
Bab 188. Kata- Kata Oma
.
.
.
...ššš...
" Seringkali yang membuat kita sulit untuk maju adalah, kebimbangan yang timbul dari diri sendiri"
.
.
" Pagi Bu?" sapa Devan penuh hormat kepada Dhira pagi itu. Ya, tepat di jam delapan pagi ini Devan sudah menjemput Abimanyu. Meski ia sudah meminta seseorangorang untuk men-Checkin kan boarding pass mereka di bandara, namun tetap Devan harus on time dalam menjemput Bos-nya itu.
" Pagi Pak Devan, sarapan dulu!" Dhira selalu saja menawari siapa saja yang datang kesana untuk sarapan.
" ***..."
" Kita berangkat sekarang saja, nanti macet kalau gak berangkat lebih dulu!" Abimanyu menyahut cepat, memuat Devan memutar bola matanya malas karena ucapannya menguar ke udara dengan percuma.
Devan padahal mau kalau diminta untuk sarapan, hanya saja bosnya itu selalu saja sentimen kepada dirinya.
Dhira tersenyum, suaminya itu cemburu dengan assistennya kah?
" Aku berangkat sayang. Kamu jaga diri, jaga anak anak, jangan ngelakuin yang berat-berat. Aku udah bilang Yuni tadi buat lebih kerja keras lagi ngeladenin kamu!" Abimanyu mengusap lembut pipi Dhira. Membuat hati wanita itu menghangat.
" Papa berangkat dulu ya sayang!" Abimanyu mencium perut Dhira lalu mengelusnya lembut.
Sejurus kemudian Abimanyu mencium bibir Dhira dan melu*matnya sebentar. Membuat Devan langsung memalingkan wajahnya karena malu.
Sialan si Bos, gak bisa apa kasih aba- aba kalau mau nyosor. Dia yang begitu aku yang belingsatan!
Devan menggerutu dalam hatinya, seraya menyibukkan diri meraih dua koper milih Abimanyu, lalu mengangkatnya untuk di masukan ke bagasi mobil, karena ia merasa malu sendiri melihat bos-nya itu mencium bibir Istrinya.
Lambaian tangan Dhira mengiringi langkah Abimanyu yang pergi dengan kiss bye yang alay dan lebay kepada istrinya itu. Membuat Devan terus memutar bola matanya lebih malas.
"Budak Cinta!"
Devan berucap seraya menarik tuas perseneling mobil yang ia kendarai.
" Apa kamu bilang Van?"
__ADS_1
...ššš...
" Kalau Dhira sendiri suruh nginap disini aja Ran. Oma dengar Bima mau ke BL hari ini?" Nyonya Regina nampak berbaring di ranjangnya usai meminum obat rutinnya.
" Nanti aku coba telpon, Oma jangan jalan sendiri. Panggil Bik Surti kalau mau kemana-mana. Jangan buat aku khawatir!" Rania mengecup kening neneknya itu penuh kasih.
Rania hari ini sengaja tidak ngantor. Wanita itu ingin seharian menemani neneknya yang nyaris saja jatuh karena hendak ke kamar mandi seorang diri. Niat hati ingin lebih mandiri, namun masih membuat orang lain repot. Itulah Nyonya Regina. Kesehatannya akhir-akhir ini kian menurun, seiring dengan usianya yang kian senja.
Rania tak memberitahu Abimanyu soal ini karena ia tahu kakaknya akan menghadiri acara di luar kota. Dan itu juga termasuk acara penting yang akan di ikuti oleh semua Direktur perusahaan yang bergelut di bidang yang sama.
" Kamu kapan menikah seperti kakakmu?" Nyonya Regina nampak menatap cucu perempuannya itu tak lekang.
" Aku belum mikir itu Oma. Emmm Oma sudah tahu kalau aku..." Rania membetulkan tutup pil yang baru ia buka.
" Sama adiknya Dhira?" tanya wanita dengan uban yang kentara itu.
Rania mengangguk seraya mengigit bibirnya.
" Sebenarnya Oma lebih senang kalau kamu sama orang lain. Tapi kalau kamu ngerasa cocok yang gak masalah, Oma setuju. Toh kalian juga ipar sama ipar!"
" Gak ada soal untuk itu!"
" Yang menjalani juga kamu dengan dia!"
Ucapan wanita itu membuat Rania tertegun. Ia sebenarnya merasa ingin cepat menikah, tapi ia sudah berjanji kepada Bastian untuk mau menunggu pria itu membangun kerajaan bisnisnya.
Rania menghela napas. Mungkin Omanya itu memang harusnya sudah tahu apa yang ia pendam.
" Aku jujur sayang banget sama Bastian Oma, hubungan kami belakangan ini makin baik. Hanya saja kami jarang bertemu!"
Nyonya Regina masih tekun mendengar ucapan cucunya.
Rania menceritakan semua yang ia pendam, tentang Bastian yang masih fokus mengejar dan mewujudkan mimpi untuk membuka usahanya lebih besar. Pria itu ingin memantaskan diri terlebih dahulu.
" Oma cuma khawatir, entah kamu atau dia nanti banyak godaan Ran. Adiknya Dhira itu ganteng juga masih bujang. Sementara kamu..."
Nyonya Regina sengaja menggantung ucapannya yang menyinggung soal status Rania yang menjadi orang tua tunggal.
" Tapi ya memang aku akui, dia laki-laki yang bertanggung jawab kalau mendengar cerita kamu tadi. Dia gak mau kelihatan lemah di depan wanita!"
Entah mengapa ucapan wanita tua di depan Rania itu membuat hati Rania goyah. Semua perkataan Oma-nya benar. Bastian adalah perjaka tampan dan banyak di sukai kaum wanita. Sementara dirinya....
Tapi ciuman mereka beberapa waktu yang lalu bukankah sudah cukup untuk mejadi satu bukti bahwa mereka satu sama lain memang menginginkan?
Hanya saja, waktu yang memang belum mau berpihak kepada mereka.
__ADS_1
...ššš...
" Apa seumur hidupmu akan membuatku kesal seperti ini Van?" Abimanyu mendengus begitu ia mengingat soal Nanang.
" Apanya Pak?" Devan memang pandai bersilat lidah.
" Kamu bilang 'Pak' Nanang akan menjadi supir baru anakku, nyatanya yang datang malah bocah ingusan!" Abimanyu mendengus untuk kesekian kalinya.
Devan terkekeh "Saya hanya ikut- ikutan istri anda Pak Istri anda bilang kita wajib menyebut nama orang dengan sebutan 'Pak' atau 'Bu' di lingkungan resmi. Makanya Bu Dhira juga manggil saya kayak gitu. Saya salut dan kagum banget sama Bu Dhi..."
" Diam kamu Van!!! enak aja kamu main muji- muji istriku di depanku!"
Devan yang masih sibuk dengan kemudinya memutar bola matanya malas. Apa maunya Bos-nya itu, sungguh tidak jelas.
" Tapi Nanang itu bahkan pantasnya jadi kakaknya Raka Van!"
" Bukankah itu lebih baik Pak. Saya tahu anak bapak itu tak banyak bicara, akan sangat tidak relevan apabila saya mencarikan yang udah peot. Nanang itu yatim piatu, dia habis kena PHK karena wabah coronce tahun lalu Pak. Dia nganggur, sayang SIM-nya kan!"
" Saya jamin, dia akan bertanggung jawab dengan tugasnya!" Devan berbicara mantap di akhir kalimatnya.
"Istri saya itu gampang gak tegaan ke orang. Pasti si Nanang setelah ini jadi biji mata istri saya tuh...!" tukas Abimanyu masih dari jok belakang.
" Orang seperti anda memang harus punya istri seperti Bu Dhira Pak. Yang kalem, lembut dan yang paling penting kalau masak enak!" Devan terkekeh.
Abimanyu manggut-manggut, namun sejurus kemudian..
" Kamu bilang apa? orang seperti aku?"
Devan mendelik, ia lupa bila Bos-nya itu tidak mau tersentil sedikit saja harga dirinya.
" Maksud saya, segala sesuatu harus imbang Pak. Ada minus ada plus, ada siang ada malam, ada kasar ada lembut!" Devan sudah siap dengan serangan dari Abimanyu saat dia selesai berkata- kata.
" Diam kamu Van!" Abimanyu.
" Diam kamu Van!" Devan.
Abimanyu dan Devan berbicara bersamaan. Suasana senyap beberapa saat.
Krik...Krik...Krik...
Sejurus kemudian Devan tergelak karena sudah hapal dengan kesebalan bos-nya itu kepadanya, sementara Abimanyu terlihat menjitak kepala Devan dengan keras dari belakang.
"Aduh!"
.
__ADS_1
.
.