The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 211. Satu langkah lebih dekat


__ADS_3

Bab 211. Satu langkah lebih dekat


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Semua orang lahir dengan kiamatnya masing-masing!"


.


.


Dengan pikiran di penuhi tanda tanya yang berputar terus, menganggu dan mengusik. Abimanyu mencoba tetap bersikap tenang. Kakak ipar Bastian itu bukan pria ingusan, ia jelas bisa membedakan hal yang tersaji di depan pandangannya itu.


" Bukannya dia sama...?" Wisang dibuat bingung juga, ruangan dengan tingkat keramaian yang lumayan pagi itu, terang saja membuat Bastian tidak terlalu bisa melihat keberadaan Abimanyu dan kawan-kawan.


" Gak tahu, biarin aja. Dia lagi urus Dapur Isun. Banyak yang musti dia lakukan, dia adik istri gue. Gue percaya ama dia!" sahut Abimanyu. Dia mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Membuat kedua pria di depan Abimanyu hanya mengangguk setuju.


" Jadi gimana?" Tanya Danan.


" Gimana apanya?" Wisang.


" Gimana apanya?" Abimanyu.


Dua pria beristri itu menjawab dengan kompak. Sedetik kemudian, Danan menatap mereka sebal seraya mendengus.


" Sialan kalian, jadi dari tadi kalian dengerin gue ngomong gak sih !"


Wisang dan Abimanyu terkekeh. Sejak kapan Danan yang ogah serius, kini malah menjadi pria tak sabaran.


" Standar buat dia bisa di dekati secara norma yang berlaku itu, empat bulan bonus sepuluh hari!" ucap Danan seraya memandangi dua sahabatnya secara bergantian.


" Itu artinya apa coba?" ucap Abimanyu.


" Semua akan mumet pada waktunya kan?" Wisang menaikturunkan alisnya menggoda Danan.


" Matamu Wis!!!" dengus Danan. Membuat dua sahabatnya tergelak.


" Saran gue elu musti sabar. Dan elu juga harus rela berbagi tempat, berbagi sesuatu lah pokoknya, sama seseorang yang jasadnya sudah gak ada di dunia ini!" tutur Abimanyu seraya menampilkan wajah serius.


" Kalau ketemu, tahan itu elu punya bacot. Gue gak yakin kalau elu gak pernah nyosor si Shinta!" Wisang menguliti Danan degan pandangannya yang penuh curiga.


" Alah kayak elu gak hobi nyosor aja Wis!!! Elu lebih parah, habis di gebukin orang aja masih sempat nyosor lu!" dengus Danan saat mengingat mereka yang menyelamatkan Sekar.


Abimanyu terkekeh, ia tidak mengerti apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu itu. Sementara Wisang bersikap B aja.


Setalah ngobrol ngalor ngidul ( kesana kemari) cukup lama, Abimanyu memungkasi pertemuan itu.


" Gue cabut dulu ya. Gue banyak laporan yang musti gue terima nih. Akhir bulan!" tukas Abimanyu seraya berdiri mengancingkan jasnya.


" Gue juga, elu ngomongin nyosor bikin jadi gue kangen bini aja. Mana semenjak hamil, dia makin ...!" Wisang juga berdiri seraya tersenyum membayangkan adegan erotis bersama Sekar.


" Si anjing mengkhayal!!!" dengus Danan yang menguat Abimanyu tergelak.


" Elu gak ke kantor emang?" Danan menatap Wisang.


" Apa gunanya punya staff, tinggal kontrol aja kesana sini. Ngapain ribet!" sahutnya cepat.


" Sombong amat!" Danan mendengus.


Dan akhirnya pertemuan singkat mereka pagi itu, harus berakhir di menit ke sepuluh lepas dari jam sepuluh. Waktu yang nanggung sebetulnya. Tapi saat mereka mendapat ajakan dari Danan, Abimanyu dan Wisang langsung meluncur ke TKP. Bagaimanapun juga, sahabatnya itu tengah di rundung kegalauan.


" Ayok Wis!" ucap Abimanyu.


" Udah ya Dan kita duluan dulu, elu beresin bill nya. Itung-itung sedekah biar perjuangan elu lancar!!!" Wisang terkekeh seraya memukul lengan Danan.

__ADS_1


" Sialan kalian berdua, ya udah sana pergi???" ucap Danan seraya mengibaskan tangannya seperti gerakan mengusir ayam.


" Mas!" Danan memanggil pelayan disana guna membereskan bill.


Abimanyu saat berjalan menuju pintu luar, ia masih melirik Bastian yang duduk dengan mengobrol bersama seorang wanita yang tidak ia kenal pagi itu. Ia tak mau terlalu masuk ke dalam urusan adiknya, ia hanya percaya bila Bastian pasti memiliki alasan kuat saat ia memutuskan sesuatu.


.


.


.


" Udah pulang?" Danan tidak tahan untuk berkirim pesan singkat kepada Shinta. Sedari tadi ia mengetik lalu menghapus, mengetik lalu menghapus. Ujung-ujungnya, hanya kata itu yang terpilih sebagai pembuka.


Benar-benar payah.


Dengan gelisah, pria itu terlihat menunggu balasan. Satu menit, lima menit, sepuluh menit. Dua centang itu tak kunjung berubah menjadi biru.


Benarkah ia kini di serang rasa jatuh cinta tingkat akut usai wanita yang ia gilai itu menjadi janda? benarkah janda lebih menggoda?


Agaknya anggapan itu tidak merata. Lantaran Danan sudah menaruh rasa semenjak Shinta masih bersuami. Dan harus ia akui, Shinta adalah wanita baik-baik yang setia.


Danan memilih untuk pergi dari tempat itu tanpa menyapa Bastian , yang berjarak agak jauh darinya. Jalur pintu masuk dan pintu keluar di desain terpisah. Membuatnya tak terlihat oleh Bastian.


Saat hendak masuk ke mobil, ponselnya berbunyi.


Just landed ( baru mendarat), masih nunggu bagasi, terus nyari taksi buat pulang.


Danan langsung menekan tombol hijau saat itu juga. Ia bahkan tak jadi menarik pintu mobilnya.


" Halo?" jawab Shinta dari seberang.


Danan tersenyum, suara Shinta saja bahkan bisa membuat dirinya berdesir. " Kamu diam saja disitu, aku kesana!"


Ucapan yang cenderung seperti sebuah perintah ketimbang pemberitahuan. Danan dengan rasa happy menginjak pedal gasnya dengan kecepatan pol.


Jika ia ingin menghalalkan janda Rangga itu masih menunggu standard legalitas Shinta yang kurang dua bulan lagi, maka ia harus bisa memanfaatkan momen normal seperti ini untuk membunuh rasa rindu.


Sejak sambang dari rumah mertuanya kemaren, Shinta merasa hatinya lega. Ia merasa, semua yang terjadi dalam hidupnya tidak lain merupakan sebuah titian takdir yang musti ia jalani. Ia percaya, bahwa semua orang memiliki pertempuran kehidupan masing-masing.


Sekilas ia ingat dengan Dhira dan Abimanyu yang juga memiliki kerumitan perjalanan cinta sebelum mereka bahagia.


Atau Wisang dan Sekar yang berpacu dalam bahaya saat hendak bersama.


Dan kini, meski ia masih belum jelas dengan dirinya sendiri. Namun Shinta lekas memantapkan diri untuk tidak larut dalam kesedihan. Semua akan berlalu, seiring dengan berjalannya waktu.


" Ehem!" Danan membuyarkan lamunan Shinta yang sedari tadi bertopang dagu menatap nyalang orang yang berlalu lalang di kawasan bandara itu.


" Cepet banget, darimana?" Shinta menatap Danan yang terlihat menarik kursi di depan Shinta untuk duduk.


" Biasa ketemu duo sosor!" tukasnya enteng.


Shinta mengernyitkan dahinya," Siapa?"


" Siapa lagi, si Abimanyu sama Wisang lah!" Danan menatap Shinta. Wanita di depannya itu terkekeh mendengar sebutan yang di sematkan Danan.


" Mau kemana, langsung balik atau..." tanya Danan.


" Antar aku ke suatu tempat!"


.


.


Danan pikir suatu tempat itu adalah tempat yang indah, pusat perbelanjaan, atau tempat ramai lain yang ingin Shinta kunjungi.


Namun, tebakannya menguap begitu ia melihat jalan berbatu, sepi dan terdapat tulisan yang membuatnya menelan ludah dengan sekali tegukan.


...TPU Pondok Asri...


Shinta mengajaknya ke pemakaman. Kealpaan Danan sewaktu prosesi pemakaman Rangga tempo hari ,membuatnya tak mengetahui dimana mendiang suami Shinta di kebumikan.

__ADS_1


" Aku turun sebentar mas!" Shinta berpamitan tanpa menatap Danan dan hendak membuka handle pintu mobil itu.


" Tunggu Shin!" Danan menarik pelan lengan Shinta. Membuat wanita itu menumbukkan pandangannya ke tangan berotot Danan yang kini memegang lengannya yang berkulit kuning.


Sejenak pandangan mereka bertemu.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


" Aku ikut!" tukas Danan memungkasi pandang- memandang mereka, sebelum ia terhipnotis oleh bibir ranum Shinta.


Matahari sudah mulai meninggi, bersamaan dengan sengatnya yang kian terasa menusuk kulit. Danan siang itu mengenakan pakaian santai. Celana jeans dan kemeja denim yang ia gulung sebatas siku, sementara Shinta mengenakan baju casual.


Danan menelan ludahnya saat melihat gundukan dengan batu nisan yang tertancap di ujung-ujung gundukan itu, terbentang luas sejauh mata memandang.


Pemakaman itu rapi dan bersih. Danan mengekori Shinta dari belakang lantaran ia memang belum tahu dimana letak pusara Rangga.


...Rangga Dirgantara...


...Bin Ali Ruchi...


Jakun Danan terlihat naik turun kembali saat melihat tulisan yang terpahat di batu nisan putih itu.


Danan masih berdiri saat Shinta berjongkok dan mengelus batu nisan bertuliskan nama mendiang suaminya itu.


" Pagi mas!" ucap Shinta seraya mengusap batu nisan suaminya.


Mereka berdua hening, hanya sapuan angin yang berhembus menerpa wajah mereka yang bisa mereka rasakan.


" Aku baru dari rumah Papa..." Shinta menahan sesak di dadanya.


" Kamu tahu mas, mama kemaren gak marah-marah sama aku untuk pertama kalinya. Aku bahkan kangen di marahin sama mama!" Shinta tersenyum kecut seraya mengusap buliran bening yang jatuh tanpa seijinnya.


Teringat akan pandangan kosong mertuanya yang tengah mengalami gangguan kejiwaan usai menekan takdir Kematian putranya.


" Mereka bilang, mereka bakal pindah ke tempat mbak Dian" Shinta tersenyum menggigit bibirnya.


Danan dengan hati sesak menatap Shinta sambil berdiri. Sungguh, ia amat sedih saat itu. Shinta menangis dan membiarkan luapan emosi di dadanya keluar. Ia ingin menumpahkan segala rasa kesal, marah, sedih, rindu, sayang ,kepada suaminya yang sudah tertutup liang lahat itu.


Sejenak Danan teringat dengan ucapan Abimanyu.


Saran gue elu musti sabar. Dan elu juga harus rela berbagi tempat, berbagi sesuatu lah pokoknya, sama seseorang yang jasadnya sudah gak ada di dunia ini!


Danan kini mensejajarkan diri dengan Shinta. Pria itu menguap punggung Shinta yang bergetar karena tangis.


" Aku ikhlas dengan semua yang udah terjadi mas. Doakan aku dari sana biar kuat ngejalanin hari" dengan suara serak khas orang menangis, Shinta terus meluapkan buncahan rasa yang menyesakkan dada.


" Tenang di sana mas.......aku sudah memaafkan kamu!" Shinta menangis hebat saat mengatakan hal itu. Punggung wanita itu bergetar.


Membuat Danan tak tahan lagi, pria itu merangkul Shinta yang menangis. Tanpa sengaja ia mencium puncak kepala Shinta. Hati Danan sesak, ia memang harus bersabar. Mengingat bahkan pusara Rangga yang ada di depan matanya belum mengering.


Namun ia lega, jalannya menuju kedepan sudah lebih terang. Tidak se samar dulu, apalagi kini Shinta juga sudah tidak jutek kepadanya.


Ia percaya, bahwa semua orang memiliki waktunya masing-masing. Termasuk dirinya.


.


.


.


.


.


.


Team Shinta sama Danan be patient ya. Maklum, janda di tinggal mati itu emang lebih sulit ya akak ku sekalian.

__ADS_1


__ADS_2