SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip 131 Pikirannya Makan Terus!


__ADS_3

Keesokan paginya...


Seperti biasa Yosep bangun dan latihan sampai pukul 06.30 WIB. Albert juga sudah bangun dan bersama Dawi di dapur sedang belajar memasak. "Bu, ibu berdua saja di rumah sebesar ini?" tanya Albert.


"Ya pak. Yosep anak satu-satunya, bapaknya meninggal sudah lama karena penyakit komlikasi jantung, paru-paru, hati, lambung dan ginjal. Dari dulu anak itu selalu bekerja keras, hingga nak Rany memberinya pekerjaan hidup kami berubah drastis seperti ini. Yosep juga bermitra dengan ibu Mala untuk membesarkan usahanya, saya kadang tak percaya seperti mimpi. Hidup kami yang sangat miskin, tiba-tiba menjadi kaya," ujar Dawi dengan nada lembut.


"Ya saya juga sama dahulu tak percaya dengan hidup saya. Sekarang perusahaan yang awalnya hanya sebuah perusahaan kecil menjadi perusahaan nomor satu didunia," ujar Albert. "Tapi semenjak istri saya meninggal, saya kehilangan gairah hidup."


"Kenapa tidak menikah lagi pak?" tanya Dawi.


"Yang pertama karena kemarin-kemarin belum punya waktu, selalu sibuk mengurusi perusahaan. Dan yang kedua calonnya belum ada, hehehe...," ujar Albert sambil tertawa.


"Ya cari donk pak. Apa mau cari wanita Indonesia?" goda Dawi.


"Mungkin bu, entahlah saya juga bingung. Tapi saya sekarang lega bisa punya penerus perusahaan milik saya yaitu Yosep. Dia selalu berdedikasi tinggi, entahlah saya sangat percaya padanya, makanya saya berikan semua 100% saham perusahaan saya ke Yosep. Hidup saya sudah tua dan sudah lama bergelimang harta, lengkap sudah saya punya anak dan bisa membimbing anak angkat saya yang lain," jawab Albert.


Yosep tiba-tiba datang, "hayoo, hayoo, pacaran terus. Lihat noh tempe gorengnya gosong!" ledek Yosep.


Dawi menepuk jidatnya sendiri, "maaf Yos, hehehe ... mimi keasyikan ngobrol sama pak Albert, hehehe ...," ujar Dawi sambil tertawa lalu mengangkat tempe gorengnya yang sudah menghitam.

__ADS_1


"Tumben cepetan olahraganya," imbuh Dawi.


"Ya mi. Yos banyak kegiatan hari ini, juga banyak pikiran. Tanah untuk mall sudah rampung dan akan ditimbun tanah, tapi material bangunan dan tim pembangunnya belum ada. Yos sudah nanya dengan ayah Setyo bilang punya kenalan tapi sekarang perusahaan itu sudah bangkrut. Ayah jayus juga sama," ujar Yosep dengan raut muka murung.


"Tenang saja, ayah nanti kirimkan tim pembangun dengan drone cypher 1, drone khusus pembangun dengan A.I. material bangunannya ayah akan kirimkn dari Ochobot City. Kamu tinggal pilih saja mau pakai bahan apa, Vibranium, Vanadium atau Adamantium? Kamu sempurnakan saja dahulu cetak biru drone Cypher itu, nanti ayah kirimkan cetak biru yang sudah sempurna ke Ochobot City untuk dicetak masal," ujar Albert.


"Benarkah? Sungguh ayah? Jika ini terjadi maka supermall Dharmayu akan menjadi supermall pertama dibangun bukan dengan bahan-bahan bangunan biasa dan sedikit manusianya mungkin bahkan 0% sumber daya manusia," balas Yosep dengan raut muka sumringah.


"Tentu saja. Ochobot City dan semua kantor Ochobot diseluruh dunia memangnya bangun pakai manusia? Semuanya dibangun dengan drone cypher tipe 1, drone khusus pembangun atau maintainance," ujar Albert dengan raut muka tersenyum.


"Ternyata ada juga teknologi seperti itu, saya pikir hanya ada di film-film gundam ternyata ada ya yah?" tanya Yosep.


"Ada, drone cypher one memang ayah rancang untuk membangun bangunan dan hanya dikendalikan oleh laptop khusus yang ayah buat dengan menyambungkan semua koneksi drone cypher 1 ke laptop lalu memasukan desain rancangan bangunan. Maka drone cypher 1 akan membuat bangunan sesuai pola rancangan, seperti mesin cetak tiga dimensi," jawab Albert.


Mereka pun makan di meja makan seperti biasa, berkumpul dengan para butler dan maid. Setelah 15 menit mereka akhienya selesai makan, "ayah mau ikut tidak? Saya mau melihat sawah sekaligus mau membeli tanah untuk sawah untuk menanam sayur-sayuran," ajak Yosep.


"Ya ayah ikut donk. Soalnya ayah belum pernah melihat sawah, hehehe ...," balas Albert yang langsung keluar menuju parkiran, ia sangat senang jika Yosep mengajaknya jalan-jalan.


Kali ini ia membawa mobil ferari sport, maklum koleksi supercar Yosep banyak. Yosep juga mampir ke bank Abc cabang Jatibarang untuk mengambil uang 10 milyar, sebagai modal membeli tanah sawah yang akan ia gunakan untuk menanam sayur-sayuran. Selama sistem belum bisa digunakan Yosep harus menggunakan uang dari dalam tabungannya dalam-dalam. Padahal Yosep sudah menyelesaikan misi dengan hadiah tanah 20 hektar.

__ADS_1


"Kamu mau apalagi membawa uang sebanya itu? Kalau kurang bilang saja, nanti ayah transfer dari bank Swiss, aset kita 1000 turunan juga tidak bakal habis. Belum dari Royalty dan profit dividen sebagai investor," ujar Albert.


"Tenang saja ayah, Yos masih bisa mengatasinya. Ya kalau kepepet barulah Yos minta, hehehe," ujar Yosep sambil tertawa dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Yosep sampai di gapura desa Mundakjaya blok Munjul, ia tidak bisa masuk ke gang yang menuju kantor PT. Raimu Farm, karena ada 10 mobil Koyota avanza baru yang dihantar dari dealer mobil Koyota cabang Widasari. "Siapa yang beli mobil sebanyak itu?" gumam Yosep sambil mengelus dagunya.


"Hebat juga ya orang desa bisa membwli mobil sebanyak itu," puji Albert.


"Ya sudah yah kita masuk dari gang satunya lagi," ajak Yosep lalu melajukan mobilnya ke gang selanjutnya agar ia bisa masuk ke gang yang menuju kantor PT. Raimu Farm. "Gila ini memang orang Mundakjaya, bisa membeli mobil sebanyak itu,"


Ketika Yosep masuk gang banyak warga memperhatikan dirinya. Karena ia memakai mobil yang berbeda yang biasa ia bawa ke desa, Yosep membuka kaca mobilnya yang hitam, sambil tersenyum menyapa warga desa.


Tiba-tiba ia berhenti melihat teman SD-nya Devi sedang menjajakan dagangan pecel miliknya. Ya waktu SD Yosep dan Devi sangat akrab, ia sering membantu Yosep belajar jadi Yosep sangat kasihan padanya lalu turun leluar mobil.


"Hai Dev!" panggil Yosep lalu Devi menoleh. "Bagaimana kabarmu?"


"Eh si bos, sekarang mah sombong ya semenjak jadi bos. Ga pernah main ke rumah lagi," ledek Devi.


"Maaf Dev, bukannya begitu. Saya banyak kesibukan, ini saja kemarin malam baru pulang dari Jepang. Ya sudah sebagai permintaan maaf, saya borong daganganmu, bagaimana?" tanya Yosep. "Berapa semuanya?"

__ADS_1


"Ayah mau pecel gak? Pecel buatan Devi ini pecel paling enak di kampung ini," imbuh Yosep memanggil Albert.


Albert tersenyum lebar, kalau soal makanan gak jauh beda dengan anak perempuan kesayangannya Ryuna pasti nomor satu langsung makan banyak, "Bungkus! 5 porsi perut ini siap menampung!" ujar Albert sambil mengelus perutnya.


__ADS_2