
Rombongan mobil sudah sampai di rumah sakit Budi Asih Technology. Albert sudah berbaring di tempat tidur VVIP 01, dijaga ketat oleh WD Army dibantu Pancawijaya dan Hanoka.
Yosep membuat banyak pil khusus penyakit berat, pil naga emas masih tersisa 9 butir Yosep mengambilnya satu butir di penyimpanan ruang rahasia bawah tanah rumah sakit Budi Asih Technology. Yosep membuat pil Suryalaya sebagai tambahan untuk menyembuhkan Albert, komposisi obat untuk penyakit kanker leukimia stadium akhir yang diderita Albert adalah pil naga emas, pil jahe emas, pil suryalaya, dan pil bedawang emas.
"Pengobatan kali ini akan banyak menguras tenaga," gumam Yosep sambil berjalan menuju kamar Albert. Yosep sudah selesai membuat dua jenis pil tepat pukul 00.00 WIB.
Yosep masuk, Kokoci dan Tarung sudah terlelap tidur, Raiden masih berjaga di dalam kamar bersama Kaizo. Rany tidak pulang dari rumah sakit, ia tidur di ruangannya yang ada kamar tidur. Rany sangat rindu dengan Yosep jadi memutuskan untuk tidak pulang, namun Yosep sangat sibuk saat ini. Jadi Rany menunggu Yosep di kamarnya, agar setelah Yosep selesai bisa langsung menemuinya.
"Paman Albert, bangun! Kita akan memulai pengobatannya," ujar Yosep membangunk an Albert dengan menepuk-nepuk pelan bahunya. Albert pun terbangun dengan membuka matanya perlahan.
"Jendral! Mohon bangunkan yang lain dan suruh mereka berjaga di luar, mohon maaf pengobatan ini akan sangat sakit untuk paman Albert. Kasihan, nanti mereka yang terlelap tidur pasti akan terbangun, setelah mendengar teriakan nyanyian rock dari paman Albert," pinta Yosep dengan diselingi candaan.
"Siap tuan!" balas Raiden. " ..... Laksamana Tarung! Komandan Kokoci! Ayo kita keluar! Tuan Yosep mau memulai pengobatan tuan Albert!" seru Raiden dengan menepuk pelan pundak Kokoci dan Tarung.
Mereka berempat keluar dari ruangan hanya menyisakan Yosep dan Albert. "Paman, minumlah satu pil ini dahulu!" seru Yosep dengan memberikan pil naga emas, Albert segera meminum pil itu.
Tubuh Albert terasa terbakar dan dia mengerang, "aaaaaargh.... panas... panas... panas... badan ini... pusing-pusing kepala ini... "
Albert tak kuasa menahan rasa panas, Yosep memberi hawa nurni pada tubuh Albert yang terus mengejang dan menggeliat, agar Albert tidak merasa panas lagi. Yosep lalu mendudukan Albert yang sudah tidak mengejang dan mengerang lagi, badan Albert sudah dingin.
"Proses pertama selesai. Sekarang yang kedua, paman telan pil ini!" titah Yosep sambil memberikan pil bedawang emas. Albert langsung menelan pil itu, setelah beberapa saat tubuh Albert menjadi dingin dan menginggil.
__ADS_1
"Bro... Ding-dingin se-se-ka-kali," ujar Albert dengan meringkuk dalam keadaan duduk.
"Tahan paman, ini memang sangat menyakitkan. Paman harus kuat dan yakinkan tekad paman pasti bisa," ujar Yosep menyemangati Albert.
Yosep kembali menyalurkan hawa murni pada tubuh Albert melalui punggungnya. Sudah dua jam Yosep mengobati Albert, tubuhnya yang dingin kembali normal, namun mengeluarkan keringat berwarna merah hitam pekat dan sangat bau anyir.
"Hoek... Hoek... Hoek... "Albert mual lalu memuntahkan isi perutnya. Yosep sudah terbiasa dengan bau busuk bahkan bau anyir karena di sawah sering menemukan bangkai tikus yang mati karena racun tikus.
"Detoksifikasi sudah selesai, sekarang lanjut ke tahap membunuh kankernya. Paman telan lagi pil ini!" titah Yosep sambil memberikan pil suryalaya.
Mata Albert langsung melotot, urat ototnya keluar dan tubuhnya mengejang, "da-dadaku se-sesak se-sekali, bro!" Ujar Albert sambil memegang dadanya. Penderitaan Albert semakin lama semakin sakit.
Yosep mengerahkan semua hawa murni miliknya untuk membantu penyerapan pil suryalaya supaya lebih cepat dalam membunuh sel-sel kanker di dalam tubuh Albert. Yosep langsung memberikan pil terakhir pil jahe emas pada Albert, tubuh Albert seperti menguap mengeluarkan Asap tapi berwarna hitam.
"Terima kasih bro telah menolongku," ujar Albert dengan raut muka berseri-seri, perasaanya sangat bahagia karena sel kanker yang sudah lama bersarang ditubuhnya telah hilang.
"Sama-sama paman, untuk memastikan sel kanker itu masih ada atau tidak, nanti paman akan di cek oleh dokter boyke," ujar Yosep. "Istirahatlah!"
Albert memejamkan mata, tak lama ia pun tertidur lelap. Yosep keluar ruangan dalam keadaan yang terhuyung-huyung karena begitu lelah, stamina terkuras habis. Tiba-tiba Yosep terjatuh.
"Bruk!" suara tubuh Yosep terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Tuan! Anda kenapa?" tanya Kaizo yang langsung menolong Yosep dengan memapahnya.
"Maaf merepotkanmu, saya hanya kelelahan saja. Bisa bantu hantar ke ruangan saya!" pinta Yosep.
"Baik tuan. Akan saya hantar!"
Kaizo menghantar Yosep ke ruangannya, Rany masih cemas dan mondar-mandir di depan ruangan Yosep. Rany cemas karena sudah pukul 03.20 WIB belum kembali ke ruangannya untuk istirahat.
Yosep sampai di depan ruangannya, "mas kamu kenapa?" tanya Rany dengan raut muka khawatir.
"Aku hanya kelelahan saja," jawab Yosep dengan raut muka sedikit pucat. Rany segera memapah tubuh Yosep, ada perasaan cemburu di hatinya karena Yosep di papah Kaizo alias Ryuna yang sangat cantik dan seksi.
"Terima kasih nona, biar saya saja yang memapah dokter Yosep," pinta Rany.
"Baik nona," balas Kaizo dengan melepaskan tangan Yosep secara kasar dan membuat Yosep jatuh tersungkur ke lantai. Dalam hati Kaizo ada perasaan cemburu, ketika melihat tatapan Rany ke Yosep yang begitu khawatir. Tatapan itu bukan tatapan antara kekhawatiran karyawan dengan atasan tapi tatapan yang penuh cinta.
"Aw!" pekik Yosep.
"Hai nona! Jangan kasar terhadap calon suami saya," bentak Rany. Kaizo tak mempedulikan Rany lalu meninggalkan mereka berdua dengan raut muka kesal. "Sial, wanita itu. Apakah memang benar jika dia adalah calon istri tuan? Dibandingkan dia saya lebih cantik, tentunya tuan juga sangat suka padaku," gerutu Kaizo dalam hatinya.
Rany memapah Yosep untuk masuk ke ruangannya. Rany menidurkan Yosep di kamar tidur yang berada di ruangan kepala dokter. "Mas kamu sangat tampan," puji Rany lalu mencium pipi Yosep. "Cup... Saya rindu sekali mas."
__ADS_1
Yosep sudah terlelap karena kelelahan, "kasihan kamu mas, baru pulang sudah harus bekerja. Saya ini calon istri macam apa yang terus membuat calon suaminya lelah," gumam Rany sambil membelai rambut Yosep yang sudah terlelap di pangkuan Rany. Lama kelaman Rany juga ikut tertidur karena lelah begadang semalaman.
Di depan kamar Albert, Kaizo masih kesal dengan memonyongkan bibirnya dan menggembungkan pipi membuat Kokoci, Raiden dan Tarung tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... Kenapa adik kecilku? Sepertinya sedang cemburu ya pada nona Rany, hahaha... " goda Kokoci.