
Keesokan harinya.
Di Bandara Kertajati Subang.
Albert, Dawi, Raiden, Kokoci, Tarung dan Gweny sudah turun dari pesawat. Dawi sudah memberitahukan Yosep, bahwa ia pulang hari ini dan sampa jam 8 pagi.
Yosep melakukan aktivitas pagi seperti biasa tapi sekarang di rumah barunya. Yosep menyuruh Nyotnyokong, Kirno, dan butler lainnya untuk menjemput ibunya Dawi.
[Selamat majikan mendapatkan uang dari berkedip selama 28.800 kali dalam satu hari senilai Rp. 288.000.000]
"Aku harus menyiapkan semua kebutuhan pernikahan, catering sudah, baju sudah, undangan dan souvenir sudah, gedung juga sudah. Semuanya sudah aku persiapkan, tinggal menyelesaikan semua pekerjaan yang belum terselesaikan 5 hari ke depan," gumam Yosep.
Di lapangan samping rumah Yosep, ibu-ibu sedang bersenam pagi. Di setiap sudut lapangan juga sudah terpasang mesin minuman otomatis, yang dikirim oleh Guavani dari Ochobot City.
Ayah Kifli, pak Usman juga sedang bersih-bersih di lapangan bersama pegawai yang direkrut oleh pak Usman.
Yosep memberikan mereka gaji mengurusi Lapangan 3 juta/bulan dan bonus tambahan 1 juta/bulan. Total ada 10 orang yang bekerja mengurusi lapangan.
Banyak orang juga dari desa lain berkunjung, untuk hanya sekedae berswafoto atau berolahraga, dan banyak juga warga yang berdagang di sekitar lapangan.
Yosep memersihkan diri lalu menyesap kopi di taman atap rumahnya. Yosep melihat pesan yang masuk dari smartphone miliknya, apakah ada masalah yang terjadi atau tidak?
___
___
___
Gweny langsung dibawa ke rumah sakit Budi Asih Technology untuk diperiksa matanya oleh Yosep. "Bagaimana dok? Apakah mata saya bisa disembuhkan? Dan kapan aku bisa melakukan operasi transplantasi mata?" tanya Gweny raut muka menelisik ditemani Tarung.
"Tidak perlu melakukan transplantasi mata. Rumah sakit saya selalu melakukan treatment tanpa membedah bagian tubuh, siapkan satu jam lagi fisik dan mental nona Gweny," jawab Yosep.
"Terima kasih tuan," ucap Tarung menundukan wajah.
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih bro, jaga dia baik-baik," bisik Yosep di telinga Tarung, lalu pergi menuju ruangan rahasia rumah sakit untuk membuat pil baru. Pil Shivasa yaitu pil membentuk ulang mata seperti kondisi semula, perpaduannya hanya perlu pil kintamani dan pil jahe emas. Tapi perlu perawatan khusus, hanya bisa dilakukan oleh Yosep yaitu perawatan totok jari air.
___
___
___
Yosep berhasil membuat pil Shivasa di ruangan rahasia, ia sedang membuka peta artefak bedawang sangaresi. Masih tersisa 3 artefak lagi, sarung tangan, mangkuk dan baju zirah. Titik-titik di peta 3 artefak ini selalu berpindah tempat, "sepertinya 3 artefak lain sudah dimiliki seseorang," batin Yosep. "Tapi ya sudahlah, saya fokus dahulu untuk menikah, setelah menikah kita baru saya pikirkan untuk langkah selanjutnya."
Yosep masuk ruangan Gweny, Tarung terus menemani Gweny dan tidak ingin jauh darinya. Gweny sangat nyaman dengan kehadiran Tarung, membuat Gweny tertawa, gembira, dan juga merasa aman.
"Nona silahkan duduk, dan telan pil ini satu persatu sesuai aba-aba saya. Kondisikan tetap sadar, jangan sampai hilang kesadaran. Proses ini akan sangat menyakitkan," titah Yosep.
"Baik dok," balas Gweny dan memegang erat tangan Tarung.
Yosep memberikan pil jahe emas untuk meregenerasi seluruh sel tubuh Gweny termasuk bagian saraf mata. Yosep memberikan lagi pil Shivasa dan mengaktifkan tenseigan. Gweny mulai berteriak karena bagian kelopak matanya terasa di tusuk-tusuk ribuan jarum, "Aaaargh! Sakit sekali!"
Teriakan Gweny kembali senyap, Yosep mulai menotok kelopak mata Gweny dengan jurus totok jari air, Gweny kembali teriak tapi lebih kencang dari sebelumnya. Tubuh Gweny menegang, tangannya meremas selimut di tempat tidurnya erat-erat.
"Jangan menyerah! Ayo kamu bisa!" Tarung memegang tangan Gweny dengan erat. "Aku berjanji setelah, Gweny sembuh, aku akan selalu menjaga Gweny."
Gweny teriakannya perlahan mulai mengecil, seperti suara sound system yang diputar tombol pengatur suaranya ke arah kiri, untuk menurunkan suaranya.
"Tinggal langkah terakhir, bro minumkan pil yang terakhir!" titah Yosep, tangannya ditangkupkan mengumpulkan hawa murni di telapak tangannya, memejamkan mata dan memfokuskan hawa murni. Yosep menghembuskan nafasnya perlahan dan menghirupnya perlahan, lalu menghentakan kedua telapak tangannya ke kedua kelopak mata Gweny.
Swush!
"Hah, hah, hah," nafas Gweny terengah-engah dan matanya mulai terpejam, rasa kantuk menghinggapi mata Gweny. Yosep menutup mata Gweny dengan perban dengan memutari perban itu ke belakang kepala Gweny beberapa kali.
"Biarkan nona Gweny tidur, dan tunggu maksimal 1 jam lagi," titah Yosep. "Jaga baik-baik! Aku akan keluar dahulu!"
"Siap, tuan!" balas Tarung menundukan wajah. Raiden dan Kokoci tiba di rumah sakit kali ini berdua saja, Albert sedang bersama Dawi di kafe. Ya kerjaan Albert hanya makan dan menggoda Dawi. Kebetulan Wulan dan Vanya ke rumah sakit, karena ada berkas penting yang harus ditandatangani Yosep sekarang juga. Mau tidak mau mereka harus mendatangi Yosep di rumah sakit.
__ADS_1
Deg!
Jantung Kokoci berdegup kencang melihat Wulan, tubuhnya mematung seakan ribuan paku menghujam seluruh tubuhnya dan menempelkannya pada dinding baja.
"Permisi mas! Apa anda melihat pak bis bos?" tanya Wulan pada Kokoci.
"A-a-anu, ... a-a-anu, ...," jawab Kokoci dengan nada terbata-bata, lidahnya kaku tak bisa berkata apa-apa. Mulut Kokoci seakan di sulam dengan benang biru, tak bisa mengatakan sepatah kata apapun. Keringat dingin bercucuran, wajahnya pucat pasi.
"Mas anda tidak apa-apa? Atau anda sakit? Jika sakit biar aku memapahmu mas," tanya Wulan sambil memegang dahi Kokoci.
"Ti-tidak a-a-apa-a-apa nona, mung-mungkin hati saya saja yang sakit, karena melihat kecantikan dan ketulusan nona. Terima kasih nona, saya tidak apa-apa," jawab Kokoci tanpa sengaja memuji kecantikan wajah dan tubuh Wulan.
Wulan yang mendengar pernyataan Kokoci, pipinya memerah, "Ah masa sih mas? Saya jadi malu," ucap Wulan.
Yosep tiba-tiba muncul dari belakang, "Ekhem, ekhem!" Yosep berdehem keras dan menggoda mereka berdua. "Pepet terus kaya bajay!"
"Maaf tuan, sedikit hehehehe," ucap Kokoci menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Wulan, mimi cerita kalau Kokoci menyukaimu. Sudah terima saja, toh lihat badannya kekar, putih, tampan, masih kurang apalagi. Tentunya dia penyayang sekalipun badannya besar hatinya melow kaya jely," ungkap Yosep.
"Ah, pak big bos bisa saja!" sahut Wulan.
"Tuan kenapa terang-terangan, saya jadi malu tau," Kokoci menutupi mukanya dengan kedua tangan. "Mana taruh dimana muka saya."
"Ya taruh saja di hati Wulan, betul?" tanya Yosep melirik Wulan.
"Boleh pak big bos, asal mau bicara sama bapak," jawab Wulan.
"Tuh, sudah lamar saja, gak pakai lama. Itu kodenya sudah dikatakan, ayo!" ucap Yosep sambil mendorong bahu Kokoci.
"Ya tapi nanti bayarin ya biaya nikahnya, hehehe," balas Kokoci menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menundukan wajahnya ke arah Yosep.
"Beres!" ucap Yosep singkat.
__ADS_1