SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP

SYSTEM KEKAYAAN BERKEDIP
System Kekayaan Berkedip 272


__ADS_3

Lalu lalang orang-orang di jalan setapak dekat pantai, kadang ada yang memberi pada Yosep, ada juga yang melewatinya saja. Bahkan ada yang meludahi Yosep, kesabaran Yosep benar-benar diuji dalam menjalankan misi mengemis ini.


"Woy, jangan mengemis disini!" petugas keamanan pantai meneriaki Yosep lalu berlari cepat ke arah Yosep untuk menangkapnya.


[Telolet]


[Harus bersabar dalam menghadapi misi ini, jangan gunakan kekuatan apapun yang majikan punya. Jika melanggar Barjo akan memotong hidup Ryuna satu bulan]


[Mampus kau majikan, hahahaha]


Yosep kembali menghela nafas panjang, lalu bangkit berdiri mengambil kalengnya dan pergi menjauh agar tak ditangkap oleh petugas keamanan pantai Sorento.


"Lari reeet!" Yosep berlari dengan tenaga biasa miliknya, petugas keamanan terus mengejarnya. Padahal ia baru saja mendapatkan uang dari mengemis hanya 20 euro, terpaksa harus mencari tempat yang aman untuk mengemis di pantai Sorento lagi.


"Huff ... huff ... huff ...." Petugas keamanan nafasnya terengah-engah. "Sial, kemana pengemis itu? Larinya sangat cepat! Huff ... huff ... huff ...."


Yosep ternyata sudah memanjat pohon kelapa yang cukup tinggi, ia sudah berada di puncak sambil meminum kelapa di puncak pohon. "Hahaha, dasar penjaga keamanan bodoh. Sampai bulan ketiga belas juga kau tak akan menemukanku, goblok! Rasakan ini!" Yosep sedang asyik-asyiknya minum kelapa, setengah batok kelapanya ia jatuhkan ke bawah.


Shua!


Buk!


Setengah batok itu mengenai kepala penjaga keamanan dan langsung membuatnya pingsan. Setelah kenyang meminum air kelapa Yosep turun dari pohon kelapa tapi kakinya terpeleset dan jatuh ke permukaan tanah yang agak keras. "Aaaa!" teriak Yosep.


Gedebuk!


"Aw, sial! Semua ini gara-gara penjaga kemanan sial ini, hmph!" Yosep memukul dahi penjaga keamanan hingga benjol. Untung saja situasi di sekitar tempat Yosep jatuh sedang sepi, kalau tidak penyamaran mengemisnya akan ketahuan.


Bletak!

__ADS_1


Yosep kembali mengemis tapi kali ini dengan berjalan perlahan, dengan postur tubuh sedikit membungkuk dan raut wajah mengiba. "Tuan, nyonya mohon kasihani saya. Sudah 336 jam belum makan tolong tuan!" Yosep berpura-pura mengelus perutnya, dan untung saja perur Yosep tiba-tiba berbunyi lapar menambah kesan iba padanya.


"Duh kasihan ya, nak!" seorang wanita tua menghampiri Yosep dan mengelus rambutnya, lalu memberikan uang 100 euro. "Ini nak uang untukmu, jangan mengemis lagi."


"Terima kasih nyonya, anda sangat baik sekali, semoga anda tetap sehat, dan mendapatkan jodoh berondong, eh maaf maksudnya semoga nyonya tetap awet muda serta selalu bahagia!" ucap Yosep mendoakan wanita tua itu.


"Aaamiiin!" wanita tua membalas lalu memberikan bungkusan plastik hitam dan pergi meninggalkan Yosep.


Plastik hitam itu Yosep buka ternyata berisi uang 10.000 euro, Yosep menepuk jidatnya. "Ternyata ada banyak orang baik diluar sana yang rela membagi hartanya untuk mereka kaum rendahan. Setelah artefak itu saya dapatkan, saya ingin menggelar syukuran dan berbagi bersama anak-anak yatim, gelandangan, fakir dan miskin," gumam Yosep.


Langkah kakinya terhenti ketika melihat anak laki-laki berumur 12 tahun sedang menangis, kelaparan sambil mengemis. Tapi penjaga keamanan pantai malah merampas uangnya, "Jangan diambil tuan, jangan! Aku belum makan tuan, hiks ... hiks ... hiks ..." Del Piero bersimpuh memohon di kaki penjaga.


Buak!


Del Piero di tendang hingga tersungkur dan diinjak kepalanya, membuat Yosep geram. "Kalian ini hanya sampah, namanya sampah tetap sampah dan tak patut untuk makan, cuih!" petugas keamanan meludahi Del Piero lalu meninggalkannya dalam keadaan meringkuk kesakitan.


Melihat petugas keamanan telah menjauh, Yosep langsung mendekati Del Piero dan memegang perutnya. "Ajian jagat saksana!" tubuh Del Piero diselimuti aura berwarna hijau, luka di kepalanya langsung sembuh seketika. Yosep memberikan roti yang diberikan kakek tua pada Del Piero. "Ini makanlah!"


"Terima om kuat, sudah menyembuhkanku. Sepertinya om juga pengemis juga ya, dan sangat menyedihkan. Apa om kuat punya tempat tinggal?" tanya Del Piero polos.


"Ya namanya juga pengemis, nak. Pasti langit menjadi atap dan bumi sebagai lantainya, ya begitulah, kok malah mirip lagunya Rhoma Irama, ya sudahlah," jawab Yosep. "Siapa namamu?"


"Alano Del Piero om, kalau om?"


"Gianluigi Buffon, hehehe, canda. Nama om Yosep Firmansyah," jawab Yosep. "Kamu masih lapar? Kalau masih ayo kita makan di restoran enak. Om dapat uang banyak hadi ini, om ajak Alano makan sepuasnya."


"Terima kasih om kuat." Del Piero memeluk Yosep. "Kalau om belum punya tempat tinggal, om bisa tidur di gubuk kecil di atas batu karang itu. Aku tinggal disana!"


"Terima kasih, kamu memang anak yang sangat baik!" Yosep menggandeng Del Piero dan pergi menuju restoran mahal dengan baju compang-camping. Untung saja misi pertama Yosep selesai gara-gara diberikan uang 10.000 euro oleh nenek tua.

__ADS_1


Yosep dan Del Piero mau masuk ke dalak restoran tapi dicegat sekuriti, "Minggir! Pengemis dilarang masuk!" bentak sekuriti.


"Pak, kami berdua mau makan, bukan mau mengemis," balas Yosep yang mulai mesal dan habis kesabaran.


"Alah, jangan banyak alasan. Mana mungkin gelandangan seperti kalian punya uang dan bisa makan direstoran ini, pergi sana!" bentak sekuriti sambil mendorong Yosep dan Del Piero.


Kesabaran Yosep sudah habis, ia mengambil kartu atm SVIP miliknya dan menempelkan kartu itu tepat di dahi sekuriti yang lebar seperti lapangan sepak bola.


Plak!


"Saya sudah bicara baik-baik, anda malah menghina dan mengusir kami. Anda tahu kartu ini kartu apa? Goblok!" sungut Yosep berapi-api.


Semua pelanggan menertawakan Yosep dan menganggapnya gelandangan yang sudah tidak waras.


"Hahaha, dasar gelandangan stres!"


"Otak dungu, mana ada gelandangan punya kartu atm, hahahaha."


"Mungkin pengemis itu otaknya sudah hilang dari kepalanya, hahaha ... makanya dia stres."


"Om kuat, lebih baik kita makan di tempat lain saja, tempat ini tidak cocok untuk kita!" ajal Del Piero polos.


"Tidak Alano," Yosep menggelengkan kepalanya dengan menyeringai kesal, tatapan matanya sangat tajam. "Kita masih punya harga diri, dan siapapun yang menginjak-injak harga diri kita harua di lawan!"


"Bisa apa memangnya kau ...," ucap sekuriti terpotong, sebelum ucapannya selesai Yosep membungkam mulut sekuriti dengan plastik hitam berisi uang 10.000 euro.


Pemilik restoran bernama Veduchi yang mendengar suara gaduh, langsung keluar dari ruangannya lalu menuju pintu masuk restoran Sambalado "Ada apa ini?" tanya Veduchi dengan nada sedikit meninggi.


"Saya mau makan tuan, tapi sekuriti anda tidak memperbolehkan kami berdua masuk. Dan tuan tahu ini kan kartu apa?" Yosep memberikan kartu SVIP miliknya pada Veduchi, membuat Veduchi bersimpuh di kaki Yosep, badannya gemetar dan raut mukanya pucat pasi.

__ADS_1


__ADS_2