The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 248. Bahasa Kalbu


__ADS_3

Bab 248. Bahasa Kalbu


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Benarkah? Bahwa cinta mampu mengobati, segala rasa sakitku ini. Kini ku percaya...kini ku percaya!_


( D'CINNAMONS ~ Kuyakin Cinta)


.


.


Yang dinamakan rasa, yang dilihat rupa. Danan meneguk ludahnya sendiri dengan langsung menatap sinis ke arah Rudi yang tak melihatnya, usai menyebutnya sebagai duda.


" Dasar Rudi Tabooti! " Ā® Umpatnya dalam hati begitu pria itu asik menghisap sigaret yang ia sesap. Apa pria itu buta pikirnya.


" Emmm sa- saya belum pernah kawin, ma- maksudnya belum pernah menikah Pak!" ucapnya meralat dengan cepat. Karena dua kata tersebut, jelas memiliki makna yang berbeda. Dan Danan cukup tau diri untuk hal macam itu.


Rudi terkekeh dengan kegagapan Danan.


" Berapa umur kamu? Jadi selama ini kamu berkhitan, hanya kamu gunakan untuk membuang urine saja?" Rudi benar-benar tipikal pria yang bermulut combe. Ia tak menyangka bila calon bapak mertuanya itu sudah mulai terlihat menyebalkan.


Ucapan absurd itu seketika membuat Danan merinding.


" Saya sekarang sudah 42 Pak....Ah, tentu saja tidak pak. Emm...maksud saya i-iya!"


" Ah terserahmu sialan!" mengumpat dalam hati sembari terus menelan ludah.


Gelagapan, ia bisa mudah menyahuti maupun menjegal ucapan Wisang ataupun Abimanyu dengan mudah. Namun, agaknya Rudi akan menjadi lawan yang sulit. Ia harus tetap berada di bawah pria itu. Mengingat, putrinya akan ia persunting.


Terkadang harus menjadi bodoh agar yang lain terlihat pintar bukan.


Rudi tergelak, mana mungkin seorang pria dewasa yang usianya tengah dalam masa keemasan, dan sedang dalam stamina yang kuat-kuatnya tak pernah mencicipi indahnya bercumbu.


Mereka berdua bukan pria ingusan yang awam akan hal itu bukan. Oh common man!


" Maaf ya...tapi saya gak percaya!" ucap Rudi seraya mendekatkan wajahnya ke arah Danan lalu tergelak.


"Kalau begitu untuk apa bertanya!" menggerutu seraya mendengus dalam hati dengan tiada habisnya.


Danan hanya mengangguk sembari tersenyum penuh dakwaan. Lebih baik diam saja, biarlah orang tua itu senang. Demi keselamatan ratingnya sebagai calon mantu.


" Kamu kerja dimana, apa seperti Rangga dulu?" Rudi menggerus batang rokoknya ke asbak di meja itu.


" Saya di toko perhiasan Pak!" jawabnya mencoba se lugas Mungkin.


" Industri mana yang mempekerjakan orang dengan usia segitu, bagian apa?" kali ini Rudi benar-benar berkelakar.


" Benar-benar licin!" batin Danan sembari menatap pria yang menjadi asal muasal hadirnya Shinta ke muka bumi ini.


" HAHAHAHAHAHA!" tawa renyah Rudi kembali menggelegar demi melihat reaksi tertahan Danan.


" Saya suka bercanda, biasakan diri kamu ya!" ucapnya seraya menepuk pundak Danan yang tercenung itu. " Semoga kamu jodoh terakhir anak saya. Kami bukan orang berada, semoga tidak ada masalah dengan hal itu!"


.

__ADS_1


.


Danan memanyunkan bibirnya sembari duduk mengahadap hamparan tanaman hias di belakang rumah Shinta siang itu. Ya, sepertinya ancaman Nyonya Alda untuk mewanti-wanti Danan agar tak macam-macam terkabulkan.


Tapi bukan karena dirinya yang berniat, melainkan hadirnya pria tua yang doyan banyolan tadi.


Bagiamana mau macam-macam, lawong Rudi saja mengajaknya ngobrol ngalor ngidul hingga jam makan siang.


Dan kini, pria itu tepar usai kekenyangan.


" Kenapa mas?" Shinta datang dengan segelas es perasan lemon siang itu.


" Bapak kamu vokal juga ya ternyata!" ucap Danan seraya berengut. Membuat Shinta tersenyum.


" Bapak emang gitu, makanya masih terlihat sehat meski..."


" Sini..." Danan menepuk pahanya agar Shinta duduk di atasnya. " Aku kangen banget Shin. Kamu juga! Ambil kue udah kayak ngantar lamaran orang ke Atambua!, lama banget" Danan mendengus kesal.


Wanita itu menurut seraya terkekeh geli demi mendengar Danan yang terus menggerutu.


Danan sudah memastikan kekokohan kursi dari anyaman serabut sintetik warna coklat itu. Membuat Danan yakin jika kursi itu pasti mampu menahan bobot dirinya dan juga Shinta.


Shinta siang itu mengenakan setelah dengan motif bunga kecil, dengan model tanpa lengan. Terlihat casual dan manis.


" Bapak bikin kamu sebal?" ucap Shinta seraya mendudukkan tubuhnya ke pangkuan Danan, menghadap hamparan bunga keladi dengan berbagai macam varietas.


" Bapak kamu anti mainstream banget, sebelas dua belas sama mamaku!" ucap Danan seraya mengeratkan pelukannya lalu mencium lengan halus Shinta. Melingkarkan kedua tangannya ke perut wanita itu.


Terasa menyenangkan, uhuy!


Shinta terkekeh " Aku gak nyangka mas kalau bapak masih mau nyari aku. Aku pikir dia udah hidup sama istri barunya..." ucap Shinta menerawang.


" Hey!" Danan merenggangkan pahanya, membuta Shinta kini menatap Danan.


" Jangan sedih-sedih lagi. Habis ini kita bujuk bapak buat mau tinggal sama kamu, aku biar makin tenang. Selama kita nunggu persyaratan menikah beres, setidaknya kalau bapak mau tinggal disini aku jadi tenang.


" Atau....kamu mau beli rumah baru, biar aku bel..." tawar Danan namun ucapannya langsung terpotong.


Shinta menggeleng cepat " Aku kapan hari terima paket, ternyata isinya surat balik nama mas. Rumah sama tanah ini sama papa Ali diubah jadi atas namaku, mbak Dian juga telpon aku sehari setelahnya. Rumah yang di kota S Uda dijual, mama Nisa masih belum bisa diajak komunikasi sampai sekarang!"


" Jadi mereka udah pindah?"


" Yah, aku gak ketemu lagi dong!" Danan bermuram durja.


" Mbak Dian udah menetap disana, batu diangkat jadi Kapolres juga kalau gak salah. Hidup gak ada yang tahu ya mas. Lusa jadi apa, besok jadi gimana..." Shinta dan Danan saling menautkan jari mereka.


" Nanti kita undang mereka ke nikahan kita!" Danan mengecup punggung tangan Shinta penuh cinta. Membuat hati wanita itu menghangat.


Mereka kini tengah berbicara serius, Danan tak mengira bila Pak Ali benar-benar orang yang baik. Sejenak Danan merasa bersyukur atas limpahan kebahagiaan dalam hidupnya itu.


" Jadi artinya...."


Shinta mengangguk, " Artinya aku gak mungkin gak nempatin rumah ini. Aku harap mas Danan..." ucapnya seraya kini memainkan rambut Danan yang masih saja rapih di jam yang telah siang itu.


" Sstttt, aku gak keberatan. Aku gak masalah Shin!" Danan ingat akan ucapan mamanya. Ia memang harus membagi hati dengan sosok yang telah tidak ada itu.


Kini suasana senyap.


" Shin?" tanya Danan sambil menikmati wajah cantik Shinta yang terus saja memainkan rambutnya.


" Hemm!" jawabnya sambil terus menyisir rambut Danan dengan jarinya.

__ADS_1


" Mama ingin nikahan kita di adakan di gedung, tapi aku mau tanya ke kamu dulu. Kalau kamu gak berkenan aku gak maksa, gak ada masalah buat aku..."


Shinta mengehentikan kegiatannya lalu menatap Danan.


" Mas tahu aku ini janda, dan mas adalah.." Shinta terdiam sejenak. " Kalau gak usah acara besar gimana mas? aku sama kamu bukan lagi anak remaja yang suka ingar bingar"


" Sampaikan ke mama ya, yang penting sah!"


Danan kaya, ia bisa saja menggelar pesta tujuh hari tujuh malam tanpa jeda dengan uang yang ia miliki, tapi tentu sedari sekarang ia harus mulai gencar melakukan komunikasi sebaik mungkin dengan calon istrinya itu bukan.


Ia juga memahami sisi Shinta. Tidak perlu ada keterpaksaan apalagi soal selebrasi. Bukan hal utama juga.Belajar dari yang sudah-sudah, tentu ia harus melibatkan Shinta dalam hal apapun.


Luar biasa! Betapa beruntungnya Danan memiliki Shinta yang nampaknya tak silap harta. Wanita itu benar-benar diluar ekspektasi Danan. Wanita yang berbeda.


" Baiklah, as you wish!" Danan mengelus lembut pipi Shinta.


Shinta tersenyum. Ada perasaan lega dan bahagia. Tak mengira bila bapaknya akan mencarinya bahkan disaat dia sudah pasrah dan merasa sendiri.


Dan juga tentang Danan, pria menyebalkan yang dulu kerap membuatnya emosi, tak di nyana sebentar lagi akan menjadi teman hidupnya. Menggantikan Rangga yang juga tak akan lekang dari ingatannya sebagai pria baik dengan segala kekurangannya.


Danan menekan tengkuk Shinta pelan, membuat wanita itu sedikit condong ke bawah, karena posisinya yang masih duduk di pangkuan Danan.


Pria itu tentu saja tak ingin melewatkan bibir Shinta yang sudah menjadi candu untuknya itu.


Lidah mereka kini saling berbelit, aroma tubuh Danan bahkan membuat tubuh Shinta bak di aliri listrik. Selaras dengan ciuman yang kian menggebu, membuat laju darah Danan kian santer.


Kebutuhan mereka sama, ingin dicintai dan mencintai. Ciuman siang itu menjadi ciuman terlama yang pernah mereka lakukan. Hangat dan mengandung kadar cinta serta kasih sayang yang tinggi.


Kali ini Danan memungkasi ciuman mereka sebelum rasanya makin menggila dan menuntut untuk mendapatkan pertanggungjawaban.


Pertanggungjawaban sebelum waktunya.


Danan merengkuh kembali melingkarkan tangannya ke tubuh Shinta. Pria itu terlihat menyenderkan kepalanya ke perut Shinta yang rata. Posisi ternyaman dan paling menenangkan.


"Terimakasih banyak Shin, terimakasih sudah mau menerimaku!" ucap Danan seraya memejamkan matanya, ia mengucap hal itu dengan setulus hatinya.


Shinta tersenyum seraya mengusap lembut kepala Danan. Disaat bersamaan hati Shinta juga menghangat. Ia bahagia.


Mungkin ini sudah takdirnya, mungkin sudah jalan hidupnya seperti ini. Berserah dan berpasrah seringkali makin memudahkan jalan kita saat badai hidup menerpa. Dan semua itu, terbayarkan dengan kebahagiaan yang kini ia dapat.


Shinta berharap semua ini adalah keputusan yang tepat. Keputusan yang ia harapkan bisa memberikannya kesempatan memiliki momongan, di usianya yang tengah memasuki masa matang- matangnya itu.


Tidak ada yang mustahil bila yang kuasa sudah berkehendak.


.


.


.


.


.


.


.


Keterangan :


Ā® Nama tokoh anak yang berteman dengan manusia kapur, memiliki gigi jathil dalam serial chalk zone yang tayang tiap pagi di stasiun televisi swasta nasional

__ADS_1


__ADS_2