The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 195. Misi Dhira (2)


__ADS_3

Bab 195. Misi Dhira (2)


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Basmi sifatnya, bukan orangnya!"


.


.


Abimanyu


Pria yang sedang on the way memiliki bayi itu benar-benar di buat gundah gulana oleh istrinya. Mendadak nomer Raka juga sulit ia hubungi.


Saat menelpon Yuni ART-nya wanita itu menerangkan bila Dhira berada dirumah dan tengah sibuk dengan Raka. Tanpa curiga, Abimanyu memilih membiarkan dulu.


Pria itu bahkan tak menyentuh makan siang yang di antarkan oleh petugas hotel. Ia kehilangan nafsu makannya.


Tok Tok Tok


" CK, siapa lagi!" Abimanyu dengan malas membuka pintu kamarnya.


Devan meringis dengan wajah sedikit berminyak. Menandakan bila asistennya itu benar-benar melakukan sesuai yang di perintahkan.


" Boleh saya masuk?" Devan menunjuk ke arah dalam.


" Lagakmu Van, biasanya juga langsung ngeloyor!" ucap Abimanyu seraya berjalan kembali menuju kamarnya memunggungi Devan.


Devan menutup pintu kamar Abimanyu pelan, sejurus kemudian ia mendudukkan dirinya di sofa depan ranjang Abimanyu.


" Banyak yang menanyakan anda Pak, tadi saya juga bertemu Tuan Leo bersama istrinya. Beliau menanyakan anda!"


" Kau jawab apa tadi?" Abimanyu sebenarnya merasa bersalah karena mangkir dari kegiatan yang seharusnya ia ikuti.


" Ya saya jawab kalau anda sedang tidak enak badan, istri tuan Leo yang tengah hamil juga menanyakan istri anda!"


" Terus kamu jawab apa?"


" Saya jawab, istri Pak Abimanyu sedang hamil!"


Devan ingin sekali rasanya terbahak-bahak saat itu juga, demi melihat wajah pias Abimanyu saat ia menyinggung soal Dhira.


Ia mendadak menjadi muram, andai ia mengajak istrinya ia tak akan seperti ini. Tapi, ia ta mau Dhira kenapa- kenapa kalau harus menyeretnya ke tempat ini. Apalagi usia kandungan yang terbilang masih sangat mudah, dengan resiko yang lebih besar pula.


" Apa anda baik-baik saja Pak?" Devan memainkan perannya dengan baik.


" Tidak apa-apa, ya sudah nanti malam saya pastikan akan ikut acara itu?" tuturnya.


Harus pak, anda harus menyukseskan misi Bu Dhira. Saya pastikan saya yang akan tertawa lebih dulu saat melihat wajah keterkejutan anda nanti!


...šŸšŸšŸ...


Sore yang gerah berganti malam yang syahdu. Tapi tidak dengan suasana hati seorang Abimanyu. Pria ganteng nan gagah itu, terlihat muram di meja miliknya. Hatinya diliputi kegalauan.


Devan senagaja menjaga jarak, agar bisa berkomunikasi dengan Dhira. Memanfaatkan moment Abimanyu yang tak fokus untuk menjalankan tugasnya.

__ADS_1


" Aku dengar dari asisten anda tadi, anda sedang tidak enak badan!" Melinda tiba-tiba duduk di samping Abimanyu. Membuat pria itu terperanjat.


" Emm iya, mungkin karena lelah saat perjalanan!" Abimanyu benar-benar tak nyaman namun tak bisa mengusir wanita di depannya itu secara terang-terangan.


Melinda cantik malam itu, dalam balutan gaun biru tua, melinda terlihat berkelas. Namun, Abimanyu sama sekali tidak tertarik. Hatinya masih gelisah lantaran nomor istrinya yang tidak di panggil.


Dari depan, sayup-sayup terdengar MC yang mulai acara itu.


" Malam ini, kami akan pilih beberapa pasangan terbaik dari seluruh peserta event ini, dan kami juga akan memberikan reward kepada perusahaan yang telah memenuhi standarisasi mutu produk!"


Rupanya malam ini akan berjalan panjang pikir Abimanyu. Ia nampak muram karena tak bersemangat mengikuti acara itu. Istrinya merajuk dan dia tidak bisa menghubungi.


" Saya bisa menemani anda malam ini. Saya sendiri, dan anda...." Melinda menggantung ucapannya dengan tatapan menggoda.


" Hah....apa ?" Abimanyu tak fokus, pria itu benar-benar kehilangan semangat juang.


" Apa anda masih sakit?" Melinda menempelkan punggung tangannya ke dahi Abimanyu.


" Tolong jangan seperti ini!" Abimanyu kian risih dengan sentuhan wanita itu.


" Maaf, saya cuma ingin memastikan. Karen anda terlihat tidak baik-baik saja!"


Seluruh peserta di mohon untuk berdiri, untuk menyambut vice president aliansi One world.


Riuh tepuk tangan dari para peserta langsung terdengar, mereka semua berdiri menyambut orang dengan uban rata itu, dan tanpa di nyana Melinda merapatkan tubuhnya ke tubuh Abimanyu.


" Maaf, tolong jangan seperti ini!" Abimanyu benar-benar risih karena Melinda tiba-tiba melingkarkan tangannya ke lengan Abimanyu.


" Oh ayolah, jangan se kaku ini!"


" Maaf tolong jaga sikap anda, saya sudah memiliki istri!" Abimanyu tak mengerti dengan jalan pikiran Melinda.


" Suami saya tidak sendiri!" suara tegas dari seorang wanita, nampak membuat dua manusia itu menoleh ke belakang di sela-sela riuh sambutan yang di berikan kepada vice presiden one world alliance.


Mata Abimanyu membulat sempurna, tubuhnya mematung dan mendadak ia tersedak ludahnya sendiri.


" Sayang!!!"


Abimanyu mendelik begitu melihat tampilan Dhira yang begitu berbeda, wanita itu terlihat mengenakan dress hitam panjang dengan punggung terbuka, make up bold dengan lipstik merah yang kian membuat Dhira bak Madona malam itu.


Heels yang tidak terlalu tinggi namun pas dengan ukuran gaun yang dikenakannya, sanggulan rambut yang begitu elegan, kalung berlian dengan mata biru melingkar indah di leher jenjangnya, sebuah tampilan yang membuat Abimanyu ingin menerkam istrinya saat itu juga.


Dhira terlihat sexy.


" Lepas!" Abimanyu langsung belingsatan di depan istrinya saat menyadari tangan Melinda yang dengan kurang ajarnya melingkar di lengannya.


Dhira memandangi tangan Melinda lekat, cincin yang tersemat di jari manis Melinda, mengingatkan Dhira akan kekurangajaran wanita itu. Tangan yang sama dengan tangan yang menyentuh pipi suaminya saat ia tengah melakukan panggilan video.


" Sayang kamu..." Abimanyu kini mendekat ke arah Dhira, ia dibuat bingung dan...


Bagiamana ceritanya istrinya itu bisa ada di sana. Saat ia sedang begitu menghawatirkannya, dan saat ia juga sudah menghubungi semua personel rumahnya.


Apakah dia bermimpi?


Seketika ia mengedarkan pandangannya guna mencari Devan. Ia yakin, Devan pasti tahu soal hal ini.


" Kamu kok bisa disini mendadak begini?" Abimanyu masih dalam mode keterkejutannya, memandangi wajah cantik dan menawan istrinya degan rasa tak percaya.


" Kenapa, kaget? kalau gak mendadak begini aku jadi gak tahu suamiku ternyata sedang asyik..." Dhira memandang sinis wajah Melinda yang nampak pias.


Abimanyu belingsatan dibuat istrinya. Pria itu menelan ludahnya berkali-kali. Istrinya pasti sudah salah paham pikirnya. Kini ia bingung bagiamana menjelaskan, dan harus di mulai dari mana.

__ADS_1


" Sayang, ini...gak seperti yang kamu.."


" Seperti dong mas, ini seperti yang aku lihat!"


Mereka bahkan tidak memperhatikan sama sekali jalannya acara itu. Sibuk dengan perdebatan sengit.


" Boleh saya duduk? kaki saya pegal karena harus berdiri!" Abimanyu benar-benar nyaris tak mengenali istrinya. Dhira yang di sangka akan marah, malah bisa se elegan itu.


Abimanyu menarik kursi dan mempersilahkan Dhira duduk, dan dengan tidak tahu malunya, Melinda kembali mendudukkan dirinya di kursi itu.


" Maaf, saya tidak tahu bila Pak Abimanyu sudah beristri!" ucap Melinda keranjingan.


" Anda bukan tidak tahu, tapi anda tidak mau tahu. Sependengaran saya tadi, suami saya sudah menjelaskan tapi anda yang tidak mau mendengarnya bukan!" Dhira meraih gelas berisikan minuman itu, lalu meneguknya dengan anggun.


Dhira juga ingat dengan suara wanita itu, suara yang sama saat ia dan Abimanyu masih melakukan sambungan telepon.


Abimanyu benar-benar dibuat terkesima sekaligus terperangah saat melihat istrinya itu. Ia bahkan mendadak gelisah karena para tamu undangan atau peserta yang lain, kini mulai melihat penampilan istrinya yang bak bidadari malam itu.


Abimanyu tak rela orang lain turut menikmati pemandangan indah tubuh sexy istrinya itu.


" Apa maksud anda!" Melinda tersinggung.


" Jangan anda ajukan pertanyaan jika anda tidak ingin mendengar jawabannya!" sergah Dhira.


Melinda menatap Dhira tajam. Begitu juga dengan Dhira. Kini Abimanyu seolah terbakar aura panas disana. Pria itu benar-benar dibuat bingung.


" Sayang, udah!" Nada bicara mereka yang mulai meninggi membuat tetangga meja mereka saling menatap.


" Memang untuk segala sesuatu itu ada harganya, tapi tida semua bisa dijual. Termasuk harga diri!" Dhira menatap tajam Melinda. Menyeringai dan menguliti Melinda dengan tatapannya yang begitu mengintimidasi.


Kata-kata telak dari bibir Dhira itu, menghujam relung hati Melinda. Ia benar-benar dibuat tak bisa menjawab ucapan istri dari pria yang ia taksir itu.


" Ya....harus aku akui senang itu mahal. Dan kadang untuk mendapatkannya, kita harus bersikap masa bodo!" Dhira kembali tersenyum smirk usai melontarkan kata-kata itu kehadapan Melinda.


Abimanyu bahkan tak mengira, istrinya bisa menahan diri. Tapi kini ia mulai mencemaskan nasibnya nanti. Ia tahu, semua perkataan Dhira mengandung kiasan kemarahan yang nyata. Menyala di sorot mata wanita itu.


" Kau!!" Melinda yang merasa tersudut dan harga dirinya terkoyak itu, mengeraskan rahangnya.


" Mau baik, mau tidak baik, mau menjadi apapun silahkan! semua ada upahnya!" imbuh Dhira lagi.


" Saya rasa anda tahu pintu untuk kembali ke kamar anda, atau anda masih betah untuk melihat kemesraan kami, hm?" Dhira mendekat dan mencondongkan tubuhnya ke arah suaminya.


" I Miss you so much Pa!" ucap Dhira menggeret lengan Abimanyu, mencium lalu melu*mat bibir suaminya itu di saat Melinda masih menatapnya. Dhira sengaja ingin membuat wanita tidak benar itu, mengerti bila Abimanyu miliknya, hanya miliknya.


Ciuman itu berlangsung di saat orang-orang tengah sibuk bertepuk tangan. Entah apa yang mereka puja, karena meja paling belakang itu, sedari tadi terlibat pertempuran sengit antara dua kaum hawa.


Abimanyu dibuat mendelik untuk kesekian kalinya, ia benar-benar tak mengenali istrinya itu. Kecemburuan benar-benar bisa merubah seseorang.


Melinda yang merasa tak tahan dengan pemandangan itu, akhirnya enyah dari meja Abimanyu saat acara belum usai. Dhira sempat melirik wanita itu dengan raut wajah penuh kegeraman. Sepersekian detik berikutnya...


" Udah!!" dengan ketus Dhira melepas ciumannya dengan cara mendorong dada bidang suaminya agak kasar. Kini Abimanyu kembali mendelik, karena tersadar saat penghakiman untuknya telah tiba.


Dari jarak lima meter, Devan yang bersembunyi di balik vas bunga besar terbahak-bahak demi melihat wajah bodoh Abimanyu. Ya, meski Devan sempat mengumpat karena Bu bos-nya itu membuatnya belingsatan lantaran melihat adegan yahudd yang mengundang rasa iri.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2