
Bab 100. Kasih Itu Memaafkan
.
.
.
...ššš...
"Dunia memang tak sempurna, surga tahu itu?"
.
.
Abimanyu mengemudi dengan kecepatan sedang, ia seolah ingin berlama-lama di sisi Dhira. " Raka gak pingin beli apa- apa lagi?" tanya Abimanyu.
"Emmmm....Aku..."
"Langsung pulang aja!" sahut Dhira, membuat dua laki-laki beda usia itu terdiam. Dhira merasa tak enak hati, karena belum apa- apa ia terus merepotkan.
Raka tak melanjutkan ucapannya. Abimanyu bertatap mata dengan Raka melalui kaca rear vision di mobil itu. Pandangan mereka menyiratkan ; Ok, big bos sedang bertitah. Kita turuti saja!.
Raka tersenyum, Abimanyu juga. Mereka seolah sepikir ,seiya, sekata saat ini.
Mereka tiba di rumah Bu Kartika tepat pukul 11.30, namun Abimanyu terkejut demi melihat Bagus yang tertidur dengan kepala yang tertempel di tembok rumah Bu Kartika.
"Gos, Bagos!" Abimanyu memanggil nama supir Oma-nya itu.
Bagus terkesiap, ia menjadi pusing karena bangun dengan terkaget. " Ya Tuan!" jawab Bagus. Ia mengusap wajahnya yang terlihat lelah.
Abimanyu terkekeh," Maaf ganggu, tapi...." Abimanyu menunjuk Bagus, karena penasaran mengapa dia ada disana.
"Nyonya besar di dalam!" tukas Bagus.
"Apa?" Abimanyu membelalakkan matanya.
.
.
Saat Abimanyu masuk, ia melihat Oma duduk di samping adiknya. Sementara Bu Kartika duduk dengan mengusap wajahnya menggunakan hijab yang ia kenakan. Bastian terlihat mengusap punggung ibunya. Sepertinya telah terjadi sesuatu.
" Oma?" Abimanyu terperanjat, ia tak menyangka wanita tua yang begitu ia jaga kesehatannya itu, kini malah ada di tengah- tengah keluarga Andhira.
Andhira berwajah tegang, padangan pertama ia layangkan kepada ibunya yang menangis. Sejurus kemudian ia menatap wajah Oma Regina yang nampak kecewa.
Raka langsung masuk ke kamarnya, ia bisa membaca situasi yang kurang nyaman disana. Lagipula ia hanyalah bocah, usai menyalami semua yang disana bocah itu melesat ke kamar.
"Kenapa kaget begitu, aku bukan hantu!" seru Oma Regina.
.
.
Abimanyu
Abimanyu menelan ludahnya dengan susah payah, ia tak memberitahu perihal persoalannya dengan Andhira, lantaran takut bila tensi Oma naik lagi. Ia sangat menjaga wanita tua yang menggantikan peran mamanya itu.
Suasana begitu canggung cenderung mencekam, Bastian dan Rania juga turut cemas.
Dhira terlihat menatap wajah ibunya yang masih acuh kepadanya. " Buk!" ucap Dhira mendekat ke arah ibunya. Bastian langsung beranjak dari duduknya, dan membiarkan Andhira untuk duduk di samping Bu Kartika. Ia cukup pengertian akan hal itu.
__ADS_1
Bu Kartika nampak larut dalam tangisnya. Masih enggan menatap wajah Dhira.
"Ibuk boleh marah sama Dhira buk. Dhira memang gak pernah bisa buat menyenangkan hati ibuk!" Dhira berucap sekuat hati.
Abimanyu kini menatap Dhira dengan lekat, ia masih berdiri seraya bersidekap. Oma Regina masih memunculkan mimik datar. Rania dan Bastian saling menatap, keadaannya sangat membuat mereka sedih saat itu.
"Buk, maaf kalau Dhira ada salah!" suara Dhira tercekat, tubuhnya bergetar. Ia tak tahan lantaran ibunya tak mau menatapnya barang sejenak pun, dari situ ia bisa menyimpulkan bila ibunya tengah marah dan kecewa kepadanya.
"Ehem!" Abimanyu berdehem, ia tak tahan melihat wanita yang ia cintai bersedih seperti itu. Sejurus kemudian ia mengambil tempat duduk Rania, yang persis menghadap ke arah Andhira.
Rania juga cukup pengertian akan hal itu.
Bu Kartika masih menunduk, dan terlihat sesekali menyusut air matanya dengan punggung tangannya.
"Saya datang atas nama laki-laki yang mencintai anak ibuk. Mama dari Raka!" ucap Abimanyu kali ini.
Mereka semua menekan ludah, terdiam mendengar Abimanyu yang nampaknya akan berbicara serius. Auranya begitu kuat, seolah mengintimidasi mereka semua yang disana.
"Saya tidak tahu apa yang anda dan Oma saya bicarakan...Karena terus terang saya tidak tahu bila Oma saya berkunjung kemari."
Mereka semua masih diam, tak ada yang menyela. Air mata Dhira sudah tergenang di pelupuk matanya.
"Saya hanya ingin mendengar alasan ibuk menolak saya, dan lebih memilih menjodohkan anak ibuk dengan orang lain saat kami sudah saling mengenal."
"Saya juga mohon maaf, karena telah melangkah lebih jauh dengan Andhira"
Dhira meremas tangannya sendiri, saat Abimanyu mengucap kalimatnya itu. Ia memang bukan manusia suci, yang bisa menahan serta menghalau gelombang kebahagiaan saat bersama Abimanyu.
Melihat kebisuan Bu Kartika, Abimanyu memilih untuk meneruskan ucapannya.
"Terlepas dari siapa saya, saya hanya pria dengan segala kenestapaan. Saya adalah pria dengan seburuk-buruknya kisah rumah tangga!"
"Dan saat merasa hidup saya kosong, tak memiliki arah, Dhira datang ke kehidupan saya. Dia wanita berbeda, dia wanita sederhana yang justru bisa membuat saya memiliki arti sebagai lelaki yang di butuhkan, dia membuat diri saya seperti hidup kembali"
"Saya tertarik kepada anak ibuk saat saya melihat dia tengah bertengkar dengan mantan suaminya saat di sekolah Raka. Saya kagum dengan Raka, yang bisa membuat Jodhi menjadi anak yang lebih baik, dan saya sangat suka akan olahan makanan dari ibuk"
"Jujur buk, saya sempat geer karena ibu pernah mengirimkan saya makanan, saya kira semuanya adalah sinyal untuk saya. Namun, hati saya hancur saat melihat Dhira berpamitan kepada saya saat kami tengah menjalin kedekatan"
Bu Kartika menelan ludahnya, saat ia melakukan hal itu lantaran ingin membalas kebaikan keluarga Abimanyu, yang telah membayar mereka dalam jumlah yang banyak.
"Lebih marah lagi, saya mendengar jika Dhira sudah anda jodohkan dengan pria lain!"
Abimanyu mengatur nafasnya sejenak. Ia mulai terbawa situasi. Sejurus kemudian, ia mulai merendahkan intonasi bicaranya.
"Kalau ibuk merasa kasta adalah penghalang, saya kemari dengan segala kerendahan hati saya. Saya tanggalkan segala materi saya Bu. Saya bicara atas nama seorang pria yang menyedihkan, yang di usia 43 belum memiliki keturunan, yang di usia matang ini tengah memohon kepada seoang Ibu dari wanita yang saya cintai, untuk merestui kami!"
"Merestui agar hubungan kami berjalan dengan teriring doa- doa tulus, dari para orang tua!" Abimanyu berbicara dengan menggebu-gebu, susah payah ia menetralkan suaranya yang mulai meninggi.
Mereka semua kian terisak. Abimanyu rupanya juga menitikkan air matanya, ia terlihat menyusut kristal cair di matanya itu, dengan punggung tangannya.
Bastian terpekur menatap lantai licin rumahnya. Ia benar-benar iba dengan direktur di perusahaannya itu. Ia tak menyangka, orang nomer satu di perusahaannya itu tengah memohon restu kepada ibunya. Lebih tepatnya mengemis restu.
"Saya mencintai Dhira dengan segala kelebihan dan kekurangannya buk!"
Tangis Bu Kartika kian pecah. Tubuhnya bergetar hebat. Apa dia selama ini memang telah membuat kesalahan?
Banyak orang yang terluka karena sikapnya.
"Bahkan papanya Raka, pernah menemui saya. Dia mengatakan langsung jika dia rela bila Raka menjadi anak sambung saya!"
Kesemua orang disana terkejut, bahkan Bu Kartika kini mendongak menatap Abimanyu. Bagiamana bisa, seorang Indra yang terkenal arogan, kalap, dan pendendam bisa berbicara dengan Abimanyu. Mengingat mereka pernah terlibat perkelahian.
"Itu benar adanya. Saya sudah mengantongi restu dari Raka. Saya juga sudah mendapatkan lampu hijau dari papa Raka. Dan sekarang, saya hanya tinggal menunggu restu dari anda"
__ADS_1
"Saya tidak ingin, istri saya nanti terus di hantui perasaan bersalah!"
Bu Kartika seolah dipukul telak oleh ucapan Abimanyu, pria itu benar-benar berbicara dengan tegas dan merasuk langsung ke relung hati Bu Kartika.
"Lihat anak ibuk!" tunjuk Abimanyu kepada Dhira. Membuat semuanya menatap Dhira.
"Dia adalah anak ibuk. Dan saya ingin menjadikannya istri saya. Saya ingin mejadi papa bagi Raka. Tolong restui kami. Tolong iringi niat baik kami dengan doa suci dari ibuk!"
.
.
Bu Kartika
Ia masih saja terus menangis, sejujurnya ia sangat malu. Ia ingin sekali memeluk Dhira. Baginya, Dhira tetap putrinya.
Pria bernama Abimanyu itu benar-benar berbicara secara dewasa, ia tahu bila maksud dari pria itu adalah melamar Dhira.
Apa yang menurut orang lain benar, belum tentu menurut yang lainnya benar juga. Sama halnya dengan niat baiknya. Ia ingin hasratnya untuk mengatur kehidupan anaknya terselenggara, namun ia tak memikirkan efek domino yang bakal timbul. Keterpaksaan salah satunya.
Ia juga tak menyadari sikap egois yang ia miliki, jika atas dasar kegagalan rumah tangga Dhira yang di jadikan acuan, kita tak bisa menjamin kebahagiaan itu bisa tercipta hanya dengan setahun dua tahun bersama. Dan memaksakan kehendak adalah sebuah kekeliruan.
Maksud hati tak percaya diri dengan kelas sosial yang terbentang diantara mereka, namun Bu Kartika rupanya telah salah menilai. Tak semua orang kaya itu menilik segala sesuatunya dari materi, mungkin tidak semua tapi bisa jadi keluarga Abimanyu adalah salah satunya. Jika tidak, tentu Jodhi tak akan mau berteman dengan Raka sedari dulu. Tentu ia akan lebih memilih Chiko yang bengal.
Bu Kartika bermain di pusaran takdir, yang menguji keteguhan hati. Di celikkan oleh kenyataan, dan di di sadarkan oleh sikap arif bijaksana Abimanyu.
Dan memang sudah seharusnya, ia harus merestui hubungan mereka. Ia juga sudah tak punya muka lagi kepada keluarga Bu Hana. Mengingat Dhira yang terlampau jauh dengan Abimanyu. Melewati batasan.
"Maafkan aku!"
"Maafkan Ibu nak!" Bu Kartika merengkuh tubuh Dhira dalam dekapannya. Dhira menangis seraya memeluk tubuh kurus ibunya, yang terkikis dimakan usia.
"Ibu rasa ibu belum terlambat untuk perbaiki semuanya kan nak?"
Semua disana larut dalam tangis, Rania, Oma, Bastia pun turut menitikan air mata. Bahkan Raka yang rupanya menguping di balik tembok rumah Uti-nya itu, kini tengah menangis dalam diam. Ia menjadikan kaosnya sebagai lap air mata dan ingus asinnya.
.
.
.
.
.
Halo Readers ku tercinta.
Pripun kabare? ( Bagaimana kabarnya?)
Semoga sehat- sehat semua ya. Lagi musim hujan ni, jangan lupa jaga kesehatan.
Mommy berterimakasih bagi kalian semua yang sudah mengikuti kisah Abimanyu dan Andhira hingga part 100.
Terimakasih juga buat yang sudah kasih like, komen yang bikin aku semangat, serta yang udah masih vote dan gift.
Kiranya kebaikan kalian, senantiasa di ganjar dengan kebaikan pula.
Mampir ke karyaku yang satunya dong, masih sepi banget pembacanya ššš
"Sang Pengobral Dosa"
Kita ramaikan juga yuk, kisah Jingga sama Daffin.
__ADS_1
Peluk cium dari mommy š¤š¤š¤š¤šššš