
Kokoci berjalan ke arah Azril yang masuk tong sampah, lalu menarik kerahnya dan kembali mengangkat Azril tinggi-tinggi. "Jurus naga memakan cacing!" Kokoci mencengkram burung Azril lalu meremasnya kuat-kuat.
Krak!
"Aaaakh!" Azril memekik dan dijatuhkan paksa oleh Kokoci.
Penyiksaan Kokoci belum berhenti, Azril dibalikan badannya dan diposisikan berdiri, Kokoci Jongkok dan menangkupkan tangan. "Tusukan bool berkarat!" Kokoci menusuk bagian antara lubang dan burung Azril.
"Miaaaauw!" Azril menjerit sekeras-kerasnya, sambil melompat tinggi, dia memegangi bagian lubang pantatnya dengan meringis kesakitan. Tak ada satu pun petugas keamanan yang berani melerai, karena badan Kokoci besar dan kekar sert terlihat sangar.
"Awas kalau kau berani mengganggu calon istriku, bukan hanya pantat dan burungmu yang kuhancurkan, tapi kepalamu!" ancam Kokoci dengan raut muka garang, matanya membulat, dan mukanya yang putih memerah penuh emosi.
"Ampun bang jago! Ampun! Saya janji tidak akan menggnggu Wulan lagi," lirih Azril.
Kokoci dan Wulan akhirnya meninggalkan mall sambil tertawa terbahak-bahak, mengingat hukuman yang diberikan Kokoci pada keempat pemuda itu.
***
Di Vila Elite Sunyaragi, rumah Vanya.
Raiden duduk di samping Yosep yang ??berhadapan dengan pak Prapto ayah Vanya, dan ibu Shinta bunda Vanya.
"Mas dokter ada apa nih malam-malam begini bertamu? Padahal saya sudah siap mantap-mantap dengan bunda," tanya Prapto melirik Shinta.
"Aw!" pekik Prapto pinggangnya dicubit oleh Shinta. "Apaan sih bun?"
"Dasar ayah mesum!" ejek Shinta.
"Mesum-mesum juga enak kan? hehehe," balas Prapto terkekeh.
Yosep dan Raiden menepuk jidatnya sendiri mendengar percakapan kedua orang dewas, yang sudah merasakan pahit manisnya ranjang. "Saya mewakili saudara angkat saya Raiden Strawhat, mau melamar nona Vanya. Mohon maaf jika kedatangan kami mengganggu waktu istirahat bapak dan ibu," ucap Yosep menundukan kepalanya perlahan lalu kembali tegak.
"Melamar? Kok Vanya tidak bicara dengan bapak dan ibu, perihal lamaran ini." Prapto membulatkan mata, tersentak kaget, ia sama sekali tidak tahu tentang acara lamar-melamar ini. "Maaf nak Raiden, bapak hanya ingin menanyakan sesuatu pada anda. Bapak hanya tak ingin Vanya tidak bahagia jika menikah, bukan masalah pekerjaan, bukan masalah uang, bapak hanya ingin nak Raiden tidak main-main dan mencintai Vanya, boleh?"
__ADS_1
"Saya Raiden Strawhat berjanji akan mencintai nona Vanya dikala susah maupun senang, selamanya!" ucap Raiden dalam keadaan berdiri dengan menyilangkan tangan kanan di dada kiri.
"Saya melihat kejujuran dari mata nak Raiden, kalau masalah keputusan saya serahkan sepenuhnya pada Vanya anak saya," balas Prapto.
"Ya nak Raiden, Vanya hanya anak satu-satunya kami. Ibu hanya bisa berharap jika nak Raiden ingin melamar Vanya dan menjadikannya istri bahagiakan dia serta jangan sakiti dia," timpal Shinta.
Vanya masih berada di dalam kamarnya, ia sudah tahu jika yang datang adalah Raiden dan Yosep untuk melamarnya. Vanya terus menguping pembicaraan dar kamarnya yang dekat ruang tamu. Hatinya merasa senang dan bahagia, melihat sosok Raiden yang sangat tampan, dan juga serius dalam hubungan. Kata-kata yang ia ucapkan bukan isapan jempol belaka, dan malam ini Raiden datang ingin melamarnya.
Tok!
Tok!
"Vanya, nak! Keluarlah! ini ada tamu penting!" Shinta mengetuk pintu kamar Vanya. Malam ini Vanya berdandan sangat cantik dengan memakai dres panjang berwarna merah, rambutnya bergelombang berwarna coklat.
Vanya duduk diantara Prapto dan Shinta. "Ini nak Raiden mau melamarmu, bagaimana kamu mau menerimanya atau tidak? Kamu sudah dewasa, ayah dan bunda sudah kebelet ingin menimang cucu. Habisnya ayah dan bunda tiap malam bikin adik buat kamu tapi gak jadi-jadi," tanya Prapto.
"Dasar ayah mesum!" teriak serentak Shinta dan Vanya.
"Ya ayah, bunda, Vanya menerimanya. Tapi Vanya punya satu permintaan, Vanya mau dilamarnya di rooftop apartemen tertinggi di Cirebon," pinta Vanya.
Yosep menepuk jidatnya sendiri, "Hadeuh! Saya sebagai makelar lamaran, dibuat pusing kelakuanmu Vanya," ucap Yosep.
"Plis, pak big bos. Lamaran ini hanya sekali dan selamanya. Jadi Vanya ingin sesuatu yang berkesan untuk dikenang Vanya suatu hari nanti," balas Vanya, matanya berkedip cepat pada Yosep.
"Tolonglah tuan, tolonglah!" Raiden menarik-narik lengan Yosep seperti anak kecil minta jajan. "Pliiis! kali ini saja, bantu saya, tuan!"
"Ya, ya, ya," Yosep memberikan uang lamaran 100 juta pada Prapto dan Shinta. "Dan ini uang pelamarnya, untuk biaya penikahan dan tanggal sudah ditentukan semuanya. Besok Vanya dan Raiden bersama Kokoci dan Wulan fiting baju di W.O. Ngarepkeun."
"Terima kasih mas dokter!" ucap serentak Prapto dan Shinta dengan bibir melengkung membentuk senyuman.
"Ya sudah ayo kita pergi!" ajak Yosep. "Kita akan menggunakan rooftop gedung Raimu group untuk sesi lamaran kamu. Saya sudah menyuruh pak Suparta untuk menyiapkan semuanya, 1 jam lagi persiapannya selesai."
"Malam sekali donk tuan!" sela Raiden. "Nanti tuan pulangnya kemalaman."
__ADS_1
"Bodo amat, demi kamu bro. Nanti kamu yang menyetir, saya mau tidur di mobil saja, ok!" titah yosep.
"Siap tuan!" sahut Raiden.
___
___
___
Di rooftop gedung Raimu group.
Suparta bersama anak buahnya sudah menyiapkan ornamen-ornamen untuk acara lamaran Vanya dan Raiden. Latar belakang di sebelah utara karangan bunga berbentuk hati, lilin berjejer rapi membentuk hati juga dengan hiasan bunga mawar di sepanjang jalan, menuju lilin berbentuk hati.
Raiden berlutut satu kaki di depan Vanya dan memegang tangan kanan Vanya, "Vanya Nila Kusuma, maukah kamu menikah denganku? Lalu menua bersama? Dan membuat anak 22 orang seperti kesebelasan sepak bola dan cadangan pemainnya?"
"Pffft!" Yosep, Suparta, dan 5 anak buahnya, menutup mulut dengan tangan kanannya, mendengar pernyataan lamaran Raiden.
Yosep yang tak bisa menahan lagi tawanya, terbahak-bahak sampai memegang perutnya yang mulas karena tertawa. "Hahahaha, hahahaha, hahahaha,"
Suparta dan kelima anak buahnya juga ikut tertawa serentak terbahak-bahak, "Hahahaha, hahaha, hahahaha,"
Vanya hanya menggelengkan kepalanya pelan, melihat kelakuan Yosep, Suparta dan kelima anak buahnya.
"Bagaimana sayang? Terima atau tidak?" Raiden bertanya kembali. "Ya sudah 11 anak saja, jika kamu tidak kuat."
Bletak!
Vanya memukul kepala Raiden, "Tentu aku menerimanya. Tapi kalau bikin anak terus kapan kerjanya?"
"Bercanda sayang, tentulah tidak. Ya sudah saya pasangkan cincin ini ya!" Raiden berdiri dan memasangkan cincin di jari manis Vanya dan sebaliknya. "I love yo so so much, sayang."
Vanya memeluk erat Raiden, membuat Yosep, Suparta dan kelima anak buahnya iri, hanya menjadi pihak ketiga seperti setan.
__ADS_1