
Feng Xin terbang melesat cepat ke arah pusat istana Nanzong, ia terus mencari keberadaan Lin Hua dan Lin Mei melalui Mata Naga Darah juga persepsi kesadaran ilahi.
"Dimana mereka? Jangan katakan jika mereka ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh pangeran An Zong sialan itu."
Feng Xin terbang dengan perasaan marah yang berkecamuk di dalam dada. Ingin rasanya ia meledakan istana Nanzong karena berani menangkap Lin Mei dan Lin Hua.
"Aku tidak menemukannya dimanapun, lebih baik aku kembali ke restoran Hao Ling. Mungkin An Lin tahu dimana lokasi penjara kerajaan Nanzong."
Feng Xin terbang memutar arah ke arah restoran Hao Ling dengan perasaan sedih yang berkecamuk karena tidak menemukan Lin Mei dan Lin Hua di seluruh wilayah kerajaan Nanzong.
Ketika sampai di depan restoran Hao Ling banyak mayat berserakan di jalanan pusat kota Yio Shan dan tidak ada yang berani membereskannya.
Beberapa prajurit empat kerajaan dan kekaisaran yang sudah bersumpah setia pada Jendral Jia Xu hanya berjaga di depan gapura restoran Hao Ling.
Jia Xu hanya ingin menunjukan pada kerajaan An Zong jika mereka berani melawannya maka nasib kerajaan Nanzong sama seperti mereka.
"Maaf, tuan-tuan. Ini ada apa?" tanya Feng Xin menyipitkan mata.
"Kami diutus oleh Jendral Jia Xu untuk mengamankan restoran ini. Silahkan masuk, tuan!" Pelayan itu tidak menjawab malah mempersilahkan Feng Xin masuk dengan sopan.
Feng Xin menyalakan api ilahi darah di telapak tangan kanannya, dan melemparkannya ke arah tumpukan mayat yang bergelimpangan.
SWUSH!
"Pemandangan ini membuatku mual." Feng Xin menutup mulutnya dan ingin muntah melihat mayat-mayat yang sedang terbakar oleh api ilahi darah.
"Lancang!" Salah satu prajurit yang menjaga menghunuskan bilah pedang ke leher Feng Xin.
"Oh, inikah sopan santun tuan-tuan pada murid pribadi Jendral Jia Xu," kata Feng Xin menyunggingkan senyum.
"Jangan membual, mana mungkin murid pribadi Jendral Jia Xu selemah kau!" Penjaga itu lebih mendekatkan bilah pedangnya ke leher Feng Xin dengan membentak berapi-api.
"Apa karena tingkat kultivasiku di fase Gathering bintang satu dan kalian menganggapku tidak pantas murid pribadi Jendral Jia Xu. Kalau begitu coba saja tebas leherku," tantang Feng Xin dengan tersenyum licik.
"Kau malah membuatku tambah marah, jangan salahkan aku jika aku kasar padamu, hyaa ...!"
Prajurit itu memundurkan bilah pedangnya dari leher Feng Xin dan menyabetkannya kembali dengan sangat cepat.
__ADS_1
Feng Xin tetap diam dan mengaktifkan seni pelindung Naga Darah.
BOOM!
Bilah pedang itu hancur berkeping-keping dan penjaga tersebut juga terpental jauh menabrak pagar pembatas restoran Hao Ling.
"Apa?! Bagaimana mungkin?!"
Kelima prajurit lainnya yang berjaga membulatkan mata dengan rahang terjatuh.
"Mau coba lagi?" Feng Xin menakuti-nakuti mereka dengan menyeringai dan membuat Kelima prajurit bergidik ngeri.
"Ampun tuan muda, kami mengaku salah ampuni kami." Mereka berlima langsung memohon dengan bersimpuh di depan Feng Xin.
"Baiklah, aku akan memaafkan kalian tapi ada syaratnya. Lucuti pakaian kalian dan tetap berjaga disini!" titah Feng Xin lalu masuk ke dalam restoran Hao Ling untuk menuju lantai atas yang sedang diperbaiki.
Jia Ling sedang panik dan bingung mau berkata apa di depan Feng Xin. Dia terus mondar-mandir di depan ruangan kerjanya.
"Kenapa paman? Ada apa?" Pertanyaan Feng Xin sangat mengejutkannya hingga ia keseleo dan terjatuh ke arah Feng Xin.
Tapi Feng Xin langsung melepaskannya ketika Jia Ling memunculkan wajah imutnya di depan muka Feng Xin.
"Aw!" Tubuh Jia Ling jatuh ke permukaan lantai.
"Hoeeek ...." Feng Xin memuntahkan air saking jijiknya beradu tatapan dengan Jia Ling, "Aku masih normal paman!"
Para pengunjung yang melihatnya, walau tidak banyak seperti biasanya di restoan Hao Ling menertawakan tingkah konyol mereka berdua.
"Ha-ha ... ada-ada saja tuan Jia."
"Ha-ha ... sungguh konyol tuan Jia dan pemuda itu"
"Maaf-maaf tuan muda, he-he ...." Jia Ling bangkit sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ekspresinya berubah murung saat ingat Yuan Shi telah dibawa prajurit elit khusus Kekaisaran Han.
"Ada apa paman?" tanya Feng Xin yang sudah merasakan gelagat aneh.
__ADS_1
"Putri Yuan Shi, nona Meng Qi, nona Meng Yi dan Pangeran An Lin telah pergi. Putri Yuan Shi dibawa Wan Feng dan pangeran An Lin ditangkap Fung She. Untuk nona Meng Qi, dan nona Meng Yi berhasil kabur," jelas Jia Ling menundukan wajah.
"Bedebah!" Feng Xin menggertakan gigi dan mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat hingga membuat semua pengunjung sesak nafas.
"T-tenang, t-tuan muda," lirih Jia Ling dengan nafas sesak.
Feng Xin menarik kembali aura membunuhnya, "Lalu dimana guru?"
"Tuan Jendral entah pergi kemana," jawab Jia Ling menunduk hormat.
"Baik, paman. Terima kasih, aku akan mencari pangeran An Lin."
Setelah mengatakan hal tersebut dan menunduk hormat pada Jia Ling, Feng Xin pun tak kelihatan lagi batang hidungnya.
Ia sudah paham jika Jia Xu sedang melakukan meditasi tertutup, kemungkina di gua rahasi air terjun Fenik Suci yang pernah ia hancurkan.
Feng Xin hanya dalam 30 nafas sampai ke depan pintu gerbang istana An Zong yang dijaga sangat ketat.
"Aku melihat melalui kemampuan tembus pandang, pangeran An Lin sedang bermeditasi di kamarnya. Aku akan meminta penjaga agar aku bisa bertemu dengannya," guma Feng Xin sudah menunduk hormat dan meninju telapak tangannya.
"Tuan-tuan, aku meminta izin untuk bertemu pangeran An Lin," pintanya.
"Oh kamu buronan itu, tangkap dia!" Semua prajurit kerajaan yang berjumlah 10 orang mengepung Feng Xin.
Poster gambar Feng Xin sudah diedarkan di seluruh kerajaan An Zong dan semua warga di kerajaan An Zong sudah mengetahui jika Feng Xin adalah buronan kerajaan An Zong bernilai 1 juta mutiara Qi.
"Tuan-tuan aku hanya ingin bertemu pangeran An Lin. Tapi jika kalian memaksaku ...."
Raut wajah Feng Xin berubah menyeringai dan melepaskan seni Bayangan Naga Darah, menciptakan 10 kembaran dirinya.
"Maka aku tak sungkan lagi untuk menghancurkan kerajaan sialan ini. Serigala Darah, Serigala Bulan, Serigala Deza, keluarlah!" sambungnya bertitah memanggil ketiga Dewa Serigala.
Namun, ketiga Dewa Serigala tidak kunjung keluar dan membuat Feng Xin menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebab bingung.
"Woy, tuan kampret! Katanya mau memberikan kami hal yang menyenangkan, sialan! Kami tidaka akan keluar jika tuan kampret tidak memberikan kami masing-masing 20 juta mutiara Qi."
ketiga suara serentak itu terdengar di dalam pikiran Feng Xin dan membuatnya terkejut bukan main. Ternyata itu adalah ketiga Dewa Serigala yang sedang merajuk.
__ADS_1