
"Tidak apa mas, jika aku tidak bisa memilikimu, asal aku bisa terus selalu dekat denganmu," batin Sylvia.
___
___
___
Yosep membawa mobil lambhorgini miliknya bersama Sylvia yang memakai blazer putih, kemeja hitam dan rok selutut. Nyotnyokong mengikutinya dari belakang dengan membawa mobil W motor lykan hypersport. Mobil itu akan diberikan untuk fasilitas Sylvia sebagai sekretaris pribadi Yosep.
Sedangkan Karno, Sonto, Joyo, dan Broko berada di sekolah anak-anak, menunggu mereka pulang, untuk dibawa langsung ke Apartemen Wijaya. 3 karung uang juga dibawa Yosep ke mobilnya, nantinya untuk semua biaya anak-anak dan diberikan pada Sylvia.
"Mas kita akan kemana?" tanya Sylvia dengan raut muka penasaran.
"Ke kantor Nehan Logistik yang kini sedang dijual. Itu nanti akan menjadi Kantor pusat Raimu group, jika belum ada yang beli," jawab Yosep tegas.
Devi sudah menyelesaikan pembelian tanah dan pembangunan rumah Yosep di desa Mundakjaya blok munjul. Yosep hanya membangun rumah minimalis dua lantai yang tidak besar, karena hanya hanya untuk bersantai.
Proses pembangunannya juga sangat cepat hanya kurang dari 48 jam, karena pengerjaannya menggunakan drone cypher one yang dikendalikan oleh Devi. Setelah gedung Nehan Logistik selesai dibeli dan direnovasi, rencananya Yosep akan menggelar rapat luar biasa dengan seluruh direksi. Tentu saja menunggu semua orang yang liburan pulang.
Yosep sampai di depan kantor dan disambut ramah securiti, "maaf nona tuan Frans Nehan ada? Saya sudah ada janji temu dengannya hari ini jam 9," tanya Yosep memakai setelan jas merah dan dasi merah, Kirnolah yang membawakan setelan jas merah itu pada Yosep.
"Oh ya, tuan Yosep sudah ditunggu tuan Frans di lantai 10, silahkan mari say hantar!" Resepsionis menghantarkan Yosep ke lantai 10 dengan menggunakan lift gedung. Sylvi terus berada di samping Yosep dengan tubuh sedikit bergetar, karena baru pertama kali menjadi sekretaris pribadi dan bertemu orang yang punya jabatan tinggi
Yosep merasakan kondisi Sylvia dan memegang tangannya, "tenanglah! jangan khawatir dan jangan grogi, wajar ini adalah kesan pertama miss Sylvia. Saya yakin miss bisa," ucap Yosep.
Ting!
__ADS_1
Sylvia hanya diam dan menganggukan kepala, pintu lift terbuka, Resepsionis keluar dari lift di ikuti Yosep dan Sylvia. Mereka berdua masuk ke ruangan Frans yang sudah menunggunya.
"Selamat pagi tuan Frans!" sapa Yosep dengan bibir melengkung membentuk senyuman.
"Pagi juga tuan Yosep. Senang bertemu dengan anda, saya tak menyangka hanya dalam beberapa bulan anda sesukses ini. Tuan Yosep sangat luar biasa!" puji Frans. "Mari silahkan duduk! Mau minum apa?"
"Tidak usah repot-repot tuan Frans, saya juga harus buru-buru. Maaf saya langsung ke intinya, tuan Frans mau menjual berapa gedung kantor ini?" jawab Yosep kemudian bertanya balik.
"Sebenarnya saya tidak ingin menjualnya, tapi saya ingin mengajukan proposal penanaman modal pada tuan Yosep untuk Nehan Logistik," pinta Frans sambil memberikan map berisi proposal investasi pada Yosep.
"Mohon maaf tuan Frans, jika anda memang tidak ingin menjualnya. Saya izin pamit."
Yosep langsung bangkit dari tempat duduknya, "tunggu tuan Yosep! Saya mohon! Baiklah pembagian keuntungannya 10:90, bagaimana?" tanya Frans memohon.
"Mohon maaf tuan Frans saya tidak tertarik." Yosep berjalan ke arah pintu, Sylvia yang belum paham hanya mematung. "Ayo miss Sylvia, urusan kita sudah selesai!"
Yosep membalikan badan dan mengatakan dengan nada berapi-api, "anda ingat Vanya Nila Kusuma yang anda tolak proposalnya 9 bulan yang lalu, anak bapak Prapto pemilik PT. Jaya Abadi Logistik? Vanya datang dan membuat proposal yang sangat bagus malah kau tolak, padahal dia hanya ingin membantu pak Prapto yang sedang sakit parah."
"Dan saya akan melakukan hal yang sama pada anda, karena Vanya sekarang adalah bagian dari keluarga saya. Siapapun yang berani menyakiti keluarga saya, harus hancur. Tadinya saya masih berbaik hati mau membeli gedung ini 44 milyar kau malah menolak dan menantang!"
"Kita lihat siapa yang hancur bedebah!" teria Frans.
Blam!
Yosep menutup pintu ruangan Frans dengan keras, "tunggu saja keluarga Nehan, saya pastikan hancur seperti keluarga Rakuti dan Samandha," batin Yosep dengan raut muka penuh kemarahan.
___
___
__ADS_1
___
Yosep yang berada di mobil Lambhorghini bersama Sylvia dan Nyotnyokong mengikuti dengan Mobil Lykan, sampai di kantor pusat PT. JAL di Klayan Cirebon. "Mas dokter ada apa nih? tumben baru kemari," ucap Prapto raut wajahnya semakin berseri-seri.
"Bapak bisa saja, hehehe ... saya datang kemari ingin meminta bantuan bapak. Bapak bisa bantu saya mencarikan kantor gedung yang mau dijual atau gedung berhantu juga tidak apa-apa. Saya ingin membelinya," pinta Yosep.
"Sebentar mas dokterz saya hubungi kenalan saya di dinas tata kelola Cirebon, siapa tahu ada informasi." Prapto menelepon beberapa kenalan bisnis, mitra usaha, dan pejabat pemerintahan Cirebon. Setelah 15 menit akhirnya Prapto mendapatkan informasi. "Ada mas dokter, pas banget di tengah kota dan juga akses ke tolnya mudah. Gedungnya di samping CSB Mall, nanti hubungi kenalan saya Suparta, ini nomornya!
"Terima kasih bapak!"
"Memangnya buat apa gedung sebesar itu?" tanya Prapto. "Dan siapa wanita cantik ini? Calon istri?"
Sylvia yang disebut calon istri oleh Prapto langsung memerah pipinya dan membatin, "andaikan itu nyata."
"Buat kantor Raimu Group bapak, ini sahabat saya sekaligus sekretaris pribadi saya bapak, hehehe," balas Yosep tertawa ringan. "Calon istri saja sudah empat, masa mau nambah lagi kan udah maksimal kuotanya."
Prapto mengedip-ngedipkan mata, lalu mendekat ke telinga Yosep, "apa sih rahasianya bisa punya calon istri empat? Siapa tahu bapak bisa nambah," bisik Prapto.
"Ah bapak becanda saja, kasihan nanti ibu, satu saja cukup, bapak. Masalah rahasia saya sendiri juga bingung, setiap wanita cantik selalu menyukai saya," jawab Yosep melirik Sylvia.
Tangan Sylvia yang berada di samping paha Yosep bergerilya, lalu mencubit pinggang Yosep, "aw! Sakit sekali!" pekik Yosep.
"Kenapa mas dokter?"
"Ada semut bapak, hehehe." Yosep menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bapak saya juga ada satu hal lagi, bantuan yang saya ingin pinta dari bapak!"
"Apa? Katakan! Jangan sungkan! Mas dokter ini, seperti siapa saja. Saya sudah menganggap mas dokter itu, seperti anak saya sendiri. Kalau mas dokter belum punya calon malah saya ingin Vanya menikah sama mas dokter," tanya Prapto.
"Saya ingin Nehan Logistik bangkrut dan juga keluarga mereka jatuh miskin!" jawab Yosep dengan sorot mata tajam, giginya bergeretak, matanya sedikit memerah menahan emosi.
__ADS_1