The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 87. Siapa Sebenarnya Pak Joko


__ADS_3

Bab 87.Siapa Sebenarnya Pak Joko


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Kembali!, berputar arah. Pulang padaku!. Kembalilah, ada aku yang bisa memelukmu. Apa yang kau cari, wanitaku apa yang kau cari?"


( Diambil dari lirik lagu Noah~ Wanitaku)


.


.


Abimanyu sudah berada di depan rumah Wisang, ia ingin menantang adrenalin sekali lagi sebelum Dhira memang rela melepaskannya. Ia tak ingin menjadi pecundang hanya dengan meratap. Persetan dengan hasilnya nanti.


"Pastikan amunisi kesabaranmu lebih Bim. Aku merasa kalah sebelum berperang!" Wisang sebenarnya enggan untuk ikut dengan Abimanyu, ia merasa sahabatnya itu hanya mencari gara- gara saja jika kembali menemui Andhira, yang sudah naik status menjadi tunangan orang. Hanya menambah masalah pikirnya.


"Aku hanya memintamu menjadi penyaksi, dan tolong tahan aku jika otakku sudah mulai tak waras!" kelakar Abimanyu. Tentu saja, ia akan lebih bisa menahan dirinya.


"Entahlah, aku merasa dunia akan kiamat!" Wisang berucap seraya memasang sabuk pengamannya. Ia tengah duduk di bangku kemudi. Membayangkan jika sahabatnya itu, pasti akan melakukan hal-hal diluar nalar nanti.


Danan sedang bertolak ke luar negri untuk menjalani pengobatan. Ia mengalami sakit yang lumayan serius di bagian organ dalamnya. Di sinyalir, karena terlalu banyak mengkonsumsi alkohol.


"Si anjing gimana?" tanya Abimanyu yang menggulir ponselnya.


"Udah take off subuh tadi, aku ga bisa ngantar. Gaweanku juga banyak!"


Mereka bertiga sama- sama tak konsisten. Kadang elo gue, kadang kamu aku. Entahlah, yang jelas mereka adalah penyandang gelar soulmate, my best partner ever!


.


.


Andhira


Pagi hari Dhira merasakan ia seperti sakit," apa karena menstruasi ya" ia bergumam seraya merenggangkan kedua tangannya, melipat leher ke kanan dan ke kiri. Meraba tengkuknya. Ia merasa meriang pagi itu.


Ia merasa pandangannya berkunang-kunang, padahal ia sudah sarapan terlalu pagi saat itu. Rasa lapar yang tak tertahankan. Namun seluruh badannya terasa tak enak.


Dan hari itu, ia sudah berjanji kepada Arya untuk keluar. Entah apa yang ingin dia cari lagi, ia sungguh merasa tidak excited. Justru Arya lah, yang selalu bersemangat mengurus ini itu.


Bu Kartika pagi itu juga terlihat datang ke Ruko, ia bersama Bastian. Sementara Raka terlihat masih disana. Ia tidak ke rumah Kakungnya karena mereka sekeluarga, bersama bibi Tiwi dan Dea akan bertandang ke rumah papanya.

__ADS_1


Rencananya, ia akan kerumah papanya sore nanti. Sekalian memenuhi janjinya kepada Dea, untuk ke mall.


"Mama jadi pergi?" tanya Raka.


"Iya nak, nanti agak siangan!"


"Raka jadi ke tempat papa?" Dhira bertanya.


Raka mengangguk," sore nanti ma. Papa jemput kesini nanti!"


Minggu ini Dapur Isun tutup, Sekar terlihat membersihkan Ruko itu. Ia kini lebih sering menginap disana, lantaran baru putus dengan pacarnya. Dhira tak keberatan, lagipula Sekar adalah gadis yang baik. Ia justru lebih tenang karena memiliki teman di sana.


"Dhir, nanti malam kita makan disini aja ya. Arya biar gak usah ke rumah ibuk. Kasihan jauh" Bu Kartika yang baru datang itu, langsung masuk ke dalam.


Dhira menghela nafas, ibunya semangat sekali bila Arya yang datang. " Sekar, nanti beresin sisa tepung yang kemaren ya. Terus kamu jangan lupa bersihkan showcase water yang di depan?" ucap Dhira, seraya hendak berjalan menuju tangga.


"Sekalian beresin tempat ini, nanti kita biar makan sama- sama ya!"


"Baik Bu!" bagi Sekar, melihat Dhira mau memintanya ini itu malah membuat dirinya senang, ia merasa digunakan di tempat itu. Apalagi, Dhira selama ini memang terlampau baik kepadanya.


Dhira memutuskan untuk mandi, dan saat mengecek pembalutnya ia keheranan. Mengapa benda putih itu bersih. Ia terakhir mengganti pembalutnya saat hendak tidur, darahnya memang tak terlalu banyak.


Dhira tertegun, mengapa haidnya tidak lancar?


Ia memutuskan untuk melanjutkan mandinya. usai ritual mandi , ia bergegas menuju lantai dasar. Ia terkejut, begitu melihat mantan suami juga mantan mertuanya berada di sana.


"Kenapa perasaanku tiba-tiba enggak enak!" Dhira bergumam, seraya berjalan menghampiri ibunya. Yang nampak turut mematung melihat mantan suami, dan mantan besan yang sama sekali belum pernah dia ketahui. Pikir Dhira.


.


.


Indra


Pasca Raka memperlihatkan foto acara mantan istrinya yang tengah dilamar oleh seorang pria tempo hari, ia memutuskan untuk mendatangi Abimanyu. Meski itu konyol, dan cenderung melawan hatinya. Tapi baginya saat ini, Raka adalah prioritasnya. Ia sudah sempat gagal menjadi figur ayah yang baik, sekaligus menjadi suami yang tak becus dalam memimpin rumah tangga.


Ia berbicara man to man kepada Abimanyu. Kesedihan di mata Raka seolah menjadi bahan bakar bagi Indra, untuk sekedar meminta Abimanyu untuk tak menyerah. Estafet kerumitan ini, adalah buah dari keegoisan mantan mertuanya.


Siapapun berhak bahagia bukan. Ia juga penasaran akan raut keterkejutan yang di tunjukkan oleh ayahnya. Pak Joko. Sewaktu mengetahui wajah ibunya Andhira.


"Apa yang di rahasiakan ayah!" gumamnya dalam hati.


Namun kebungkaman pak Joko saat ia bertanya, membuat dia mengurungkan niatnya mencari tahu.


Dan puncaknya adalah hari ini. Ayahnya memintanya untuk datang ke tempat mantan menantunya itu, ayahnya berdalih jika ada sesuatu yang musti ia selesaikan. Dengan perasaan di penuhi tanda tanya, Indra memacu kendaraannya menuju Dapur Isun.


.

__ADS_1


.


Pak Joko


Ia tak mengira bila sebagian alasannya di berikan panjang umur, adalah juga untuk menyelesaikan kepingan masa lalu yang membuat masa depannya saat ini, turut terkena getahnya.


Ia masih bungkam, diam seribu bahasa. Agak tidak relevan memang, mengunjungi mantan menantu dengan dalih ingin menemui sang cucu.


Sesalnya juga, tak menyelesaikan hal ini sedari dahulu. Dengan mengucap keyakinan dan di sertai doa, ia berharap belum terlambat untuk mengurai benang kusut itu.


Sampai Indra membelokkan mobilnya, ke sebuah Ruko yang terlihat tutup. Ia berdoa dalam hati.


"Dhira tinggal disini yah. Raka di dalam!" ucap Indra seraya menarik tuas handbreak. Sejurus kemudian ia membuka seat belt, lalu turun dari mobilnya.


.


.


Bu Kartika


Ia tengah membatu Dhira untuk menyapu ruang tamunya. Sebesar apapun anak, tetaplah seorang bocah bagi ibunya. Namun, kegiatannya terhenti tatkala ia melihat mobil yang masuk ke halaman parkir ruko anaknya itu.


Tubuhnya mendadak tercekat, lututnya gemetar, badannya lemas. Melihat dua orang yang datang ke arahnya. Sapu itupun bahkan terjatuh, membuat Bastian mengetikan kegiatannya , yang tengah asik menggulir ponselnya.


Ia bukan terkejut karena melihat Indra. Tapi melihat pria berwajah tak muda, yang berjalan beriringan di samping mantan menantunya itu.


Mata Bu Kartika memanas. Ia berdiri mematung di ruangan tamu kecil, yang berada di samping ruko. Berdiri tepat di depan pintu kaca.


"Buk!" sapa Dhira menepuk pundak ibunya.


Bu Kartika menoleh, ia sempat melihat keterkejutan dari wajah anaknya yang memandang dirinya tengah bersimbah air mata.


" Halo Kartika, apa kabar. Tak ku sangka setelah berpuluh- puluh tahun kau masih sama!" ucap Pak Joko, seraya menatap tajam Bu Kartika.


Indra, Andhira bahkan Bastian yang mulai bangkit dari sofa ruangan Dhira itu ,turut terperanjat.


Bukankah antara pak Joko dan Bu Kartika tidak pernah saling tahu. Lantas, apa maksud ucapan pak Joko barusan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2