The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 64. Kamu atau Aku yang Maju?


__ADS_3

Bab 64. Kamu atau Aku yang Maju


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Besi menajamkan besi, Manusia menajamkan sesamanya!"


Malam hari Calista demam. Dan Abimanyu malam itu masih belum juga kembali. Gwen merasa dadanya sesak. Ia memandang wajah teduh anaknya yang tertidur mengenakan fever di keningnya.


Ia melirik jam di nakas kamar anaknya itu, 23.21 WIB. Terlampau malam, namun Abimanyu belum juga kembali. Ia mencoba menghubungi Abimanyu.


Namun sia-sia. Ponsel Abimanyu sedang dalam keadaan tidak aktif. Ia tak tidur malam itu, Calista muntah-muntah, dan demamnya makin tinggi. Malam itu juga ia berniat memanggil Bagus.


Rania yang sudah tertidur itu, terbangun lantaran mendengar suara tangisan di malam hari. " Mbak ada apa?" Rania menang satu-satunya keluarga yang masih bersikap baik kepada Gwen.


"Calista demam, Abimanyu belum pulang!" Gwen menangis bingung. Rania bukan tidak tau jika kalanya itu memang sudah kehilangan rasa kepada wanita di depannya ini. Tapi, dia bisa apa.


"Aku mau cari Bagus!" ucap Gwen.


"Biar aku aja!" sahut Rania.


"Gos, Bagos!" Rania menuju kamar belakang khusus para pelayan, dalam dua kali panggil saja Bagus sudah muncul.


"Nggeh Mbak!" pria itu nampaknya sedang bertelepon ria dengan seseorang, Rania sempat berfikir dengan siapa diwaktu selarut ini pria itu berbicara.


"Kamu lagi nelpon?" Rania bertanya di depan kamar Bagus.


Pria itu nyengir, " Sekarang sudah enggak mbak!" Rania menggelengkan kepalanya, pasti mereka sedang berpacaran by phone, tapi apa yang diobrolkan dua anak manusia itu di waktu tengah malam begini. Cinta memang membuat siapa saja bisa lupa. Bahkan gila.


"Maaf saya ganggu kamu, kamu ke rumah sakit sekarang ya!"


Bagus terperanjat ," Nyonya besar kenapa Mbak?" Rania adalah tipe orang ramah, sehingga Bagus memanggilnya dengan sebutan Mbak.


"Bukan Oma, kamu antar Calista. Dia sakit!"


Sesuai perintah, bagus malam itu juga melesat menuju Rumah Sakit. Dalam perjalanan, Gwen hanya diam. Sesekali menyeka air matanya, hati kecilnya menangis, ia hanya ingin anaknya itu mendapat pengakuan. Ingatannya kembali saat suaminya tengah berada di ruko Dhira, sejumput rasa dendam hadir disana.


Gwen turut mengiringi anaknya yang di geledek di atas brankar sesaat setelah keluar dari ruang tindakan, mereka harus bermalam di RS. Rencananya besok Calista akan menjalani serangkaian pemeriksaan, guna mengetahui penyakit apa yang di derita bocah perempuan itu.


Gwen meminta fasilitas terbaik di RS itu, dengan menggunakan nama besar keluarga Aryasatya. Tentu ia tidak mau menyia-nyiakan hal itu.


...šŸšŸšŸ...


Abimanyu memang tak pulang, ia membutuhkan waktu sendirian saat ini. Ia tengah berada di apartemen pribadi miliknya. Hatinya cemas sedari tadi, lantaran puluhan pesan tak juga mendapat balasan dari Dhira. Tapi dia masih gencar mengirimkan, ia yakin nanti pesan itu akan dibaca oleh wanita yang menjadi pujaannya itu.

__ADS_1


Apa kamu sudah tidur?


Dhir, apa saat ini kamu baik - baik saja


Saya minta maaf, harusnya ini tidak terjadi. Semua salah saya.


Saya ingin bertemu kamu besok, bisa?


Hingga dini hari matanya tak bisa terpejam, menanti pesannya dibalas atau paling tidak dibaca. Karena dua tanda centang itu, nampaknya masih belum berubah warna menjadi biru.


Abimanyu frustasi, dan belum juga stres di kepalanya hilang Rania menelpon. Ya, Rania menghubungi Abimanyu di nomer khusus yang hanya dipakai kakaknya, untuk orang-orang tertentu saja.


"Ya Ran!" Abimanyu memijat keningnya.


Kakak dimana, kok gak pulang?


"Aku tidak pulang malam ini, ada apa menelpon malam- malam begini?"


Calista di bawa ke rumah sakit, tadi mbak Gwen nelpon kamu. Tapi gak bisa kayaknya. Apa dia belum tahu nomer kamu yang ini?


Abimanyu terdiam, mendengar Calista sakit entah mengapa ia terenyuh." Jangan berikan nomer ini pada siapapun tanpa seijinku!"


Iya- iya. Ya udah, aku cuma mau kasih tau itu. Kalau ada masalah hadapi kak, menghindar bukan malah membuat masalah selesai, tapi malah menjadi beranak pinak!


Sebenarnya ucapan adiknya itu ada benarnya, jalan satu-satunya menyelesaikan masalah adalah dengan menghadapinya. Tapi, jujur jika dia langsung pulang dan bertengkar dengan Gwen ia tidak tahu apa dia masih bisa berpikir waras saat itu.


.


.


Pagi itu Abimanyu masih merasa pusing, lantaran ia baru bisa memejamkan matanya pukul 4 dinihari. Dan jam 6 ini, ia sudah rapi dengan celana chinos krem juga kemeja warna hijau botol. Membuat tampilannya segar, meski otaknya masih kusut.


Ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Tak membutuhkan waktu lama sesaat setelah sampai, ia langsung menuju ruangan Calista. Ruangan khusus perawatan anak kelas terbaik.


Ia membuka pintu kaca itu pelan, nampak Gwen yang duduk dengan mata sembab. Gwen menubruk tubuh Abimanyu dengan pelukan. Tapi, pria itu tak membalas.


"Dari mana aja kamu mas, semalam aku telpon gak bisa!"


"Apa yang terjadi?" Abimanyu melepaskan pelukan Gwen pelan, tak berniat menjawab pertanyaan istrinya.


"Aku tidak tahu, Calista selama aku di tempat lamaku sudah sering sakit dan muntah begini."


"Calista memang bertubuh lemah sejak bayi!" Gwen menangis tersedu sedan.


Abimanyu menarik nafasnya, bocah itu terlihat pucat. Ada rasa nyeri melihat tangan mungil itu kini tertancap sebuah jarum yang terhubung dengan selang infus pada ampul.


"Mas!"


Abimanyu menatap Gwen dengan rasa hambar. Benar-benar tidak ada yang tersisa untuk wanita di depannya itu, selain rasa iba pada Calista.

__ADS_1


" Kenapa kamu menemui wanita itu?" Gwen kembali menangis.


"Oh ayolah Gwen, ini rumah sakit. Aku tidak sedang ingin membahas hal itu!" Abimanyu nampak mengeraskan rahangnya.


"Kamu selama aku pergi pasti sudah di rayu oleh janda gatel itu kan?" Gwen tersenyum penuh ironi.


Abimanyu mengusap wajahnya kasar, bisa-bisanya Gwen membahas masalah mereka ketika bocah itu masih terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.


"Gwen, aku selama ini diam karena aku masih berpikir. Berusaha berdamai dengan diriku sendiri setelah dengan enaknya kamu pergi!"


"Kamu pergi bukan setahun dua tahun, dan kamu pulang bawa dia!" tunjuk Abimanyu kepada Calista yang terlelap.


"Aku bukan pria bodoh Gwen!" Abimanyu berusaha menahan dirinya.


"Jadi kamu meragukan aku?, aku susah payah disana merawat Calista sendiri. Kamu malah enak- enakan disini!" Gwen lekas tersulut emosi.


Abimanyu menggeleng frustasi, ia benar-benar menahan emosinya. " Kalau begini terus, kamu atau aku yang melangkah duluan?"


Gwen terdiam, sejenak memandang Abimanyu yang berwajah merah menahan emosi. " Apa maksud kamu?"


"Kamu atau aku yang melangkah dulu buat ajuin gugatan?"


Gwen mendelik, tak mengira Abimanyu akan berkata hal itu.


"Kamu gila mas!"


"Ya aku gila, aku gila kenapa tidak dari dulu menceraikan kamu!"


Gwen merasa dirinya terbakar, ia hanyalah seorang wanita. Ucapan talak hanya bisa dijatuhkan oleh pria.


"Oke kalau kamu gak mau maju, biar aku yang maju!" Abimanyu keluar ruangan itu dengan dada bergemuruh.


"Mas!!"


"Mas!!"


"Arrrrggghhh!" Gwen frustasi, ia hanya bisa duduk seraya menangis terisak. Sakit sekali rupanya, begitu buruk Abimanyu memperlakukan dia saat ini. Tapi bukankah dia harus berfikir bila ada sebab pasti ada akibat.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2