The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 181. Sister in Law


__ADS_3

Bab 181. Sister in Law


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Wong urip ku gur mampir mangan karo ngombe ( Orang hidup itu , ibarat hanya numpang makan dan minum)


.


.


Semesta memang kadang terasa tak bersahabat dengan kita. Seringkali kita menyalakan Tuhan atas sesuatu hal yang kita rasa buruk, dan tiba-tiba terjadi dalam jalan kehidupan kita.


Sifat suci manusia sering musnah, saat masalah besar datang menerpa kita. Dalil-dalil tentang kesabaran hanya angin lalu saja. Karena hati, mengenal kepedihannya sendiri.


Riuh rendah suara pelayat yang kini berpamitan kepada Shinta,menjadi penanda bahwa tugas mereka untuk melawat jenazah Rangga telah tuntas.


Bu Nisa tak turut hadir ke pemakaman. Ibu dari Rangga itu jiwanya benar- benar terguncang. Puluhan langkah kaki telah meninggalkan tempat itu. Kini, menyisakan Shinta yang beringsut ke tanah dengan memegangi batu nisan bertuliskan nama almarhum suaminya.


Dhira mendadak hatinya nyeri melihat sahabatnya larut dalam duka. Begitu juga dengan Sekar, istri Wisang itu tak henti- hentinya menyusut hidungnya menggunakan sapu tangan yang ia bawa.


" Shin...kamu jangan begini terus. Kasihan Rangga disana!" Dhira mengusap rambut Shinta yang kini menyenderkan kepalanya ke samping batu nisan itu.


" Gue sendiri Dhir...!" jawab Shinta dengan mata layu.


" Gue udah gak punya siapa-siapa lagi!" ucapnya kembali dengan suara lirih, seraya menatap nanar pusara basah suaminya.


Dhira menatap Abimanyu putus asa, pria itu mengangguk kepada istrinya dengan maksud untuk membiarkan Shinta sejenak.


Abimanyu tahu, siapapun tak akan mudah jika di hadapkan dengan duka. Ia dulu juga begitu saat kehilangan kedua orangtuanya, serta mendiang suami Rania yang bahkan tak memiliki makam lantaran jasad mereka tak di ketemukan.


" Saya harus kembali dulu, istri saya hanya sama Dian tadi!" Pak Ali merasa harus segera kembali ke rumah. Ia khawatir masih banyak tamu yang melayat kesana.


Selain itu, Bu Nisa agaknya memerlukan pendampingan khusus. Karena jiwanya sedang tidak baik-baik saja.


Wisang, Abimanyu dan suami Dian yang disana turut mengangguk. Ya, Pak Ali datang ke makam bersama menantu pertamanya.


Lalu dimanakah Danan? apakah pria itu tak menghadiri prosesi pemakaman Rangga?


...šŸšŸšŸ...


Diruangan gelap seorang pria tengah meminum sebotol alkohol. Pria itu bahkan telah menggadaikan kesehatannya. Larangan untuk tidak mengkonsumsi alkohol ia tepikan.


Tak menggubris peringatan kerasa dari dokter. Sedikit rasa pusing ia harapkan bisa menghapus kegundahan hatinya.

__ADS_1


Pagi itu, ia tak sanggup untuk datang ke pemakaman. Tak sanggup melihat Rangga yang di kebumikan, juga tak sanggup melihat Shinta yang hancur.


Ia bukan siapa-siapa buat Shinta, kehadirannya juga agaknya tak memberikan pengaruh apapun untuk Shinta.


Penampilan Danan pagi itu terlihat kacau, puntung rokok telah berserakan di lantai itu. Danan berada di ruang khusus miliknya. Ruangan yang biasa ia gunakan untuk bercinta bersama panda lokal pesanannya dulu.


" Gue gak sanggup Ngga!!"


" Gue gak sanggup!!"


Danan bergumam seraya mengusap rokok itu dalam- dalam. Kilasan ingatannya kembali saat Shinta dengan intonasi tinggi berucap kepadanya, dengan nada marah. Ingatannya juga kembali saat ia menutup peti Rangga dengan kain kelambu putih.


" Maafin gue Ngga. Sekarang disana elo pasti tahu, kalau gue tertarik sama istri elo!"


Ia merasa tak memiliki guna detik itu. Ia merasa tak memiliki tempat di hati Shinta. Kematian Rangga, menampar kesadarannya bahwa cinta Shinta dan Rangga adalah tiada terukur dalamnya.


Tulus dan sejati.


Ia tahu, pasti di jam-jam ini prosesi pemakaman telah usai. Tapi dia.....


Dia merasa tak memiliki alasan untuk datang kesana kembali. Tidak untuk Rangga ataupun Shinta. Ia merasa, tak berguna.


.


.


"Makanlah, jangan menyiksa diri sendiri. Kau harus belajar untuk mengurus dirimu sendiri mulai dari sekarang!" Ucapan Dian memang terkesan ketus, tapi itu benar adanya.


Dian kasihan dengan adik iparnya itu. Wanita dengan rambut pendek dan wajah tegas itu, sebenarnya begitu merasa kehilangan.


" Aku tahu semua ini berat Shin....!" Dian meletakkan sepiring makanan di nakas ranjang Shinta. Ia turut mendudukkan tubuhnya tepat di samping adik iparnya itu.


Suasana senyap beberapa detik.


" Rangga dan aku adalah saudara!" ucap Dian memecahkan keheningan.


"Tapi sudah seperti siklus, tak mungkin saudara akan selamanya tinggal serumah bersama!" Dian mulai berbicara dengan pandangan menerawang.


" Begitu juga antara orang tua dan anak!"


" Banyak waktu yang terbuang, masa kecil yang indah bersama hanya bisa aku dan di jalani dengan singkat!"


" Jelang dewasa aku dan dia makin sama-sama tak saling ketemu. Bahkan jarang ngobrol!"


" Aku sibuk di Akpol, dia sibuk kuliah buat ngejar karirnya di aviasi!"


Shinta masih terpekur menatap kelambu yang terpasang di jendela kamarnya. .Tersapu angin sepoi-sepoi, yang membuatnya sedikit bergerak kesana kemari. Telinga masih tekun mendengar suara yang keluar dari bibir kakak iparnya.


"Usai lulus aku langsung tugas di luar kota, aku menikah, dia juga menikah. Terus dia juga dapat kerja disini. Praktis kita gak pernah ketemu. Terakhir ketemu waktu kita lebaran dirumah mama tahun lalu!"

__ADS_1


Shinta tahu, sebenarnya Dian tengah menumpahkan penyesalannya. Kakak iparnya itu merasa waktu terbuang percuma saat manusia sibuk mementingkan ego mereka.


" Karir, kehebatan, ego, ambisi ....nyatanya sering merenggut kebersamaan keluarga Shin!" Dian tersenyum kecut. Kini menyesal pun tiada guna.


" Aku cuma mau bilang, tolong maafin mama. Aku udah dengar dari papa kalau mama sering bicara gak enak sama kamu!" Dian menatap wajah Shinta yang masih menyuguhkan tatapan kosong.


" Maksud aku adalah, dari kami semuanya Kamu adalah prioritas Rangga. Aku tahu kamu pasti merasa hancur Shin. Tapi tolong, kamu juga pedulikan kesehatan kamu!"


" Jangan buat Rangga disana gak tenang karena istrinya gak mengikhlaskan suaminya per..."


" Aku bukan gak ikhlas Mbak!" sergah Shinta.


"Aku hanya belum siap!" Shinta menatap Dian yang juga menatapnya. Pandangan mereka bertemu.


Dian menelan ludahnya, wanita itu bisa melihat kesedihan, kehancuran, kepedihan, lara, keputusasaan. Bergabung setangkup di wajah layu Shinta.


" Aku perlu waktu!" ucap Shinta lirih.


Dian menelan ludahnya kembali.


" Sekarang aku tahu kenapa Rangga takut kehilangan kamu Shin!" Dian memeluk erat adik iparnya itu. Membuat mata Shinta seketika memanas. Harusnya ia mendapat perlakuan itu dari ibu mertuanya sedari awal. Pelukan keluarga yang bisa menguatkan.


" Aku hanya belum siap Mbak. Semua terjadi begitu cepat dan mas Rangga bahkan enggak bicara apa apa sama aku!" air mata Shinta kian deras. Mengalir membanjiri pipinya.


" Mama terus nyalahin aku karena aku gak bisa ngasih anak buat mas Rangga, mama nyalahin aku karena membawa sial buat hidup mas Rangga, mama nuduh aku mengkhianati mas Rangga, mama benci sama aku mbak....aku juga gak pingin begini!"


Shinta nampaknya mengeluarkan seluruh unek-unek dalam dadanya kepada Dian. Dian yang mengerti, kini hanya bisa terdiam. Sengaja membiarkan adik iparnya itu, menjadikan dirinya sebagai sandaran saat ini.


" Aku emang pembawa sial mbak!" ucapnya dengan suara bergetar seraya mengeluarkan Isak tangis yang membuat suaranya sesegukan.


" Hssssttttt!!! Don't talk like that again!"


Dian kini melepas pelukannya, lalu memegangi dua lengan Shinta dan menatapnya lekat.


" Kamu tahu, mama orangnya pemikir. Atas nama mama aku minta maaf kalau , kata-kata mama buat kamu sedih!"


" Tapi Shin, mama sekarang gak mau ngomong bahkan makan apapun. Jadi tolong kamu juga jangan buat kami tambah khawatir. Bantu aku Shin!" ucap Dian.


Membuat Shinta mendongakkan kepalanya menatap Dian." Mama kenapa Mbak?"


" Mama tertekan, dia depresi Shin. Bahkan sejak aku datang dia kayak gak kenal sama aku!" kini Dian yang menitikan air mata.


" Makanya kamu tolong jangan seperti ini. Bantu aku!"


Shinta merasa kasihan dengan Dian. Sejenak ia merasa egois karena merasa paling kehilangan. Padahal, wanita yang melahirkan suaminya itu kini juga tengah dirundung duka lara.


" Tolong bantu aku..!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2