
Ryuna berdiri di samping Ela dan menyeka air matanya, "Penyesalan tak akan merubah hal yang telah dilewati, terimalah kenyataan bahwa apa yang kita pernah kita miliki terus dibuang, itu takan pernah kembali. Maafkanlah dirimu dan berdamai masa lalu," ucap Ryuna tersenyum ringan.
Ela memeluk Ryuna dan menangis, "Maafkan aku! Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya masih mencintai mas Yosep, tapi aku tak ada maksud untuk merebutnya dari kalian, hiks, hiks, hiks."
"Drama lagi kampret! Saya juga lagi yang ngulek ketopraknya, benar-benar sial. Saya yang beli saya juga yang ngulek, kampret!" gerutu Yosep dalam batinnya.
Yosep membuat empat porsi agar Ela juga ikut makan, Rany juga sangat kasihan pada Ela setelah Ela menceritakan semuanya. "Mas lebih baik kita bawa orang tua Ela ke rumah sakit. Gerobaknya kita tutup saja!" pinta Rany.
"Ya, kita makan dahulu. Baru kita pergi ke rumah sakit," balas Yosep.
"Mas aku punya permintaan, bagaimana kalau Ela jadi asisten Ryuna dan Rany serta jadi baby sitter untuk anak kita kelak," pinta Ryuna.
Yosep yang sedang makan tinggal suapan terakhir, langsung menjatuhkan sendok yang berisi potongan lontong. Mukanya langsung muram dan nafsu makannya turun, "Maaf sayang, bukannya mas tidak mau. Lebih baik Ela bekerja di perusahaan yang lain saja, perusahaan mas kan banyak, tapi kenapa harus jadi asisten rumah tangga dirumah kita?" tolak halus Yosep. "Jika Una memaksa mas akan turuti, tapi mas akan jualan kopi keliling sebagai hukuman atas pilihan mas pilih."
"Jangan begitu mas, Maafkan Una. Tak ada maksud Una untuk membuat konflik antara kita bertiga, tapi Una dan sister Rany juga butuh asisten jika mas sedang bekerja," bujuk Ryuna.
"Terserah Una saja!" Yosep menghabiskan makanannya dan masuk mobil. "Kenapa harus seperti ini?"
__ADS_1
___
___
___
Yosep sudah sampai di depan rumah sakit Budi Asih Technology, kedua orang tua Ela sudah masuk kamar VVIP 01 dan sudah ditangani oleh Dokter Boyke.
Yosep masih duduk di kursi bangsal rumah sakit, sambil termenung dengan raut wajah muram. "Maafkan Una mas, Una hanya merasa hidup Una sudah dekat. Setidaknya jika Una tiada dan Agito anak kita lahir, masih ada yang menjaga dan bisa menggantikan Una. Ela orang yang tepat bisa menjadi ibu sambung Agito anak kita jika Una tiada," ucap Ryuna.
"Una diam!" bentak Yosep, suaranya terdengar sampai ke seluruh rumah sakit. Semua orang pun membisu, "Tinggal satu artefak lagi dan Una pasti sembuh, mas yakin. Apa Una tak percaya dengan mas? Jika Una tak percaya, mas akan pergi sekarang! Kita pulang, mas antarkan Una dan Rany pulang!"
"Mas emosi karena Ryuna selalu bilang begitu, waktu itu dia egos memutuskan sendiri meninggalkan mas. Dan Rany tahu kan, mas hampir mati mengobati Ryuna, sekarang Ryuna mala nyuruh nyari pengganti, seakan tak percaya dengan perjuangan mas. Padahal demi cinta mas pada Ryuna, mas ke papua, mas ke Belanda dan mas juga ke Italia dan berperang. Apa Ryuna masih belum yakin kalau mas bisa nyembuhin Ryuna, hah?" Yosep sudah tidak bisa menurunkan emosinya meskipun ditenangkan dan dibujuk Rany. "Mas tetap akan pergi dan mencari makam nawadewanata!"
Yosep melepaskan pelukan Rany dan menarik mereka berdua untuk masuk ke mobil, lalu menteleportasikan mobil Koyota Alphard ke garasi mobil dirumahnya dengan jurus melipat bumi. Tanpa basa-basi Yosep pun pergi menggunakan jurus melipat langit mencari makam nawadewanata.
"Mas! Mas! Jangan pergi mas! Hiks, hiks, hiks!" Ryuna memanggil Yosep dalam keadaan menangis. "Mas, maafkan Ryuna mas!"
__ADS_1
Tubuh Yosep terus berteleportasi tanpa henti ke seluruh negara mencari makam nawadewanata, tapi hawa keberadaannnya belum Yosep rasakan. "Sial, benar-benar sial dimana kau artefak sialan!" Yosep terus mencari tanpa henti dalam keadaan marah dan frustasi, akhirnya ia kembali ke desanya lalu muncuk di tengah-tengah sawah. "Apakah saya harus menyerah dan kehilangan Ryuna? Lokasi makamnya saja belum ditemukan."
Yosep duduk di ranting pohon mangga, pak Awi yang baru duduk dan beristirahat di bawah pohon mangga kaget setelah melihat ke atas. "Yos kamu sedang apa?! Kenapa tidak bilang-bilang kalau kamu sudah pulang?!" Pak Awi memegang dada bagian jantung dan mengelus-elus pelan karena terkejut.
Yosep turun dari ranting pohon mangga dengan melayang, "Maaf pak telah membuat bapak kaget, saya sedang frustasi saja. Makanya saya datang kemari dan duduk di tempat favorit saya sejak kecil. Maaf ya pak!" jawab Yosep.
"Ah tidak apa-apa. Adakalanya masalah yang kita hadapi tidak perlu dipikirkan jika belum menemukan solusi. Mungkin solusi itu masih belum muncul, karena benang takdir mengenai solusi belum diarahkan padamu Yos," terang Pak Awi. "Sama seperti bapak yang memikirkan siapa orang yang mencuri pupuk alkimia kita, setiap malam satu karung hilang. Tapi pelakunya tidak terlihat cctv yang mengarah ke gudang."
"Terima kasih pak atas nasihatnya," ucap Yosep menundukan wajah. "Baik pak, nanti akan saya selidiki. Coba mari kita lihat CCTV-nya!"
Yosep dan pak Awi ke kantor sekaligus gudang PT. Yoo and Ra farm, naik sepeda ontel pak Awi, meskipun pak Awi sudah menjadi direktur utama Yoo and Ra farm tapi jika mengecek sawah selalu mengendarai sepeda ontel.
Yosep yang mengendarai sepeda ontel dan Pak Awi yang membonceng sampai di depan kantor Yoo and Ra farm. Yosep masuk ruangan server dan monitor CCTV kantor lalu melihat rekaman video dan mengamatinya dengan seksam, namun tidak ada tanda-tanda pergerakan pencucri di rekaman cctv yang mengarah ke gudang pupuk.
Yosep terus mengulang, hingga ia menemukan pergerakan kecil, karung pupuk bergerak lalu hilang karung pupuk yang bergerak itu. "Oh jadi ada orang yang menggunakan ajian bulus putih dan ajian malih rupa tingkat kedua yang mencuri di gudang pupukku." Yosep menyeringai licik. "Pak Awi, malam ini liburkan semua karyawan yang berjaga malam digudang. Biar saya sendiri yang berjaga!"
"Siap Yos! Kalau butuh apa-apa panggil bapak ya!" balas pak Awi.
__ADS_1
Yosep berjalan kaki, pulang ke arah rumahnya ke sebelah barat. Banyak warga yang menyapa Yosep dan menyahutinya dengan tersenyum. Dalam hatinya Yosep masih marah pada Ryuna, pulang ke rumah pun masih dalam keadaan terpaksa dan berat hati.
Yosep membuka gerbang pintu rumahnya dengan raut muka dingin, sepuluh tim throne army menyambut Yosep dengan tersenyum hangat.