SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip -77 Mas Aku Belum Nikah!


__ADS_3

Prapto memberikan kacamata hitam pada Yosep. "Makasih pak, silahkan duduk di samping saya!" Pinta Yosep lalu memakai kacamata hitam itu. Yosep langsung mengaktifkan byakugan miliknya dan memegang nadi tangan kanan Prapto.


Setelah beberapa saay Yosep memberikan diagnosanya, "maaf pak! Bapak terkena kanker prostat stadium satu."


"Ya mas dokter benar, itu juga diagnosa dari rumah sakit di Cirebon. Apakah bisadisembuhkan dok?" Tanya Prapto dengan raut muka sedikit murung.


"Bisa malah tanpa operasi. Bapak minum pil jahe emas ini satu hari sekali selama 3 hari dan pil kintamani selama seminggu 2 hari sekali. Efeknya cukup cepat dalam waktu 3 hari benjolan di prostat akan hilang, bapak juga akan kembali sehat setelah konsumsi pertama pil." Jelas Yosep memberikan enam pil.


Prapto langsung meminum 2 pil sekaligus yaitu 1 butir pil jahe emas dan 1 butir pil kintamani. Prapto memegang area perut bagian bawahnya karena sangat sakit.


"Mas dokter kenapa papah?" Tanya Vanya dengan raut muka panik. Setelah satu menit tubuh Prapto keluar hawa berwarna hitam dan sangat bau. Prapto wajahnya yang pucat kembali berseri-seri dan berangsur-angsur sehat.


"Mas dokter terima kasih! Efek obatnya benar-benar luar biasa. Kejantanan saya telah kembali!" Ujar Prapto yang merasa tubuhya kuat dan berstamina serta vitalitasnya lebih bersemangat.


"Sama-sama pak." Ujar Yosep. "Itu hanya efek detoksifikasi jadi jangan khawatir. Lihatlah papahmu sudah baikan. Sekarang giliran ibu!" Yosep memegang nadi di tangan kanan Shinta.


Beberapa saat yang kemudian, "Ibu terkena gerd cukup parah tapi bukan berarti tidak bisa disembuhkan. Minum pil kintamani ini selama 1 minggu satu hari satu butir dalam 7 hari ibu bisa sembuh total. Efek pengunaan pertama cukup berasa tapi belum signifikan jadi ibu sementara setelah minum pil yang pertama langsung istirahat." Ujar Yosep sambil memberikan 7 pil, Shinta langsung menelan satu pil.


Efek pertama kali meminum pil rasa sakit di ulu hatinya hilang tapi kondisi mukanya masih sedikit pucat. "Baik mas dokter, kondisi saya juga sudah baikan rasa sakit di ulu hati saya juga sudah hilang. Saya akan langsung istirahat mas dokter." Ujar Shinta dengan raut muka berbinar-binar karena penyakitnya berangsur-angsur sembuh terutama nyeri di ulu hatinya yang cukup menyiksa.


"Sama-sama bu!" Ujar Yosep yang langsung menonaktifkan byakugannya dan mengembalikan kacamata hitam milik Prapto. "Benar ada retakan di tulang kaki kanan Vanya, aku harus membawanya ke rumah sakit Budi Asih kalau tidak berbahaya dan bisa fatal, Vanya akan lumpuh permanen." Batin Yosep dengan raut muka khawatir.

__ADS_1


"Mas dokter lalu Vanya bagaimana?" Tanya Vanya menyadarkan lamunan Yosep.


"Oh ya Vanya akan saya bawa ke rumah sakit Budi Asih Technology. Saya tidak bisa bolak-balik merawat Vanya, saya tidak bisa membuat pil jerangkong disini." Jawab Yosep. "Ini semua salah saya yang salah mendiagnosa, saya pikir hanya luka luar dan dalam biasa ternyata ada retakan tulang di kaki kanan kamu, Vanya dan itu cukup fatal."


"Tapi dok, rumah sakit Budi Asih itu rumah sakit yang mahal. Saya belum ada biaya untuk berobat." Tolak Vanya.


"Jangan khawatir semua biaya saya yang jamin, nomor satu adalah kesembuhan Vanya. Saya adalah kepala dokter di sana! Vanya, bapak dan ibu tak usah merisaukan hal itu. Silahkan kemasi barang Vanya kita akan pergi malam ini juga!" Seru Yosep.


Shinta ke kamar Vanya untuk menyiapkan baju Vanya yang akan dibawa ke rumah sakit. "Mas dokter apa kita juga boleh ikut?" Tanya Prapto.


"Bapak dan ibu tak usah khawatir, saya paham dengan perasaan bapak serta ibu. Saya jamin Vanya esok atau lusa sudah bisa pulang, jika bapak tidak percaya ini ktp dan Id rumah sakit saya. Jika saya macam-macam dengan Vanya, bapak bis mencari saya di kafe Raimu CRC atau rumah sakit Budi Asih." Jelas Yosep yang mencoba menenangkan Prapto, Yosep sangat mengerti sebagai orang tua Prapto takut di apa-apakan oleh Yosep, sedangkan Yosep sendiri orang yang baru saja di kenal mereka.


"Ih papah nyebelin, hmph!" Ujar Vanya yang menggembungkan pipi dan membuang muka. Sontak saja Yosep reflek menarik kedua pipi Vanya karena membuat Yosep gemas.


"Aw! swakit mwas dwokterw (sakit mas dokter)!" Ujar Vanya sambil melerai tangan Yosep yang menarik kedua pipinya hingga merah.


Yosep tertawa dengan riangnya tanpa ada rasa bersalah. "Hahahaha! Rasakan jurus penghancur pipi T-Rex."


Shinta keluar membawa tas dorong Vanya. "Ayo kita berangkat!" Seru Yosep lalu menggendong Vanya, Prapto dan Shinta mengikutinya dari belakang menuju mobil.


"Jangan-jangan mas dokter jodoh Vanya!" Batin Shinta.

__ADS_1


"Semoga Vanya berjodoh dengan mas dokter!" Batin Prapto.


Vanya memakai dres berwarna orange dan berpamitan pada kedua orang tuanya dengan mencium punggung tangan kanan Prapto serta Shinta dalam keadaan masih digendong Yosep.


"Hati-hati di jalan nak dan mas dokter!" Kata Prapto dan Shinta bersamaan. Yosep menaruh Vanya di kursi depan. Yosep juga berpamitan mencium punggung tangan kana Prapto dan Shinta.


"Pasangan yang sangat serasi. Semoga berjodoh dan kegalakan nona Vanya akan lenyap!" Batin Misdi yang melihat dari balik jendela.


Yosep membuka kaca mobilnya dan membunyikan klakson. Yosep sudah mengendarai mobilnya lewat perempatan lampu merah grage mall. "Mas dokter kenapa lewat sini?" Tanya Vanya. "Kalau lewat Karangampel banyak begal mas dokter."


"Ya aku mau lewat kesitu, sekalian ada perlu sebentar di kantor Wijaya Shield." Jawab Yosep.


"Ini kan sudah malam mas dokter. Jalanan di sana sangat sepi ,Vanya takut tahu!" Ujar Vanya dengan wajah panik dan menggembungkan pipinya.


"Tenang saja, tak usah khawatir. Saya sudah berjanji pada kedua orang tua Vanya untuk menjaga Vanya. "Ujar Yosep sambil mengelus kepala Vanya dengan lembut dan memakaikan jas hitam miliknya.


Hati Vanya merasa nyaman diperlakukan oleh Yosep seperti itu, tak ada lagi wajah galak yang menghiasi ekspresinya. "Mas dokter! Saya tidak paham apakah ini namanya cinta. Tapi hatiku merasa nyaman saat kau memegang lembut rambutku." Batin Vanya yang tiba-tiba perutnya berbunyi.


"Kamu lapar? Baik nanti kita berhenti di Karangampel dengan mobil ini 10 menit juga sudah sampai." Ujar Yosep yang tiba-tiba menekan pedal gas lebih kencang. "Pegangan!"


Yosep melewati tikungan dan setiap mobil yang berada di jalan begitu sangat menegangkan bak pembalap profesional. "Mas pelan-pelan saja! Jantung Vanya bisa copot!" Pinta Vanya yang memegang bagian belakang tempat menyandarkan kepala dengan sangat tegang. "Mas aku belum nikah! Pelan-pelan mas!"

__ADS_1


__ADS_2