
Yosep membayar semua pesanannya, yang totalnya 13 juta dengan memberikan Ani kartu debit miliknya.
Jam sudah menunjukan pukul 13.30, Yosep yang sudah kembali dari restoran duduk di ruang kantor khusus direksi. Yosep mengirimkan pesan pada Jayus bahwa masalah rumah sakit cabang Surabaya sudah dibereskan.
Jayus berurusan dengan Jatmiko Suharso, dari keluarga Suharso, keluarga terkaya nomor satu di Surabaya yang terkenal kejam, bengis dan diktator. Yosep sudah mengetahui informasi Jatmiko Suharso dari ingatan Mantili sebelum dibunuh oleh Yosep.
Awal masalahnya adalah persaingan bisnis rumah sakit, Jatmiko merasa rumah sakit Budi Asih merupakan ancaman rumah sakitnya. Jatmiko yang gelap mata langsung membayar Mbah Kewod untuk membuat rumah sakit Budi Asih bangkrut.
Yosep mengetuk-ngetuk jari jemarinya pada meja miliknya, "apa yang harus saya lakukan untuk meningkatkan reputasi rumah sakit ini lagi?" pikir Yosep dengan sorot mata tajam.
"Haruskah saya hancurkan dahulu keluarga Suharso sebagai akar permasalahannya atau langsung melakukan promosi besar-besaran untuk rumah sakit ini?" imbuh Yosep yang masih terus berpikir.
Tepat jam 17.00 WIB Yosep dikejutkan oleh panggilan pak Santo bahwa makanan yang dipesan Yosep sudah datang. Yosep turun ke lantai dasar dan menyuruh semua karyawan berkumpul.
Semua sudah karyawan berkumpul, "Selamat sore! Teman-teman semuanya" sapa Yosep.
"Selamat sore juga pak big bos!" jawab serentak semua staff karyawan.
"Hari ini adalah menjadi sejarah kebangkitan kita kembali, setelah masa kelam yang kita hadapi. Berkat kuasa Tuhan yang maha esa, kita bisa melewati ujian ini dengan sangat lancar meskipun sedikit tertatih. Semoga ke depannya kita semua diberikan keselamatan, kesejahteraan dan kesehatan untuk kita semua," ujar Yosep.
"Aamiin!" balas serentak semua staff karyawan.
"Baiklah, tanpa memperpanjang waktu lagi acara syukuran rumah sakit ini kita mulai!" titah Yosep yang langsung memotong nasi kuning dan memberikannya pada Roki. "Silahkan kepala dokter Roki dan teman-teman semua menikmati makanannya!"
Semua staff karyawan menikmati nasi box catering dan ayam bakar bekakak. Mereka semua makan dengan lahapnya, Yosep senang melihat wajah-wajah yang sumringah terpancar dari mereka.
__ADS_1
Di rumah sakit Cipta Sakurata, Jatmiko yang duduk di meja kerjanya sedang kesal karena dukun kepercayaannya mbah Kewod telah tewas, "sial ternyata rumor itu memang benar. Jika rumah sakit Budi Asih mempunyai pemimpin rumah sakit yang sangat sakti mandraguna. Bahkan dukun yang terhebat sejawa timur saja kalah," ujar Jatmiko.
"Ayah, bagaimana kalau kita berpura-pura meminta maaf padanya dan mengundangnya makan lallu kita meracuninya?" usul Radit Suharso, putra pertama keluarga Suharso.
"Ide yang sangat bagus putraku," puji Jatmiko sambil menepuk-nepuk pundak Radit. "Kita harus melenyapkannya apapun caranya demi keberlangsungan bisnis keluarga kita."
Keluarga Suharso memang terkenal sangat licik dan menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan atau membunuh lawan bisnisnya. Radit dan Jatmiko langsung keluar dari rumah sakit lalu menuju rumah sakit Budi Asih untuk menemui Yosep, demi menjalanka rencana mereka.
"Mati kau bocah tengik!" umpat Jatmiko dalam batinnya sambil menyeringai jahat.
Jatmiko selalu berbuat kotor untuk menyingkirkan lawan bisnisnya, jika dari awal diperingatkan oleh Jatmiko pada lawan bisnisnya masih tetap kukuh seperti Jayus, maka ia akan menjatuhkan lewat jalur santet.
Jatmiko dan Radit sampai di depan rumah sakit dengan bersandiwara, muka mereka memelas seperti orang yang menyesal telah berbuat jahat. "Permisi pak! Kami bisa bertemu dengan kepala rumah sakit ini?" tanya Jatmiko dengan raut muka murung.
Yosep mengetahui jika rumah sakit ini selain diberikan jimat untuk mengundang komplotan jin balang, ternyata mereka menyadap rumah sakit dengan memasang banyak alat sadap di setiap sudut rumah sakit dan yang paling banyak di ruangan direksi.
"Maaf anda dengan siapa?" tanya Santo.
"Saya Jatmiko dan ini putra saya Radit, kami ingin meminta maaf pada pemilik rumah sakit ini," ujar Jatmiko.
"Sebentar saya hubungi pak big bos dahulu apakah bisa ditemui!" seru Santo lalu menghubungi Yosep lewat teleponnya. Beberapa staff sudah pulang ke rumahnya selain staff manajemen karena waktu sudah menunjukan pukul 19.30 WIB. Jadi Santo langsung menghubungi Yosep.
"Silahkan pak Jatmiko, tuan Yosep mempersilahkan anda!" imbuh Santo mempersilahkan mereka berdua masuk.
Jatmiko dan Radit dihantar Santo memasuki rumah sakit yang sepi pasien menuju lantai paling atas yaitu lantai ruangan direksi. Sandiwara mereka sangat sempurna bahkan Santo tidak menyadari jika mereka berdua punya niat buruk terhadap Yosep.
__ADS_1
Santo mengetuk pintu ruangan Yosep, "permisi pak big bos! pak Jatmiko dan pak Radit ingin bertemu!" ujar Santo dengan nada tinggi.
"Ya silahkan masuk!" sahut Yosep dari dalam yang sudah menunggu dengan santai permainan mereka. Semua jejak rekam kejahatan mereka sebenarnya Yosep sudah mengetahui dari ingatan Mantili yang Yosep serap. Termasuk Radit memanfaatkan rasa cinta Mantili untuk tujuan kejahatan keluarga Suharso.
Yosep tersenyum licik menyambut mereka berdua, "dasar rubah tak tahu malu, datang kemari menghantarkan nyawa," batin Yosep.
"Ternyata pemimpinnya masih muda. Dasar cecunguk hari ini kau pasti akan mati di tanganku," batin Jatmiko.
Radit langsung bersandiwara dengan menangis dan berlutut di kaki Yosep lalu mendekapnya erat, "hiks, hiks, hiks, tuan Yosep maafkan kami yang telah bersalah. Kami khilaf, kami tidak tahu batas diri kami dan dibutakan kedengkian. Maafkan kami tuan Yosep, hiks, hiks, hiks," ujar Radit dengan air mata buaya miliknya.
"Ya tuan maafkan kami, hiks, hiks, hiks," imbuh Jatmiko juga dengan mengeluarkan air mata buaya sambil bersujud di kaki Yosep.
"Pasti kau akan luluh dengan sandiwara kami," batin Radit menyeringai licik.
Yosep juga bersandiwara, "sudahlah itu masa lalu. Kami sudah memaafkan kalian," mari kita perbaiki hubungan ini menjadi lebih baik," ujar Yosep sambil mengangkat tubuh Radit dan Jatmiko.
"Terima kasih tuan Yosep," ujar Jatmiko.
"Terima kasih banyak tuan Yosep," imbuh Radit.
Yosep sudah melihat sekilas dengan tenseigan miliknya, bahwa kue yang mereka bawa telah diracuni dengan sianida. Yosep sudah menelan pil yang racik pil anti segala racun yaitu pil kamboja emas.
"Ini tuan sebagai permintaan maaf kami. Keluarga Suharso memberikan kue dan uang 10 milyar atas kompensasi yang membuat rumah sakit ini jadi bangkrut," ujar Jatmiko.
Yosep menghidangkan teh yang ia buat sendiri dan sudah dimasukan pil kodok buntal yaitu pil yang bisa membuat peminumnya hilang ingatan dan berhalusinasi menjadi gila.
__ADS_1