SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip 149


__ADS_3


Nama : Devi Puspitasari


Umur : 20 tahun



Nama : Wulan


Umur : 19 tahun



Nama : Vanya Nila Kusuma


Umur : 25 tahun


Mulut menjatuhkan rahangnya, air liurnya seakan berontak ingin keluar dari mulutnya melihat tiga wanita turun dari hypercar.


"Gluk!" Haris menelan salivanya. "Buju busyet, ini mah bukan cantik lagi bidadari khayangan nyemplung di warung nasi pada aku," batin Haris menatap lekat tiga dara yang cantik dan seksi, kelopak matanya tak mau menutup melihat keindahan surgawi yang tak pernah terbayangkan.


"Oh kalian sudah sampai, mari sini kita ngobrol sambil makan. Silahkan pesan!" ajak Yosep lalu menyedot sedotan es teh manis miliknya sampai habis yang tiga gelas itu. "Haris masakanmu tidak pernah berubah, kamu memang koki yang handal, mantap!"


"Pak big bos!" sapa merek bertiga serentak dengan menundukan kepala lalu duduk di depan Yosep.


"Silahkan mau makan apa?" tanya Yosep yang biass saja melihat mereka bertiga, raut wajahnya tetap datar, padahal mereka bertiga melihat Yosep begitu, lekat kelopak matanya tak ingin menutup sama sekali.


"Eh ya, Hmm ... Wulan nasi padang sama ayam bakar dada ya bang, minumnya es jeruk peras!" pinta Wulan sambil menggumam dan menahan dagunya dengan punggung tangan kirinya.

__ADS_1


Haris yang melihat keimutan Wulan menyeka hidungnya yang sudah mengeluarkan darah mimisan dengan tisu dan berucap dengan nada terbata-bata, "ma-maf, aku grogi melihat tiga bidadari nyemplung warung na-nasi padang milikku yang belum pernah dikunjungi bidadari seperti ka-kalian bertiga."


"Hahaha ... lucu kamu bang, bidadari nyemplung warung nasi padang, hahaha ... pffft!" ucap Vanya sambil tertawa dan menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. "Hahaha ... ya sudah jangan bikin Vanya sakit perut bang, Vanya pesan nasi padang sama rendang dan telor dadar, minumnya sama jus alpukat ada!"


"Ada, ada! Dan neng yang unyu-unyu ini pesan apa?" tanya Haris dengan bibi melengkung membentuk senyuman, melihat Devi yang hanya diam dan tak pernah mengalihkan pandangannya ke Yosep.


"Eh maaf, kalau Devi Nasi padang lauknya rendang sama kikil, satu lagi ya bang sambalnya banyakin, Devi suka pedas, minumnya seperti Wulan es jeruk peras tapi tiga gelas!" pinta Devi.


"Ashiyaap, pesanan akan segera siap!" balas Haris sambil bergaya seperti pahlawan bertopeng.


"Hahaha, abangnya lucu, hahaha ...!" tawa Vanya sambil memegang perutnya karena tertawa terus melihat Haris.


"Jiah! cocok ni yee ...," goda Yosep pada Vanya dan Haris.


"Kamu itu Dev gak pernah berubah, selalu makan selalu makan dengan sambal yang banyak, jangan sering-sering makan pedas tidak baik buat lambung kamu," imbuh Yosep sambil mendorong dahi Devi dengan 3 jari miliknya.


"Kamu selalu ingat dan perhatian Yos sama Devi, terima kasih Yos!" batin Devi sambil mengelus lembut dahi bekas di dorong oleh tiga jari kanan Yosep. "Andai saja kamu Yos ...."


"Eh maaf, mas Yosep ini ada beberapa data perusahaan yang sudah kita coaching namun belum ada hasil signifikan. Mereka semua kebanyakan profesinya sebagai petani buah seperti semangka, melon, atau timun suri yang mereka tanam di Karangampel."


"Ada juga kontraktor bangunan seperti Bika building di Cirebon, PT. Naba cookies yang membuat dan menjual makanan ringan di Majalengkan, serta PT. Tirta Prusada di Subang!" jawab Wulan sambil memberikan tumpukan berkas milik semua perseroan terbatas yang disebutkan Wulan.


Yosep membuka berkas itu satu persatu dan meneliti kendalanya. "Baik saya sudah lihat, segera hubungi mereka semua buat jadwal untuk kita ketemu di pabrik-pabrik mereka. Saya akan menanganinya sendiri, dan katakan pada mereka jika butub kodal saya siap memberikan investasi pada perusahaan mereka!" titah Yosep.


"Baik mas big bos! Terima kasih!" sahut Wulan yang merapikan kembali berkas-berkas itu lalu menghubungi semua perseroan terbatas itu dengan smartphone miliknya.


"Vanya bagaimana kondisi keseluruhan cabang Raimu CRC?" tanya Yosep pada Vanya dengan sorot mata yang lembut dan bibir melengkung membentuk senyuman.


"Kendala pak big bos di Surabaya, kita selalu di teror oleh preman disana. Kita sudah menyelediki siapa preman-preman itu tapi tak menemukan hasil. Dan dijakarta juga beberapa kali outlet kita disatroni perampok bersenjata. Saat ini kami sudah melaporkannya pada pihak kepolisian setempat, namun belum menemukan pelakunya," jawab Vanya.

__ADS_1


Yosep mengangguk pelan dengan menopang dagu di punggung tangan kirinya. "Baik, saya akan tindak lanjuti secepatnya. Kalau di Surabaya saya tahu siapa pelakunya, untuk sementara satu minggu ke depan di cabang Surabaya tutup dahulu dan liburkan para karyawan. Untuk cabang Jakarta hari ini saya akan kesana, untuk menyelesaikan masalah ini," titah Yosep dengan kharisma yang mendominasi.


"Tapi Yos, kamu kan baru sembuh," tolak Devi yang masih khawatir dengan kesehatan Yosep.


"Tenang saja saya sudah menghubungi Nyotnyokong untuk mengirimkan Helikopternya satu jam lagi kesini. Mungkin akan mendarat di Lapangan Demang Terisi," balas Yosep sambil mendorong pelan dahi Devi dengan tiga jari kanannya. "Nanti motornya saya titipkan ke Haris, boleh ya nitip motor?"


"Ya siap!" balas singkat Haris sambil menghidangkan pesanan Vanya, Wulan, dan Devi.


"Lalu tugas Devi apa?" tanya Devi sambil menggembungkan pipinya karena di perlakukan Yosep seperti itu, menambah rasa cinta di hatinya.


"Ini!" Yosep memberikan flashdisk pada Devi. "Tugas kamu beli tanah dekat masjid munjul, dan bangun rumahku disana. Semua rancangannya ada di dalam flashdisk itu dan uangnya sudah saya transfer ke nomor rekening priibadi Devi."


"Siap pak big bos!" balas singkat Devi.


"Vanya nanti kirimkan alamat outlet di Jakarta, saya akan menyelidikinya sekarang juga," titah Yosep.


"Siap pak big bos!" balas singkat Vanya lalu mengirimkan lokasi pada Aplikasi Mangap Yosep.


Rincian tugas mereka sudah Yosep paparkan, mereka bertiga makan dengan lahapnya. Setelah makan Haris mengedipkan mata sebagai kode agar Yosep mau memperkenalkan mereka bertiga pada Haris.


Yosep menepuk jidatnya karena lupa dengan janjinya lalu mengacungkan jempol pada Haris, "Begini sahabat saya Haris ingin berkenalan dengan kalian, siapa tahu jodoh, hehehe," goda Yosep. "Haris sini!"


Haris mendekati meja Yosep, "perkenalkan saya Abdun Haris, umur 20 tahun pedagang warung nasi padang. Masih single, hehehe," ucap Haris memperkenalkan diri.


"Saya Wulan," balas Wulan. "Minta nomor hp kan? Ini catat!"


"Saya Vanya Nila Kusuma panggil saja Vanya, masih single juga, hehehe. Ini juga nomor saya catat!" balas Vanya dengan raut bibir membentuk senyuman.


"Saya Devi puspita sari masih single juga, panggil saja Devi," balas Devi.

__ADS_1


Haris menyalami mereka bertiga, "wanita bidadari itu beda tangannya juga sangat halus," batin Haris yang menikmati tangan mereka bertiga yang sangat lembut.


__ADS_2