SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip 157


__ADS_3

Mata Yosep berkeliling sedari tadi, memperhatikan tatapan-tatapan sinis lalu berubah menjadi terkejut, setelah Yosep dipanggil pak big bos oleh pak Sumadi. Yosep duduk di depan meja rapat, dihadapannya ada 200 petani yang sedang duduk rapi, 150 diantaranya, muka mereka pucat pasi terkena serangan mental.


"Selamat siang bapak-bapak semuanya!"


"Siang pak big bos!"


"Saya hanya sedikit sharing bukan untuk menggurui, pengalaman bapak-bapak semua tentu lebih banyak ketimbang saya yang masih muda ini. Sebagai pengusaha muda yang masih seumur jagung, tentu saya menemui beberapa mitra, kolega, atau pengusaha lain. Dan tentu saja mereka punya pengalaman pahit dan tidak semuanya manis."


"Mereka pernah mengalami kegagalan dalam menjalin hubungan dengan mitra usaha lain karena satu alasan, yaitu meremehkan mitra usahanya karena memandang rendah dari busana yang mereka pakai. Kita sudah tidak asing lagi dengan istilah, jangan menilai buku dari sampulnya."


"Saya harap bapak-bapak disini selalu rendah hati dan menjadi orang yang dermawan meskipun sudah menjadi sejahtera setelah bergabung ke Raimu Farm. Dan yang baru bergabung, sederhanalah dalam hidup, jangan remehkan orang lain hanya karena penampilannya, dan berusahalah semaksimal mungkin," ucap Yosep dalam pernyataannya memberikan arahan pada para petani.


Mendengar pernyataan Yosep 150 petani yang menghina Yosep dalam hati, seolah mendapat tamparan keras meski pipi mereka tidak ditampar. Mereka semua langsung menundukan kepala, cairan bening keluar dari kelopak mata mereka.


"Kami meminta maaf, pak big bos karen sempat meremehkan anda, hiks,hiks,hiks," ujar serentak 150 petani.


"Sudahlah, saya juga sudah maafkan. Tapi lain kali, saya tidak akan mentolerir perbuatan bapak-bapak semua. Saya tidak mau punya mitra usaha yang sombong. Lihat pak Awi yang sudah jadi komisaris utama, meskipun baru saja dapat uang 8.9 milyar plus gaji dan bonus yang tinggi. Beliau masih rendah hati dan mau membantu petani yang lain, beliau masih suka turun ke sawah."


"Pak Samun, pak Sumadi, dan tim inti petani yang sudah punya mobil, bahkan mau beli mobil lagi. Mereka tetap rendah hati, bahkan pak Sumadi sedang membangun rumah yang besar tapi beliau tetap seperti dahulu tidak sombong," ucap Yosep.


"Ya pak big bos, kami menyesalinya dan tidak akan berbuat seperti itu lagi," balas serentak 150 petani.


"Ya sudah, jangan biarlah ini menjadi pelajaran. Sekarang saya akan membagikan pembayaran kompensasi awal 20 juta/orang, ini adalah keseriusan perusahaan dibawah naungan saya, memberikan dana kompensasi di awal terhadap mitra usahanya. Yang namanya dipanggil maju ke depan! Yang sudah dapat transferan uang langsung ambil nasi box, untuk makan siang, shalat, lalu kembali bekerja!" titah Yosep.


"Siap pak big bos!" sahut 190 petani dengan wajah sumringah. Mereka semua adalah petani miskin dengan hidup bukan hanya di garis miskin, tapi dibawah garis kemiskinan, hidup hanya mengandalkan juragan pemilik lahan sawah. Yosep ingin merubah pandangan tentang buruh tani yang selalu dipandang miskin. Bahwa buruh tani juga bisa menjadi seorang milyarder dan Yosep sudah membuktikannya.

__ADS_1


Yosep memanggil satu persatu para petani lalu mentransfer uang 20 juta ke rekening mereka masing-masing. Yosep dibantu Ambar untuk menyelesaikan pembayaran kompensasi awal, agat berjalan lebih cepat.


___


___


___


Yosep kini sendirian berada di pantai balongan indah menikmati matahari terbenam, seharian ini Yosep bekerja sangat keras meskipun hanya mentransfer uang. Tapi mentalnya cukup terkuras habis karena harus teliti dalam menuliskan 190 nomor rekening para petani.


Yosep menatap matahari terbenam dengan terlentang di bibir pantai, pantai balongan indah cukup ramai sore hari. Masih banyak anak-anak, tua, dan muda yang berenang.


"Tolong! Tolong! Anak-anak saya terseret ombak dan tenggelam!"


Terdengar teriakan parau dan jeritan wanita muda yang sangat cantik, tubuhnya sintal, rambut lurus berwarna coklat panjang sepinggang, kulitnya putih bak salju di kutub utara dan selatan seperti artis sylvia fully.


Penjaga pantai balongan sangat kesulitan menyelamatkan 10 anak yang tenggelam, karena deras dan tingginya gelombang ombak, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena banyaknya anak yang harus di tolong.


"Disana mas! Tolong mas anak-anak saya mas! Cepat mas cepat!"


Wanita muda itu histeris dan menarik-narik kerah baju Yosep sambil menunjukan arah dimana anak-anak itu tenggelam. "Tenanglah bu, saya akan berusaha semaksimal mungkin menolong anak anak ibu!"


Yosep berlari cepat dengan menggunakan jurus moksala rudra ke arah 10 anak yang tenggelam, lalu melempar rantai bajra isvara ke arah pinggul mereka dan menguncinya. Rantai itu Yosep tarik ke arahnya agar anak-anak mendekat padanya, lalu Yosep menginjak permukaan air sebagai tumpuan dan terbang dengan menginjak angin.


Semua orang terpana dengan aksi Yosep terbang membawa 10 orang anak yang sudah dalam kondisi pingsan. "Wow emejing, di zaman now serba modern ini, ternyata masih ada orang yang sakti mandraguna, masih muda, ganteng lagi," puji penjaga pantai dengan membulatkan mata, seakan matanya tak mau berkedip.

__ADS_1


Yosep turun dan meletakan kesepuluh anak itu jauh dari bibir pantai. Yosep sebagai dokter super tentu langsung, melakukan perawatan awal kecelakaan khusus dokter super. Yosep menotok dada bagian tengah kesepuluh anak dengan jurus jari api tingkat satu.


Tsuk!


Tsuk!


Tsuk!


Kesepuluh anak itu langsung memuntahkan air laut yang sudah masuk ke dalam perut mereka.


Guhak!


"Syukurlah mereka selamat."


Yosep menelankan pil kintamani pada sepuluh anak itu, agar cepat pulih. Kesepuluh anak itu langsung pulih dan memeluk Yosep dengan menangis.


"Terima kasih om pahlawan, hiks, hiks, hiks," ucap serentak anak yatim paitu dari yayasan anak yatim piatu Al Madani, Desa Mundu kecamatan Karangampel. Cairan bening membasahi wajah mereka.


Tubuh wanita muda bernama Sylvia itu terduduk lemas, badannya masih bergetar, kepalanya menunduk, dan wajahnya yang sudah basah kuyup oleh cairan bening dengan tertutup oleh kedua telapak tangannya.


Kesepuluh anak itu melepaskan pelukannya dari Yose lalu berlari ke arah Sylvia dan memeluknya erat. "Miss, kami selamat miss, jangan bersedih miss!"


Itulah kata-kata yang yang mereka ucapkan untuk menenangkan Sylvia yang sudah depresi dan histeris, setelah melihat mereka tenggelam.


Sylvia melepaskan kedua telapak tangan yang menutupi mukanya dan berkata sambil menangis, "Syukurlah, miss sangat takut kehilangan kalian, hiks, hiks, hiks."

__ADS_1


"Tenang miss, kami selamat dan om pahlawan yang menyelamatkan kami," ucap Reyna salah satu anak panti.


Yosep tersenyum melihat kehangatan mereka dan bergumam, "syukurlah mereka selamat. Lebih baik saya pulang."


__ADS_2