SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip - 38 Aku Tak Bisa Memilih


__ADS_3

"Mas Yosep tidak apa-apa?" Tanya Zahra dengan raut muka khawatir.


"Ya mas!" Tambah Ziva.


"Ya yos kamu tidak apa-apa." Tambah Rany juga sambil memegang badan Yosep sambil mengecek keadaan Yosep.


"Tenang saja tidak apa-apa. Terima kasih Zahra sudah menjaga jasku." Kata Yosep sambil mencolek hidung Zahra.


"Ih, mas Yosep kebiasaan!" Kata Zahra dengan nada imut, perlakuan Yosep membuat pipinya merah merona.


"Lalu bagaimana Yos nasib kami bertiga ini?" Celetuk Rany dengan pertanyaan.


"Maksudnya?" Kata Yosep dengan raut muka bingung. Dawi meninggalkan mereka berempat dan menemui Setyo.


"Ziva sudah menceritakan semua pada kami. Lalu siapa yang kamu pilih Yos? Aku, Ziva atau Zahra?" Tanya Rany dengan raut muka kesal.


Yosep mukanya pucat pasi dan membatin. "Sial, ternyata Ziva malah mengatakan semuanya pada mereka."


"Mas kenapa kamu diam?" Bentak Zahra. "Mas Yosep harus memilih Zahra, Rany, atau Ziva?"


Rany menangis. "Hiks, hiks, hiks, kamu tak tau kan Yos. Aku satu tahun mencarimu, karena aku rindu padamu. Kenapa kamu tak mengatakan kejujuran bahwa kau menyukaiku!" Lalu memukul-mukul dada Yosep dan memeluknya.


"Hei Jayus lihat anakmu menangis!" Kata Setyo yang melihat dari jauh perdebatan empat insan yang dilanda kasmaran.


"Sudah tidak apa-apa. Namanya juga anak muda, memangnya kamu tak pernah muda Setyo!" Cibir Jayus.


"Maaf tuan Jayus dan tuan Setyo. Masalah ini sangat pelik bagi Yosep yang harus memutuskan memilih salah satu diantara Ziva, Rany, dan Zahra. Sedangkan Yosep mencintai ketiganya. Saya meminta maaf jika anak saya bengal seperti itu!" Kata Dawi dengan raut wajah iba.


"Apa!" Teriak Jayus dan Setyo.


"Ya tuan. Itu benar!" Tegas Dawi.


"Sekarang saya meminta keputusan tuan-tuan tentang hubungan ini, mau bagaimana? Keputusan yang tuan-tuan buat kami akan menerimanya." Kata Dawi dengan raut wajah iba.


Setyo dan Jayus terdiam beberapa saat. Tamu undangan yang lain sudah mulai pulang dari mansion Wijaya yang tersisa tinggal Yosep, Dawi, Jayus, Rany, Setyoz Ziva, dan Zahra di aula mansion.

__ADS_1


"Kalau saya terserah Ziva, jika mau menerima kehadiran Zahra dan Rany untuk menjadi istri Yosep saya tak masalah." Kata Setyo dengan nada suara ringan.


"Saya juga terserah Rany. Semuanya saya terima keputusannya." Kata Jayus. "Kebahagiaan Rany adalah kebahagiaan saya."


"Baik tuan-tuan. terima kasih!" Kata Dawi sambil menundukan kepala.


Rany masih memeluk Yosep. "Maafkan aku Ran, aku memang pengecut yang tak bisa mengungkapkan perasaanku dari awal. Aku merasa tak pantas untukmu, statusku dan statusmu sangat jauh beebeda. Aku orang tak punya dirimu orang kaya." Kata Yosep dengan nada merendahkan diri.


[Telolet]


[Misi : jadikan Zahra, Ziva, dan Rany sebagai istri majikan.


Hadiah : 100% saham Villa Jatibarang City.


Batas Waktu : 12 bulan


Hukuman : Majikan akan kehilangan mereka bertiga]


[Misi automatis diterima, tidak dapat ditolak]


[Selamat menjalankan misi, semoga berhasil]


Barjo diam tak menjawab pertanyaan Yosep. "Jo kenapa kamu memberikan misi seperti ini?" Batin Yosep lagi.


[Mereka bertiga sudah dimasukan ke dalam list calon istri majikan di dalam System]


[Majikan berhak menambahkan list calon istri majikan atau menghapusnya]


[Maksimal list calon istri 4. Majikan juga berhak memberitahu tentang System kepada calon istri. Jika mereka berkhianat maka system akan menghilangkan mereka dari dunia ini]


Yosep terdiam mendengar penjelasan Barjo dan menghela nafas panjang lalu membatin. "Begini resiko jadi orang ganteng dan jenius, hmmm!"


"Mas Yosep Ziva siap jika harus membagi cinta dengan mereka berdua, mas Yosep jangan khawatir!" Kata Ziva lalu memeluk Yosep dari belakang.


"Maaf aku tak bisa memilih kalian salah satu." Kata Yosep dengan raut muka berseri-seri.

__ADS_1


"Lalu apa mas?" Tanya Zahra dengan menggembungkan pipinya karena kesal.


"Aku ingin mencintai kalian bertiga, tapi saat ini aku belum bisa menikahi kalian. Kalau kalian tidak ingin bersamaku, aku mengerti dan tidak ingin memaksa." Kata Yosep sambil melepaskan pelukan Rany dan menyeka air matanya


"Baik mas. Tentu saja aku setuju." Kata Ziva dengan tersenyum riang dan masih memeluk Yosep dari belakang.


"Aku juga setuju Yos. Tidak apa-apa aku berbagi cinta, asal bersamamu aku bahagia." Kata Rany dengan raut wajah penuh harapan.


Zahra berlari meninggalkan mereka bertiga, hatinya sakit mendengar pernyataan Yosep seperti itu. "Zahra tunggu!" Yosep melepaskan pelukan Rany dan Ziva. "Maaf aku harus mengejar Zahra."


"Baik saya mengerti." Kata Rany dan Ziva serentak.


"Semangat mas dapatkan hati Zahra!" Seru Ziva.


"Ya yos, jika Zahra masih marah. Aku akan bantu membujuknya, dia juga sahabatku, aku juga tak ingin melukai hatinya." Kata Rany


Yosep berlari, Zahra sudah berada di taman mansion Wijaya sedanh duduk di kursi taman menyendiri, Zahra duduk memeluk kedua betis kakinya dan membenamkan wajahnya di kedua pahanya yang tertutupi balutan gamis cream. Zahra menangis, air matanya mengalir dan rasa penyesalan menghinggapinya.


"Maafkan aku mas karena aku mencintaimu. Ini salah Zahra." Gumam Zahra.


Yosep sampai di taman mansion dan melihat Zahra terduduk dan membenamkan wajahnya pada kedua pahanya. Yosep langsung menarik Zahra ke pelukan Yosep.


"Maafkan aku Zahra, jika aku menyakitimu. Aku tak ada maksud menyakitimu. Aku mencintai kalian bertiga dan tak bisa tegas memilih diantara kalian. Tapi beri aku kesempatan untuk menyayangimu, Zahra." Kata Yosep lalu mencium ubun-ubun Zahra.


Zahra masih terdiam dalam pelukan Yosep, ada rasa hangat, nyaman dan tenang dihati Zahra. Tangisan Zahra mereda, "maafkan Zahra mas Yosep yang telah lancang dan tanpa izin mencintai mas Yosep. Zahra hanya batu kerikil diantara kalian."


"Tidak Zahra, akulah yang bersalah tidak bisa memilih. Aku tak ingin kehilangan kalian bertiga. Aku berjanji akan menyayangi Zahra, Rany, dan Ziva sepenuh hati." Kata Yosep sambil membelai lembut kepala Zahra.


"Baik mas. Tapi mas Yosep janji tidak akan menyakiti Zahra dan harus adil." Kata Zahra lalu melepaskan pelukan Yosep dan menyeka air matanya.


"Aku berjanji manisku." Yosep mencolek hidung Zahra, ya itulah kebiasaan Yosep dalam memperlakukan Zahra.


"Ih mas Yosep seneng banget nyolek hidung Zahra!" Kata Zahra menggembungkan pipinya.


"Habis Zahra imut lucu dan cantik, aku jadi gemes banget sama zahra." Kata Yosep langsung mencubit kedua pipi Zahra yang imut.

__ADS_1


"Aw, swawkit mwas! (Aw, sakit mas)!" Kata Zahra. Yosep lalu mengajak Zahra masuk lagi kedalam, lalu meminta izin ke Setyo dan Jayus untuk pulang ke ruko. Untuk sementara mereka akan tinggal di ruko untuk mempersiapkan grand opening Raimu CRC besok.


Rany dan Jayus juga ikut pamit untuk pulang. Jam sudah menunjukan pukul 22.00 WIB, Mobil Koyota Alphard Yosep sampai di ruko Raimu CRC. Lampu ruko masih terang hanya lampu halaman dan air mancur sudah mati.


__ADS_2