
Sore hari di rumah pak Kades H.Sutarma.
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamualaikum! Pak kades pak!" panggil Yosep mengetuk pintu rumah pak kades.
Krieet!
Pintu dibukakan oleh Ibu haji Marni, istri dari Pak Kades dan ibu dari Wulan. "Walaikumussalam, ya ada yang bisa dibanting, eh maaf dibantu?" tanya ibu Hajah Marni.
"Saya Yosep bu, anaknya ibu Dawi dan ini saudara saya Kokoci!" jawab Yosep.
Ibu Hajah Marni memperhatikan wajah Yosep dan Kokoci tapi tidak ada yang mirip. "Maaf, saudara kok tidak mirip sedikit pun ya! Ini mas Kokoci bule, dan mas Yosep arab kearaban. Ibu Dawi ya ...?"
Marni mengelus dagunya, matanya menatap ke atas dan menggerakannya ke kiri serta ke kanan. "Oh ya, ibu ingat, mas Yosep bosnya Wulan?" imbuh Ibu Hajah Mari sambil bertanya kembali.
"Ya bu begitulah, kami saudara angkat," jawab Yosep.
"Oh, saudara angkat, pantas tidak mirip. Mari masuk!" Ibu Hajah marni menuntun Yosep dan Kokoci ke ruang tamu. "Silahkan duduk! Saya panggilkan bapak dahulu ya!"
"Ya bu hajah!" Yosep dan Kokoci duduk. Tubuh Kokoci gemetaran lalu ditepuk pahanya oleh Yosep. "Woy! Jangan grogi, mau melamar neng Wulan yang cantiknya sejagat buana, masa grogi?"
"Bukan begitu tuan. Saya baru pertama kali bertemu dengan kedua orang tua calon saya, sebelumnya ya jadi jomblo karatan. Jadi belum pernah segrogi ini," jawab Kokoci yang terus menyeka keringat di dahinya.
Pak Kades Keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu, lulu duduk di sebelah Yosep. Sementara Wulan sedang mandi, membersihkan diri dan berdandan secantik mungkin demi menyambut Kokoci. "Selamat sore mas Yos! Ada apa nih gerangan datang kemari? Tumben!" sapa Pak Kades.
"Ya begini pak. Saya mewakili saudara saya untuk melamarkan neng Wulan untuk menjadi istri saudara Saya bernama Kokoci Sugar Daddy, dan ini seserahan lamarannya. Maaf kalau kurang sopan dan kurang berkenan!" Yosep memberikan uang seserahan 100 juta dan cincin emas berlian seberat 5 gram.
__ADS_1
"Terima kasih mas Yosep dan mas Kokoci. Untuk masalah mau atau tidaknya, saya sebagai orang tua menyerahkannya pada anak saya Wulan," balas Pak Kades.
Wulan keluar dari kamarnya memakai gamis berwarna krem dan hijab berwarna krem juga serta gincu merah merekah di bibirnya, lalu duduk di samping pak kades.
"Cantik sekali!" puji Kokoci dalam batinnya.
"Selamat sore pak big bos! Selamat sore mas kokoci!" sapa Wulan dengan raut bibir melengkung membentuk senyuman.
"Sore!" balas singkat Yosep dan Kokoci serentak.
"Bagaimana Wulan? Kokoci mau melamar kamu? Terima atau tidak?" tanya Yosep.
"Apa?! Melamar?! Jadi mas Kokoci beneran tadi, bukan bercanda?!" Wulan membulatkan mata, jantung berdetak kencang karena gugup. Ternyata Kokoci laki-laki yang serius. "Bagaimana ini pak?"
"Loh kok nanya bapak? Kamu kan yang jalanin, lagi pula kamu sudah mapan. Mobil bagus, gaji gede, rumah baru kamu sudah ditempatin kan? Jadi mau apa lagi? Bapak juga sudah terbantu berkat kamu Lan. Tiap bulan kamu umrohin bapak dan ibu," jawab Pak Kades.
"Baiklah pak, Wulan terima. Tapi Wulan gak mau setelah menikah jauh dari bapak dan ibu," jawab Wulan.
Yosep menghela nafas panjang, "Hah ... Ya, ya, ok!" Yosep mengacungkan jempol. "Terus pernikahannya kapan pak bisa dilaksanakan?"
"Sudah tuan, sekalian saja sama pernikahan tuan, Saya, Raiden, dan Tarung juga. Biar nikahnya masal!" usul Kokoci.
Bletak!
Yosep memukul kepala Kokoci, "Ide bagus. Biar Sylvia tidak bingung mengatur jadwalnya. Ya sudah besok, kamu bro sama bro Tarung fiting baju pengantin. Tinggal satu masalah lagi melamar Vanya untuk Raiden," ucap Yosep.
"Aw! Sakit!" pekik Kokoci. "Ide Bagus malah dipukul sih tuan."
"Hahahahaha," Wulan, pak kades, dan ibu hajah tertawa lepas melihat kelucuan Kokoci di pukul kepalanya sama Yosep.
"Dasar tuan lucknut!" batin Kokoci mengumpat.
__ADS_1
Kokoci memasangkan cincin ke jari manis Wulan dan Wulan pun sebaliknya. Keduanya menatap dengan lembut penuh rasa suka.
Acara lamaran pun selesai. "Ya sudah ayo pulang!" ajak Yosep. "Terima kasih bapak dan ibu sudah menerima lamaran saudara Kokoci."
"Sama-sama mas Yosep." ucap serentak ibu kades dan pak kades.
Wulan dan Kokoci saling menatap dengan pipi sama-sama memerah, "Maaf tuan saja yang pulang dahulu. Saya mau ngapel dahulu, hehehe. Sekalian ngajak nona Wulan jalan-jalan, bolehkan pak, bu?" tanya Kokoci pada pak kades dan bu kades.
"Boleh!" jawab singkat pak kades.
"Asal jangan macam-macam, kan belum sah meskipun sudah dilamar," timpal bu kades.
"Ya bu, saya Kokoci Sugar Daddy berjanji sebagai prajurit akan menjaga amanah dan kehormatan nona Wulan!" ucap Kokoci sambil berdiri dan menyilangkan tangan kanan di dada kirinya.
"Ya saya percaya," sahut pak kades.
"Pak, bu, saya izin pamit." Yosep mencium punggung tangan pak kades dan bu kades lalu berjalan keluar pintu rumah pak kades. "Assalamualaikum!"
"Saya juga izin keluar pak, bu." Kokoci dan Wulan mencium punggung tangan pak kades dan bu kades lalu berjalan keluar pintu rumah pak kades. Assalamualaikum!"
"Ya sudah hati-hati! Walaikumsalam!" sahut pak kades dan bu kades serentak.
Yosep membawa mobil Lambhorgini veneno roadster miliknya menuju VJC 01 untuk menjemput Raiden. Mereka berdua akan melamar Vanya malam ini, Yosep sudah menyiapkan 3 pasang cincin, untuk Kokoci, Raiden dan Tarung. Rencananya Yosep akan melamar Vanya esok hari, tapi karena usul Kokoci, Yosep mempercepatnya.
Wulan dan Kokoci mengendarai mobil honda jazz milik Wulan yang baru ia beli secara cash. Kokoci juga sebenarnya sudah dberikan mobil oleh Yosep, yaitu mobil Rolls Royce Culinan. Tapi Yosep tidak memberikannya sekarang untuk kejutan hadiah ulang pernikahan mereka berdua. Raiden diberikan SF90 spider dan Tarung diberikan mobil BMW 4 series Convertibe.
Kokoci mengendarai mobil ke arah supermall dharmayu. Tentu saja Yosep memberikannya uang saku 50 juta, Yosep sangat royal terhadap anak buahnya, terlebih lagi anak angkat Albert.
Rupanya dari belakang mereka sudah diikuti oleh 4 orang pemuda membawa masing-masing Kawasaki Ninja 250 cc. Kokoci yang menyadarinya, mendiamkan saja dan menganggapnya hanya bocah ingusan, tak sebanding dengannya yang seorang prajurit super elit.
"Mas kita diikuti sedari tadi oleh 4 orang pemuda. Sepertinya Wulan mengenalnya," ungkap Wulan raut wajahnya ketakutan.
__ADS_1