
Lima personil Black Assasin naik ke lantai dua melalui lift, Raizel sudah menyalakan kembali listrik, karena tangga menuju lantai dua sudah rusak parah dan tidak bisa di naiki.
Ting!
Pintu lift terbuka dan alangkah kagetnya komandan Arco melihat jebakan pedang saber yang dipasang oleh Albert beberapa saat yang lalu, membunuh 3 personil Black Assasin.
Jleb!
"Aakh!" tiga personil Black Assasin memekik dengan mulut mengeluarkan darah segar. Komandan Arco berjalan perlahan bersam Raizel di belakang, takut masih ada jebakan lain yanh di pasang oleh Albert. "Raizel! Cari kesana! Dan aku akan cari kesini!"
Mereka berdua berpencar mencari keberadaan Ryuna, Rany, dan Dawi. Satu persatu pintu dibuka, yang mereka berdua lihat hanya para butler, para maid, tim throne army, tim hanoka dan tim pancawihaya yang sedang terkapar di ranjang tidur, dan lantai kamar.
"Sial! Rumah ini terlalu banyak kamarnya, sudah seperti hotel bintang lima saja," keluh Raizel.
Mereka berdua akhirnya bertemu di kamar terakhir, Raizel menatap Komandan Arco dan sebalaiknya. Pistol magnum yang mereka selipkan di pinggang, mereka berdua tarik, Raizel mengangguk pelan pada Komandan Arco memberi kode untuk melakukan penyerangan secara tiba-tiba jika pintu di buka.
Komandan Arco menarik tuas pintu, ternyata di kunci. Raizel menembak tuas pintu dengan pistol magnum yang sudah diberi peredam suara.
Cug!
Brak!
Komandan Arco menendang pintu dan masuk ke dalam kamar terakhir, mereka berdua di sambut oleh tendangan Ryuna.
Bam!
Krasak!
Pistol magnum di tangan Komandan Arco dan Raizel terpental jauh lalu jatuh ke permukaan lantai, "Sister, Ibu! Cepat pergi! Biar aku yang akan menghajar mereka berdua!" seru Ryuna dengan berteriak.
Raizel dan Komandan Arco mengeluarkan belati mereka yang diselipkan di pinggang, "Jangan harap kalian bisa pergi! Aku akan mengirim kalian bertiga ke alam baka!" teriak Komandan Arco sambil melesat cepat ke arah Ryuna dan mengayunkan belatinya secara horizontal lalu vertikal secara terus menerus.
Syat!
Syat!
Ryuna menatap lekat Komandan Arco dan melakukan teknik weaving untuk menghindari tebasan belatinya. Dawi dan Rany tidak bisa berlari keluar, karena Raizel berdiri di depan pintu menghalangi mereka dengan belati yang siap ditusukan. "Ibu! Pria jelek itu biar aku yang melawan, begitu ada kesempatan ibu langsung lari saja, ok!" pinta Rany dengan lirih.
__ADS_1
Bam!
Ryuna dan Komandan Arco beradu pukulan, keduanya terpundur, Komandan Arco menyeringai licik, ia melirik ke kanan melihat pistol magnum yang tergeletak dan berguling ke kanan untuk mengambilnya.
Grep!
Dor!
Bahu kanan Dawi terkena peluru yang dilesatkan oleh Komandan Arco, "Ibu!" Rany dan Ryuna segera menuju Dawi lalu memegangnya. "Ibu bertahanlah!"
Prok!
Prok!
"Sungguh mengharukan kondisi menantu dan ibu mertua sebelum pergi ke alam baka, cepat berlutut atau aku tembak!" bentak Komandan Arco mengarahkan pistol magnum ke arah mereka bertiga, Raizel pun mengambil pistol magnum yang tergeletak di permukaan lantai dan menodongkan pistol ke arah mereka bertiga juga.
Darah di bahu kanan Dawi mengalir deras, wajahnya mulai pucat pasi, mereka bertiga berlutut dengan tangan ditautkan lalu ditarih pada tengkuk masing-masing. "Selamat tinggal kalian bertiga semoga tenang di alam baka!" Komandan Arco dan Raizel berdiri di belakang mereka bertiga dan menodongkan pistol di kepala Ryuna dan Rany.
Dor!
Dor!
Di rumah Rasidju Sentani Residence.
Yosep dari semalam tidak bisa tidur dan gelisah, "Ada apa ya? Sepertinya saya merasa gelisah tapi apa?" gumam Yosep dipenuhi pertanyaan sambil berbaring, ia sama sekali belum melihat smartphone miliknya, ada 100 panggilan masuk dari Dawi, Ryuna, Rany, dan Albert.
[Telolet]
[Hukuman majikan dicabut]
[Semua skill yang dikunci sistem terbuka]
[Akses menjadi pemimpin tertinggi Ochobot City diberikan kembali]
[Semua kekayaan majikan yang telah dibekukan, sekarang terbuka]
[Untuk aset saham yang telah hilang, mohon maaf tidak bisa dikembalikan, majikan berusaha lagi untuk mendapatkannya]
__ADS_1
Yosep tersenyum lebar mendengar pernyataan sistem Barjo sang sistem lucknut, "Akhirnya masa hukumanku berakhir, tapi tetap saja aku masih gelisah." Yosep mengambil smartphone miliknya dan melihat ada 100 panggilan masuk, matanya membulat, "Pasti terjadi sesuatu?"
"Argadhafa! Argadhafa! Kita akan kembali ke Indramayu!" imbuh Yosep memanggil anak buahnya yang sedang tidur pulas, disampingnya. "Hawa murni energiku juga sudah kembali. Reinka aksa!"
Yosep mengedarkan pandangannya untuk melihat keadaan istrinya di Indramayu dan membulatkan mata, "Hooaaaam! Masih ngantuk pak big bos!" ucap Arghadafa sambil mengucek matanya.
"Kita harus bergegas, kedua istriku, ayah, dan Ibuku sedang dalam masalah!" teriak Yosep lalu memegang tangan Arghadafa. "Jurus melipat langit! Ajian serat wadag brajawesi"
Dor!
Slep!
Bam!
Yosep bersama Arghadafa muncul tiba tiba ditengah antara Komandan Arco dan Raizel, dengan secepat kilat peluru yang ditembakan ke kepala Ryuna dan Rany di tangkap oleh Yosep. Argadhafa terkejut langsung memukul Komandan Arco dan Raizel membuatnya terpental ke kiri serta ke kanan, pistolnya pun jatuh ke lantai.
"Bedeb*h! Bangs*t! Kalian ingin membunuh kedua istriku dan ibuku juga ayahku, saya akan membuat kalian mati mengenaskan! Jurus melipat bumi!" Yosep memunculkan pusaran angin di belakang tubuh mereka dan menghisapnya.
Swush!
Tubuh Komandan Arco dan Raizel hilang dari pandangan dan muncul di atas gedung burj khalifa lalu terjun ke bawah tanpa pengaman apapun. "Aaaaaa!" Komandan Arco Raizel berteriak kencang menjemput kematiannya yang mengenaskan terjun dari ketinggian 828 meter.
Buak!
Tubuh mereka hancur ketika menyentuh tanah depan halaman burj khalifa, Yosep yang menyaksikan dengan reinka aksa tersenyum jahat, "Mampus kalian, berani melawan sang kaisar rich!"
Yosep segera mengangkat tubuh Dawi dan meletakannya ke ranjang tidur untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu kanannya. "Argadhafa! Cari ayahku di kamar sebelah selatan, dia terluka cukup parah!" titah Yosep.
"Baik, pak big bos!" Ardhafa menganggukan kepala lalu pergi keluar kamar yang pintunya sudah rusak.
"Mas, ibu bagaimana? Pelurunya bisa dikeluarkan?" tanya Rany dengan raut muka khawatir, karena melihat Dawi sudah pingsan.
"Tenang, kekuatan dewa mas sudah kembali! Hahahaha! Jurus jari petir!" Yosep menotok bagian bahu kanan Dawi, peluru itu keluar dari bahu kanannya. "Ajian jagat saksana!"
Sriing!
Tubuh Dawi diselimuti aura hijau, lukanya menutup cepat, sel-sel didalam tubuhnya juga beregenerasi dengan cepat. Wajah Dawi yang pucat kembali segar dan tertidur pulas. "Bagaimana mas?" tanya Ryuna dengan raut muka khawatir.
__ADS_1
"Tenang saja mimi sedang istiarahat, mas akan membereskan semua masalah yang mereka buat!" Yosep keluar dan melayang dari lantai dua ke lantai satu, mencari air kemasan untuk mengobati semua anak buahnya. "Saya membutuhkan air satu galon, untuk menyembuhkan mereka semua."