The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 104. Cita-cita Abimanyu


__ADS_3

Bab 104. Cita-cita Abimanyu


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Cintaku bukanlah cinta biasa, jika kamu yang memiliki. Dan kamu yang temani ku, seumur hidupku!"


( Diambil dari lirik lagu Afgan ~ Bukan cinta biasa)


.


.


Dengan dada masih diliputi gemuruh, Wisang membukakan pintu untuk Sekar. Sekilas ia melirik wajah pias wanita itu dari ekor matanya. Wisang setengah berlari memutari mobilnya, ia kini duduk di belakang kemudi. Memasang seatbelt.


"Sini tangan kamu!" Wisang tanpa menunggu persetujuan Sekar, langsung meraih tangan wanita itu. Ia mengeraskan rahangnya, melihat tangan Sekar yang memar dan terkena sayatan pecahan beling.


"Saya gapapa tuan!" ucap Sekar menarik pelan tangannya.


Namun saat Sekar menarik tangannya, ia melihat buku-buku tangan Wisang juga memerah. Itu pasti karena usai memukul Wisnu tadi.


"Tuan tangan anda?" Sekar menatap muram kepada Wisang.


"Jangan khawatirkan aku, hal ini sama sekali bukan ancaman untukku!" Wisang menyalakan mesin mobilnya. Ia meninggalkan tempat makan itu dengan hati dongkol. Ia ingin menghajar habis-habisan laki-laki pengecut tadi.


Tapi tentu saja, Sekar lebih penting saat ini. Ia tak ingin Sekar melihat sisi devil seorang Wisanggeni.


Sekar diam, larut dalam pikirannya. Tanpa sengaja ia telah melibatkan pria di sampingnya itu. Ia tak berani berbicara, ia masih menatap rahang Wisang yang mengeras, menahan amarah.


"Siapa tadi?" tanya Wisang tanpa memalingkan wajahnya.


Sekar menelan ludahnya.


"Wisnu!"


"Mantan pacar saya!" Sekar tertunduk malu. Bisa-bisanya masalah pribadinya, membuat orang lain seperti Wisang yang ikut kena getahnya.


Wisang diam, tak ingin tahu lebih lanjut lagi. sebuah clue cukup baginya untuk mengetahui pria brengsek tadi. Rasa laparnya sudah menguap, tergantikan dengan kekesalan. Ingatan akan wajah Sekar yang menahan sakit, membuat dia gelisah.


Sejumput perasaan ingin memproteksi Sekar hadir, bolehkan seinstan ini?.

__ADS_1


.


.


Matahari sudah melorot ke sisi barat, meski cuaca diluar masih terik namun jam sudah menunjukkan pukul 15.00


Dhira yang merasa tidurnya pulas, sebuah tidur siang yang jarang ia dapatkan sejak ia menjadi owner Dapur Isun . Ia terbangun karena suara ponselnya yang menggelepar.


"Oh iya, kamu tunggu dulu ya. Aku juga udah mau balik!"


Dhira memutuskan sambungan telepon dari Sekar, assistennya itu menginfokan jika dia sudah dirumah sedari tadi.


Dhira langsung beranjak mandi, ia merasa tubuhnya lengket. Ia membuka lemari di kamar itu,dan benar saja ada banyak sekali baju disana.


"Apa semua ini baru. Tapi, untuk apa mas Abi beli baju sebanyak ini. Apa gak sayang..." Dhira bermonolog, karena heran.


Ia mengambil dress warna merah bata sore itu, sejurus kemudian ia bergegas mandi.


.


.


Abimanyu rupanya tak tidur, ia yang merasakan gerah juga baru selesai mandi. Namun, belum sempat ganti baju ia teringat dengan pekerjaannya. Ia duduk di depan layar komputer itu dengan bertelanjang dada.



Namun, tanpa di nyana. Dhira mengetuk pintu kamarnya.


"Mas!" Dhira mengetuk pintu kamarnya.


"Mas!" ketukan ke-dua agak pelan, mungkin saja wanita itu hanya memastikan apa dirinya juga tidur. Namun Abimanyu sengaja mengerjai.


"Masuk aja, aku di ruang kerja!" Abimanyu rasa, suaranya itu pasti tersampaikan melewati batas dinding apartemennya.


Terdengar derap langkah, sejurus kemudian...


"Astaga mas!" Dhira menutup wajahnya.


Ya, meski mereka pernah memproduksi peluh bersama, dan pernah terbang ke langit kenikmatan bersama, tapi melihat pria duduk santai dengan bertelanjang dada tentu saja membuat Dhira berjingkat. Hatinya mendadak gelisah.


Abimanyu tergelak demi melihat ekspresi Dhira." Hey, bawahanku masih lengkap. Sory, tadi aku habis mandi ingat ada kerjaan dikit." tukas Abimanyu. Ia merasa Dhira begitu menggemaskan, di balik wajah terkejutnya.


"Aku tunggu diluar, Sekar udah di ruko. Aku mau pulang sekarang!" ucap Dhira, detik berikutnya ia keluar menuju ruang tamu dengan wajah malu.


.

__ADS_1


.


Abimanyu mengenakan pakaian casual sore itu. Seperti biasa ia terlihat ganteng. Andhira juga selalu saja cantik saat mengenakan dress pikirnya.


"Mas!" tanya Dhira.


"Hemm!" jawab Abimanyu masih memegang setir bundarnya.


"Itu baju kok banyak banget, kamu yang beli?"


"Bukan aku lah, Devan yang ku suruh. Kenapa, kamu gak suka?" tanya Abimanyu.


"Bukan, kamu sengaja nyiapin disana buat apa?" seru Dhira.


"Ya buat kamu, buat begini ini . Kalau pas urgent kamu gak bingung baju ganti!" tukas Abimanyu.


"Tapi kan.." ucapan Dhira menggantung.


"Aku yakin kalau kamu bakal sering ke tempatku Dhir. Meski kita di hadapkan persolan kemaren, tapi keyakinan ku terbukti sekarang!" ucap Abimanyu pede.


Dhira tertegun, pria di sampingnya itu benar-benar perfeksionis pikirnya. Ia memperhatikan hal detail. Dhira merasa tersanjung dengan perlakuan Abimanyu yang selalu memperhatikan dirinya. Jika ia ingat masa lalunya dulu, rasanya hidupnya hanya habis dengan cucian dan tumpukan baju setrika anak dan suaminya. Tak pernah barang sedikitpun untuk mencicipi indahnya perhatian.


" Kita bungkus makan dulu ya, Wisang sama Sekar udah disana kan?"


"Kita makan bareng nanti, kamu jangan banyak kerja dulu. Apa aku tambah pekerjaan disana buat bantuin kamu sama Mbak Shinta?" ucap Abimanyu.


"Gak usah mas, Sekar sama Shinta aja udah cukup kok!" dengan cepat Dhira menggelengkan kepalanya, ia merasa Abimanyu terlalu over protective.


"Aku mau setelah ini kamu cuma fokus sama pernikahan kita!" Abimanyu meraih dan mencium tangan Dhira.


"Aku udah gak sabar lihat kamu yang merapikan dasiku tiap pagi, aku gak sabar lihat kamu yang bisa aku peluk tiap tidur Dhir!" ia mengecup lagi tangan Dhira. Seraya membayangkan bentuk dasi simetris hasil rangkaian Dhira tiap pagi. Ia terkekeh akan hal itu.


Dhira sangat bahagia saat itu, sejenak ia telah egois karena melupakan anak remajanya. Perlakuan hangat Abimanyu membuat dia bak seorang gadis saja. Namun hal yang dia suka adalah, Abimanyu selalu ingat dengan semua orang-orang terdekatnya.


"Makasih mas, kamu selalu bikin aku seneng!"


"Harus itu, aku maunya kamu harus merasakan bahagia. Bukan cuman seneng. Aku bersyukur Dhir bisa di pertemukan sama kamu. Aku pingin cepet-cepet bikinkan adik buat Raka setelah kita nikah nanti!" Abimanyu mengerlingkan matanya seraya tersenyum dan menaikturunkan alisnya.


Abimanyu ganteng, Dhira merasa tak jemu memandang wajah pria dengan kumis tipis di bawah hidungnya itu. Lesung pipi dan mata agak sipit khas pria Asia, membuat Dhira merasa beruntung di pertemukan dengan Abimanyu dengan segala kurang lebihnya.


"Aku pingin punya banyak anak dari kamu Dhir. Pokoknya setahun sekali kamu harus melahirkan ya. Usia kita harus berpacu dengan usaha kita tiap malam nanti Dhir" Abimanyu terkikik geli.


Andhira membulatkan matanya demi mendengar Abimanyu yang berkelakar soal perkembangbiakan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2