
"Woaah! Banyak sekali harta karunnya!" raut muka Risadju berbinar-binar melihat gunungan harta. "Tapi bagaimana aku membawanya semua? Kak Dhafa ada solusi?"
Ardhafa menggelen pelan, "Aku tidak tahu sayang, maaf. Kita akan juga akan kesusahan membawa harta sebanyak ini." Mereka berdua terus masuk lebih dalam dan melihat Yosep sedang memeluk baju Zirah gatotkaca serta mengelus-elus dengan pipinya.
"Dasar orang gila!" batin Risadju dan Ardhafa serentak.
Yosep menempelkan tangan kanannya pada baju zirah gatot kaca dan hilang dari pandangan serta tersimpan pada inventori sistem. Kejadian ini membuat Risadju dan Ardhafa terkejut dan menjatuhkan rahangnya, "Hah?! Kok bisa hilang?! Jangan-jangan pak big bos murid master Jorno?!"
"Hei, jangan diam saja kemari! Apa kalian tidak mau melihat ladang harta sesungguhnya?" seru Yosep dengan melambaikan tangan.
Mereke berdua mengikuti Yosep masuk gua lebih dalam, awalnya gelap setelah sepuluh meter di dalam gua ada bongkahan besar berlian, saphire, ruby dan emas. Ada lubang kecil di atas gua membuat cahaya matahari bisa masuk ke dalam dan sinarnya mengenai bongkahan berlian besar yang berada di bawah lubang atap gua.
"Kita kaya raya kak, kita kaya raya!" Risadju melompat-lompat penuh kegirangan sambil memegang tangan Argadhafa.
"Enak saja, ini bagianku, karena ini harta 7 turunan, 16 belokan dan 90 tanjakan tidak bakal habis. Kalian berdua kan sudah dapat jatah gunungan emas diluar, masa mau minta lagi?" Yosep menatap malas Risadju.
"Tolonglah, babang tamvan! Ini sumber bisnis Kora Jewelry yang aku kelola, aku beri saham 25%, bagaimana?" Risadju menatap lekat Yosep, matanya berkedip cepat, lalu menaik-turunkan alisnya. "Ya, ya, ya!"
"90% tawaran terakhir. Kalau tidak setuju saya akan kelola sendiri dengan teknologi dari Ochobot City, deal?" Yosep menyodorkan tangan kanannya.
"Hah ...," Risadju menghela nafas panjang, "baiklah aku menerimanya."
"Dasar! Katanya big bos tapi saham milik Kora Jewelry diserobot 90%, tapi ya sudahlah daripada gigit jari."
"Baik kita keluar dari sini, saya akan memasang pagar ilusi agar gua ini tak ada yang bisa melihatnya, kecuali saya." Yosep pun keluar ke ruangan sebelahnya dan dihentikan oleh Risadju.
"Tunggu babang tamvan! Bisakah kau menggunakan teknik sulap master Jorno untuk memindahkan semua harta ini ke rumahku?" pinta Rasidju.
__ADS_1
"Ok, bayaran satu milyar, bagaimana?" Yosep menaik-turunkan alisnya secara cepat.
"Ok!" jawab Rasidju menggembungkan pipi dan sedikit menyeringai kesal.
"Dasar big bos lintah darat! Kampret! Muka sop buntut, semua selalu ada uangnya."
"Kenapa, kesal? Kamu tidak paham pepatah masuk toilet umum saja bayar 2000, tidak ada yang gratis di dunia ini." Yosep menatap lekat gunungan emas di depannya. "Jurus melipat bumi!"
Cwuszh!
Gunungan emas itu hilang dari pandangan, tiba-tiba Yosep berlutut satu kaki dan memegang dadanya lalu memuntahkan seteguk darah, "Guhak! Sakit sekali, saya pikir kemampuan jurus itu sudah bisa digunakan, ternyata belum bisa dan menguras hawa murni di dalam wadah jiwaku." Yosep langsung mengambil tas punggung dan mengambil pil kintamani yang ia simpan di dalam kantong plastik ajaib.
"Gluk!" Yosep menelan pil kintamani. "Ardhafa bantu saya berdiri!"
Ardhafa mengangguk pelan dan memapah Yosep keluar gua, "Tunggu! Saya akan membuat ilusi dahulu! Ajian gendam Chokrodiningrat!"
Pintu gua menghilang menjadi dinding bukit besar, Risadju menyeka darah di mulut Yosep, "Babang tamvan, kamu tidak apa-apa?" tanya Risadju.
"Tidak apa-apa. Jangan berbuat begitu padaku, nanti Ardhafa cemburu," ucap Yosep tersenyum lebar.
"Pak big bos mengerti saja perasaanku, hehehe." Ardhafa tertawa ringan sambil memapah Yosep ke arah mobil Yang diparkirkan agak jauh dari mulut gua.
***
Bunker rahasia istana Belanda.
"Penyihir (dukun) Kolok-kolok, bagaimana sihir yang anda kirimkan untuk Yosep dan keluarganya?" tanya PM Belanda Stark Mute dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Tenang saja berhasil, tuan perdana menteri, aku dukun Kolok-kolok berhasil mengirim sihir hitam ke semua anak buah Yosep di luar rumahnya, mereka mengalami busung lapar dan perut mereka akan meledak dalam 3 hari. Hanya kedua istri, ibu, dan Albert yang masih selamat dari 10.000 dukun yang kita kerahkan untuk membantai semua yang berada di mansion Yosep," jawab dukun Kolok-Kolok dari Afrika.
"Bagus, kerjamu bagus." PM Stark Mute mengacungkan jempol pada dukun Kolok-Kolok. "Jika beradu fisik kita memang kalah telak tapi tidak dengan beradu sihir hitam, hahahaha ... kita pasti menang. Sekarang giliranku untuk mengirim pasukan black Assasin untuk membunuh mereka berempat."
"Tenang saja, tuan perdana menteri. Mereka berempat tidak bisa keluar dari rumah, karena formasi lima binatang suci sudah menyempit hanya sampai batas setiap sudut rumah. Jika mereka keluar juga mereka berempat bisa mati, hahahaha," jelas Dukun Kolok-Kolok dengan tertawa jahat.
"Bagus, ini juga memudahkan pekerjaan kita. Pastikan pasukanku Black Assasin agar tidak terkena kutukan sihir hitammu Dukun Kolok-Kolok, agar mereka mudah menghabisi semua keluarga Yosep," titah PM Stark Mute.
"Pasti tuan perdana menteri, aku sudah memberikan penangkal, cukup semua pasukan memakai kalung ini tuan!" Dukun Kolok-Kolok menunduk hormat dan memberikan kantong kain hitam berisi 30 kalung bermotif huruf untuk pasukan black Assasin.
***
Di VJC 01.
Rany, Dawi, Albert dan Ryuna panik, semua butler, maid, tim throne army dan tim Hanoka serta tim Pancawijaya mengalami busung lapar. Mereka semua ditempatkan di ruang tengah yang cukup luas, mereka semua histeris dan menjerit kesakitan, menahan rasa sakit di perutnya.
Mereka berempat mencoba meminta bantuan penjaga keamanan komplek perumahan dan Polisi, semuanya berakhir tragis, kaki mereka lumpuh begitu memasuki gerbang VJC 01.
Hawa bagian halaman rumah juga mencekam, ada banyak siluet bayangan hitam berseliweran di luar, total ada 100 setan bermuka tengkorak dengan jubah hitam melayang dan membawa tongkat sabit (Scythe).
"Ibu, sister! Tolong terus hubungi mas Yosep, aku akan mencoba mengusir setan-setan itu." Rany berjalan keluar namun dihentikan oleh Dawi.
"Jangan sayang, itu sangat berbahaya! Yosep pernah bilang jika terjadi sesuatu hal diluar nalar pada sekitar VJC 01, jangan keluar rumah dan bisa mencelakakan kita!" cegah Dawi dengan raut muka khawatir.
"Tapi ibuku sayang, dan ayah Albert, kita tidak bisa berdiam diri serta melihat mereja menderita seperti ini." Rany menggigit bibir bawahnya dan mondar-mandir dengan raut muka panik.
"Sister tenanglah!" Ryuna memeluk Rany. "Ikatan antara bertiga dengan mas Yosep sangat kuat. Mas Yosep pasti kembali seceat mungkin karena merasakan kondisi kita saat ini, ingat juga anak-anak kita yang sister harus jaga betul-betul."
__ADS_1
Rany dan Ryuna pun duduk dan mengelus pelan perut mereka. Albert sedari tadi terus menghubungi Yosep namun tidak di angkat karena smartphone miliknya tertinggal di kamar rumah Rasidju.