
Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.
Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.
15 menit kemudian Yosep sudah sampai di rumah sakit budi asih Technology, dokter Boyke, dokter Wahyu, dokter Salim, dokter Susan dan dokter Ferdi mencoba menangani pasien perempuan muda ini namun tak sanggup.
Pasien perempuan bernama Ziva anak pertama dari Setyo keluarga kedua terkaya di indramayu. Di Indramayu ada lim keluarga terkaya yang pertama Keluarga Pratama, keluarga Wijaya, keluarga Samandha, Keluarga Rakuti dan keluarga Tarub. Kartono yang sering membuli Yosep adalah bagian keluarga Samandha dan Nehan yang ditemui oleh Yosep di jalan adalah keluarga Rakuti.
"Dokter Yosep pasien berada di kamar VVIP lantai 20 mari saya hantar ke sana!" Ajak suster Muna yang tempo hari meremahkan Yosep.
Yosep dan suster Muna sampai di lantai 20 kamar nomor 1A dari luar terdengar suara teriakan perempuan yang histeris. Dokter Boyke, dokter Wahyu, dokter Salim, dokter Susan dan dokter Ferdi berada di luar pintu kamar 1A yang dijaga ketat oleh bodyguard Wijaya Shield salah satu perusahaan yang bergerak di bidang keamanan dan merupakan bagian dari Wijaya Group.
"Dokter Yosep!" Ucap serentak lima dokter.
"Bagaimana keadaan Nona Ziva?" Tanya Yosep yang sudah diberi informasi oleh suster Muna selama ia naik lift rumah sakit.
"Nona Ziva histeris seperti orang kesurupan atau trauma mendalam dan juga awalnya ada gejala kanker otak namun ada hal yang aneh dengan gejalanya kadang muncul kadang hilang." Jelas dokter Boyke.
"Baik dok, aku akan coba masuk dan melihatnya!" Ucap Yosep.
Yosep berjalan ke arah pintu kamar VVIP 1A lalu dihentikan oleh bodyguard Wijaya shield. "Tunggu kau dilarang masuk!" Teriak Bodyguard bernama Anto merupakan kepala keamanan Wijaya Shield. "Orang sepertimu tidak diperkenankan masuk!"
Anto tidak membiarkan Yosep masuk karena tidak berpakaian seperti dokter, hanya memakai kaos oblong putih, tidak beralaskan kaki karena buru-buru ke rumah sakit belum sempat membeli sandal, dan memakai celana senam training. "Saya kepala dokter disini!" Ucap Yosep.
"Mana mungkin rumah sakit pusat ini rumah sakit terkenal dan sangat hebat dalam menangani pasien, mana mungkin kepala dokternya begitu muda! omong kosong setahu saya kepala dokter disini adalah dokter Boyke." Cibir Setyo kepala keluarga Wijaya yang berbicara di belakang Yosep.
__ADS_1
"Ya benar. Dokter Yosep baru saja di angkat oleh tuan Jayus sendiri jadi kepala Dokter di rumah sakit pusat Budi Asih Technology tiga hari yang lalu. Aku akui kemampuannya sangat jauh di atasku!" Sanggah dokter Boyke.
"Jangan merendah seperti itu dokter Boyke, mana mungkin pemuda bau kencur ini bisa menyembuhkanku penyakit putriku!" Ucap Setyo sambil menunjuk Yosep.
"Maaf tuan Setyo! seluruh dokter disini sudah tidak sanggup untuk merawat nona Ziva, kami hanya punya satu harapan yaitu kepala dokter Yosep. Jika anda menolak dokter Yosep untuk menangani nona Ziva, kami tak bisa memaksa anda tuan Setyo." Ucap dokter Salim.
"Ya tuan Setyo." Tambah dokter Susan.
"Ya tuan Setyo kami sudah berusaha semaksimal mungkin memberi nona obat bius tapi tidak mempan." Tambah lagi dokter Ferdi.
"Dokter macam apa kalian ini, pelayanan rumah sakit ini sungguh mengecewakan. Ayo bawa putriku ke rumah sakit lain!" Bentak Setyo.
Setyo dan 10 orang bodyguard termasuk Anto masuk ke dalam kamar VVIP 1A. Ziva masih terus berteriak histeris, "Aku benci kamu, pergi! pergi!" Teriak Ziva.
"Ya tuan!" Setyo mengangguk lalu mengikat Ziva.
Yosep memaksa masuk namun dihalangi oleh para bodyguard Wijaya shield. Yosep tak ingin melukai para bodyguard dan menotok bagian leher semua bodyguard termasuk Anto dengan sangat cepat, akibatnya mereka semua mematung.
Setyo yang tersulut emosi mengambil pistol type magnum dari belakang pinggangnya dan menodongkan ke arah Yosep lalu menembaknya.
"Dor!" Suara tembakan keras, peluru melesat ke arah dada Yosep. Yosep hanya diam dengan wajah datar, tak ada rasa takut yang terpancar dari wajahnya. Peluru itu ditangkap dengan mudah oleh Yosep dengan kedua jarinya, lalu Yosep meremas peluru itu kuat-kuat hingga menjadi debu dan menjatuhkan debu peluru itu ke lantai.
Sebelum Setyo menembakan pistolnya lagi, Yosep segera bergerak cepat dan muncul di hadapan Setyo dan memegang pistolnya lalu membengkokan pistolnya.
"Kamu bukan manus-manus-manusia!" Ucap Setyo dengan wajah ketakutan lalu terduduk di lantai. Yosep segera menotok bagian leher Setyo agar mematung. Yosep mengambil kacamata hitam Anto dari bagiam wajahnya, Anto wajahnya sangat ketakutan. "Tenang saja aku hanya meminjam kacamata paman, setelah nona Ziva baikan aku akan kembalikan!" Ucap Yosep lalu memanggil suster Muna dan mengaktifkan byakugan miliknya "Suster Muna cepat kemari bawakan alat-alat untuk pemeriksaan!"
__ADS_1
Suster Muna membawakan alat-alat pemeriksaan di troley rumah sakit. Yosep langsung memeriksa kondisi tubuh Ziva yang masih berontak dan histeris meskipun telah diikat. "Benar ini gelaja kanker otak, hambatannya disini dan disini. Jadi ketika dicek melalui ct scan kadang muncul kadang tidak." Batin Yosep lalu menotok bagian leher Ziva agar tidak berontak.
Yosep menotok aliran darah Ziva yang tersumbat mulai dari bagian sumsum tulang belakang sampai bagian leher.
"Ziva terkena penyakit lahir dan batin. Lahirnya adalah penyakit dalam kanker otak dan batinnya kerasukan kuntilanak merah. Makanya dia histeris terus." Batin Yosep lalu memegang ubun-ubun Ziva dan menarik kuntilanak merah itu dari dalam tubuh Ziva dan mengeluarkan tenaga dalam ajian qulhu sungsang untuk menghantam kuntilanak merah menjadi abu.
"Kenapa dok sepertinya anda lelah?" Tanya suster Muna.
"Tidak apa-apa sus." Ucap Yosep sambil tersenyum lalu mengelap keringat yang ada didahinya. "Nona Ziva sudah berhenti berontak dan histeris sus, aku akan membuat pil sumsum hitam dan pil jahe emas. Biarkan nona Ziva istirahat dahulu."
"Baik dok!" Suster Muna memasangkan jarum infus ke tangan kiri Ziva.
Yosep menotok bagian leher Ziva untuk mengembalikan keadaan Ziva seperti semula. Ziva tertidur lelap namun kondisi badannya masih belum stabil, keringat dingin terus mengucur dari belakang tengkuk dan dahinya, wajahnya yang cantik seperti orang turki berambut pirang lurus sebahu, terlihat sangat pucat.
"Tuan Setyo dan paman Anto tahan dulu setengah jam lagi, aku akan kembali. Kalau aku balikan lagi keadaan kalian takut kalian malah ngamuk lagi, hehehehe." Ucap Yosep terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Fyuh! dokter Yosep selalu bisa diandalkan. Kalau sampai gagal reputasi rumah sakit ini bisa ambruk." Ucap dokter Boyke mengelap kepalanya.
"Ya dok, saya juga menyesal pernah membulinya!" Ucap dokter Wahyu dengan raut muka penuh penyesalan.
"I love you dokter Yosep." Ucap dokter Susan dengan wajah terkagum-kagum.
"Waktunya generasi muda yang menuju puncak, generasi tua seperti kita sudah waktunya pensiun!" Ucap dokter Salim dengan wajah lesu.
"Masa muda itu tidak pernah berakhir meskipun umur kian bertambah." Ucap dokter Ferdi dengan tersenyum dengan gigi bersinar.
__ADS_1