
Bab 96. Jiwa Yang Terguncang
.
.
.
...ššš...
Sekian lama mendung masih di sini
Belum permisi tinggalkan pengap di dada
Kecewanya hatiku hilangkan relung hati
Hampir saja kumati, mati rasa padamu
Kembalikan lagi senyumku yang manis seperti dulu
Kurasa kini aku tertahan
Menahan luka yang amat dalam
Kembalikan lagi senyumku, aku tak betah begini
Semenjak hati dan jiwa luka
Kukehilangan senyum
( Melly Goeslaw ~ Kembalikan Senyumku)
.
.
Sore itu Dhira masih berada di ruang rawat. Adalah Sekar, wanita itu setia menunggui bosnya sejak Abimanyu beserta Wisang masih keluar untuk mengurus sesuatu. Sementara Rania telah meninggalkan rumah sakit. Ada Jodhi dan Oma yang musti ia temui.
Sementara Shinta, usai menilik keadaan Andhira, wanita itu berpamitan untuk pulang dulu. Lantaran ia masih punya suami yang wajib dia layani.
Raka terlihat terlelap di sofa ruangan itu. Bocah itu menolak untuk diajak pulang, ia lebih lega setelah melihat mamanya yang rupanya dalam keadaan baik-baik saja secara fisik. Meski banyak luka lebam disana-sini , yang menghiasi kulit bersih mamanya.
"Buk, makan dulu ya!" bujuk Sekar. Dhira sejak di jenguk Abimanyu tadi, masih tetap membisu. Tak bersemangat. Dan selalu menolak makan.
Pandangan wanita itu kosong, tak menyiratkan rona kehidupan. Sekar sudah hampir menyerah.
Di waktu yang bersamaan, pintu kamar itu terbuka. Arya dan Bu Hana rupanya masih belum pulang, terlihat dari pakaian yang mereka kenakan, masih sama dengan yang mereka gunakan sedari pagi.
"Bu!" sapa Sekar dengan mengangguk sungkan, bagaimanapun juga Bu Hana adalah orang tua yang wajib dihormati.
"Bu Dhira tidak mau bicara dan makan Bu. Saya sudah berusaha membujuk namun...." wajah Sekar muram.
Bu Hana tersenyum, ia mengerti yang dirasakan Sekar. " Kamu istirahat dulu. Biar saya coba"
__ADS_1
Sekar menurut, ia yang melihat Raka terlelap menjadi mantap untuk meninggalkan mereka sejenak. Lagipula, Sekar berfikir pasti ada yang akan mereka bicarakan.
"Saya permisi dulu Bu!" Sekar pamit dengan sopan.
Arya mengunci pintu kamar itu dari dalam, usai Sekar telah berhasil keluar. Dia ingin percakapan mereka tak ada yang menginterupsi.
Dhira masih terbaring dengan matras yang agak di tinggikan, membuat posisi Dhira mirip orang bersandar. Pandangannya nyalang, nanar menatap tembok. Kosong tak terfokus.
.
.
Arya
Ada rasa nyeri di hati pria itu. Sesungguhnya ia sudah mulai mencintai Dhira. Meski Dhira tak pernah membalas perhatian yang sering ia berikan, namun ia memaklumi. Mereka bersama bukan karena heart to heart. Tapi karena birokrasi orang tua.
Dan hari itu, ucapan Bu Hana berhasil memporak-porandakan kekukuhan hatinya. Ilham dari surgawi agaknya sedikit tercurah , dan mengenai sanubarinya. Muncul rasa kerelaan disana.
Ia tak bisa membohongi diri sendiri, dia yang awalnya memaksakan diri untuk menjadikan Dhira pelarian, dari kandasnya cintanya akibat pengkhianatan mantan tunangannya itu, berangsur- asur memiliki perasaan yang lebih concern kepada janda satu anak itu.
Perasaan cinta.
Tapi kejadian pagi tadi, seolah menjadi titik baliknya. Ia tahu jika Dhira sudah melangkah terlalu jauh bersama Abimanyu. Hidupnya janin dalam rahim Dhira, menjadi bukti konkret bahwa mereka berdua saling mencintai. Adalah bull***** bagi Arya, jika seseorang melakukan hubungan itu, tanpa rasa cinta. Mengingat Dhira adalah wanita baik-baik , namun sayangnya memiliki nasib yang kurang baik.
Ia adalah pria dewasa yang sudah banyak menimbang persoalan. Ditilik dari kacamata manapun, memaksakan sesuatu hanya akan membuahkan hasil yang tak membahagiakan. Telak dan pasti. Perlahan semuanya akan runtuh, jika tak didasari dengan pondasi perasaan yang kuat. Perasaan yang mengikat satu sama lain.
Dan sore ini, jiwanya tertampar saat dia melihat Dhira yang kehilangan asanya. Wanita itu kini tak memiliki aura, tatapannya kosong, wajahnya pucat dan tersirat beban yang kian sarat.
Arya kasihan kepada Dhira.
Arya mengeraskan rahangnya, menahan sesak di hatinya. Wanita di hadapannya itu terluka terlalu dalam.
.
.
Bu Hana
Ia sudah menghabiskan separuh hari ini untuk berbicara dengan anak tunggalnya. Matanya seolah tercelik dengan kejadian hari ini. Ia adalah wanita yang selalu mengedepankan perasaannya. Dan itu adalah hal mutlak, yang memang selalu menjadi headline tiap diri wanita.
Selain wanita itu adalah makhluk kontradiktif, wanita adalah mahkluk yang lebih mengedepankan perasaannya ketimbang logika.
Mana dia tau, bila ternyata Dhira menutupi hal terselubung macam itu. Secara kasat mata, ia melihat Dhira adalah wanita yang patuh terhadap ibunya. Tak ada cela disana. Namun kenyataan pagi tadi, menjadikan cikal bakal untuk wanita tua itu, dalam memutuskan hubungan yang sudah terjalin. Dalam artian, akan membatalkan pernikahan.
Tidak ada jaminan bagi seseorang yang memaksakan kehendak. Dan dia cukup tahu diri untuk hal itu. Ia akan melepaskan Dhira.
.
.
Andhira
Ia tak tahu bagaimana cara menghadapi dunia setelah ini. Jiwanya hampa, kosong melompong. Selain kehilangan janinnya, kini ia merasa kehilangan kehidupannya.
__ADS_1
Apakah salah jika ia ingin bahagia?
Apakah salah dengan statusnya yang seorang janda. Ia tak menyesali bila dirinya sempat tergulung, oleh gelora hasrat saat bersama Abimanyu. Ia adalah wanita yang memang memerlukan sentuhan itu. Apalagi Abimanyu adalah pria dewasa yang sudah pasti mahir dalam hal bercinta, dan memuaskan kawan jenis. Ia hanya manusia tak suci, yang haus akan belaian tulus dari pria yang mau mencintai dirinya.
Dan itu adalah Abimanyu.
Ia pernah mencintai sepenuh hati, namun yang dia terima adalah pengkhianatan. Dan saat ia lekas membuka hati, ia malah merasa dirinya seperti seorang penggoda. Karena bercinta dengan orang, yang statusnya masih menjadi suami sah dari seorang wanita.
Rumit dan pelik.
Takdir melemparnya kembali kedalam kubangan rumitnya kehidupan. Di persimpangan pilihan, ia sempat ambigu. Lantaran kelamnya masa lalu, menorehkan rasa trauma untuk sekedar membangkang kepada ibunya. Ia sudah jera untuk menjadi durhaka. Dan dengan dalih itu, ia merelakan harinya dengan lebih menerima pria baru, dengan tajuk keterpaksaan.
Dia tak lebih dari seorang looser!. Untuk dirinya sendiri.
Kebahagiaannya sudah tak penting, ia merasa ikhlas dan pasrah bila hidupnya sampai mati akan terus seperti itu.
Yang paling penting, ia tak akan mendurhakai ibunya untuk kedua kalinya. Karena menurutnya, keledai saja tidak akan jatuh pada lubang yang sama.
Namun rupanya, ia lupa jika kebahagiaan itu adalah ia sendiri yang bisa menentukan.
Dan puncaknya, saat ia mengetahui bila dirinya di tenggeri oleh janin dari benih Abimanyu, ia merasa dia bukan dirinya. Ia merasa ada sisi lain dari dirinya yang bangkit.
Bingung, takut, sedih, senang, merasa hina, merasa berkhianat. Campur aduk, bergumul menjadi satu.
Ia hanyalah dia, wanita dengan segala ambigu yang mendominasi di persimpangan hidupnya. Wanita yang tak memiliki daya , untuk sekedar melawan demi kebahagiaannya.
Namun saat kenyataan pahit ia terima, bahwa sebuah hal yang masih menjadi bakal itu , telah kembali ke nirwana, ia lebih merasa bila dirinya telah menjadi manusia gagal seutuhnya.
Menurutnya, ia telah kehilangan segalanya. Cinta, kepercayaan, kasih sayang, restu, kehormatan dan hal lainnya. Hal yang me.buat dirinya, tak berani menatap dunia, dan tak lagi berani untuk mengejar matahari.
Apatis.
.
.
Raka
Dia berharap matanya bisa terpejam walau hanya sesaat. Ia ingin menenggelamkan dirinya dalam mimpi. Karena berada di kenyataan, agaknya kurang mampu ia lakukan saat ini.
Hatinya hancur, pikirannya luluh lantak. Ia melihat mamanya seperti bukan mamanya. Ia merasa, mamanya menjadi orang lain dengan hanya berdiam diri seperti itu.
Sedikit banyak ia tahu apa yang terjadi, meski tak detail. Ia hanyalah bocah karbitan yang di dewasakan oleh keadaan. Memaksa tangannya terkepal untuk kuat, menyemangati diri sendiri.
Tapi jujur, ia benci dirinya sendiri yang tak bisa berbuat banyak. Andai waktu itu ia tak melarang mamanya, mungkin luka hati mamanya tak sedalam ini. Ia belum paham soal cinta mencintai. Yang dia tahu adalah, mamanya selalu terlihat senang dan sumringah saat bersama pakde dari Jodhi itu.
Entahlah, semoga Tuhan mengembalikan senyum mamanya. Dia tak betah bila harus melihat mamanya menjadi orang lain, yang gemar membisu.
Dalam kebisuan mamanya tersirat rasa kekecewaan yang mendalam. Dan itu, membuat hatinya sakit. Karena merasa tidak berguna.
.
.
__ADS_1
.