
Bab 137. Kecamuk di Hati
.
.
.
...ššš...
" Haruskah aku lari dari kenyataan ini? Pernah ku mencoba tuk sembunyi, namun senyummu tetap mengikuti!"
( Diambil dari lirik lagu Iwan Fals ~ Yang terlupakan)
.
.
"Awas tangannya!" Rania memperingati Bastian begitu posesif. Ya, mereka kini akan meninggalkan rumah sakit malam itu juga. Tak ada kekhawatiran lain yang mengharuskan Bastian untuk rawat inap.
Mobil Bastian masih berada di Ruko. Tapi Dhira meminta agar langsung mengantar Bastian ke rumah ibunya saja. Prihal mobil ia yakin pasti akan aman-aman saja.
Sepanjang perjalanan obrolan di dominasi oleh dua perempuan itu. Kemudi diambil alih oleh Abimanyu kali ini, dan istrinya tentu saja harus berada di sampingnya.
" Mbak jadi honeymoon kemana?" tukas Rania.
" Enggak kayaknya Ran!" Dhira sedikit rikuh. Ia menikah dengan usia yang sudah terlampau dewasa untuk melakukan hal itu. Dan Dhira agak sungkan akan hal itu.
" Kenapa?, pasti insecure sendiri!" sahut Rania, ia memprediksi pasti kakak iparnya itu malu karena usianya.
Abimanyu tersenyum smirk, adiknya itu memang selalu menjadi tim sukses untuknya. " Kasih tahu mbakmu Ran. Biar dia gak begitu amat!" imbuh Abimanyu. Membuat Dhira menyebikkan bibirnya.
" Nih ya Mbak, quality time berdua itu wajib loh. Ya, biar adiknya Raka cepet jadi!" Rania terkekeh. Bastian yang berada di sampingnya sampai menelan ludahnya dua kali. Wanita yang mencuri ciumannya itu benar-benar bar-bar.
Abimanyu tersenyum penuh kemenangan," See??" ucapnya seraya menatap istrinya yang sudah kepalang malu karena Ranai membicarakan hal tabu itu di saat mereka berempat bersama.
" Raka sama Jodhi kan juga udah mau naik kelas. Jangan khawatirkan mereka, ada aku sama Oma dirumah. Kalian pergilah!" Rania masih gencar bersafari lidah.
.
.
Dhira hanya mampir sebentar di rumah ibunya. Mengingat Raka yang kini tinggal di kediaman Aryasatya, membuat Dhira tak bisa meninggalkan putranya itu.
Sempat terkejut lantaran melihat tangan anaknya yang bengkak dan terbubuh senar jahitan, Bu Kartika bisa bernafas lega karena mendengar penuturan yang tenang versi Abimanyu.
Mereka meninggalkan kediaman Bu Kartika dengan wajah terkantuk-kantuk. Rania bahkan sudah tepar di menit ke tiga, usai mereka berbelok dari gang perumahan Bu Kartika.
__ADS_1
Kini mereka sampai dirumah Aryasatya. Rania lebih dulu melenggang usai mobil itu terparkir strategis dirumah besar itu. Tentunya usai di bangunkan oleh Dhira .
Adalah Bagus, pria itu masih setia menunggu majikannya meski kantuk telah menyerangnya berjam-jam yang lalu. Telah berkali-kali ia menguap lantaran kelelahan.
"Gos, ini kuncinya!" Abimanyu menyerahkan kunci mobil kepada supir itu.
" Siap Tuan!"
Sebelum masuk ke kamarnya, Dhira lebih dulu masuk ke kamar putranya yang bersebelahan dengan kamar Jodhi. Abimanyu secara berlebihan menyiapkan kamar anak sambungannya itu.
Berbagai macam aksen apik dan mahal, terpajang indah di kamar khas cowok itu. Cat monokrom yang sesuai untuk usia Raka, juga terlihat melapisi dinding kamar bocah itu.
Membuatnya terlihat mewah dan eksklusif.
Raka tertidur dengan sebuah buku yang masih ia pegang. Abimanyu memperhatikan Dhira dari bibir pintu. Dhira terlihat mengambil buku yang baru di baca Raka. Sebuah komik bergenre fantasi.
Dhira menarik selimut untuk menutupi tubuh putranya. Ia mencium kening Raka lama. Ia tersenyum menatap Raka yang lelap dengan wajah teduhnya. Sejurus kemudian ia mengusap rambut hitam putranya.
" Good Night my sunshine!" ucap Dhira mengusap lembut pipi Raka yang terlihat kian dewasa itu.
Hati Abimanyu menghangat melihat interaksi istri dan anaknya itu. Dhira mematikan lampu diatas nakas dekat ranjang Raka. Ia tersenyum ke arah Abimanyu, kemudian pria itu meraih pinggang istrinya. Mereka masuk kedalam kamar.
Raka membuka matanya saat pintu itu tertutup. " Selamat malam ma. Bahagialah selalu!" ucapnya lirih sembari menyunggingkan senyum.
Ia merasa tenang saat ini, mamanya sudah bahagia dengan pria yang kini menjadi papa sambungnya. Ia bisa membuktikan, bahwa tak semua bapak sambung itu seperti kisah di TV yang biasanya bersikap antagonis.
Ia memejamkan matanya, berharap mimpi jauh membawanya melayang.
...ššš...
Di waktu yang bersamaan, Danan melempar ponselnya usai membaca pesan dari Wisang.
" Elu pasti enak-enakan njing!" cibir Danan seraya merebahkan tubuhnya ke ranjang pegas kamarnya. Ia melipat kedua tangannya ke belakang, dan menjadikannya sandaran kepala. Matanya nyalang menatap langit-langit bercat putih bersih itu.
Usai sakit ia kini jarang keluyuran ke pub. Selain itu dua sahabatnya juga tengah mabuk asmara pikirnya. Abimanyu lagi senang-senangnya karena masih berstatus manten baru meski keduanya adalah second produck.
Sementara Wisang, pria itu masih gencar berjuang dari halauan mamanya. Tapi ia kenal Wisang, tak mungkin pria itu mudah menyerah
" Gila emang lu Wis, gak pernah serius ama wanita. Sekalinya kecantol dapat yang masih segel begitu. Kok gue jadi gak terima gini ya!" ia bermonolog seraya terkikik geli.
Praktis, hanya dirinyalah pria nestapa yang merasa hatinya hampa satu bulan terakhir ini.
Besok jadwalnya untuk check up ke rumah sakit. Ia juga masih rutin mengonsumsi obat. Organ dalamnya harus bisa normal pikirnya. Danan kaya, meski tak semua uang bisa membeli kesehatan, tapi ia harus memanfaatkan titipan Tuhan yang terlampau lebih itu untuk dirinya bukan.
Usaha untuk sehat kembali itu penting.
Ia kembali memungut ponsel yang barusaja ia campakkan. Ia membuka Instagram miliknya. Ia berselancar di dunia maya itu, sibuk menggulir ponselnya.
__ADS_1
Anehnya, ia tak memiliki selera dengan panda lokal, ataupun ayam kampus yang biasanya membuat dia berpikiran erotis hanya dengan melihat foto mereka. Dia men- skip foto dengan tampilan vulgar itu.
Dan entah mengapa, hatinya tiba-tiba teringat dengan Shinta.
Ia mengklik ikon pencarian dan mengetik naman Shinta. Ia tak tahu siapa nama lengkap wanita itu. Ada banyak akun bernama Shinta, dan dia mengklik salah satu foto, yang dia rasa memang gambar wanita yang tempo hari ia pegangi susunya tanpa sengaja.
" Gilaaa!!!" ucapnya sendiri karena kagum dengan body Shinta. Ia benar-benar menenggelamkan dirinya di jejaring sosial malam itu. Ia menscrol kebawah, ada banyak foto Shinta disana.
Ini gila, jelas gila. Wanita itu bersuami, dan secara sadar ia menyukai istri orang lain. Very bad!!!
Ia hanya kagum, lagipula tak berniat akan merusuhi keluarga mereka. Tapi ia tetap manusia biasa, yang tak bisa menepikan rasa aneh yang tak bisa ia jelaskan saat bertemu dengan Shinta.
" Astaga aku pasti sudah gila!!" ia memilih menutup ponselnya. Makin melihat foto Shinta, ia makin berpikiran ngawur saja. Ia mengusap wajahnya kasar.
Dia telah jatuh cinta dengan istri orang.
...ššš...
Usai membersihkan dirinya, Dhira kini mengganti bajunya dengan gaun tidur satin yang mengkilat. Ia selalu melepas bra nya saat hendak tidur. Meski ia tahu, ia tak akan dengan mudah untuk langsung melenggang tidur. Ia harus menyogok suaminya itu dengan upeti kenikmatan tiada tara, yang hanya berasal darinya.
"Sayang!" ucap Abimanyu.
"Ya mas?" jawabnya seraya mengoleskan cream malam pada wajahnya. Kini ia bisa merawat dirinya. Tak seperti saat bersama Indra dulu.
" Ini kamu bawa, bayar sekolah Raka pakai ini. Keperluan kamu juga!" Abimanyu menyerahkan tiga kartu sakti kepada Dhira.
" Apa ini mas?" Seumur-umur, Dhira belum pernah menggunakan kartu seperti itu. Ia terbiasa dengan uang cash yang selalu ia jejalkan dengan tak rapih di dompetnya.
"Mulai sekarang kamu kalau belanja pakai ini. Aku gak mau istri direktur kesusahan bawa dompet hamil!" Abimanyu terkekeh karena mengatakan hal itu.
" Mas, ini berlebihan!" Dhira merasa hidupnya bak cerita negeri dongeng. Dari keterbatasannya akan hal finansial, kini ia merasa melimpah ruah dalam hal keuangan.
" Aku kerja buat istri dan anakku. Aku mau kalian bahagia!!" Abimanyu mengecup bibir istrinya. Meraba pinggang hingga bokong Dhira yang selalu membuat jantung Abimanyu berdebar karena ukurannya. Padat dan bahenol.
Dhira merasa begitu dicintai dengan perlakuan lembut Abimanyu. Pria itu perkasa lahir batin menurutnya. Kini ia tak kekurangan nafkah lahir maupun batin, semua kebutuhannya tercukupi oleh Abimanyu.
Mereka bersama-sama merengkuh indahnya malam dengan erangan dan *******. Selalu dan selalu nikmat yang mereka rasakan, membuat mereka tak puas dan terus mengulang hingga lutut mereka lemas dan bergetar.
Arti dari cinta sebenarnya adalah mau memberi dan menerima. Dhira malam itu memberikan layanan terbaiknya untuk suaminya. Dengan posisi women on top, Dhira berhasil membuat Abimanyu bak melayang ke langit. Gerakan naik turun Dhira diatas tubuh polos Abimanyu benar-benar membuat pria itu mengerang berkali-kali. Tangan dengan urat kentara itu kini memegang dua gunungan yang turut naik turun seirama dengan gerakan Dhira yang kian lentur.
Dalam dinginnya malam, mereka melepaskan cairan percintaan mereka dengan pelukan erat. Usaha yang terus gencar dilakukan, agar mereka bisa segera memberikan adik kepada Raka.
" Makasih sayang. Aku sangat mencintaimu!" Abimanyu menarik dan memeluk tubuh istrinya ke dalam dekapannya. Tak akan pernah ia biarkan siapapun menyakiti istrinya itu.
.
.
__ADS_1
.
.