
Yosep mengambil smartphone miliknya dan menelepon pak Awi. Suara panggilan berbunyi, "Halo pak big bos, bagaimana kabarnya? Di rumah kok sepi saja?" Pak Awi mengangkat panggilan Yosep.
"Baik pak baik, untuk sementara saya tidak bisa pulang, aset semuanya dibekukan pak. Bagaimana hasil pertanian aman?" tanya Yosep.
"Aman pak big bos, ini sedang menyiapkan ekspor ke Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Fhilipina. Ada yang bisa dibantu pak big bos?"
"Bisa kirimkan beras 100 ton ke pasar Jatibarang baru? Berikan yang medium 50 ton, dan premium 50 ton!" titah Yosep. "Masalah harga masih sama kan 5000/kg untuk medium dan 5500/kg untuk premium?"
"Masih, tenang saja beras kita tidak berubah meskipun kualitasnya sangat baik. Siap paling lama 1 jam sampai tapi diusahakan 30 menit sampai!" Pak Awi menutup panggilan lalu bergegas mengatur para petani untuk berangkat. 10 Mobil berisi 10 ton masing-masing yang akan dikirim Filipina, di kirim dulu ke pasar Jatiarang baru. 100 petani lain menyiapkan 10 truk kontainer yang akan dikirim ke Filiphina.
Yosep duduk santai di warung Mak Ijah, "Mas tamvan gak kerja?" tanya Mak Ijah menghidangkan teh manis hangat.
"Belum bu, berasnya kosong ini lagi nunggu suplier ngirimin." Yosep meminum teh manis hangatnya.
Yuli melambaikan tangan memanggil Yosep, melihat Yuli memanggilnya Yosep bangkit lalu menghampiri Yuli. "Ada apa ses? Ada yang bisa dibantu?"
"Saya lupa, berapa harga beras medium dan premiumnya?" tanya Yuli menepuk jidatnya sendiri.
"Dari supliernya 5000/kg untuk medium dan 5500/kg untuk premium. Tapi bolehkah saya meminta keuntungan 100/kg, ses Yuli?" tanya Yosep.
"Tergantung, kita lihat saja bentuk berasnya bagaimana? Harga segitu terlaku murah, tapi apa benar berasnya sesuai standar medium dan premium? Aku curiga," tanya Yuli sangsi.
"Ses Yuli nanti bisa lihat bentuk berasnya bagaimana?Jika jelek kata supliernya bisa dikembalikan. Tapi jika truknya sampai ses Yuli tidak mau, saya akan tawarkan ke toko beras yang lain. Kasihan supir dan kuli angkutnya, jauh-jauh datang kemari tapi ditolak," tegas Yosep.
__ADS_1
"Jadi disediakan kuli angkutnya juga?"
"Ya, gratis lagi. Ya paling ses Yuli kasih saja uang rokok, itu yang saya tahu." Yosep ke pinggir jalan matanya berkeliling mencari 10 truk yang dikirim oleh pak Awi. "Itu truknya!"
Pak Sumadi melambaikan tangan, "Pak big bos!" Lalu keluar dari mobil Avanza miliknya yang memimpin jalan. Pak Sumadi sekarang menjadi wakil direktur bagian pengiriman. "Anda sehat pak big bos?"
"Sssst!" Yosep menutup mulutnya dengan jari telunjuk dan berkata lirih. "Kalau disini jangan panggil saya dengan sebutan itu, saya lagi menyamar untuk menyelidiki kasus. Nanti penyamaran saya ketahuan, tolong pak cepat dibongkar, saya bantu turunkan!"
"Tapi ...," Perkataan pak Sumadi terpotong.
"Sudah pak, pangg saja saya mas tamvan hehehe, disini soalnya memanggil saya seperti itu. Ayo pak cepat!" Yosep memarkirkan salah satu truk di depan toko Yuli bernama toko beras Jayuni (Janda Ayu jarang dikeloni). "Ya terus! Terus! up! Tahan!"
Yosep membuka kunci bagian belakang truk dibantu pak Sarimin petani sekaligus menjabat kuli angkut beras, lalu membuka pintu bagian belakang truk.
Yuli membulatkan mata, " Apa?! Ini beras medium?! Seharusnya ini beras high premium yang biasa aku jual 12.000/kg di toko ini. Ayo cepat turunkan!"
Yuli membuka tokonya, pelanggan juga sudah banyak yang ngantri, kebanyakan adalah para gadis, emak-emak dan juga nenek-nenek.
Tim bongkar muat terdiri dari 10 orang diketuai pak Sarimin mulai membongkar beras dibantu Yosep. Satu truck dalam 10 menit selesai kemudian berganti ke truk berisi beras premium, lagi-lagi Yuli dikejutkan isi berasnya, "Benar-benar beras super. Ini beras super high premium bukan premium," gumam Yuli membulatkan mata yang sedang mengecek salah satu karung dengan pipa besi runcing.
Sementara itu kuli angkut beras yang lain menatap sinis Yosep dan tim bongkar kuat, raut muka mereka merah padam. Karena gara-gara Yosep, mereka tidak mendapatkan pekerjaan untuk mengangkut beras toko Yuli.
"Cih! Benar-benar anak baru itu meresahkan! Apa perlu kita beri pelajaran?" Sarkowi berdecih dan menatap sinis Yosep.
__ADS_1
Bletak!
"Bodoh!" Janto memukul kepala Sarkowi. "Apa kamu tidak melihat peristiwa kemarin? Anak baru itu menolong mas Andre dari geng cacing hitam. Dia itu sakti mandraguna, peluri saja bisa ditangkap dan diremasnya!"
"Peduli setan! Baguslah jika dia berkonflik dengan gang cacing hitam. Aku akan meminta bantuan geng cacing hitam untuk memberinya pelajaran." Sarkowi menyeringai jahat. "Aku akan cari tempat tinggalny dan habisi dia!"
Sudah jam 14.00 Yosep belum pulang juga padahal kemarin ia pulang jam 11.00, membuat Rany khawatir, akhirnya menyusul Yosep ke pasar.
Di perjalanan dari kontrakan ke pasar banyak mata hidung belang memandang Rany yang begitu cantik alami dan seksi, siapapun yang memandang pasti akan terpana dengan kecantikannya. "Neng godain kita donk! Switwiuw!" Pemuda di ujung gang bersiul kencang menggoda Rany.
Bibirnya melengkung membentuk senyuman itu balasan Rany terhadap para pemuda yang menggoda dirinya. Sepuluh pemuda itu terpana dengan senyuman Rany, hingga tak sadar rokok mereka sudah terbakar sampai ujung.
"Aw! Panas! Panas!" Pekik sepuluh pemuda pejabat (pengangguran jawa barat). "Cantik banget gadis itu, andaikan dia jadi istriku. Aku pasti jadikan dia ratu dirumah."
Bletak!
Joni memukul kepala Sarkali, "Jangan nekat! Dia itu sudah bersuami. Mau kamu dipukul suaminya? Mukamu itu juga sangat kalah jauh dengan muka suaminya itu. Muka kamu itu bak air comberan dan suaminya itu seperti berlian yang sangat berkilau. Jadi tahulah maksudku?" Joni mendorong kepala Sarkali.
"Biarlah cinta ini tetap dihatiku meski tak bisa memilikimu sayangku," ucap Joni lebay.
Rany terus berjalan ke arah pasar dan sampai di halaman pasar yang dijadikan tempat parkir, matanya berkeliling mencari Yosep.
Rany melihat Yosep terduduk di lantai depan toko Yuli, sambil mengipas-ngipas badannya dengan sobekan kardus. "Mas!" panggil Rany lalu bergegas ke arah Yosep dan menyeka peluh di wajahnya dengan lembut menggunakan sapu tangan kecil miliknya. "Capek ya mas kerjanya?"
__ADS_1
Yosep membulatkan mata, "Sayang kenapa kamu kesini? Di pasar panas, nanti kulitmu yang putih itu bisa gosong." Yoseo berdiri dan menutupi kepala Rany dengan sobekan kardus agar tak terkena langsung sinar matahari.