SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip 240


__ADS_3

Yosep menidurkan Ryuna di ranjang tidur rumah sakit kamar VVIP 01 dan menelankan pil kintamani pada mulut Ryuna. "Sayang, mas izin mau menemui Zahra dan mengobatinya. Ini juga salah mas, jadi setidaknya sebagai permintaan maaf mas pada Zahra, boleh?" Yosep dengan tatapan memohon, membuat Rany luluh dan mengizinkan.


"Boleh, tapi dengan kondisi Zahra seperti itu, tidak membuat kasihan kan? Lalu minta rujuk?" tanya Rany sangsi.


"Tidak, tenang saja. Mas sudah memutuskan untuk tidak menambah istri lagi, hanya kalian berdua yang mas cintai. Lagipula dua istri saja gak habis-habis dan bisa membuat naga mas ini bergejolak serta meraung keras," ucap Yosep sambil menunjuk bagian tiang tegak miliknya.


"Janganlah mas! Ini kan rumah sakit!" Pipi Rany memerah. "Masa kita melakukannya disini, kan ga ada akhlak."


"Idih! Sayang kali yang mau. Ayo, ayo, ayo, ayo, Ya kan ya doooonk!" goda Yosep menaik-turunkan alisnya dengan cepat.


"Ya begitulah! Habis naga mas kaya petarung MMA yang bisa mengK.O.kan Rany sih," ucap Rany tersipu malu.


"Gampang! Kita bisa melakukannya di, ehem, ehem!" Yosep menunjuk ke atas, yang dimaksud Yosep ruangan kantor Rany yang sudah lama tidak pernah di kunjungi semenjak Rany jatuh miskin. Yosep mencium bibir Rany, "Bye! Tunggu mas ya!"


"Ya!" balas singkat Rany tersipu malu.


Yosep turun ke lantai dasar menggunakan lift, untuk menemui suster bagian administrasi untuk membayar biaya rumah sakit Zahra, dan menanyakan kamar Zahra


Ting!


Pintu litf terbuka, Yosep berjalan cepat ke arah bagian administrasi. "Suster Inge, berapa tagihan nona Zahra dan di nomor berapa kamar rawat inapnya?" tanya Yosep.


"Maaf pak big bos 250 juta untuk biaya perawatan nona Zahra, dan kamarnya lantai dua nomor 11," jawab suster Inge.


"Baik sus! Terima kasih." Yosep memberikan kartu atm milik Rany, karena Yosep menyimpan semua uangnya di kartu itu. Masuk rumah sakit Budi Asih Technology memang sangat mahal, biaya rawat inap satu malamnya saja bisa sampai 5 juta/malam, tapi sebanding dengan fasilitasnya layaknya hotel bintang lima.


Transaksi selesai dan Yosep berjalan cepat menuju kamar Zahra di lantai dua menggunakan lift.


Tok!


Tok!


"Permisi! Saya boleh masuk?" tanya Yosep sambil mengetuk pintu kamar Zahra, karena sudah di tangani oleh dokter salim tapi tentu saja proses penyembuhannya sangat lama bisa sampai 3 bulanan.

__ADS_1


Zahra yang sedang duduk termenung dengan cairan bening yang terus mengalir di pipinya, tatapan matanha sangat hampa penuh dengan penyesalan.


"Andai saja aku lebih bersabar lagi dengan keadaan mas Yosep. Nasibku tak akan seperti ini," batin Zahra.


Tok!


Tok!


"Permisi! Saya boleh masuk?" tanya lagi Yosep sambil mengetuk pintu kamar Zahra.


Zahra kaget dan langsung menyeka air matanya, "Sepertinya itu suara mas Yosep. Tapi kenapa dia kemari? Apakah dia masih marah denganku dan ingin membunuhku lagi? Tapi sudahlah jika itu bisa menebus semua kesalahan dan dosa-dosaku aku terima," gumam Zahra lalu menyahuti panggilan Yosep dengan berteriak. "Ya, silahkan!"


Yosep membuka pintu dan masuk dengan raut muka penuh penyesalan, "Maafkan saya Zahra! Apa yang saya lakukan padamu? semuany diluar kendali saya!" Yosep memegang kedua kaki Zahra. "Jurus jagat saksana!"


Krak!


Krak!


Tulang kaki Zahra yang remuk kembali menyatu, Zahra sudah bisa menggerakan kakinya. Semua luka di tubuhnya sembuh seketika termasuk gigi gerahamnya atas dan bawahnya tumbuh lagi, wajahnya tidak lagi lebam dan babak belur, cantik seperti semula.


"Tunggu mas!" Zahra bangkit dan memeluk Yosep dari belakang, membuat asmara di dalam hati Yosep bergejolak. "Aku yang seharusnya meminta maaf. Jika mas ingin membunuhku dan bisa menebus semua kesalahanku, aku siap. Silahkan mas lakukan!"


Zahra melepaskan pelukannya dan menutup mata, tangannya direntangkan seolah menjemput maut dengan pasrah.


Cup!


Yosep mencium kening Zahra, "Maafkan saya. Ini adalah terakhir saya padamu, Zahra. Setelah ini kita tidak perlu bertemu lagi, tenang saja bunda pasti saya sembuhkan dan saya akan memberikan uang 1 milyar sebagai kompensasi." Yosep mengambil smartphone miliknya dan mentransfer uang pada rekning Zahra. "Sudah saya transfer uangnya, gunakan dengan baik! Jangan dihambur-hamburkan lagi!"


Deg!


Hati Zahra merasakan sakit yang amat dalam seperti rasa sakit Yosep dahulu, bahkan lebih ketika ia menceraikan Yosep dan menghinanya. Cairan bening di sudut kelopak matanya mengalir deras, ibarat pepatah bukan lagi nasi menjadi bubur tapi nasi sudah menjadi kotoran dan masuk closet.


Semuanya sudah tak bisa diulang lagi, jika bubur masih bisa dimakan tapi jika kotoran yang sudah masuk kloset sudah menjadi sampah busuk. Itulah kehidupan Zahra sekarang, beli cirambay di Jakarta, bye-bye Zahra.

__ADS_1


"Saya memang masih mencintamu sampai hari ini, jam ini, dan detik ini. Tapi lebih baik kita seperti ini, saya paham kamu menyesal telah meninggalkan saya dan itu terlihat dari matamu. Semuanya sudah tak bisa dikembalikan lagi, saya meminta maaf!" Yosep memegang kedua tangan Zahra dan mencium punggung tangannya dengan lembut lalu pergi secepat mungkin meninggalkannya.


Yosep masuk lift dalam keadaan menangis, dan menyandarkan kepalanya di sudut lift, "Kenapa harus mencintai kalau akhirnya saling menyakiti?" gumam Yosep sambil menyeka air matanya.


***


9 hari kemudian.


Yosep bangun pagi dan sudah membereskan bajunya lalu dimasukan ke dalam tas, 3 pasang kaos oblong dan celana training yang ia bawa.


Yosep mendapatkan pandangan mengenai baju zirah gatot kaca yang berada di Papua, dalam pandangan gaibnya Yosep belum melihat letak pasti baju zirah itu, masih samar-samar.


"Mi! Yos pergu dahulu. Jika energi Yos sudah kembali nanti Yos pulang pakai ilmu melipat langit," Yosep mencium punggung tangan Dawi lalu mencium pipi kiri dan kanannya.


"Mas, aku juga di cium!" pinta Rany dan Ryuna manja.


Cup!


Cup!


"Anakmu juga mas, minta dicium!" pinta Ryuna dan Rany serentak manja sambil menunjuk perut mereka.


Cup!


Cup!


"Alice juga ayah, minta di cium!" pinta Alice polos sambil menunjuk kedua pipinya.


"Ih, anak ayah genit dech! Muach! Muach! Yosep mencium pipi kiri kanan Alice. "Jaga baik-baik bunda ya, sayang!"


"Iya ayah," balas singkat Alice polos.


"Mas bawa ini!" Rany memberikan kartu atm miliknya dan mencium punggung tangan Yosep. "Hati-hati di jalan mas!"

__ADS_1


"Ya mas hati-hati di jalan! Kalau sempat pulang!" Ryuna mencium punggung tangan Yosep .


"Ya sayang tenang saja, pasti mas pulang!Mas ini kan sakti mandraguna tinggal 'ting' kaya jin mustafa dari timur tengah langsung sampai kesini." Yosep membelai lembut rambut Rany dan Ryuna lalu membelai perut mereka. "Baik-baik ya sayang, ayah pergi dulu!"


__ADS_2