SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip 178


__ADS_3

Vanya berjalan cepat di lorong rumah sakit, Raiden sedang duduk di depan kamar Gweny dirawat, sembari menikmati menyesap teh hangat. "Mantap kali tehnya, apalagi sama gorengan singkon lebih mantap."


Plak!


"Eeeeh!" pekik Vanya, penopang sepatu hak sebelah kanannya patah, Vanya kehilangan keseimbangan dan jatuh. Raiden yang berada di depan Vanya bangkit dan menangkap tubuh Vanya, kedua mata mereka saling menatap cukup lama.


"Sangat tampan!"


"Cantik sekali wanita ini!"


"Maaf! jika saya tak sengaja memegang tubuh nona, saya hanya berniat menolong bukan untuk meraba-raba tubuh nona yang cantik ini," ucap Raiden menundukan wajah.


"Tidak apa-apa mas. Saya juga rela diraba-raba sama mas yang tampan ini. Saya Vanya," balas Vanya menyodorkan tangan.


Raiden menyambut tangan Vanya, "bukankah kita sering bertemu di kafe tuan Yosep, saya Raiden, pengawal pribadi tuan Yosep juga" balas Raiden.


Mata Vanya menatap ke atas dan menggerakannya ke kiri lalu ke kanan, tapi ia tidak menemukan pengawal Yosep yang mempunyai wajah seperti Raiden. Hanya mengingat wajah tim Pancawijayaya, Hanoka, Tarung, Kokoci dan pria bertopeng.


"Ah masa? Seingat saya yang belum pernah saya ketahui adalah pengawal pribadi pak big bos yang selalu memakai topeng hitam," ungkap Vanya.


"Ya saya ini, Raiden yang selalu memakai topeng. Tampan kan wajah saya, tapi dijamin jomblo bergaransi, hehehe,"balas Raiden tertawa ringan. "Mau kemana buru-buru?"


"Nyari pak big bos, mau minta tanda tangan," Vanya merapikan pakaiannya dan merapikan beberapa berkas yang harus ditandatangani Yosep. "Mas Raiden tahu dimana pak big bos?"


"Tahu, saya hantar ya. Biar hati saya tidak hampa, soalnya kalau saya jauh dari nona Vanya hati saya hampa. Nanti makan yang terlihat di piring wajah nona Vanya, minum juga yang terlihat di dalam gelas wajah nona Vanya juga, sampai air di dalam bak mandi yang terlihat wajah nona Vanya juga. Apa nona Vanya tega, melihat saya seperti ini?" goda Raiden.


Vanya pipinya merah, "Alah Gombal, kalau suka sama saya lamar donk!" tantang Vanya tapi bercanda.


"Siap, besok saya sama pak big bos ke rumah nona Vanya," balas Raiden dengan tatapan serius.


Vanya hanya menanggapi gombalan Raiden sebagai candaan belaka, ia sering menemui banyak laki-laki yang menggodanya dengan rayuan manis. Tapi ketika di tantang untuk melamar Vanya langsung hilang bagai hantu.


"Ya tunggu saja, ya!"


"Ya, ya, ya, kalau mas Raiden berani silahkan. Pintu rumah dan restu kedua orang tua saya, sudah dibuka lebar-lebar."

__ADS_1


Raiden menghantarkan Vanya ke ruangannya di ruangan direksi. Vanya menaruh berkas di meja Yosep dan Raiden mendekati telinga Yosep, "Tuan! Saya minta kawin!" pinta Raiden dengan berbisik.


"Apa?! Kawin?! Sama siapa bro?!" Yosep membulatkan mata dan berteriak. "Kamu ini berdua bikin saya jantungan hari ini, bro Kokoci minta dilamarin, dan kamu juga bro minta dinikahin. Apalagi musim nikah kali ya?"


"Tuan! Jangan keras-keras, saya malu tau!" ucap Raiden dengan kedu pipi sudah memerah. "Soalnya orangnya ada di sini!"


"Maksud bro? Vanya?" Yosep melirik Vanya. "Apakah kamu siap Vanya?"


"Siapa takut, hm!"


"Oke saya lamarkan, nanti sore! Setelah pulang kerja," ucap Yosep pada Raiden. "Sekarang bro jaga baik-baik Vanya."


"Siap pak big bos!" Raiden menghantarkan Vanya ke kantor kafe, dan tentu saja semobil berdua, Raiden yang menyetirnya.


"Saya ini malah jadi tukang lamar," batin Yosep menepuk jidatnya sendiri.


___


___


___


"Bagaimana nona Gweny, sudah siap melihat ketampanan bro Tarung?" goda Yosep.


"Sudah siap dokter!"


Gweny mengangguk pelan, kedua tangannya ditautkan dengan kondisi jantung berdegup kencang. Tarung memegang bahu Gweny untuk menguatkannya, kondisi Gweny cukup gugup.


Yosep perlahan membuka perban yang menutupi mata Gweny, "Silahkan! Nona Gweny buka mata anda!" seru Yosep.


Gweny membuka matanya perlahan, matanya masih samar-samar dan mulai jelas, "Aku bisa melihat, aku bisa melihat, akhirnya aku bisa melihat." Gweny memegang kedua pipinya dan menepuk pelan, lalu melirik ke arah Tarung di sampingnya dan kembali menatap ke Yosep. "Maaf anda dokter?"


"Ya saya dokter Yosep, kepala dokter disini!" jawab Yosep.


"Masih muda ya dok, tampan lagi, hehehe," Gweny tertawa ringan. "Lalu, tuan Tarung dimana?"

__ADS_1


Tarung bersembunyi di belakang kepala Gweny, hatinya takut kecewa setelah Gweny melihatnya. "Itu di belakang nona Gweny!" tunjuk Yosep.


Tarung yang malu menutup mukanya, "maaf no-na Gweny!" ucap Tarung menundukan wajah dengan nada terbata-bata. Tarung sangat gugup dan grogi berhadapan langsung dengan Gweny, apalagi sekarang Gweny sudah bisa melihat indahnya dunia.


Greb!


Gweny memeluk Tarung, "Terima kasih tuan. Gweny tidak tahu harus membalas, tapi jika tuan Tarung ingin memperistri Gwenya, Gweny siap," ucap Gweny.


Yosep menatap Tarung dan Tarung menatap Yosep, "Hah?! Istri?!" ucap mereka berdua serentak.


"Ya tuan, ya mas dokter. Bila perlu mas dokter jadi saksi janji Gweny," Gweny menyentuh-nyentuhkan kedua ujung jarinya, raut mukanya memerah. "Entahlah, meskipun Gweny belum pernah melihat tuan Tarung, tapi Gweny merasakan tuan Tarung orang yang sangat tulus. Jadi Gweny menyukainya, maukah tuan Tarung menjadi suami Gweny selamanya?"


"Oh my god! Apa yang terjadi?" tubuh Tarung lemas dan terduduk kaku lalu menepuk-nepuk pipinya, ia merasa ini semua mimpi di siang bolong. "Tuan tolong pukul saya!"


Buak!


Yosep memukul perut tarung sangat keras, "Guhak! Sangat sakit sekali, tuan!" rintih Tarung sambil memuntahkan asam lambung dari mulutnya.


"Katanya minta di pukul, ini sakit. Ah! Sudahlah, aku pergi! Bye!" ucap Yosep melambaikan tangan.


Dalam keadaan tertatih Tarung mengejar Yosep, "Tu-tuan tunggu!" rintih Tarung memanggil Yosep.


"Ada apa?" tanya Yosep membalikan badan. "Jangan bilang mau di bayarin nikah juga, seperti Raiden, dan Kokoci?"


"Ssst! Jangan keras-keras tuan, saya malu. Ya tuan minta uang buat bayarin nikah," bisik Tarung.


"Aduh! Kenapa semua anak buah minta dibayarin kawin, nanti minta dilamarin juga lagi. Dasar anak buah ga ada akhlak!" Sindir Yosep.


"Ya tuan sekalian, sepaket, hehehe," balas Tarung tertawa ringan.


"Ya, ya, ya, nanti tak lamarkan dan juga semua biayanya nikah, saya bayari," ucap Yosep.


"Terima kasih tuan, terima kasih tuan," Tarung memeluk Yosep. "Semua baik budi tuan saya akan mengingat dan berusaha membalasnya."


"Sudah, jangan sungkan. Kita ini keluarga, jangan seperti itu." Yosep melepaskan pelukan Tarung. "Ya sudah, saya secepatnya menyiapkan semua pernikahan kalian dan menyuruh Syliva untuk membuat jadwalnya."

__ADS_1


__ADS_2