The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 116. Challenge For Me


__ADS_3

Bab 116. Challenge For Me


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Jika hidup melemparku pada mesin waktu untuk kembali ke masa lalu, maka aku ingin perbaiki semua jejak hitam yang ada. Aku mengetahui setelah aku dewasa, bahwa menjadi baik itu bukan perkara soal bisa memberi dalam kelebihan!"


.


.


Sekar yang di labrak terang-terangan oleh wanita tua nan cantik tadi ,seketika merasa bersedih. Mengapa keadaannya yang miskin seolah mempersulit dirinya. Ia bukan wanita seperti yang di sangkakan.


Ia bukanlah wanita yang berpangku tangan saat kesulitan menderanya. Harga dirinya terkoyak saat ibu dari pria yang kerap mencuri ciuman di bibirnya itu, menorehkan luka karena lisannya yang pedas.


Andai wanita tua itu tahu jalan berat yang ia lalui seorang diri tanpa orang tua, andai wanita itu tahu sulitnya mencari buliran nasi untuk kelangsungan hidupnya. Ia bukan pelacur yang menggoda anaknya. Tapi...ah entahlah, ia sudah terlalu lelah untuk sekedar mendebat.


Di saat yang bersamaan ponselnya bergetar, ada nama seorang pria yang menjadi penyebab dirinya kena damprat.


Sekar dengan menitikan air mata me-reject panggilan Wisang. Sejurus kemudian ia memilih memblokir nomer itu. Hatinya sakit di katai seperti itu.


Oke kalau dia miskin, dia juga buka wanita ganjen yang menyodorkan diri untuk mau berkenalan dengan pria manapun. Ia cukup tahu diri untuk itu.


Wisang yang hinggap kepadanya, dan di saat ia mulai terbuai akan sikap baik Wisang, mengapa persolan justru datang menghadang?


Sembari mengusap air matanya, Sekar naik ke atas. Ia ingin menyibukkan dirinya dengan pekerja rumah saja. Memang tak ada yang mudah untuk orang miskin, seperti dirinya.


...šŸšŸšŸ...


Keesokan harinya, Abimanyu bersama Dhira datang ke pemakaman bapaknya. Sesuai janjinya kepada mendiang bapaknya, ia akan membawa serta Abimanyu


Pernikahan akan di langsungkan tiga hari mendatang. Tentu dengan segala persiapan yang dilakukan.


Abimanyu sudah meluangkan waktunya begitu mendengar permintaan Dhira untuk sowan ke makam sebelum mereka menikah. Dan itu membuat Abimanyu merasa sangat di hargai oleh Dhira, sekaligus merasa menjadi pria yang memang di butuhkan oleh Dhira.


"Pak, ini mas Abimanyu. Pria yang Dhira ceritakan kemaren waktu Dhira datang sama ibuk!" ucapan Dhira lagi-lagi tercekat. Mereka berdua duduk berjongkok di tepi makam sore itu. Terpaan angin sore itu membuat kerudung pasmina yang di kenakan Dhira berkibar.

__ADS_1


"Dia pria baik pak, lihat dia sekarang datang ke makam bapak. Semoga ini menjadi pernikahan terakhir buat Dhira pak." Dhira menyusut sudut matanya.


Abimanyu turut terharu mendengar ucapan calon istrinya itu. Hidup calon istrinya itu , selama ini memang benar-benar berat pikirnya.


"Assalamualaikum pak, saya Abimanyu!" kini pria itu bergantian mengambil alih laju acara sowan mereka. Ia menggenggam tangan Dhira. seolah menunjukkan itu adalah miliknya saat ini dan selamanya.


"Saya di pertemukan dengan putri bapak secara tak sengaja. Mungkin sudah takdir Tuhan. Saya minta restu dan doa bapak dari sana. Restui dan iringi niat baik kami dalam membangun rumah tangga tangga dari tempat yang jauh di sana"


"Saya sangat mencintai putri bapak. Ijinkan saya mengambil alih peran untuk menjaga dan membahagiakan Dhira !"


.


.


"Dhir, kamu mas kawinnya minta apa?" Abimanyu kini sudah memasang sabuk pengamannya. Hendak menuju rumah Bu Kartika.


Mereka berangkat dari ruko tadi, dan berniat akan singgah di rumah Bu Kartika.


"Saya yakin mas mampu memberikan apapun untuk saya, tapi saya tidak mau terlalu berlebih-lebihan mas"


" Nikah yang paling besar berkahnya yaitu yang paling ringan maharnya." (HR. Ahmad).


Mereka akan melaksanakan ijab kabul di rumah Bu Kartika. Sesuai keinginan Dhira, mereka ingin menikah dalam kesederhanaan. Dhira berdalih usia mereka bukanlah usia yang terlalu mementingkan selebrasi. Dan Abimanyu mengalah untuk hal itu. Masih banyak kesempatan membahagiakan istrinya kelak dengan banyaknya harta yang ia miliki.


Namun mereka tetap akan menggelar resepsi khusus untuk para keluarga, dan sahabat dekat di hotel milik Danan. Abimanyu berdalih jika itu hadiah dari Danan, membuat Dhira mau menerimanya. Lagi-lagi dengan catatan, tidak perlu banyak undangan. Just for family.


...šŸšŸšŸ...


Wisang terkejut bukan main saat ia mendapat kedua orang tuanya tengah berada di rumahnya malam itu. Ya, Wisang baru pulang dari bekerja malam itu. Terblokir nomer yang di lakukan oleh Sekar kemaren ,rupanya nampak membuat moodnya berantakan.


Ia belum sempat menemui Sekar karena ia sibuk di kantornya.


"Papa sama Mama kapan datang. Kok gak kasih kabar?" Wisang mencium kedua orang tuanya.


"Kalau mama kasih kabar mama gak akan tahu kelakuan kamu disini!" sahut Nyonya Lisa.


Wisang melonggarkan dasinya usai melempar tubuhnya ke sofa. Mereka tengah berada di ruang keluarga malam itu. Tuan Wikarna sebenarnya adalah orang yang santai, tidak se saklek istrinya dalam hal apapun. Pun juga dengan siapa calon istri dari anaknya.


"Mama gak suka kamu kelayapan gak jelas sama perempuan- perempuan gak jelas!" Nyonya Lisa terlihat kesal malam itu.


"Lihat kamu, kamu harusnya udah punya banyak anak Wis!" dengan wajah kesal dia memarahi anaknya yang berwajah biasa saja.

__ADS_1


"Mama kemarin udah peringatkan wanita gak jelas itu, yang tempo hari kamu ajak makan. Kamu ini bener- bener!" kesal Nyonya Lisa.


Wisang yang mendengar ucapan mamanya langsung mendongak, apa yang di maksud mamanya itu adalah Sekar?


"Siapa yang mama maksud? Sekar?" Wisang menautkan alisnya. Tuan Wikarna masih sibuk dengan bukunya.


"Saya tidak tahu dan tidak mau tahu siapa namanya. Yang jelas, saya sudah peringatan dia buat gak dekat sama kamu. Besok Mira mau kesini, kamu temui dia. Kamu ini di kasih waktu benar-benar gak becus Wis. Mama gak mau tahu, kamu...."


"Aku pergi dulu!" Wisang melempar jasnya ke sofa.


Wisang yang mendengar mamanya mengakui jika wanita yang melahirkannya itu telah mendatangi Sekar kemaren seketika membuat Wisang panik. Tanpa mau mendengarkan khotbah mamanya lebih lama lagi, ia melesat pergi. Ia harus menjelaskan saat itu juga pikirnya.


Ia tak bisa membayangkan kata- kata apa saja yang sudah dilontarkan mamanya itu, terhadap gadis lugu yang mencuri hatinya beberapa waktu terakhir itu.


"Wisang..Wis!!!" Nyonya Lisa berteriak frustasi, ia kesal karena Wisang keburu pergi saat dia belum menyelesaikan ucapannya.


" Dasar anak itu, menyesal aku selama ini membiarkannya seorang diri!!"


"Semua ini gara-gara papa. Selalu nurut saja sama anak!"


Tuan Wikarna yang sibuk membaca sebuah buku hanya menanggapi santai.


"Itu anakmu, dia sama kok sama mama. Kalau udah pingin sesuatu, musti di dapat!"


"Kok ngomelnya ke papa!" jawab Tuan Wikarna santai.


"Kan mama sendiri yang setuju Wisang tinggal pisah sama kita, sekarang mama nyalahin papa!"


"Papa ini!!!" nyonya Lisa geram sekaligus kesal.


"Wisang itu udah tua ma, biar dia pilih yang dia mau. Yang menjalani dia lo ma!" tuan Wikarna menjawab masih dengan membalik selembar bab baru, dari buku yang ia baca. Dia cukup santai akan hak itu.


"Gak bisa begitu. Wanita itu gak jelas pa. Usianya beda jauh, jelas dia gak mungkin cinta sama Wisang. Cuma mau karena Wisang berduit aja!" sangkal nyonya Lisa.


Tuan Wikarna hanya menggelengkan kepalanya seraya menghembuskan nafas. Istrinya itu memang keras kepala. Kenapa selalu cepat menyimpulkan segala sesuatu berdasarkan visual. Apa dia lupa dengan istilah Don't judge book based on cover? ( Jangan menilai buku dari sampulnya)


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2