The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 31. Apakah itu bentuk perhatian?


__ADS_3

Bab 31. Apakah itu bentuk perhatian?


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Masakan adalah bentuk Kasih Kudus"


Andhira


Tubuhnya mendadak tercekat, reaksi alami saat berhadapan dengan orang besar sekelas Abimanyu.


Namun ia lebih concern kepada Jodhi, bocah ingusan yang rupanya bandel.


Membiarkan sosok tampan yang turut duduk di samping bocah itu, turut tergabung dengan obrolan.


"Kenapa bolos nak?" wajah Dhira menyuguhkan raut sesalnya.


Karena berhadapan dengan pelajar, yang masih lengkap dengan seragam dan juga hari itu masih jam sekolah, namun keberadaan bocah itu di rukonya di jam yang tidak tepat, jelas bukan perkara biasa.


"Bosan!" ucapnya seraya menyeruput ice bubble tea, hasil racikan Shinta.


Dhira memberanikan diri menatap ke arah Abimanyu, dan pria itu hanya menggelengkan kepalanya seolah mewakili jawaban," aku juga tidak tahu".


"Aku numpang mandi dong Tan, sama mau ganti baju"


"Katanya mau makan ayam pecak" ucap Dhira.


"Gerah" ucap Jodhi menunjuk ke arah dirinya, yang masih berseragam lengkap.


"Ya sudah, kamu ke atas ya. Kamarnya Raka disana"


Jodhi segera melesat menuju tempat yang sudah di beritakan, sebelum dirinya akan melahap habis ayam pecak khas nenek Raka.


.


.


.


"Selamat atas usaha barunya" ucap Abimanyu menatap Dhira, yang terlihat tak nyaman.


"Terimakasih Tuan" jawabnya singkat, berniat ingin segera pergi.


Abimanyu tersenyum, namun Dhira justru terlihat begitu tak nyaman.


Entahlah, ia merasa trauma dengan laki laki.


Ia bukanlah wanita polos yang tak mengerti arti tatapan Abimanyu.


"Saya ke belakang dulu" ia segera berdiri, kemudian beranjak dari sana.


Namun belum sempat ia berdiri, ia di kagetkan dengan suara Shinta.


"Dhir, yang sekilo lagi ak...." ucapan Shinta menguap di udara, begitu melihat sahabatnya itu tengah duduk berbincang dengan seorang lelaki tampan, yang menggunakan pakaian formal.


"Sepertinya, ia orang gedongan" batin Shinta, yang memindai tampilan Abimanyu.


"Eh Shin, udah selesai" tanya Dhira, saat Shinta menghampirinya.


"Udah, mau tanya yang sekilo lagi, di buat sekarang apa nanti aja"

__ADS_1


"Nanti aja, simpan di kulkas aja dulu isiannya"


Shinta menatap ke arah Abimanyu.


"Kenalkan Shin, ini orang tua temannya Raka"


"Abimanyu"


"Shinta"


Mereka saling berjabat tangan.


šŸšŸšŸ


Sejak lidah Jodhi sering di manjakan dengan masakan mama Raka, entah mengapa ia begitu ingin lagi dan lagi makan masakan itu.


Namun ke alpaan Raka beberapa hari ini, karena pertandingan. Sedikit banyak membuat ia benar benar kehilangan moodnya.


Sepiring Ayam Pecak ,Pindang Koyong juga segelas jumbo es jeruk. Telah terhidang di meja putih di depan Jodhi.


"Tuan mau pesan apa?" kali ini Shinta yang bertanya, karena Dhira tengah sibuk menjawab panggilan teleponnya.


"Samain aja!" tukasnya.


"Samain?" Shinta menjadi bo doh dan tidak konsen, lantaran berhadapan dengan orang tampan dan kaya, rupanya bisa membuat orang grogi dan menjadikan dirinya bodoh.


Definisi dari pelayan amatir.


"Samain aja makannya, sama kaya anak saya"


Shinta sempat terdiam, yakin jika pria itu akan doyan dengan makanan yang akan memunculkan sensasi pedas luar biasa nantinya?


"Oh baik Tuan, mohon di tunggu" ucap Shinta, yang langsung membalikkan tubuhnya.


Andai Wisang dan Danan saat ini tahu, seorang Abimanyu Aryasatya, pemilik hotel and resto berbintang, pemilik perusahaan produksi manufaktur terbesar, tengah makan di kedai sederhana milik seorang janda, dan memesan makanan super pedas, jelas ia akan di maki habis- habisan.


Namun harus Abimanyu akui, makanan disitu memanglah lezat, ini benar benar pengalaman pertamanya makan makanan super pedas, namun ia justru ketagihan.



(credit foto from google)


"Ayah kepedesan?" tanya Jodhi yang melihat ayahnya menyusut hidungnya berkali-kali.


Dengan wajah merah, serta butiran keringat yang terpajang di dahinya.


"Iya Jo, tapi ini enak!"


"Enak banget"


Seporsi nasi hangat, beserta ayam dengan balutan sambel pecak yang super pedas, laksana setan. Telah licin dan tandas, meluncur sempurna kedalam perut Abimanyu.


"Sudah aku bilang, Tante Dhira itu punya sentuhan keajaiban".


Abimanyu mengernyit, bisa bisanya keponakannya itu berkelakar di sela sela dirinya, yang tengah di serang rasa kepedesan yang makin membakar lidahnya.


"Masak apapun enak"


"Coba om punya istri kayak Tante Dhira, kan aku gak usah susah susah datang kesini tiap hari"


"Uhuk uhuk uhuk" belum selesai penderitaannya karena kepedesan, kini ia harus tersedak karena ucapan Jodhi, yang seolah tanpa dosa itu.


Jodhi malah memutar bola matanya malas, ayahnya sangat tidak asik diajak ngobrol. Dasar orang tua!, begitu pikirnya.


Abimanyu segera menyambar segelas es milik Jodhi, ia bahkan lupa tak mengantisipasi efek domino dari makanan itu.

__ADS_1


Kepedesan.


Namun saat tangan kekarnya sudah berada di kuping gelas itu, ada suara yang menghentikan kegiatannya.


"Jangan itu tuan" ucap Dhira, yang terlihat setengah berteriak.


.


.


Rupanya Dhira tengah membuat segelas jumbo jeruk hangat, untuk Abimanyu.


Saat Shinta kembali ke pantry, ia yang baru selesai menjawab panggilan salah satu pelanggan, bertanya kepada sahabatnya itu.


"Jadi pesan apa?"


"Minta disamain sama anaknya"


Dhira mengernyit, ayam pecak adalah golongan makanan super pedas. Ia tahu bila laki laki kadang tidak terlalu tahan dengan makanan yang memiliki rasa terlalu pedas.


Ia berinisiatif untuk membuat segelas jeruk hangat, minuman hangat bisa meredakan rasa terbakar pada mulut saat mengkonsumsi makanan super pedas.


Al hasil, segelas es jeruk di tangan Shinta, gagal untuk melenggang ke meja Abimanyu.


"Silahkan" ucapnya memberikan segelas jeruk hangat, kepada Abimanyu.


Ia yang sudah kalang kabut karena merasakan rasa pedas laksana setan itu, segera menyambar gelas jumbo itu.


Meneguk minuman hangat itu, hingga licin dan tandas.


Dan, tara...


Berhasil, sejurus kemudian rasa pedas itu berkurang sangat signifikan.


"Terimakasih" ucapnya kepada Dhira, dengan suara kembang kempis.


"Jika makan pedas, jangan minum es!" Dhira tersenyum, demi melihat reaksi khas orang kepedasan yang di tampilkan Abimanyu.


"Minuman hangat bisa membantu meredakan rasa itu"


Tapi Abimanyu melirik anaknya, yang tengah asik menggerogoti tulang ayam, dengan balutan sambel super gila itu.


"Anak anak beda dengan kita" ucap Dhira, yang tahu arti kejadian di depannya.


"Seusia kita harus bisa jaga diri sendiri"


Abimanyu sempat tertegun, demi mendengar ucapan Dhira.


Apa itu artinya, segelas jumbo jeruk hangat tadi adalah manifestasi dari kepedulian Dhira untuknya???


Oh my God!!!


Abimanyu yang sudah lama tak mendapat perhatian dari makhluk bernama wanita itu, seketika merasa ada buncahan rasa bahagia di hati gelapnya.


Awal yang baik bukan, cihaaaa!!!


.


.


.


.


Buat yang ingin tahu visual Abimanyu dan Andhira, kalian bisa langsung cuss ke Ig ku ya

__ADS_1


Fitria Ermila Yessi


__ADS_2