SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip 258


__ADS_3

Petugas kemanan segera mengamankan Elmo, Nero juga keluar dari ruangan VVIP 02 langsung membawa Elmo keluar kafe dan menatap tajam pada Yosep. Laki-laki yang dianggap oleh keluarga Sculd sebagai penghalang hubungan antara Adila dan Elmo, lebih tepatnya keluarga Sculd dan keluarga Arrabela.


Adila juga turun dari panggung, "Bro dokter kamu tidak apa-apa?" tanya Adila dengan raut muka khawatir, baginya semua kejadian ini karena Adila membawa Yosep dalam permasalahan keluarganya.


"Tenang tidak apa-apa. Lebih baik kami pulang, mungkin keberadaan kami tidak diinginkan, hehehe." Yosep tertawa sambil mengelus kepalanya yang tidak gatal.


"Setelah misi ini selesai, saya habisi dan hancurkan keluarga Elmo sampai tak tersisa. Selama sebulan ini saya harus belajar sabar, gara si ehem-ehem itu," batin Yosep.


Vlad Arrabela ayah Adila menghampiri Yosep, Myke, dan Argadhafa, matanya menatap sinis Yosep. "Kalian memang tidak diizinkan masuk kafe kami, apalagi ruangan itu. Kalian memang tak tahu malu, berani-beraninya masuk ruangan itu dan mengacau di kafe ini," bentak Vlad berapi-api lalu menunjuk Yosep. "Dan kau sudah mengacaukan perjodohan Adila dan Elmo, jangan sampai aku melihat mukamu lagi, pergi dari sini!"


Argadhafa sudah tak bisa menahan emosinya lagi tapi di tahan oleh Yosep, "Tahan! Sabar, lebih baik kita pulang! Masih banyak hal yang harus kita kerjakan."


"Ayah, tidak usah mencampuri urusanku. Aku tidak mau menikah dengan Elmo yang masih ngompol ketika tidur, memangnya aku akan menjadi baby sitternya apa? Hidupku adalah punyaku, siapapun tidak berhak mengaturku," ucap Adila dengan nada meninggi, dan menyeringai kesal pada Vlad.


"Hah ...," Vlad menghela nafas panjang, beberapa hari ini Adila memang sangat susah di atur, apalagi setelah ibunya Nieta Arrabela sakit. "Ini semua kebaikanmu, dan juga keluarga kita. Usaha kita akhir-akhir ini merosot, jadi mengertilah!"


Vera keluar dari dalam ruangan SVIP sambil menggendong Alice menuju samping panggung, Van Amblas yang melihatnya nafsu birahinya memuncak, apalagi Vera sangat seksi dan cantik dengan dres mini warna kuning. Van Amblas langsung keluar dari ruangan VVIP 01 dan mencegatnya.


"Vera, bayar hutangmu. Jika tak sanggup jadilah istriku maka semua hutangmu lunas." Van Amblas menarik tangan kanan Vera, lidahnya menyapu bibir bawah dan atasnya. sangat bernafsu melihat Vera. "Sekarang kamu sudah tidak bisa berlari lagi Vera."


"Ayah! Papah! Tolong tante Vera mau dibawa orang jahat!" Alice berteriak memanggil Yosep dan Myke.

__ADS_1


"Cuih!" Vera meludah di muka Van Amblas. "Aku tak sudi jadi istrimu, lagipula aku sudah puny calon suami. Aku akan lunasi hutangku hari ini, lepaskan bandot tua!"


Van Amblas mau menampar Vera, tiba-tiba Argadhafa muncul dan menahan tangan Van Amblas. "Jangan kasar terhadap wanita!" Argadhafa meremas tangan Van Amblas hingga membuatnya patah.


Krak!


"Aaaakh!" pekik Van Amblas lalu terduduk lemas. "Barton! Hajar dia!"


Barton dan anak buahnya langsung ketakutan setelah melihat Argadhafa karena tadi siang mereka di pukul habis-habisan olehnya sampai saat ini pun mereka masih merasakan nyeri di perutnya. Barton mengambil pistol dipinggangnya lalu menodongkan pada dahi Argadhafa, "Menyerahlah atau aku tembak kepalamu!" bentak Barton dengan menyeringai jahat.


"Kau ini memang tidak pernah kapok." Argadhafa mengangkat kedua tangannya dan tersenyum licik. "Nyonya Vera, tolong ambilkan tas yang diberikan oleh bro dokter di dalam ruangan, sepertinya ketinggalan."


Vera keluar membawa tas berisi uang 500.000 dan langsung melemparnya ke muka Van Amblas. "Aku lunasi semua hutangku, di dalamnya ada uang 500.000. Jadi jangan pernah mengejarku lagi, paham!" teriak Vera.


"Bedebah, darimana ia mendapatkan uangnya. Apa pacarnya di depanku ini yang memberikannya, aku harus mencari cara lain agar Vera bisa jadi istriku," batin Van Amblas.


Barton melirik Van Amblas memberi isyarat untuk melakukan pergerakan selanjutnya atau tidak. Van Amblas menggelengkan kepala sebagai isyarat agar melepaskan Vera, karena situasinya sangat tidak memungkinkan untuk menculik Vera saat ini. Barton menaruh lagi pistol ke pinggangnya, dan lalu menyuruh Argadhafa serta Vera pergi.


Yosep mengajak Myke untuk pergi dari kafe, karena tidak mau mendengarkan perdebatan antara ayah dan anak. Vera dan Argadhafa mengejar Yosep lalu mengikutinya keluar, banyak yang iba dengan Yosep, sudah dipukul pakai botol di usir puls oleh Vlad hanya gara-gara Elmo.


***

__ADS_1


Keesokan paginya.


[Selamat majikan mendapatkan uang dari berkedip selama 28.800 kali dalam satu hari senilai Rp.1.440.000.000]


Yosep sedang berada di gudang belakang rumah Vera, memperbaiki food truck milik Vera yang ia hibahkan untuk Yosep. Kerusakannya tidak terlalu parah, hanya sistem hidroliknya saja yang macet dan catnya kusam. Uang 100.000 euro yang diberikan oleh Adila Yosep manfaatkan untuk memperbaiki food truck milik Vera.


"Bos, apa yang bisa kubantu?" tanya Arghadafa dan Myke serentak.


"Tolong kalian beli kompresor yang tekananannya cukup tinggi dan spray gun serta cat warna kuning, biru, serta merah khusus bodi mobil," titah Yosep. "Bawa saja uang 20.000 euro takut kurang!"


"Siap bos!" Arghadafa dan Myke menunduk hormat serentak. Lalu pergi meninggalkan gudang belakang, Vera datang membawakan kopi dan roti sandwich karena sedari pagi Yosep belum sarapan.


"Ini tuan dokter, sarapan paginya! Makanlah dahulu, jangan terlalu diporsir kerjanya. Semoga roti sandwich buatanku enak." Vera menaruh nampan berisi tiga roti sandwich dan secangkir kopi di meja.


Yosep masih berada di bawah kolong mobil sedang memperbaiki beberapa komponen yang sedikit macet di bagian bawah mobil. Mendengar suara Vera lalu Yosep keluar dari bawah kolong mobil dengan muka hitam terkena oli.


"Pffft!" Vera tertawa menutup mulurtnya melihat muka Yosep penuh oli, lalu memberikan handuk basah untuk Yosep. "Ini tuan dokter, mukanya itu gelap nanti ketampanan tuan dokter hilang, hehehehe."


Yosep menyeka mukanya dengan handuk basah yang diberikan Vera. Lalu menikmati satu persatu sandwich yang disajikan Vera, "Sungguh enak, nyonya Vera, hmmm!" Yosep memejamkan mata sambil bergumam saking enaknya sandwich yang dibuat Vera.


Dalam kepala Yosep langsung muncuk komposisi bahan-bahan yang untuk membuat roti sandwich itu. "Jangan panggil saya nyonya tuan dokter. Saya masih seorang diri belum bersuami, panggil saja Vera. Terima kasih atas pujiannya, itu adalah resep turun temurun keluarga kami. Setelah ayah meninggal aku yang melanjutkan usaha food trucknya, namun setelah aku jatuh sakit selam 8 bulan lebih dan mengandalkan kiriman dari Myke, aku berhenti berjualan food truck," ucap Vera.

__ADS_1


__ADS_2