
Myke dan Alice sedang keluar ke pasar untuk membeli sembako, hanya ada Argadhafa sendiri yang sedang menjaga Vera. "Tuan-tuan tenanglah, aku sudah katakan nona Vera sedang istrihat dan belum puliha dari sakitnya," Argadhafa mencoba menenangkan Barton dan anak buahnya dengan memberikan uang 95.000 euro. "Tuan, terimalah uang ini dahulu. Esok baru datang lagi ya, aku janji akan melunasi hutang-hutang nyonya Vera, esok hari."
Tangan Barton menampik tangan Arghadhafa, "Tidak! Aku tidak butuh uang itu, yang aku butuhkan semua hutang Vera, hari ini dan detik ini juga. Paham kamu!" bentak Barton sambil menunju dahi Argadhafa. "Hancurkan rumah ini!"
Bam!
Bam!
Bam!
Argadhafa secepat kilat memukul bagian perut sembilan anak buah Barton dan membuat mereka terkapar lemas. "Aku sudah berbicara baik padamu! Tapi kau malah membuatku kesal! Pergi dari sini atau aku bunuh kalian semua!" ucap Argadhafa menyeringai geram aura pembunuhjya bocornya dan membuat takut Barton, badannya bergemetar, wajahnya pucat pasi.
"A-aku a-akan kembali!" Barton berteriak terbata-bata lalu lari terbirit-birit diikuti kesembilan anak buahnya sambil memegangi bagian perutnya dengan berjalan tertatih.
Argadhafa merapikan ruangan yang sempat mereka acak-acak. Myke masuk ruang tamu langsung membulatkan mata. "Tuan Arga, apa yang terjadi?" tanya Myke.
"Entahlah," Argadhafa menggelengkan kepala. "Barusan ada penagih hutang, meminta uang nona Vera besarannya 400.000. Aku memberikan uang 95.000 euro pada mereka tapi malah tidak mau dan membentakku, aku menghajar mereka hingga membuat mereka kabur."
"Terima kasih tuan Arga!" Myke membungkuk hormat lalu kembali berdiri tegak. "Tapi kak Vera membuatku bingung bisa hutang sebanyak itu, apa karena mengobati penyakitnya? Hutang sebanyak itu bagaimana aku bisa mengembalikannya, kondisi keuangan kami sedang kritis."
__ADS_1
"Bro Myke jangan panggil aku tuan! Panggil saja Arga atau Dhafa, tenang saja aku yakin tuan muda mau membantu. Kita tunggu saja tuan muda pulang," ucap Argadhafa menenangkan Myke yang sedang memijat keningnya harus mengumpulkan uang sebanyak itu darimana.
Ciiit!
Sura mobil Adila berhenti di depan rumah Vera, "Mobil siapa diluar? Apa tuan muda?" tanya Argadhafa pada Myke.
"Entahlah mungkin iya, tapi tuan Yosep dihantar sama siapa? Bukannya tadi pergi jalan kaki?" Myke menggelengkan kepala lalu keluar menuju pintu gerbang rumah Vera bersama Argadhafa.
Yosep keluar dari mobil Lotus Exige berwarna merah milik Adila, "Selamat datang tuan muda!" sapa Argadhafa dan Myke serentak.
Yosep berjalan cepat dan langsung membekap mulut mereka berdua, "Jangan katakan itu di depan perempuan ini, identitasku kali ini harus tertutup rapat. Kalau tidak pencarian artefak itu akan terbongkar," bisik Yosep.
"Hmm!" Argadhafa dan Myke serentak menganggukan kepala.
"Dasar asem, ketek bau. Jadi orang tampan itu susah untuk tidak tergoda, baru saja keluar rumah sebentar, pulang-pulang bawa wanita cantik, djancuk jaran!" batin Argadhafa.
"Tidak apa-apa nona Adila. Mari masuk, saya mandi dulu dan berpakaian rapi, malam ini bukannya saya harus memberikan pertunjukan terbaik untuk tuan Van Amblas. Lebih baik kita sudah sampai disana dahulu bukan?" ajak Yosep.
Mereka bertiga masuk ke dalam, Myke mempersilahkan Adila duduk di ruang tamu, lalu pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi dan menghidangkannya untuk Adila. "Silahkan nona diminum, tunggu bro Yosep sedang membersihkan diri!" ucap Myke tersenyum ramah.
__ADS_1
Argadhafa mondar-mandir di depan pintu kamar mereka berdua menunggu Yosep selesai berdandan. Yosep lalu keluar memakai tuxedo hitam, daleman kemeja putih dan dasi kupu-kupu, aura ketampanannya membuat siapapun terpesona melihatnya. "Bos, saya boleh meminjam uang 500.000 euro?" tanya Argadhafa dengan raut muka kebingungan.
"Buat apa uang sebanyak itu? Saya sudah memberikan uang padamu 100.000 euro, sudah habis?" Yosep malah bertanya balik semakin membuat Argadhafa sungkan. "Kalau ada masalah katakan saja, tak usah sungkan!"
"Ini untuk nyonya Vera, beliau hutang 400.000 euro pada rentenir. Barusan penagih hutangnya datang meminta uangnya, aku berikan uang 95.000 euro sebagai uang muka tapi mereka tidak mau malah mengaca-acak rumah nona Vera. Aku pukuli saja mereka, hmph!" jelas Argadhafa dengan mendengus kesal mengingat peristiwa beberapa puluh menit yang lalu.
Kamar Vera di sebelah kamar Yosep, ia sudah terbangun dan mendengar pembicaraan Yosep serta Argadhafa lalu keluar kamar. "Aku meminta maaf tuan dokter, jika membuat anda tidak nyaman. Aku berhutang 300.000 euro pada tuan Van Amblas dan bunganya 100.000, jatuh temponya hari ini. Makanya anak buah mereka kemari, aku minta maaf pada tuan Arga telah merepotkan kalian," ucap Vera membungkuk hormat dan penuh penyesalan.
"Sudah, tidak perlu dibahas lagi. Saya akan menemui tuan Van Amblas dan melunasi semua hutang nona Vera malam ini juga. Karena malam ini saya akan memberi pertunjukan untuk Van Amblas di kafe Arrabelas milik nona Adila," balas Yosep dengan tersenyum ramah.
"Nona Adila pemilik kafe Arrabelas?!" Vera membulatkan mata. "Apa tuan tahu jika nona Adila adalah keluarga terkaya nomor satu di Amsterdam?!"
"Dan apakah nona Vera tahu kalau saya kaisar rich orang terkaya nomor satu di dunia, cih! Baru juga di Amsterdam belum Belanda dan belum Uni Eropa, preet! Biasa aja keles!" batin Yosep.
"Ah saya tidak tahu. Saya hanya sedang mencari uang untuk membeli food truck, saya juga tidak enak tinggal disini terus dan merepotkan nona Vera," ucap Yosep.
"Tapi tuan dokter punya uang sebanyak itu darimana untuk melunasi hutangku? Begini saja tuan dokter saya punya foos truck di gudang peralatannya masih bagus, tapi sistem hydroliknya rusak dan catnya sudah kusam. Anggap saja itu uang muka pada tuan dokter, jika sudah membayar hutang-hutang saya," balas Vera.
Adila yang mendengar suara perbincangan antara Yosep, Vera, dan Argadhafa langsung bangkit dan mendekati mereka bertiga di lantai dua. "Maaf bro Yosep, nyonya Vera dan tuan. Aku yang akan melunasi semua hutang nyonya Vera dan aku Adila Arrabela akan menghentikan kerjasama dengan tuan Van Amblas. Aku pikir tuan Van Amblas adalah orang yang baik, ternyata hanya mafia lintah darat!" Adila menyeringai kesal lalu membungkuk hormat. "Kalian akan aku undang sebagai tamu SVIP di kafe kami."
__ADS_1
"Tidak usah repot-repot nona Adila, biar tuan muda ...," ucap Argadhafa yang terpotong, kakinya sudah diinjak oleh Yosep. "Aw sakit bro!"
"Maaf, maaf atas kesalahan pahaman ini, heheheh." Yosep tertawa riang dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.