
Yosep sudah menghantarkan Sylvia ke apartemen Wijaya, anak-anak panti juga sudah pulang sekolah. Sekarang mereka akan tinggal disana bersama mang Caswi, mak Ijah dan Sylvia. Mobil Lykan hypersport juga sudah diberikan pada Sylvia.
Rencananya ia hari ini mau pergi ke Surabaya, untuk meninjau outlet Raimu yang bersalah. "Ah bosan sekali kalau saya naik helikopter, pesawat, atau naik mobil keren. Sekali-kali aku naik bus, mungkin lebih seru." Yosep hanya membawa tas kecil hitam, memakai kaos oblong putih, celana training dan sandal jepit hijau merk skyboat andalannya. "Bang! bus arah ke Surabaya dimana ya?"
Yosep sudah berada di terminal Harjamukti Cirebon. Yosep meminta Sylvia menghantarkannya setelah ke mall, dan mengganti pakaian setelan jas hitamnya menjadi setelan andalannya.
"Di sana bang!" tunjuk salah satu pengamen jalanan berpakain punk.
"Makasih bang!" Yosep memberikan uang 50.000 ke pengamen punk, lalu pergi ke arah bus yang ditunjuk oleh pengamen punk, dan mengecek dari aplikasi pemesanan bus tiket online, nomor plat dan nama busnya. "Bang Surabaya ya?"
"Ya bang Surabaya, mari masuk!" Jawab Kernet bus berpakaian seragam Lorena Indah.
Yosep masuk ke bus dan duduk sssuai dengan nomor kursi yang tertera di aplikasi. Sudah banyak penumpang di dalam bus yang tergolong VIP, hanya ada 20 seat penumpang, fasilitas AC, toilet, dan karaoke.
Yosep duduk bersama pemuda berkulit agak sawo matang, cukup tampan, berbaju koko putih, berkopiah putih dan sarung hitam, dari bentuk tubuhnya umurnya beda dua tahun lebih muda dari Yosep. "Mau kemana mas?" tanya pemuda itu dengan nada yang lembut.
"Ke Surabaya kota, mau meninjau outlet kafe di sana," jawab Yosep dengan nada yang lembut pula dari balik masker yang menutupi mulutnya. "Mas mau pulang ke pondok lagi ya?"
"Ya mas, nama saya Miftahudin jalal, mondok di Ponpes Tarbiyatul Qulub. Wow keren mas pengusaha muda ya," jawab Miftah.
"Ssst! Jangan keras-keras menyebut pengusaha muda di daerah Cirebon dan Indramayu, nanti bisa merepotkan saya," Yosep menutup bibir yang tertutup oleh masker dengan jari telunjuknya. "Saya bisa kena batunya!"
"Memang kenapa mas?" tanya Miftah penasaran.
Yosep membuka maskernya perlahan dan menundukan wajahnya, agar penumpang wanita tak bisa melihat ketampanan pesoan wajahnya itu. "Babang tamvan!" Miftah membulatkan mata, seakan dirinya tak percaya apa yang dilihatnya sekarang. Miftah sangat mengidolakan Yosep sebagai pengusaha muda, tampan, rendah hati dan jenius. Kejeniusan Yosep terlihat dari produk yang diproduksinya selalu out the box. "Saya fans berat babang tamvan!"
"Ssst! Sudah saya bilang jangan keras-keras, apalagi mengucapkan panggilan terlarang itu." Yosep menutup kembali mukanya dengan masker lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi, bus sudah berangkat dan akan menuju tol Pejagan. "Ya terima kasih, tapi panggil saja Y jangan panggil nama lengkap saya, lihat penumpangnya! 18 orang lagi perempuan hanya kita berdua laki-laki. Kalau mereka tahu idenititas saya, habis sudah saya."
"Siap mas Y!" Miftah menaruh tas gendongnya di bagasi atas bus. "Mas Y juga pintar nyanyi juga ya, ayo kita karakoean. Kita duo, ok!"
"Ah kamu itu Mif, buat saya ingin saja ayo!" balas Yosep.
Miftah berjalan pelan ke arah supir, karena microphonenya di simpan di dekat kemudi. "Bang nyalain dong televisinya, kita mau karaokean!" pinta Miftah.
"Boleh tapi kalau suaranya kaya ayam kecekik, saya akan tendang kamu keluar!" ancam Supir bus bernama Warto. Sering kali Warto dalam perjalanannya antar provinsi, menemui penumpang yang mengaku bisa menyanyi dengan suara merdu, nyatanya suaranya kaya ayam kecekik. Hingga Warto trauma gara-gara itu, membuatnya tidak fokus dalam menyetir.
"Tenang saja bang, aku jamin abang pasti ketagihan dengerin suaraku, hmm!" balas Miftah.
"Baiklah ambilah mikroponnya, saya akan menyalakan televisinya," ucap Warto, Miftah mengambil mikropon dan banyak diacungi pukulan oleh para wanita muda, emak-emak dan wanita paruh baya.
"Awas kalau nyanyinya jelek, saya hajar kau!"
"Ya awas kami hancurkan kantong menyanmu!"
Miftah tak meladeni pembicaraan para penumpang lain, dan duduk di samping Yosep, " ini mikroponnya, kita duet ya mas Y" pinta Miftah. "Lagunya Inka Christie, cinta kita!"
"Tapi itu kan lagu dengan nada tinggi, kamu saja saya tak sanggup," tolak Yosep merendah, hanya ingin tahu kemampuan bernyanyi Miftah.
__ADS_1
"Baiklah, aku saja dahulu yang nyanyi!" ucap Miftah yang sudah menyalakan mikropon. Begitu Miftah nyanyi kaya ayam kecekik suaranya, Warto langsung rem mendadak.
Ciit!
Warto ke belakang menuju tempat duduk Miftah dan Yosep dengan raut muka geram dan berteriak, "sudah kubilang kalau suara jelek, jangan maksa nyanyi goblok! Cepat keluar sana!"
"Maafkan saya pak, maafkan! Saya janji tidak akan menyanyi lagi," balas Miftah dengan menundukan wajahnya.
"Bodo amat, kau ini!" Warto mau menampar Miftah tapi tangannya di tangkap oleh Yosep. "Lepaskan tangan saya, orang seperti ini harus saya berikan pelajaran!"
"Sudah pak sudah, lanjutkan perjalanan. Sebagai permintaan maaf saya yang akan bernyanyi. Saya janji kalau saya menyanyinya jelek, saya akan turun di tengah tol dan memberi kompensasi 10 juta, bagaimana pak?" tanya Yosep.
"Okelah kalau begitu, silahkan!" jawab Warto, para penumpang yang ricuh juga kembali tenang.
Yosep memegang mikropon dan mulai bernyanyi lagu yang sama dinyanyikan Miftah.
Demi cintaku padamu
Ke mana pun kau 'kan kubawa
Walaupun harus kutelan
Lautan bara
Demi cintaku padamu
Biarpun harus berkorban
Jiwa dan raga
Bulan madu di awan biru
Tiada yang mengganggu
Bulan madu di atas pelangi
Hanya kita berdua
Nyanyikan lagu cinta
Walau seribu duka
Kita takkan terpisah
Andai dipisah laut dan pantai
Tak akan goyah gelora cinta
__ADS_1
Andai dipisah api dan bara
Tak akan pudar sinaran cinta
Bulan madu di awan biru
Tiada yang mengganggu
Bulan madu di atas pelangi
Hanya kita berdua
Nyanyikan lagu cinta
Walau seribu duka
Kita takkan terpisah
Andai dipisah laut dan pantai
Tak akan goyah gelora cinta
Andai dipisah api dan bara
Tak akan pudar sinaran cinta
Andai dipisah laut dan pantai
Tak akan goyah gelora cinta
Andai dipisah api dan bara
Tak akan pudar sinaran cinta
Andai dipisah laut dan pantai
Tak akan goyah gelora cinta
Andai dipisah api dan bara
Tak akan pudar sinaran cinta
Andai dipisah laut dan pantai
Tak akan goyah ...
Yosep bernyanyi dengan sangat merdu, mampu membius semua penumpang dan juga Warto. "Kok suaranya mirip babang tamvan ya!" celetuk penumpang pemudi cantik di kursi belakang Yosep.
__ADS_1
"Ya, mirip babang tamvan, apa jangan-jangan ....," imbuh wanita muda disebelahnya dan langung berdiri melihat Yosep.