****** ***** lalu terjun menyeburkan diri ke dalam sungai. "Airnya sungguh segar sekali, sudah lama tak mandi di sungai," gumam Yosep sambil membersihkan badannya.
Setelah selesai mandi Yosep langsung mengeringkan badannya dengan handuk dan masuk ke dalam mobil untuk ganti baju memakai baju petani. Banyak panggilan masuk dan pesan di smartphone Yosep dari Rany, Ziva, Zahra, Vanya dan Wulan tapi tidak digubris oleh Yosep, bahkan Ryuna juga memakai nomor Albert mengirimkan pesan pada Yosep tetap saja tak digubris.
Yosep menjemur handuk di tempat jemuran depan rumah pak Awi, "bu kalau bapak pulang kabari aku ya! Aku mau ke pasar Terisi dulu ya nyari warung nasi padang!" pinta Yosep yang langsung pergi menuju mobilnya seperti di kejar setan.
"Ya! Nanti ibu telepon!" teriak ibu Karti dari dalam rumah.
Sampai pasar Yosep melirik ke kanan dan kekiri mencari warung nasi padang, akhirnya menemukan warung nasi padang. Tapi yang menjadi penjaga warung nasi padang itu adalah Haris teman waktu di MTSN Cikedung yang sekarang berubah nama menjadi MTSN Terisi setelah terjadi pemekaran kecamatan.
Yosep keluar dari mobilnya, semua orang tercengang melihat Yosep. Pemuda memakai baju petani keluar dari mobil yang sangat mewah dan langka di Indramayu.
"Gila! Orang kaya mana berpakain seperti itu," ujar tukang parkir pasar Terisi membulatkan mata.
Yosep tidak mengenali Harris karena sudah hampir 4 tahun tak bertemu, membuat Yosep lupa akan wajah teman-teman waktu MTSN. "Bro, mau pesan apa? Sekarang sudah sukses ya. Bawa mobilnya saja keren begitu," ujar Harris tapi Yosep diam dan bingung.
__ADS_1
"Sombong banget ya Yos, mentang-mentang sudah sukses melupakan sahabatnya dulu waktu MTSN. Aku ini Ahmad Haris sahabatmu kita kan dari kelas 7 sampai kelas 9 selalu duduk di meja yang sama. Tega benar kau ini Yos," jelas Haris.
Yosep masih mengingat-ingat wajah Haris yang sedikit berubah dari MTSN hingga sekarang. "Maaf ... aku agak lupa, ya aku ingat blegor kan?" ujar Yosep memanggil julukan Haris waktu MTSN sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sial! Kau masih saja ingat julukanku itu. Mau pesan apa nih? Enak ya sekarang sudah sukses," tanya Haris.
"Oh ya, pesan 100 porsi nasi padang, 50 porsi pakai itu dan 50 porsi pakai itu," jawab Yosep sambil menunjuk kaca ke ayam bakar dan rendang.
"Banyak banget memang buat apa?"
"Buat makan siang para petani, berapa totalnya?"
" 1.750.000. aku diskon sahabat 50.000 bayarnya 1.700.000," jawab Haris.
Yosep langsung memberikan uang 2 juta, "Kelebihan kan cuma 1,7 juta, kenapa 2 juta?" tolak Haris sambil mengembalikan uang 300.000 pada Yosep.
"Tidak apa-apa. Buat jajan anak kamu," ujar Yosep.
"Enak saja, aku belum menikah tahu. Masa semuda ini sudah seperti bapak-bapak," ujar Haris.
"Ya sudah tambahin buat biaya nikah, mau alasan apa lagi?" ujar Yosep.
__ADS_1
"Ya sudah terima kasih. Sebentar aku siapkan," ujar Haris lalu menyiapkan pesanan 100 porsi Yosep dengan lincah, cepat dan cekatan.