
"Komandan Argadhafa?" Yosep mengelus dagunya. "Saya baru mendapatkan anak buah mantan perampok dan organisasi pembunuh bayaran di Papua, namanya Arghadafa. Mungkin ayah mengenalnya."
Yosep menelepon Argadhafa yang sedang latihan pagi dengan tim throne army di hanggar militer Ochobot City, untuk menyuruhnya ke istana Yosep.
10 menit kemudian Arghadhafa tiba lalu menunduk hormat, "Ya tuan big bos, ada apa memanggil saya?" tanya Arghadafa.
"Ini ayah mau berbicara padamu," jawab Yosep. "Ayah, apakah dia orangnya?"
Albert menggeleng pelan, "Bukan, dia bukan komandan Argadhafa, Raiden, Kokoci, dan Tarung juga sangat kenal dekat dengannya," jawab Albert dengan raut muka murung mengingat masa lalu saat kehilangan komandan Argadhafa.
"Ayah masih punya fotonya? Mungkin saya bisa bantu mencarinya, minimal menemukan tengkoraknya jika ia mati sudah lama," pinta Yosep.
Albert memperlihatkan data base Argadhafa dari jam tangan miliknya, muncul layar proyeksi berisi identitas Argadhafa dan fotonya, membuat Yosep tertawa terbahak-bahak, karena foto yang diperlihatkan oleh Albert adalah foto lawas Arghadafa. "Hahahaha ... hahahaha ... hahaha ...."
"Hei anak bengal, ayahmu lagi serius malah ditertawakan, dasar anak ga ada akhlak, hmph!" Albert menggembungkan pipinya dan membuang muka.
Argadhafa yang melihat foto identitasnya jadi bingung, "Itu kan fotoku dahulu, kok bisa muncul di identitas sebagai warga Ochobot City?" tanya Argadhafa.
"Oh ... iyakah?" Albert menelisik dan penasaran. "Kalau kamu memang seperti di foto ini, tapi kamu lupa dengan identitasmu. Apakah kamu lupa atau mata-mata musuh?
"Aku jamin bukan tuan, aku bukan mata-mata musuh. Foto itu memang fotoku dahulu, sebelum tuan big bos memberiku pil nawadewanata untuk merubah semua penampilanku. Tuan big bos jadi saksinya, aku berani bersumpah tuan besar, kalau aku berbohong aku rela anuku dipotong dan berganti kelamin," tegas Argadhafa tanpa ada rasa takut dari tatapan matanya.
"Sepertinya Argadhafa tidak berbohong, dia mengatakan hal yang jujur tapi kenapa dia tidak ingat tempat ini?" batin Raiden.
"Kalau memang kamu komandan Argadhafa, kenapa kamu tidak ingat tentang Ochobot City sedikit pun?" tanya Kokoci menelisik.
"Entahlah, kata pertapa tua seorang dukun ilmu hitam di Papua yang menemukanku di pantai, aku hilang ingatan dan hanya kalung di leherku yang bertuliskan nama Argadhafa, identitas terakhir yang beliau temukan. Selebihnya beliau tak paham dan sampai sekarang pun, aku masih belum bisa mengingatnya." Argadhafa mengambil kalung itu di sakunya dan memberikannya pada Albert. "Ini tuan besar, kalung itu aku masih menyimpannya."
"Ini memang kalung yang aku berikan waktu itu, tapi wajahmu berubah 360 derajat, sangat berbeda jauh, sekarang sangat tampan, hahahaha." Albert tertawa riang dan menepuk-nepuk bahu Argadhafa.
[Telolet]
[Misi : Pergi ke Belanda dan Hasilkan uang 1 juta euro dengan berjualan Food truck, selama berjualan dilarang marah pada pelanggan dan selalu ramah serta tersenyum. Jika melanggar omset tidak dimasukan ke dalam hitungan sistem. Dilarang menggunakan saldo dari sistem dan meminta modal pada orang lain untuk membeli food truck. Hasilkan uang sendiri untuk membeli atau membuat food truck
Hadiah : Lokasi sarung tangan kalimasada.
__ADS_1
Hukuman : Umur Ryuna dikurangi 4 bulan
Batas waktu : 30 Hari
[Misi tidak dapat ditolak dan secara otomatis diterima]
[Selamat menikmati misi dari sistem sang lintah darat, hahahaha]
Yosep benar-benar kesal dibuat Barjo, ia ingin memaki Barjo tapi takut kena hukuman lagi, Yosep ingin memperlihatkan kekesalannya tapi ditempat umum, mau marah pun tak bisa dan akhirnya pasrah.
"Sayang, maafkan mas harus ke Belanda setelah mengantar kalian ke dokter kandungan. Mas sudah menemukan lokasi artefak selanjutnya," Yosep mencium kening Rany dan Ryuna. "Semoga kalian mengerti."
"Tidak apa-apa sayang, kami mengerti," ucap Ryuna dan Rany serentak lalu Yosep bergegas mengantar mereka berdua ke dokter kandungan
___
___
___
"Bos, izinkan aku ikut!" pinta Argadhafa.
"Apa kamu tidak rindu pada kekasihmu itu? Nanti digondol setan loh Risadju," ledek Yosep.
"Nanti sajalah bos, masalah di Belanda lebih penting. Aku harus membalas dendam pada orang yang telah merencanakan pembunuhanku," jawab Argadhafa menyeringai geram.
"Baik, tapi kamu tidak boleh mengeluh, dan tidak boleh bertanya tentang apa yang saya lakukan di Belanda, siap?" tegas Yosep.
"Siap bos!" Argadhafa membungkuk hormat.
Yosep menelepon Myke untuk meminta izin selama di Belanda tinggal di rumah Vera, Myke meminta izin pada Vera dan ia menyetujuinya dengan alasan, bahwa Yosep seorang dokter super yang bisa menyembuhkan penyakitnya.
"Ok kita pergi, pegang tanganku!"titah Yosep lalu Argadhafa memegang tangan Yosep. "Selama saya masih sakti mandraguna, saya bisa pergi ke manapun tanpa pesawat! Jurus melipat langit!"
Cwuszh!
__ADS_1
Tubuh Yosep berkedip dan hilang dari pandangan, Kokoci, Tarung, dan Raiden membulatkan mata, pasalnya itu bukan teknologi teleportasi milik Ochobot City. Mereka bertiga baru pertama kali melihat Yosep melakukan jurus melipat langit.
"Semoga mas Yosep diberi keselamatan," batin Rany.
"Semoga mas Yosep baik-baik saja dan bisa secepatnya menemukan sisa artefak itu, agar aku bisa melahirkan buah cintaku dengan mas Yosep," batin Ryuna.
"Semoga mas Yosep diberi keselamatan, dan bisa pulang secepatnya," batin Dawi.
___
___
___
Yosep sampai di rumah kecil di sudut pertigaan jalan kota Amsterdam, rumah adat Belanda bernama Giethroon dengan dua lantai. Ciri khas dari rumah adat di Belanda adalah bentuk atapnya yang melengkung (gambler roof). Hampir semua rumah adat asal Belanda memiliki desain eksterior yang simetris, meski ada juga yang asimetris.
Tingtong!
Yosep menekan bel rumah Vera, "Permisi, sampurasun!" teriak Yosep.
"Ya sebentar, siapa disana?" tanya Myke dari dalam rumah sedang duduk menyisir rambut Alice lalu menggendongnya setelah mendengar suara Yosep, Myke berjalan cepat ke arah pintu utama untuk membukakan pintu.
"Oh anda tuan, mari masuk! Loh bukannya tadi baru telepon, kok sudah sampai?" tanya Myke bingung.
"Ah sudahlah, mari kita lihat kakak anda tuan Myke!" pinta Yosep yang sudah mengetahui kalau Vera, kakak Myke sedang sakit agak parah.
Tok!
Tok!
Tok!
Myke mengetuk pintu, lalu masuk kamar Vera, "Kak, tuan Yosep sudah datang. Beliau mau memeriksa kakak," jelas Myke. "Silahkan tuan Yosep!"
"Maaf nyonya Vera!" Yosep masuk lalu memegang denyut nadi Vera. "Maaf nyonya Vera, sepertinya anda terkena kanker paru-paru stadium akhir."
__ADS_1
Jdar!"