
"Adila minggir, biar ayah hentikan pengobatan ini. Jika dia yang mengobati ibumu bisa mati, biarkan ayah masuk dan cukup ayah saja yang merawat ibumu!" balas Vlad berteriak juga.
"Guhak! Guhak! Guhak!" Alia memuntahkan cairan hitam pekat tiga kali. Nafas Alia yang sesak mereda dan bisa bernafas normal, wajahnys yang pucat pasi juga kembali segar.
"Guhak!" Yosep memuntahkan darah dari mulutnya. "Tinggal regenerasi sel, ajian kusuma jiwa!"
Sriing!
Tubuh Alia diselimuti aura biru, organ vital di dalam tububnya yang rusak oleh racun kembali pulih bahkan bisa kembali bekerja secara maksimal. Alia langsung sehat kembali dam bangkita dari rebahannya, matanya menatap tajam Dokter Brad, "Dasar Dokter B*d*b*h! Tega kau Brad meracuniku!" teriak Alia menatap tajam Dokter Brad. "Ayah tangkap Brad, dia telah meracuniku! Buktinya bisa dilihat dari tes lab hasil muntahan Bunda!"
"Ya benar tuan Vlad, saya juga siap bersaksi, racun yang digunakan oleh dokter Brad adalah racun kalajengking emas, huff ... huff ... huff!" nafasnya Yosep memburu karena terlalu banyak menggunakan hawa murni untuk menyembuhkan Alia.
Buak!
Vlad menyeringai geram langsung memukul perut Dokter Brad, "Sialan, kau mau menipuku Dokter kampret! Hari ini aku akan menghajarmu sampai mati, goblok!" Vlad membabi buta memukuli Dokter Brad.
"Ampun tuan Vlad! Ampuni aku tuan Vlad! Tolong lepaskan aku tuan Vlad!" Dokter Brad meringkuk di lantau dengan menjerit. "Maafkan aku tuan Vlad! Maafkan! Aku memang bersalah telah meracuni Alia, karena aku masih mencintai Alia sampai saat ini dan berniat balas dendam karena Alia menolak cintaku."
__ADS_1
Yosep segera menelan pil kintamani untuk menyembuhkan luka dalamnya, lalu berdiri dan menghentikan Vlad yang terus memukuli Dokter Brad, "Sudah tuan, sudah! Lebih baik dibawa ke kantor polisi saja, biar pihak yang berwenang yang mengurusnya," ucap Yosep untuk menenangkan Vlad.
Anak buah Vlad segera membawa Dokter Brad, keluar dari mansion pergi ke kantor polisi terdekat. "Aku meminta maaf tuan dokter, aku meminta maaf!" Vlad berlutut dan bersimpuh sambil memeluk betis kanan Yosep.
Yosep membantu Vlad berdiri, "Sudahlah tuan tak perlu dipermasalahkan, sekarang nyonya Alia sudah sehat. Saya harus kembali ke rumah untuk menyelesaikan pekerjaan saya yang tertunda. Saya izin pamit!" Yosep berjalan agak tertatih keluar kamar Alia, Adila mengejarnya untuk memapah Yosep. "Tidak perlu nona, saya baik-baik saja."
Cairan bening di sudut kelopak mata Adila mengalir, tak bisa menahan rasa haru bahagia, karena ibunya Alia sudah sembuh dan yang menyembuhkan sekaligus membongkar dalang dibalik rencana pembunuhan itu adalah Yosep. "Hiks ... hiks ... hiks ... terima kasih tuan dokter, terima kasih banyak. Budi baik anda akan kami ingat, mari aku hantar! Hiks ... hiks ... hiks ...."
"Sudahlah tak perlu dibahas lagi." Sambil dipapah berjalan Yosep menyeka air mata Adila. "Jangan menangis! Nyonya Alia kan sudah sembuh, seharusnya kamu gembira nona Adila."
"Aku bersedih tentu saja terharu bahagia, sekaligus sedih sesungguhnya karena laki-laki sebaik tuan dokter bukan hanya sangat tampan dan juga berdedikasi tinggi, tapi sudah ada yang memiliki. Kalau saja masih sendiri aku pasti siap menjadi istri tuan dokter," terang Adila.
"Maaf nona Adila, anda salah menilai saya yang tak sebaik nona lihat sekarang." Yosep menggeleng pelan, Adila membukakan pintu mobilnya dan menaruh Yosep di kursi mobil. Adila memutari mobil lalu membuka pintu dan duduk di kursi kemudi. "Lebih baik nona lupakan saya dan cari laki-laki lain yang lebih baik. Saya tidak ingin melukai perasaan nona lebih jauh, kekurangan saya karena menikahi dua istri bahkan empat istri, dua lainnya meminta cerai."
"Entahlah namanya perasaan hati, kita tidak bisa menenggelamkan atau memaksa keluar, biar rasa ini aku pendam sendiri dan waktu yang menjawab segalanya." Air mata Adila terus mengalir sambil menyetir, ia tak bisa membohongi perasaannya kalau Adila benar-benar mencintai Yosep.
___
__ADS_1
___
___
Mobil Lotus Exige Adila sampai di depan rumah Vera, Yosep yang sudah pulih keluar sendiri dari mobil tanpa dibantu oleh Adila. "Hiks ... tunggu tuan dokter. Ini uang yang aku janjikan total 1 juta euro!" Adila mengambil koper hitam yang ditaruh di bagasi mobil lalu memberikannya pada Yosep.
"Terima kasih nona atas janji yang kau utarakan tempo hari, semoga ibu nona bisa beraktivitas lagi seperti biasa." Yosep tersenyum lalu berjalan perlahan masuk ke dalam rumah Vera tanpa menengok sedikit pun pada Adila.
Di dalam rumah Argadhafa dan Myke sedang terkapar lemas di sofa, karena kelelahan mengecat food truck. Mereka mengecat sangat baik, food truck itu sekarang berwarna kuning dengan tulisan Yo anda Ra di kiri dan kanannya, menggunakan jenis huruf monotype corsiva berwarna biru dan bayang hurufnya berwarna merah.
"Bos kemana saja ya lama sekali?" tanya Argadhafa sambil mengelus perutnya yang berbunyi keras. "Aku mau makan enak bro Myke."
"Aku juga, kak Vera selalu masak sayur. Aku juga ingin makan daging tapi tak punya uang untuk membelinya," balas Myke sambil mengelus perutnya yang berbunyi keras juga. Vera sedang menidurkan Alice untuk tidur siang, ibu Alice sudah lama meninggal kecelakaan di London waktu Alice masih berumur 1 tahun, Alice sudah menganggap Vera seperti ibu kandungnya. Jika Myke sibuk banyak pekerjaan di London, Myke akan menitipkan pada Vera dan pulang ke Amsterdam.
"Bro!" panggil Yosep pada Argadhafa dan Myke lalu memberikan koper hitam pada Argadhafa. "Cepat beli mobil range rover pick up untuk kita mengangkut bahan-bahan makanan untuk jualan besok. Kita sudah mendapatkan lisensi penjualannya bukan, maka hari ini kita berpesta. Bawa Vera juga, Alice biar aku yang jaga."
"Siap bos!" mereka berdua langsung bangkit, Myke mengajak Vera untuk ke pasar. Yosep sudah memesan taksi online untuk datang ke rumah Vera.
__ADS_1
Di luar rumah, anak buah Elmo dan Anak buah Barton sedang mengawasi rumah Vera di mobil yang berbeda dan di sudut jalan yang berbeda. Barton dan anak buahnya mengawasi di sebelah barat 40 meter dari rumah Vera sedangkan Skiv mengawasi di sebelah timur 50 meter dari rumah Vera.
"Bos, kapan kita beraksi untuk membunuh laki-laki b*ngs*t itu? Aku sudah tak sabar meledakan kepala cecunguk itu pakai senjata ini," ucap Barmov anak buah Skiv yang sudah memakai penutup kepala hitam.